Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

[Otobiografi Usman] Ketinggalan Kereta

Gambar
    Dalam tahun 1991. Setelah selesai latihan teater aku istirahat. Waktu magrib masih belasan menit. Aku putuskan untuk segera pulang. Aku berjalan kaki ke stasiun Kebayoran Lama. Azan magrib berlalu. Begitu tiba di ujung area stasiun kereta mulai bergerak. Aku berlari, tapi kereta makin cepat. Tak mungkin aku bisa melompat naik ke gerbong kereta yang melaju kian cepat.. Kalau pun dipaksakan risikonya fatal. Demi keselamatan aku pasrah. Pandangan mengarah ke gerbong yang terus menjauh. Itu kereta penumpang terakhir. Tak ada lagi kereta yang berangkat ke arah Parungpanjang malam itu.  Aku menuju ke masjid di seberang jalan. Selesai salat magrib aku ke stasiun untuk menanti kereta barang.  Waktu isya masih lama. Kereta barang tiba. Kereta tersebut membawa sejumlah kontainer Indocement bercat biru. Naik kereta barang kerap kali aku lakukan manakala tak ada lagi kereta atau kerata penumlang masih lama. Pernah aku naik di lokomotof, dekat masinis. Namun kali ini aku ...

[Otobiografi Usman] Dewi oh Dewi

Gambar
  Dewi oh Dewi. Begini kronologinya. Suatu sore selesai latihan teater aku ke lobi kampus. Di situ biasa orang lewat keluar-masuk. Di kiri dan kananya terdapat masing-masing sebaris kursi warna hijau layaknya di ruang tunggu. Di antara yang duduk ada seorang, aku sempat beradu pandang. Setelah itu aku abaikan. Karena masih belum ingin pulang aku berjalan-jalan ke area lain. Sekira belasan menit kemudian aku memasuki lapangan segitiga yang biasa digunakan bermain bulu tangkis, ya karena itu memang lapangan bulutangkis. Di bagian sisi lapangan itu ada pilar yang isa diduduki, tapi bukan tempat duduk melainkan sebagai pot persegi. Di situlah dia duduk. Untuk kedua kalinya aku beradu pandang. Spontan saja aku menyapanya seperti sudah kenal “He!”. Baru kali itu aku punya keberanian menyapa perempuan yang belum aku kenal dengan cara yang sok akrab. Dia pun merespons dengan amat santun. “Sedang apa?” tanyaku. “Nunggu bapak.” “Siapa bapaknya?” “Pak Ngalim.” “Ngalim Purwanto?” ...