[Catatan Perjalanan] Menuju Kawah Ratu Gunung Salak

 



Dulhalim, teman waktu di pondok tiba-tiba saja mengirim pesan, mengajak naik ke kawah ratu. Belakangan aku ketahui lokasinya di Taman Nasional Gunung Salak Halimun, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada peta google dari rumahku di Kampung Gurubug jaraknya seratus kilometer.

Ajakan Dulhalim tersebut merupakan  kejutan bagiku. Katanya dekat, cuma lima ratus meter dari jalan raya. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan. Namun katanya harus berkelompok, minimal tiga orang, sehingga diajaklah Unus yang merupakan teman dia juga. Pada waktunya Sabtu 7/10/2024, pukul 05.00 berangkatlah aku dan Unus satu motor. Kami bertemu Dulhalim di Parungpanjang.

Perjalanan tak mulus karena ternyata Dulhalim pun sebelumnya belum pernah ke sana. Kami harus bertanya-tanya karena google maps kurang terpahami. Sekira pukul sembilan kurang tibalah kami di gerbang masuk bertuliskan Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Dikenai tiket per orang dua puluh ribu rupiah. Setelah itu kami melaju sejauh kira-kira empat kilometer. Sepanjang perjalanan tersuguh pemandangan hutan di kiri-kanan dengan udara yang sejuk. Jalannya menanjak landai.

Tiba di area parkir disambut tukang parkir. Banyak kendaraan terparkir. Untuk mengantisipasi hujan kami disarankan membawa payung atau jas hujan.  Berjalanlah kami sekira dua ratus meter. Jalanan menanjak. Tiba-tiba aku sadar bahwa tak ada kunci motor di semua sakuku. Mungkin kunci tertinggal di motor. Lanjut atau kembali? Jika lanjut khawatir nanti tidak tenang, sehingga aku memilih kembali ke motor dan menghampiri juru parkir. Kunci telah diamankan. Alhamdulillah. Terbayang sulitnya jika kunci motor benar-benar hilang. Diserahkannya kunci iitu kepadaku. Aku kembali ke Dulhalim dan Unus. Jalan tetap menanjak. Ternyata ada banyak mobil terparkir, juga motor. Pantas di sepanjang jalan tercium aroma bau kopling hangus atau bau gesekan ban dengan jalan berbatu.

Tiba di pintu masuk kami disambut petugas, diarahkan untuk membeli tiket di kantor sekretariat. KTP-ku diminta. Per orang dua puluh ribu. Pendakian ke Kawah Ratu Gunung Salak dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Karena kami hanya bertiga petugas mengarahkan agar kami bergabung dengan grup lain. Kami mendekat dengan grup yang pesertanya banyak walau dalam perjalanan bercampur baur dengan orang lainnya. Jalanan terus mendaki. Kondisi jalur beragam, ada yang landai, becek, berbatu, bahkan agak ekstrem, lurus dan berbelok. Belakangan baru aku tahu bahwa jalur yang kami tempuh adalah jalur Pasir Reungit. Perjalanan ini bikin napas ngos-ngosan luar biasa dan lutut kelelahan. Kami tidak terus berjalan, tapi manakala terasa amat lelah pilihannya istirahat beberapa saat. Hal itu terjadi beberapa kali. Sekadar untuk membasahi kerongkongan air minum yang dibawa cukuplah.

Meskipun namanya Gunung Salak tak kutemukan pohon salak. Tentu saja, karena nama Gunung Salak bukan diambiil dari nama pohon salak, melainkan berasal dari Salakanagara, yakni sebuah kerajaan Hindu tertua di Nusantara, terletak di Jawa bagian barat, berdiri pada abad ke-4 hingga ke-5 Masehi dan dipercaya sebagai cikal bakal suku Sunda.

Pohon-pohon yang aku kenali di antaranya puspa dan pinus. Yang lainnya  aku tidak tahu, katanya, saninten, pasang huru, dan rasamala. Sepertinya tidak ada pohon yang buahnya bisa dimakan seperti nangka ataupun jengkol dan rambutan.

Mungkin karena besarnya gunung Salak, sepanjang perjalanan aku tak menemukan jurang atau melihat gunung lain, sehingga tidak merasakan berada di ketinggian dengan perasaan ngeri. Jalan selebar satu meter relatif landai, ada yang rata ada yang berjenjang. Ternyata ada juga aliran air selebar setengah meter. Aku mencuci muka. Airnya jernih dan dingin. Di bagian lain, dekat aliran air pula, kami menunaikan salat zuhur dan asar jama takdim.   

Ada petunjuk arah ke Kawah Ratu di pos 1 dan pos 2. Ketika perjalanan yang telah ditempuh terasa sudah amat jauh ada pilihan untuk kembali atau terus maju. Kupikir ini soal harga diri, pendirian dan idealisme. Selagi kondisi fisik masih memungkinkan maka yang terbaik adalah maju terus sampai tuntas. Namun ada momen meskipun telah sampai pada kondisi alam terdampak letusan vulkanik tapi masih belum juga sampai titik letusan. Orang-orang masih bergerak maju, sebagian ada yang kembali karena telah sampai pada titik terujung. Rute masih menanjak. Pada kondisi kurang berdaya maka hati dan pikiran mengarah kepada Sang Maha Pemberi kekuatan.

Titik akhir perndakian ditandai dengan baner bertuliskan KAWAH RATU, STATUS AKTIF NORMAL. 2211 mdpl. Di situlah pengunjung antre berfoto. Meskipun letusannya sudah lama tapi bekas-bekasnya seperti masih baru. Pohon-pohon hangus. Permukaan bebatuan tandus. Akar kering tercerabut tampak di mana-mana. Ada air mengalir, mungkin dari kawah, tapi dingin. Ada pula pohon yang sebagiannya terbakar. Ada pula pohon yang selamat dari bakaran kawah. Pada area dalam radius puluhan meter dari kawah tampak bongkahan batu-batu. Kawah pun masih aktif mengeluarkan asap dan terdengar letupan-letupan hingga bergemuruh. Kepulan asap tampak di beberapa titik. Banyak spot menarik untuk pengunjung berfoto-foto. Terlintas dalam pikiranku bagaimana peristiwa mengerikan terjadi di situ. Betapa alam jadi saksi bisu. Tak ada tempat bergantung kecuali Sang Pemilik Alam.  

Setelah merasa cukup kami pun bersiap untuk turun. Ada petugas mengingatkan agar pengunjung segera turun. Artinya, berada di area kawah memang berbahaya. Ada saat-saat pengunjung tidak dibolehkan memasuki kawasan itu. Pembatasan waktu pendakian pendakian di pintu masuk pun dibatasi mungkin dimaksudkan untuk keamanan dan keselamatan pengunjung.

Tutun gunung pun bukan perkara ringan terutama bagi kaum berusia 50 tahun ke atas seperti aku. Beban terberat dengan beragam hentakan ditanggung oleh lutus. Harus pandai-pandai mengerem jika tidak ingin terperosok. Terbayang jika kehujanan di rute menurun, terjal dan licin. Meskipun cuaca tidak menentu beruntung tak ada hujan. Napasku sesak, tersengal tinggal 25 persen. Aku merebahkan diri, terlentang. Namun tarikan napas tak segera normal. Semoga tunan masih memberikan aku kesempatan untuk hidup.  Serawan itu aku berpikir karena rasanya memang tak enak. Sejak dari atas aku dekat dengan Dulhalim, sedangkan Unus turun lebih dulu. Beberapa saat berlalu, kami pun kembali bergerak hingga parkiran motor.   

Pencapaian pada pendakian ini tidak sebatas mencapai puncak berujung di kawah ratu, tetapi juga tentang perjalanan, proses, dan pengalaman yang didapatkan selama mendaki dan menurun. Pencapaian membutuhkan upaya dan pengorbanan. Pencapaian juga meliputi pengembangan diri, pemahaman terhadap alam, dan pembelajaran tentang kehidupan. Ketidakberdayaan dalam proses karena berhadapan dengan kebesaran dan keperkasaan alam menjadikan diri merasa amat kecil, satu-satunya tempat meminta pertolongan adalah Tuhan pemilik alam dan seisinya, Allah Subhanahu wataala.[]


Penulis: Usman Hermawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia