[Diari] Teman Minta Tf
Senin
(12/1/2026), karena ada rencana mungkin relokasi atau mungkin renovasi bangunan
sekolah, KBM mulai diberlakukan dua shift, kelas XI dan XII masuk pagi dan kelas
X masuk siang. Sekira pulul enam aku hendak berangkat, tapi hujan lumayan deras
sejak malam hari. Aku bersiap mengenakan mantel. Sebuah pesan masuk (japri)
dari seorang teman kuliah bernama Yoyon Ahyani “Ada saldo di rekening? Bisa
pinjam dulu nanti siang diganti.”
Aku
kenakanlah mantel dan siap berangkat. Aku pikir-pikir sesaat, lalu membalas
dengan bahasa Sunda, “Ada, berapa. Sini nomor rekeningnya,“ Dia langsung
membalas, dua juta, dan nomor rekeningnya atas nama Yoyon Ahyani di Bank
Danamon dengan nomor rekening 890700133539406. Aku beri tahu bahwa saldoku ada
2,3 juta. “Kirim ke sini,” katanya, lalu dia kirim lagi lagi, “Pinjam 2 juta
saja nanti siang ditransfer gantinya.”
Maksudku
aku tidak punya uang banyak, cuma segitu. Sebenarnya uang itu akan masih kurang
untuk berbayar. Aku akan membayar ongkos menerbitkan buku dan membayar pajak
kendaraan.
Bersedia
memberikan pinjaman aku lakukan karena aku percaya, terlebih pinjamnya sebentar,
nanti siang dibayar. Mungkin saja dia sedang darurat. Untuk urusan uang dia
orang baik. Keuangannya kuanggap tidak sulit. Aku juga pernah mampir ke rumah
orang tuanya yang juga pernah dia tinggali di Picung pada Minggu 16/11/2024)
sepulang dari Binuangeun. Selain guru PNS dia juga dagang. Jika uangnya ada,
kalau dia yang meminjam aku tidak khawatir.
Kupikir
aku akan mentransfer dengan syarat dia harus ngomong, aku ingin mendengar
suaranya. Apakan benar suara dia? Bisa saha ponselnya sedang dipegang orang
lain. Maka aku coba menelepon. Ternyata tidak tersambung. Samai empat kali,
tidak tersambung juga. Berangkatlah aku. Kupikir, masabodolah!
Sejam
kemudian, saat aku telah tiba disekolah aku buka ponsel. Ternyata dia tadi mengirim
pesan lagi. Katanya,” Bagaimana?” Lalu aku mencoba menelepon. Tidak tersambung.
Makin tidak mau aku mentransfer.
Aku
mencoba menelepof teman lainnya, yakni Rofik Namlani, tinggalnya di Kad
Kolecer, Labuan. Tiga kali panggilan tidak terjawan.Pukul 12.29, sekira lima
jam kemudian, aku mencoba membuka m-banking BCA. Aku cari nomor bank Danamon
dan aku masukkan nomor rekening tadi. Trnyata muncul nama Yoyon Ahyani. Berarti
benar itu nomor rekening Yoyon.
Aku
pindai lalu aku kirim kepada Rofik. Sesaat kemudian dia membalas, bahwa minta
tf seperti itu disampaikan juga kepada masing-masing teman yang ada di grup WA alumni
IKIP MJ. Kepada orang Picung empat orang sudah memberi pinjaman. Kepada guru
honor bawahan Rofik juga minta pinjam uang. Hal serupa disampaikan juga kepada
Rofik.
Hasil pindai di m-banking BCA
Malam
harinya aku mencoba membuka facebook Yoyon. Ketemulah, Yono menuliskan status bahwa
nomor ponselnya di-hack orang. Ada satu komentar yang mengatakan, pagi-pagi
sudah minta transfer. Mungkin pelaku melakukannya pada waktu bersamaan. Aku
iseng mencoba memancing. “Maaf cuma bisa transfer sejuta.” Ternyata, centang
satu. Ponselnya tidak aktif.
Dalam hati aku masih bertanya, apakah benar nomor rekening di bank Danamon milik Yoyon? Hal itu pun aku tanyakan kepada yang bersangkutan, tapi tak segera dijawab. Barulah ketika diulang sekali lagi dia katakan bahwa nomor rekening dia bukan itu. Yoyon tidak punya rekening di Bank Danamom. Rekeningnya ada di Bank Mandiri. Berarti seandainya aku mentransfer sejumlah uang, maka masuknya ke rekening penipu. Aku masih heran, kok bisa nama Yoyon Ahyani tertera di atas nama Bank Danamon. Apakah itu melibatkan orang Bank Danamon? Wallahualam.
Esok siangnya, Selasa, Yoyon sudah bisa mengirim pesan dengan nomor yang sama. Katanya, dia sudah mendatangai kantor pelayanan Grapari Telkom. Berarti sudah normal. Nomor aman.
Terbayang dampaknya jika aku langsung
mentransfer. Rugi dua juta. Tertipu di saat uang segitu-gitunya bisa bikin
sesak napas. Itulah pentingnya bersikap tenang dan hati-hati. Memang, selalu
ada hikmah pada setiap kejadian.[]
Penulis: Usman Hermawan


Komentar
Posting Komentar