[Catatan Perjalanan] Takziah
Sebuah pesan baru kubaca pukul 05.11, Sabtu (2/8/2025). Ternyata dikirim pada pukul 03.28. Pengirimnya atas nama Aira. Isinya mengabarkan bahwa Ibu Hani Khaerunnisa (guru Bahasa Inggris) meninggal dunia. Padahal Jumat dia masih masuk kerja. Ternyata kabar yang sama dikirim juga oleh Ibu Enung Suharyani (mantan Guru SMAN 15 Tangerang, tinggal di Rawa Buntu, Serpong) pada pukul 03.01 yang telah berkoordinasi dengan suami almarhumah. Selanjutnya Ibu Enung menelepon aku dan berbincang-bincang. Dengan kondisi kesehatan yang tidak memadai dan tidak ada yang mengantar dia tidak bisa datang takziah.
Ibu Hani (guru Bahasa Inggris) kelahiran 1979, meninggal dunia dalam usia 46
tahun, relatif muda, masih 14 tahun ke tanggal pensiun. Begitulah ajal. Tak
mengenal usia. Selain meninggalkan suami almarhumah juga meninggalkan tiga
anak. Gaji bulanan tanggal satu dan menyusul tukin cair belum sempat dibukanya
di rekening Bank Banten.
Aku belum tahu alamat pastinya. Untuk bertakziah aku enggan
menanggung risiko tersasar. Aku memilih bareng Pak Hendra. Dia siap pukul enam.
Meluncurlah aku ke selatan lalu belok ke barat sekira dua setengah kilometer ke
rumah Pak Hendra. Aku tiba di sana dia belum siap, sehingga aku menunggu. Ibu
Dahniar, istrinya, menawari aku makan nasi uduk di warung Unah. Unah itu kaka
Pak Hendra yang ke tujuh, teman sekelasku waktu SD. Tampaknya ada kerjasama yang
baik antara Unah dan Tursi, suaminya, dalam menjalankan usaha warungnya itu.
Jarak dari rumahku ke lokasi takziah 22,4 km, yakni perumahan
Griya Taman Walet, Sindangsari, Kecamatan Pasar. Kemis, Kabupaten Tangerang. Pak Hendra membonceng istrinya. Istrinya
sesekali melihat google maps di
hp-nya. Setelah melalui sekira dua puluuh belokan tibalah di lokasi.
Orang-orang duduk di tepi jalan depan rumah almarhumah, sebagian yang lain
kebanyakan perempuan berkerumun menghadap si mayit yang terbungkus dan ditutupi
kain. Sebagian besar yang hadir teman-teman almarhumah.
Duka mendalam tampak dirasakan oleh keluarga almarhumah.
Suaminya tak kuasa menahan tangis saat berpelukan dengan pelayat. Demikian juga
anak pertamanya Humaira. Pada obrolan Pak Hendra dengan Humaira aku lantas
bertanya, di mana sekolahnya? Jawabnya di SMA 15. Kelas mana? Kelas X.5. Ternyata
Humaira pula yang japri aku mengabarkan kematian ibunya. Aku kaget karena aku
tidak tahu bahwa anak bu Hani sekolah di SMA 15. Lebih kaget lagi ternyata
kelas X.5 yang wali kelasnya aku. Harap maklum, dalam bulan-bulan awal aku
belum mengenal tiap-tiap siswa.
Pertanyaan sebab kematian selalu mengemuka di setiap
peristiwa kematian. Orang selalu ingin tahu kronologinya. Demikian pula dengan
kematian Bu Hani. Memang dalam dua tahun terakhir dia sakit. Hari-harinya
memakai tongkat. Bicaranya pelo. Namun dia berusaha untuk tetap masuk kelas.
Aku enggan mencari tahu lebih jauh perihal penyakitnya itu. Itulah yang tampak,
selain pergi dan pulangnya diantar jemput dengan mobil. Dari hasil pasang kuping di lokasi takziah
aku peroleh informasi bahwa sekitar pukul sebelas malam yang bersangkutan sesak
napas, lalu dibawa ke Rumah Sakit Sari Asih, Sangiang. Pukul satu menghembuskan
napas terakhir.
Jenazah sudah dimandikan di rumah sakit. Sekira pukul tujuh
jenazah dimasukkan ke keranda dan dibawa ke musala dekat rumahnya untuk
disalati. Jamaahnya tiga baris, sekira lima puluh orang. Sejumlah perempuan
ikut pula salah jenazah. Usai disalati jenazah kembali dibawa ke rumah. Orang
yang takziah masih bisa melihat kerandanya. Jenazah tak segera diangkut ke
ambulance karena kondisi di kuburan belum siap. Sebagian teman-teman yang
takziah meninggalkan lokasi, pulang. Agar lebih enak aku juga Pak Hendra dan
beberapa teman lain tak segera pulang, menunggu sampai jenazah diberangkatkan.
Sekira pukul sembilan barulah jenazah dimasukkan ke ambulance. Pada detik-detik
itu beberapa ibu guru muda berkelompok. Mereka kompak mengenakan kostum hitam.
Aura kecantikan mereka memancar rata berpadu dengan ekspresi penuh empati.
Pesona itu memancar indah, sayang jika dilewatkan. Jenazah diberangkatkan menuju pemakaman di
Selapajang, ke arah timur laut. Lumayan jauh bagi kami yang pulangknya ke arah
selatan. Itu sebabnya aku dan Pak Hendra tidak ikut mengantarnya sampai lokasi.
Setelah itu barulah kami pulang.
Aku mengenang almarhumah sebagai teman yang baik. Tak pernah
terjadi konflik atau hal yang tidak mengenakan. Kematiannya memang tidak
mendadak melainkan didahului oleh penyakit yang membuatnya harus bolak-balik ke
rumah sakit. Namun yang agak mengagetkan bahwa hari Jumat dia masih tampak
baik-baik saja. Namun begitulah maut, bisa datang saat orang dalam keadaan apa
pun. Mawas diri menjadi niscaya. Semoga kita meninggal dunia dengan cara yang
khusnul khotimah.[]

Komentar
Posting Komentar