[Otobiografi Usman] Ketinggalan Kereta


  

Dalam tahun 1991. Setelah selesai latihan teater aku istirahat. Waktu magrib masih belasan menit. Aku putuskan untuk segera pulang. Aku berjalan kaki ke stasiun Kebayoran Lama. Azan magrib berlalu. Begitu tiba di ujung area stasiun kereta mulai bergerak. Aku berlari, tapi kereta makin cepat. Tak mungkin aku bisa melompat naik ke gerbong kereta yang melaju kian cepat.. Kalau pun dipaksakan risikonya fatal. Demi keselamatan aku pasrah. Pandangan mengarah ke gerbong yang terus menjauh. Itu kereta penumpang terakhir. Tak ada lagi kereta yang berangkat ke arah Parungpanjang malam itu.

 Aku menuju ke masjid di seberang jalan. Selesai salat magrib aku ke stasiun untuk menanti kereta barang.  Waktu isya masih lama. Kereta barang tiba. Kereta tersebut membawa sejumlah kontainer Indocement bercat biru. Naik kereta barang kerap kali aku lakukan manakala tak ada lagi kereta atau kerata penumlang masih lama. Pernah aku naik di lokomotof, dekat masinis. Namun kali ini aku naik di belakang kontainer dekat sambungan. Bukan di paling belakang, tetapi agak depan.

Bising suara dari roda besi beradu dengan rel baja, dan beragam gesekan dan benturan besi dengana besi. Ketika roda besi melindas sambungan rel juga menghasilkan suara yang keras dan kasar. Suara tersebut mengganggu pendengaran. Rel yang tidak rata menggoyangkan laju gerbong. Sungguh, dibutuhkan keberanian untuk naik di kereta barang. Naik di kereta barang itu tentu saja tidak gratis. Dalam perjalanan, sebelum penumpang ada yang turun kereta melambat hampir berhenti. Kondekturnya kereta mendatangi setiap bagian sambungan untuk mengutip ongkos sukarela kepada para penumpang. Hal itu biasa dilakukan. Selanjutnya kereta melaju normal. Kereta melambat saat ada penumpang yang hendak turun.  

Sampai di Kabasiran, persis di jalan utama, kereta melambat. Stasiun masih sekitar seratus lima puluh meter. Orang-orang turun. Aku ragu. Kupikir aku turun di stasiun Parungpanjang saja. Kerlahan kecepatan kereta meningkat. Aku siap-siap turun di stasiun. Pas stasiun kareta dalam kecepatan tinggi. Ternyata tidak berhenti. Andai aku memaksa melompat terbayanglah risiko yang kudapati, celaka.

Kereta terus melaju. Kereta akan berhenti di stasiun Rangkasbitung. Mungkin di sana situasinya ramai. Rencananya aku akan turun di sana. Di stasiun kecil kereta berhenti. Tiba di stasiun Tenjo kerete pun berhenti. Ternyata di dekat stasiun ada keramaian. Segeralah aku turun. Ada tontonan film layar tancap. Kebetulan. Jarak ke Parungpanjang tidak terlampau jauh, tapi untuk pulang ke Parungpanjang walaupun pun mungkin ada ojek selain lumayan jauh ongkosnya juga mahal. Tak cukup uangku untuk membayarnya. 

Pilihan terbaik adalah menanti kereta pagi dari Rangkasbitung ke Tanah Abang. Setelah salat isya di musala aku menonton film. Namun kondisi fisik yang lelah dan belum mandi sungguh tidak nyaman. Aku pindah ke kursi tunggu stasiun sampai lelah dan mengantuk. Aku rebahkan badan di kursi panjang itu, tapi kursinya kurang panjang sehingga badanku tertekuk. Akibatnya cepat pegal dan tidak nyaman. Aku jadi serba salah. Tidurku hanya sekejap-sekejap.

Seorang gadis cantik berjilbab putih dan baju gamis abu-abu datang. Berkenalan. Sebutlah namanya Maya. Dia mengajak aku ke rumahnya. Ternyata dia bukan orang susah. Rumah dan perabotannya bagus. Ayah dan ibunya menyambutku dengan ramah. Aku dipersilakan minum teh hangat dan ditawari makan, tapi aku memilih mandi selain karena gerah, keringatan dan terasa lengket badanku. Debu-bebu arang batubara dari kontainer kosong tadi menempel di badan dan pakaianku. Setelah mandi, salin pakaian milik Maya, makan dan minum, aku dipersilakan tidur di kasur empuk. Aku tidur sendiri, tidak ditemani Maya. Aku segera tidur agar bisa bangun pagi dan tidak ketinggalan kereta pagi. Aku akan pulang ke pondok di Parungpanjang.

Yah, itu hanya andai, seandainya, misalkan, seumpama, nyatanya tidak begitu. Aku tak nyaman menahan kantuk dan lapar, badan gatal bekas keringat. Tidur melengkung di kursi tunggu bikin pegal. Aku juga tak enak karena tak bisa mengabarkan keberadaanku kepada Kiyai Udin. Mungkin dia khawatir karena biasanya aku pulang ke pondok, kecuali hari Ahad. 

Aku berdoa, semoga aku baik-baik saja dan esok pagi bisa kembali ke pondok dengan selamat. Aku menahan sabar. Aku tidak cemas karena hanya berlangsung dalam semalam dan kondisi sekitar stasiun aman dari gangguan preman..


            Waktu subuh tiba, azan subuh berkumandang. Aku bergegas ke musala. Usai salat subuh aku segera kembali ke stasiun. Tak lama kemudian kereta tiba. Muatannya belum penuh. Aku pun naik. Dengan mempunyai kartu langganan aku tidak perlu membayar. Turunlah aku di stasiun Parungpanjang lalu berjalan kaki puluhan meter hingga tiba di pondok. Aku ceritakan pengalam itu kepada Kiyai Udin. Dia pun memaklumi. Dengan mengalami kejadian tersebut aku jadi punya pengalaman yang bisa aku ceritakan kepada siapa pun, juga kepada Anda.[].  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia