[Otobiografi Usman] Tentang Julia


Gayung pun bersambut. Aku tidak bertepuk sebelah tangan. Respons positifnya cukup menggetarkan seisi dada. Itulah momentum paling indah semasa akhir SMP. Cinta memang belum terkatakan. Aku belum punya cukup keberanian. Jejaknya berupa goresan spidol “I love you” di punggung baju sekolahku adalah isyarat cinta walau mungkin hanya emosi sesaat.   Sayangnya sensasi itu berlangsung singkat karena kami kemudian berpisah, lulus dan melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbeda.

Aku masuk Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) dan dia masuk Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga Negeri (SMKK), sama-sama di Tangerang. Sekian bulan berlalu, aku masih terkesan terhadap dirinya. Rasa kangen mendorongku untuk menulis surat. Kutulis surat, kukirim melalui kantor pos. Sampai atau tidak ke tangannya, entahlah, karena tak ada balasan. Belum ada keberanianku untuk datang ke rumahnya. Nyaliku masih kecil karena daya dukung tak memadai. Aku pun fokus pada kesibukan lain ketimbang sakadar urusan yang tak jelas kepastiannya.

Suatu saat aku dan beberapa teman mengunjungi toko swalayan yang baru beroperasi, yakni Toserba Anyar Jalan Ki Asnawi, Pasar Anyar. Itu merupakan toko swalayan pertama di kota Tangerang. Itulah pengalaman pertamaku naik tangga tangga berjalan (eskalator).  Kami datang bukan untuk belanja melainkan kami hanya bermain-main dan  melihat-lihat barang dagangan yang unik-unik. “Wah dolar jatuh!” gurau seorang pelayan toko begitu uang koin seratus rupiah jatuh di lantai. Pemiliknya temanku yang bernama Muhammad Dolar.

Kami berkeliling di lantai dua, begitu hendak turun seketika Julia muncul dan berkata, “Belanja Pak Erte!” Dia menirukan upacan bintang iklan obat anti nyamuk bakar yang sedang populer di radio dan televisi pada masa itu. Aku kaget. Dia bersama dua temannya. Sayang sekali, aku tak dapat memanfaatkan momen langka itu. Aku tak berdaya.

Pada waktu lain, aku ikut serta berwisata Taman Cibodas (Cianjur) bersama teman-teman SMP dalam rangka reuni angkatan 1986. Dia ikut. Aku tak punya kata-kata untuk menyapanya. Lamanya waktu dan tidak bertemu mengakibatkan hilangnya keakraban. Antara aku dan dia tak bisa akrab. Sungguh, reuni itu tak mengesankan.

Selulus SPG. Suatu hari aku naik angkot dalam perjalanan pulang. Di depan sebuah pabrik (mungkin pabrik garmen, samping pabrik minyak, di kawasan Karawaci) sejumlah karyawan entah hendak pulang atau istirahat, aku melihat dia. Mungkin dia bekerja di pabrik itu. Karena aku di dalam angkot sehingga aku tidak bisa menyapanya. Ada tanya dalan diriku, mengapa dia tidak melanjutkan studi?

Dalam tahun pertama aku kuliah. Aku ingin menguji keberanianku. Saat itu momen lebaran. Tiba di rumahnya bakda isya. Begitu mengucap salam disahut oleh kakak perempuannya. Ternyata dia tidak ada di rumah. Katanya sedang berada di Bandung. Aku tak berani menanyakan keberadaannya di sana. Aku diterima oleh bapaknya, bapak Sarbini. Bapaknya pernah menjadi penilik dinas pendidikan (mungkin) di wilayah kecamatan Legok. Berarti pernah pula ke SD Gurubug. Dia juga kenal dengan Bang Sualim, tetanggaku, seangkatan abah. Untung bapaknya ramah sehingga aku tidak  terlalu kikuk. 

Dalam tahun kedua kuliah aku masih tinggal di pondok pesantren di Parungpanjang. Telah kubangun keberanian diri berhari-hari.  Tekatku bulat rinduku berat. Bakda isya aku pergi ke pangkalan angkutan dekat stasiun. Aku naik mobil yang akan melewati Curug. Tapi di depan Pasar Curug, pasar dan sekitarnya tampak gelap. Aliran listrik mati. Seketika aku berpikir bahwa besar kemungkinan lampu di rumahnya juga mati. Jarak rumahnya masih sekitar dua ratus meter. Bertamu saat lampu mati bukan momen yang tepat. Aku putuskan untuk turun.  Kupikir lebih baik menanti lampu hidup di sekitar pasar karena ramai.

Saat aku berjalan mencari tempat untuk duduk atau jongkok, tanpa kuduga ternyata ada seseorang yang aku kenal. Dia adalah Ade Rusmana, adik kelasku di SMP dan SPG. Dia duluan yang menyapaku. “Man, mau ke mana?” tanyanya. Aku katakan bahwa aku hendak ke rumah Julia.

“Dia kan baru abis nikah kemaren.”

“Benarkah?”

“Iyah!”

Seketika aku merasa oleng. Antara kaget, heran, beruntung, menyayangkan, dan lain-lain menyatu. Aku bukan hendak kondangan, tapi ingin melepas kangen. Namun karena dia sudah bersuami terpaksa aku urungkan niatku menemuinya.   Aku kembali ke Parungpanjang. Bisa dibayangkan andai lampu listrik tidak mati dan aku mengetuk pintu rumahnya. Beragam “andai” memenuhi ruang imajinasiku.[]                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf