Postingan

[Diari] Teman Minta Tf

Gambar
  Senin (12/1/2026), karena ada rencana mungkin relokasi atau mungkin renovasi bangunan sekolah, KBM mulai diberlakukan dua shift, kelas XI dan XII masuk pagi dan kelas X masuk siang. Sekira pulul enam aku hendak berangkat, tapi hujan lumayan deras sejak malam hari. Aku bersiap mengenakan mantel. Sebuah pesan masuk (japri) dari seorang teman kuliah bernama Yoyon Ahyani “Ada saldo di rekening? Bisa pinjam dulu nanti siang diganti.” Aku kenakanlah mantel dan siap berangkat. Aku pikir-pikir sesaat, lalu membalas dengan bahasa Sunda, “Ada, berapa. Sini nomor rekeningnya,“ Dia langsung membalas, dua juta, dan nomor rekeningnya atas nama Yoyon Ahyani di Bank Danamon dengan nomor rekening 890700133539406. Aku beri tahu bahwa saldoku ada 2,3 juta. “Kirim ke sini,” katanya, lalu dia kirim lagi lagi, “Pinjam 2 juta saja nanti siang ditransfer gantinya.” Maksudku aku tidak punya uang banyak, cuma segitu. Sebenarnya uang itu akan masih kurang untuk berbayar. Aku akan membayar ongkos me...

[Otobiografi Usman] Ketinggalan Kereta

Gambar
    Dalam tahun 1991. Setelah selesai latihan teater aku istirahat. Waktu magrib masih belasan menit. Aku putuskan untuk segera pulang. Aku berjalan kaki ke stasiun Kebayoran Lama. Azan magrib berlalu. Begitu tiba di ujung area stasiun kereta mulai bergerak. Aku berlari, tapi kereta makin cepat. Tak mungkin aku bisa melompat naik ke gerbong kereta yang melaju kian cepat.. Kalau pun dipaksakan risikonya fatal. Demi keselamatan aku pasrah. Pandangan mengarah ke gerbong yang terus menjauh. Itu kereta penumpang terakhir. Tak ada lagi kereta yang berangkat ke arah Parungpanjang malam itu.  Aku menuju ke masjid di seberang jalan. Selesai salat magrib aku ke stasiun untuk menanti kereta barang.  Waktu isya masih lama. Kereta barang tiba. Kereta tersebut membawa sejumlah kontainer Indocement bercat biru. Naik kereta barang kerap kali aku lakukan manakala tak ada lagi kereta atau kerata penumlang masih lama. Pernah aku naik di lokomotof, dekat masinis. Namun kali ini aku ...

[Otobiografi Usman] Dewi oh Dewi

Gambar
  Dewi oh Dewi. Begini kronologinya. Suatu sore selesai latihan teater aku ke lobi kampus. Di situ biasa orang lewat keluar-masuk. Di kiri dan kananya terdapat masing-masing sebaris kursi warna hijau layaknya di ruang tunggu. Di antara yang duduk ada seorang, aku sempat beradu pandang. Setelah itu aku abaikan. Karena masih belum ingin pulang aku berjalan-jalan ke area lain. Sekira belasan menit kemudian aku memasuki lapangan segitiga yang biasa digunakan bermain bulu tangkis, ya karena itu memang lapangan bulutangkis. Di bagian sisi lapangan itu ada pilar yang isa diduduki, tapi bukan tempat duduk melainkan sebagai pot persegi. Di situlah dia duduk. Untuk kedua kalinya aku beradu pandang. Spontan saja aku menyapanya seperti sudah kenal “He!”. Baru kali itu aku punya keberanian menyapa perempuan yang belum aku kenal dengan cara yang sok akrab. Dia pun merespons dengan amat santun. “Sedang apa?” tanyaku. “Nunggu bapak.” “Siapa bapaknya?” “Pak Ngalim.” “Ngalim Purwanto?” ...

[Otobiografi Usman] Tentang Julia

Gambar
Gayung pun bersambut. Aku tidak bertepuk sebelah tangan. Respons positifnya cukup menggetarkan seisi dada. Itulah momentum paling indah semasa akhir SMP. Cinta memang belum terkatakan. Aku belum punya cukup keberanian. Jejaknya berupa goresan spidol “I love you” di punggung baju sekolahku adalah isyarat cinta walau mungkin hanya emosi sesaat.   Sayangnya sensasi itu berlangsung singkat karena kami kemudian berpisah, lulus dan melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbeda. Aku masuk Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) dan dia masuk Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga Negeri (SMKK), sama-sama di Tangerang. Sekian bulan berlalu, aku masih terkesan terhadap dirinya. Rasa kangen mendorongku untuk menulis surat. Kutulis surat, kukirim melalui kantor pos. Sampai atau tidak ke tangannya, entahlah, karena tak ada balasan. Belum ada keberanianku untuk datang ke rumahnya. Nyaliku masih kecil karena daya dukung tak memadai. Aku pun fokus pada kesibukan lain ketimbang sakadar urus...

[Otobiografi Usman] Lumpuh

Gambar
  Foto: Usman, pada ijazah SD Idulfitri jatuh pada hari Kamis, 22 Juli 1982 (1 Syawal 1402 H). Rabu malam adalah malam takbiran. Langgar atau musala kakek cukup eksis, jamaahnya banyak, aktif menyelenggarakan salat tarawih dan takbiran. Seperti biasa, selain bermain petasan, takbiran menjadi acara pavorit yang menggembirakan. Empat buah bedug yang setiap malam ditabuh baik sebelum maupun setelah selesai salat tarawih. Saat masuk waktu salat bedug juga ditabuh. Takbiran dan bedug adalah setali tiga uang, tak terpisahkan. Takbir bukan saja digemakan di langgar, sekira puluh sepuluh malam ada arak-arakan dari rumah ke rumah warga sekalian meminta-minta kue. Bedug dipanggul, dipukul, ada yang membawa kentongan dan apa saja yang bisa dibunyikan. Takbir tak henti digemakan. Ya, ini jadi aksi membangunkan warga.  Jika pintu belum dibuka dan pemiliknya belum keluar rombongan yang mayoritas anak-anak dan remaja tak segera beranjak. Walaupun capek aku pun tetap semangat.   Kue ya...

[cerpen] Lelaki Bertongkat Satu

Gambar
  Jarkoni tertatih. Langkahnya lamban. Kaki kirinya tak berfungsi dengan baik. Kaki kanan penopang tubuhnya dibantu sebuah tongkat kayu menyangga di ketiak kiri. Tiba di teras masjid At Taubah, satu demi satu anak tangga dilaluinya dengan sangat hati-hati. Jika tergelincir, akibatnya bisa fatal. Diucapkannya doa sebelum memasuki masjid. Kedua tongkatnya diletakkan dengan posisi rebah di sisi kanannya, menyentuh dinding. Di dekat tiang sisi kanan itulah dia biasa duduk dan bertafakur sebelum dan sesudah melaksanakan salat. Kopiah, baju koko, dan kain sarung serupa dengan kebanyakan jamaah lain. Yang berbeda adalah posisi duduknya. Saat salat, rakaat demi rakaat dikerjakannya bersama jamaah lainya. Kaki kirinya selonjor ke depan, telapaknya menghadap kiblat. Kaki kanannya melipat layaknya duduk tahyat. Rukuk dilakukannya dengan membungkukkan badan. Pada posisi sujud badannya lebih membungkuk hingga hidungnya mengenai karpet. Tangan kirinya memegang kaki kiri, tangan kanannya bertum...

[Catatan Perjalanan] Pesona Pantai Ceria

Gambar
  Titik ujung perjalananku kali ini adalah Pantai Ceria (106 km) di Cigondang, kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Dengan motor sendiri aku melalui rute dari rumah ke Bitung - Cikande - Citeras - Pandeglang -   Saketi, Minggu (19/3/2023). Aku berhenti di Saketi untuk menghubungi teman kuliah yang bernama Rofik Namlani. Rumahnya di Kadu Kolecer, Desa Babakan Lor, Kecamatan Labuan. Aku tak tahu posisinya. Tak mudah untuk tersambung ke HP-nya. Diminta serlok tak juga dikirim. Setelah tersambung aku diarahkan untuk terus hingga Situ Cikedal.   Sampai Situ Cikedal aku menunggu. Beberapa saat kemudian muncullah dia. Itu pertemuan pertama setelah hampir tiga puluh tahun. Dia di depan, aku mengikuti. Dia mampir ke warung dan membeli jajanan balok alias getuk. Konon balok sempat viral di media sosial. Dari warung balok kembali sekira lima puluh meter lalu masuk jalan kampung tak lama sampailah di rumahnya. Rumahnya terpisah dari rumah orang tuanya. Dulu bersama orang duanya ...