[Otobiografi Usman] Dewi oh Dewi

 


Dewi oh Dewi. Begini kronologinya. Suatu sore selesai latihan teater aku ke lobi kampus. Di situ biasa orang lewat keluar-masuk. Di kiri dan kananya terdapat masing-masing sebaris kursi warna hijau layaknya di ruang tunggu. Di antara yang duduk ada seorang, aku sempat beradu pandang. Setelah itu aku abaikan. Karena masih belum ingin pulang aku berjalan-jalan ke area lain.

Sekira belasan menit kemudian aku memasuki lapangan segitiga yang biasa digunakan bermain bulu tangkis, ya karena itu memang lapangan bulutangkis. Di bagian sisi lapangan itu ada pilar yang isa diduduki, tapi bukan tempat duduk melainkan sebagai pot persegi. Di situlah dia duduk. Untuk kedua kalinya aku beradu pandang. Spontan saja aku menyapanya seperti sudah kenal “He!”. Baru kali itu aku punya keberanian menyapa perempuan yang belum aku kenal dengan cara yang sok akrab. Dia pun merespons dengan amat santun.

“Sedang apa?” tanyaku.

“Nunggu bapak.”

“Siapa bapaknya?”

“Pak Ngalim.”

“Ngalim Purwanto?”

“Ya.”

Aku terpesona. Dia ramah. Wajahnya manis, ekspresinya enak dipandang meskipun tidak begitu mulus. Rambutnya agak kriting. Kami berkenalan. Namanya Dewi. Nama lengkapnya tak kutanyakan.  Seketika aku ingat buku Psikologi Pendidikan yang nama penulisnya M. Ngalim Purwanto. Buku tersebut menjadi buku wajib pada mata kuliah Psikologi Pendidikan. Sepertinya ada lagi buku lain karangan pak dosen itu. Dosen dengan karyanya yang beredar luas berarti keren. Pokoknya bukan dosen biasalah.

Senang sekali aku berkenalan dengan anaknya. Aku berikan secarik kertas untuk meminta alamatnya. Ditulislah. Dia membolehkan jika aku datang ke rumahnya. Kukira itu kesempatan bagus yang tidak boleh diabaikan. Siapa tahu itu awal keberuntuganku untuk menjadi pacarnya.

Tiga hari berlalu, aku tekadkan mencari rumahnya. Dari kawasan Gandaria naik bus PPD arah Rawamangun, turun di dekat perempatan di Jalan Pramuka. Ongkos bus PPD seratus rupiah (untuk mahasiswa). Aku menyeberang lalu naik bemo (kendaraan angkut roda tiga, seperti bajaj). Sekira dua puluh menit kemudian sampailah pada gerbang sebuah kompleks perumahan bertuliskan Monco Kerto. Itu berada di kawasan Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur.

Aku masuk kompleks. Rumah-rumahnya lumayan bagus. Kucari alamat yang dituliskan Dewi. Gang demi gang kusasar. Rumah dengan nomor yang ditulis Dewi tidak ketemu. Kuulangi sekali lagi. Tidak ketemu juga. Pukul setengah dua belas. Matahari sedang terik-teriknya. Keringatku bercucuran. Tenggorokan kering. Aku kehausan. Entahlah di mana rumah Dewi, di mana rumah Pak Ngalim. Aku menyerah. Kuarahkan langkah menuju pintu gerbang karena pencarian tidak berhasil.

Sekira sampai pertengahan kompleks  ada seorang lelaki dewasa usianya sekira 60-an. Disapanya aku. “Cari siapa Mas?”

“Rumah Pak Ngalim. Ngalim Purwanto. Anaknya Dewi.”

Rupanya dia tahu. Dia tunjukkanlah lokasinya. Aku ikuti petunjuknya. Sampailah di pojok. Padahal belokan di pojok itu itu dua kali aku lewati. Lalu masuklah aku ke jalan kecil belasan langkah. Sampailah di rumah yang dimaksud. Rumahnya sederhana, tak seperti yang kubayangkan. Kudapati Dewi sedang santai. Ada juga dua orang lain, mungkin ibu da adiknya.

Dia menyuguhi air minum. Kami pun berbincang. Dia menceritakan pengalamannya peragawati pemegang papan nomor di ring tinju. Seperti itu jika aku tak salah paham. Aku hampir salah paham, kukira di acara 17-an. Selain itu dia juga berbicara tentang pacarnya. Inilah topik pembicaraan yang bikin aku mual. Aku berusaha untuk bersikap biasa saja, tapi kemudian aku tidak nyaman juga. Harapanku untuk jadi pacarnya seketika lenyap. Aku tidak bisa bertahan lebih lama. Aku tidak berminat mengembangkan topik perbincangan. Tak sampai setengah jam aku pun pamit.

Aku kembali ke gerbang kompleks, menyeberang jalan dan menanti bemo. Beberapa sat kemudian datanglah. Aku naik bemo, duduk di samping sopirnya. Aku syok ringan. Pikiranku menelusur ke ruang imajinasi membuka memori yang baru beberapa saat tersimpan. Oh, kiranya cintaku tertolak. Cinta layu sebelum berkembang. Kendati pandangan ke depan tapi pikiran tak terkendali hingga tersergap lamunan. “Mas, sampe!” cetus sopir bemo tiba-tiba. Aku kaget dan seketika sadar. Aku turun dan membayar ongkos sejumlah uang.  Selanjutnya menunggu bus arah Blok M untuk kembali ke kosan di Jalan Haji Om, melewati depan rumah dai kondang Almagfurllah KH. Zainudin MZ     

Cukuplah segitu. Beberapa kisah pilu nan lucu dan bikin sesak dan mendebarkan jantung tak usah aku ceritakan. Tentang Qr yang aku surati tiga halaman atas propokasi teman di sebelahku sepekan kemudian membalasnya dengan singkat: Dunia tak sedaun kelor; tentang TA yang pernah aku wirid sambil puasa kudatangi di rumahnya, tentang In yang naksir duluan tapi aku hambar; tentang DS yang kudatangi rumahnya di Jalan Haji Goden, tentang DM kepincut kepadaku, dan tentang gadis Pasar Minggu yang aku lupa namanya yang kuantar pulang dengan motor Yamaha RX King;  biarlah semua itu menjadi bagian dari “perjuangan” dan terbenam dalam memoriku.

Aku pun merenung. Mungkin semua itu ada kaitan dengan doa kedua orang tua yang dilafalkan dalam bentuk nasihat: ulah waka bobogohan ari can boga pancarian mah (Jangan dulu pacaran kalau belum punya matapencaharian). Padahal aku sangat ingin punya pacar, seperti orang-orang ke mana-mana berdua. Aku tidak mendapatkan kesempatan seperti itu. Namun tentunya aku tidak boleh menyesali diri. Itu pasti ada hikmahnya. Boleh jadi kalau aku “laris” diminati cewek-cewek dan banyak pacar, studiku terganggu dan cita-cita awal tidak tercapai karena konsentrasi buyar dan biaya habis. Itu artinya Allah Subhanahu wataala menyayangiku.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia