[Cerpen Usman Hermawan] Cinta Yang Tertahan: Jangan Tanya Kapan Kawin
Kata ibu aku terlahir prematur, hanya enam setengah bulan dalam kandungan. Bayi kecil yang berwujud gumpalan darah dan daging tak bersuara. Semula bidan mengira tak bernyawa, tapi ternyata hidup. Para tetangga yang menyaksikan pesimis aku bisa jadi manusia. Di luar dugaan sedikit demi sedikit aku bertumbuh menjadi bayi yang kemudian tangisnya terdengar sampai radius belasan meter. Ibu tentu saja tak putus menyambung doa agar buah hatinya bisa hidup normal. Seiring waktu, teruslah aku bertumbuh. Nyatanya, kaki kiriku tidak sempurna, kurang bertenaga. Berjalanku agak pincang. Semasa aku kelas lima bapak merantau ke Korea Selatan dan bekerja sebagai buruh pabrik. Bapak merupakan orang pertama di desa kami yang bekerja di sana. Aku sepenuhnya dalam asuhan ibu. Memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya kukira merupakan cara ibu menyayangiku. Mungkin itu cara yang salah bagi sebagian orang, tapi tidak bagi ibu. Yang penting salatnya dijaga. Itu yang ibuku wanti-wanti kepada...