Postingan

[otobiografi] Menjemput Kekasih ke Bima, Part 1

  Drama yang teramat menyakitkan berlangsung sekitar enam bulan, yakni proses cerai. Betapa tidak, gol kemenangan diraih oleh istriku yang menginginkan berpisah demi lelaki yang diperjuangkannya dalam kurun hampir dua tahun. Sidang pengadilan agama Tigaraksa mengabulkan gugatannya dengan alibi “tidak cinta” sementara itu anak kami sudah tiga. Dana sepuluh juta, empat jutanya dari rekeningku, menjadi senjata makan tuan bagiku. Tidak aku ragukan bahwa dana tersebut sebagai pelicin dan masuk ke saku oknum petugas. Pengajuan banding aku batalkan, karena saksi mata menyatakan di masa banding itu dia semobil dengan   seorang lelaki yang diperjuangkannya . Selanjutnya, dengan berat hati aku tandatanganilah lembar kesepakatan cerai. Selesai masa iddah mereka menikah. Menyaksikan fotonya di ponsel, kembali berdarahlah hatiku. Sejak awal tekanan darah berkali-kali memuncak dan luka pada syaraf kepala berdenyut perih, seperti tusukan jarum bertempo lambat dan kadang cepat. Tentang se...

[Diari] Teman Minta Tf

Gambar
  Senin (12/1/2026), karena ada rencana mungkin relokasi atau mungkin renovasi bangunan sekolah, KBM mulai diberlakukan dua shift, kelas XI dan XII masuk pagi dan kelas X masuk siang. Sekira pulul enam aku hendak berangkat, tapi hujan lumayan deras sejak malam hari. Aku bersiap mengenakan mantel. Sebuah pesan masuk (japri) dari seorang teman kuliah bernama Yoyon Ahyani “Ada saldo di rekening? Bisa pinjam dulu nanti siang diganti.” Aku kenakanlah mantel dan siap berangkat. Aku pikir-pikir sesaat, lalu membalas dengan bahasa Sunda, “Ada, berapa. Sini nomor rekeningnya,“ Dia langsung membalas, dua juta, dan nomor rekeningnya atas nama Yoyon Ahyani di Bank Danamon dengan nomor rekening 890700133539406. Aku beri tahu bahwa saldoku ada 2,3 juta. “Kirim ke sini,” katanya, lalu dia kirim lagi lagi, “Pinjam 2 juta saja nanti siang ditransfer gantinya.” Maksudku aku tidak punya uang banyak, cuma segitu. Sebenarnya uang itu akan masih kurang untuk berbayar. Aku akan membayar ongkos me...

[Otobiografi Usman] Ketinggalan Kereta

Gambar
    Dalam tahun 1991. Setelah selesai latihan teater aku istirahat. Waktu magrib masih belasan menit. Aku putuskan untuk segera pulang. Aku berjalan kaki ke stasiun Kebayoran Lama. Azan magrib berlalu. Begitu tiba di ujung area stasiun kereta mulai bergerak. Aku berlari, tapi kereta makin cepat. Tak mungkin aku bisa melompat naik ke gerbong kereta yang melaju kian cepat.. Kalau pun dipaksakan risikonya fatal. Demi keselamatan aku pasrah. Pandangan mengarah ke gerbong yang terus menjauh. Itu kereta penumpang terakhir. Tak ada lagi kereta yang berangkat ke arah Parungpanjang malam itu.  Aku menuju ke masjid di seberang jalan. Selesai salat magrib aku ke stasiun untuk menanti kereta barang.  Waktu isya masih lama. Kereta barang tiba. Kereta tersebut membawa sejumlah kontainer Indocement bercat biru. Naik kereta barang kerap kali aku lakukan manakala tak ada lagi kereta atau kerata penumlang masih lama. Pernah aku naik di lokomotof, dekat masinis. Namun kali ini aku ...

[Otobiografi Usman] Dewi oh Dewi

Gambar
  Dewi oh Dewi. Begini kronologinya. Suatu sore selesai latihan teater aku ke lobi kampus. Di situ biasa orang lewat keluar-masuk. Di kiri dan kananya terdapat masing-masing sebaris kursi warna hijau layaknya di ruang tunggu. Di antara yang duduk ada seorang, aku sempat beradu pandang. Setelah itu aku abaikan. Karena masih belum ingin pulang aku berjalan-jalan ke area lain. Sekira belasan menit kemudian aku memasuki lapangan segitiga yang biasa digunakan bermain bulu tangkis, ya karena itu memang lapangan bulutangkis. Di bagian sisi lapangan itu ada pilar yang isa diduduki, tapi bukan tempat duduk melainkan sebagai pot persegi. Di situlah dia duduk. Untuk kedua kalinya aku beradu pandang. Spontan saja aku menyapanya seperti sudah kenal “He!”. Baru kali itu aku punya keberanian menyapa perempuan yang belum aku kenal dengan cara yang sok akrab. Dia pun merespons dengan amat santun. “Sedang apa?” tanyaku. “Nunggu bapak.” “Siapa bapaknya?” “Pak Ngalim.” “Ngalim Purwanto?” ...

[Otobiografi Usman] Tentang Julia

Gambar
Gayung pun bersambut. Aku tidak bertepuk sebelah tangan. Respons positifnya cukup menggetarkan seisi dada. Itulah momentum paling indah semasa akhir SMP. Cinta memang belum terkatakan. Aku belum punya cukup keberanian. Jejaknya berupa goresan spidol “I love you” di punggung baju sekolahku adalah isyarat cinta walau mungkin hanya emosi sesaat.   Sayangnya sensasi itu berlangsung singkat karena kami kemudian berpisah, lulus dan melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbeda. Aku masuk Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) dan dia masuk Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga Negeri (SMKK), sama-sama di Tangerang. Sekian bulan berlalu, aku masih terkesan terhadap dirinya. Rasa kangen mendorongku untuk menulis surat. Kutulis surat, kukirim melalui kantor pos. Sampai atau tidak ke tangannya, entahlah, karena tak ada balasan. Belum ada keberanianku untuk datang ke rumahnya. Nyaliku masih kecil karena daya dukung tak memadai. Aku pun fokus pada kesibukan lain ketimbang sakadar urus...