[cerpen] Hati Yang Kembali
Oleh: Usman Hermawan
Suradin belum dapat memberikan jawaban pasti atas permintaan Mak Badriah, ibunya. Dengan panjang lebar Mak Badriah telah menyampaikan hal terkait perjodohannya dengan Nurma, gadis anak tetangganya. Mak Badriah mengharapkan gadis itu menjadi menantunya, yang berarti berbesanan dengan Umi Salimah, sahabat di masa kecilnya yang masih ada hubungan kekerabatan. Berarti juga berbesanan dengan orang berada, keluarga baik-baik, terpelajar dan terpandang di lingkungannya.
Suradin telah lulus kuliah dua tahun
lalu dan kini menjadi guru di Madrasah Aliyah swasta, sedangkan Nurma baru
beberapa bulan meraih gelar sarjana komunikasi di kampus ternama di Semarang.
Menurut perhitungan Mak Badriah, jika Suradin berjodoh dengan Nurma akan banyak
kebaikannya. Oleh karena itu ketika ibunda Nurma mengajak berbesanan Mak
Badriah segera menanggapinya dengan sikap positif.
Menyusul, Mak Badriah mimpi bertemu Haji
Murad, ayahanda Nurma. Kata Haji Murad, perjodohan Nurma dan Suradin harus dijadikan.
Mak Badriah mempercayai mimpinya itu sebagai petunjuk dari yang mahakuasa.
“Bagaimana Sur, kamu mau kan?” Mak Badriah
mengulang pertanyaannya.
Suradin masih enggan menjawab. Dia khawatir
jika menjawab ‘tidak’ akan melukai perasaan ibunya.
“Kita ini apalah Sur dibanding dengan
keluarganya. Mak kira kalian sepadan, sama-sama sarjana, meskipun beda jurusan.
Beda jurusan kan tidak apa-apa, asal jangan beda keyakinan, beda agama.”
“Mak, beri saya waktu beberapa hari untuk
mempertimbangkannya.”
“Nurma itu cantik, Sur. Anaknya sudah
ditanya, katanya mau. Katanya, kamu orangnya baik Sur. Dewasa. Dia cocok sama
kamu Sur. Kesempatan bagus tidak datang dua kali Sur.”
“Sudahlah Mak, sekarang Mak tenang
saja.” Suradin enggan bicara lebih banyak.
“Segera beri jawaban Sur. Kamu jangan
ragu meskipun kita tidak punya cukup biaya untuk menikahinya. Haji Murad bersedia
menanggung biaya resepsi pernikahannya nanti. Untuk mas kawin yang penting
cukup syarat, Sur. Nurma tidak akan meminta yang macam-macam. Dia mengerti
keadaan kita. Kalau cincin emas tiga gram dan seperangkat alat salat mudah-mudahan
bisa kita usahakan.”
“Coba Mak rundingkan juga hal itu dengan
bapak.”
“Bapakmu ikut saja. Dia pasti setuju Sur.
Dia sudah menyerahkan urusan ini kepada mak.”
“Bapak setuju?”
“Tentu.”
“Bagaimana jika ada risiko biaya yang
harus dikeluarkan nanti, bapak
menyerahkannya kepada Mak juga?”
“Kalau soal itu, harusnya tidak begitu
Sur. Bebannya ditanggung bersama. Tapi keluarga Haji Murad sangat memahami
keadaan ekonomi kita. Jika kalian menikah nanti, keluarga Haji Murad bersedia menanggung
semua biayanya. Ibarat kendaraan, kamu tinggal naik Sur. Enak.”
“Seperti jamaknya orang lain, sebagai
barang serahan, berapa uang yang bisa kita serahkan?”
“Semampu kita Sur, walaupun mereka tidak
minta.”
“Yakin begitu?”
“Tentu.”
“Tidak akan menanggung malu nantinya?”
“Tidak perlu malu, Sur. Kita saling
pengertian.”
“Tolong pertimbangkan masak-masak, Mak.”
“Apanya yang mesti dipertimbangkan?
Semuanya baik-baik saja kok. Kamu itu, mau dibantu seperti tidak semangat.”
“Maaf, bukan begitu Mak, aku cuma
khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Maksudku, tempat tinggal kita
berdekatan, jika ada masalah sedikit saja khawatir jadi sengkarut.”
“Kamu itu Sur, buruk pikir. Pokoknya bismillah,
secepatnya kita urus pernikahanmu. Menunda-nunda jodoh tidak baik.”
“Terserah Mak-lah.”
Mak Badriah ke dapur, sesaat kemudian
kembali. Disodorkandannya secangkir minasarua dan beberapa iris dodol wedu pemberian Umi Salimah. “Minumlah Sur biar badanmu hangat dan tambah segar. Calon
pengantin tidak boleh loyo, harus
semangat.”
Baru saja Suradin meneguk minasarua, Umi
Salimah datang dan beruluk salam. Dia meminta ijin kepada Mak Badriah untuk
meminta tolong kepada Suradin. Dengan senang hati Mak Badriah mempersilakan.
“Sur kalau kamu tidak sedang sibuk, umi
minta tolong bisa?”
“Minta tolong apa Mi?”
“Itu motormu bisa dipakai? Kalau tidak, pakai motor aji saja di rumah.”
“Motor ini juga bisa dipakai, Mi.”
“Kalau begitu, tolong jemput Nurma di Bank
BRI dekat pasar.”
Suradin terhentak dan jengah sejenak,
tapi tak ada alasan untuk menolaknya. “Baiklah Mi.”
“Tolong segera Sur, takut keburu selesai
urusannya di sana. Cuma tarik tunai uang pembayaran kedelai dari orang
Makasar.”
Suradin segera tancap gas.
Keempat mata tertuju pada keberangkatan Suradin,
lalu beradu pandang seraya berurai senyum.
“Dari Makasar ada transferan dua puluh
juta ke rekening aji,” Umi Salimah menegaskan. Dua hari lalu Haji Murad mengirim dagangan
kedelai kepada pelanggannya melalui pelabuhan Kota Bima.
***
Seperti biasa Bank BRI disesaki nasabah.
Namun Suradin tidak mengalami kesulitan mendapati Nurma di antara banyak orang.
Setelah hampir sepuluh menit Suradin menanti, Nurma pun keluar. Tak ada
ketekejutan pada Nurma begitu melihat Suradin karena sejak awal sudah tahu
bahwa ibunya akan menyuruh Suradin untuk menjemputnya.
Inilah pertemuan kali pertama sejak
orang tua mereka serius menyepakati perjodohan. Suradin berusaha menunjukkan
sikap berempati kendati sebenarnya perasaannya biasa saja. Tak ada rasa tak
suka, juga tak ada ketertarikan sebagai lawan jenis. Namun demi memenuhi harapan Mak Badriah, Suradin
berusaha menepis egonya. Dia pun menyadari, jika tuhan berkenan, dalam waktu
dekat Nurma akan menjadi jodohnya. Seperti kata orang, pikir Suradin, cinta
bisa tumbuh belakangan.
“Sur, boleh aku minta antar ke rumah
temanku di Rasabou?”
Suradin mengangguk.
“Kau tidak keberatan Sur?”
“Dengan senang hati.”
“Poda
ro, benarkah?”
“Ayolah.”
“Terima kasih Sur, kau baik sekali.”
Mereka bergerak meninggalkan area Bank
BRI, berboncengan menuju Rasabou, lalu kembali ke Kananga. Kedekatan mereka
disaksikan berpasang mata para tetangga. Hal itu makin menguatkan kabar burung bahwa
perjodohan keduanya adalah benar.
Tiba di rumah Nurma, Suradin dibahasakan
Umi Salimah dengan sangat santun, bahkan terkesan berlebihan. “Silakan minum
Sur.”
“Terima kasih Umi.”
“Terima kasih yah Sur. Umi percaya sama
kamu. Kamu akan menjadi imam yang baik bagi Nurma.”
“Insya Allah Umi.”
“Semoga kamu tidak keberatan jika Umi mengharapkan
agar hubungan kalian segera dihalalkan.”
“Maaf
Umi, kalau soal itu saya terserah Mak dengan Umi saja.”
“Baiklah, nanti Umi akan bicara dengan
Mak kamu. Tidak ada yang ditunggu bukan? Maksud Umi, maaf, misalnya menunggu
jadi pegawai negeri dulu.”
“Ah, tidak perlu ditunggu Umi, tidak ada
kepastian, saya berserah diri saja kepada Allah, tapi kalau ada kesempatan
seleksi saya pasti ikut.”
“Ya ya ya, yang penting ikhtiar yah.”
“Iya Mi.”
Dari sikap Suradin yang demikian Umi
Salimah dapat menyimpulkan bahwa Suradin bersedia dijodohkan dengan putrinya. Tidak
terdengarnya suara sumbang dari tetangga yang menyatakan keberatan dimaknai
sebagai dukungan moral. Hemat mereka, berjodoh dengan tetangga banyak kebaikannya,
terlebih mereka masih ada hubungan kerabatan.
Selanjutnya, Umi Salimah meminta Mak
Badriah untuk segera melamar putrinya. Gayung bersambut, Mak Badriah segera
bertindak. Segala kemampuan dikerahkan, hingga terkumpullah sejumlah uang.
Mak Badriah mengutus kerabatnya, yakni
Abu Heso, Nur Sani, dan Armana untuk melamarkan. Hasilnya, tentu saja, lamaran
diterima dengan senang hati. Kabar lamaran tersebut segera diketahui para
tetangga.
Berselang dua hari, seorang gadis
bernama Haryanti datang bertamu diterima Mak Badriah. Dia mengaku sebagai pacar
Suradin. Mak Badriah tercengang, tidak menyangka Suradin punya pacar, berjilbab,
cantik pula parasnya.
“Benarkah
Suradin telah melamar gadis, Bu?”
Mak Badriah mengangguk. “Dilamarkan.”
Seketika air mata Haryanti meleleh. Suradin
yang datang kemudian tak bisa berkata-kata. Tangis Haryanti pecah. Seraya
tersedu Haryanti menumpahkan isi hatinya. “Kamu tega Sur. Tak ada laki-laki
lain di hatiku. Demi Allah Bu, hanya Suradin yang saya harapkan kelak menjadi
pendamping hidup saya, menjadi imam saya dan anak-anak kami kelak. Saya
menyayanginya, Bu. Saya tolak seseorang yang berminat terhadap saya, tidak
peduli dia dari keluarga berada. Kamu tega Sur. Padahal belum sebulan kita
bertemu. Kamu mengatakan akan menikah denganku. Pembohong kamu!”
Suradin tertunduk, matanya meleleh. “Maafkan
aku Har.”
Mak Badriah menaruh iba. “Ibu juga minta
maaf, Dik Har. Ibu tidak tahu, tapi mau bagaimana lagi. Sudah jalannya begini. Rencana
pernikahan tidak bisa dibatalkan. Mungkin kalian memang bukan jodoh. Semua
berjalan seijin Allah.”
Napas Haryanti tersengal, “Saya kecewa,
Bu.”
Mak Badriah berkaca-kaca. “Ya, ibu paham.
Tabahkan hatimu Dik. Semoga Adik mendapat jodoh yang lebih baik dari Suradin.
Ikhlaskanlah Suradin berjodoh dengan orang lain. Kami minta maaf. Lebih baik
kalian bersahabat saja. ”
Menyadari nasi telah menjadi bubur, perlahan
emosi Haryanti mereda. “Maafkan saya Bu, kedatangan saya telah mengganggu. Saya
mohon pamit.”
“Tolong sampaikan salam ibu kepada orang
tuamu Dik.”
Ketika Haryanti hendak menghidupkan
sepeda motornya Suradin mendekat, “Har aku minta maaf. Aku tidak bisa menolak.”
Haryanti tak menanggapi.
Suradin tak bisa berkata-kata lagi.
Haryanti segera tancap gas.
“Hati-hati Har!” Batinnya disesaki rasa bersalah.
***
Sekitar
pukul sepuluh akad nikah berlangsung di kediaman mempelai wanita, dihadiri oleh
keluarga kedua belah pihak serta para tetangga. Selanjutnya, bakda zuhur kedua
mempelai bergaun pengantin dengan sedan merah bergerak ke Gedung Sakinah,
sekira dua kilometer jaraknya. Acara resepsi dimeriahkan dengan musik organ
tunggal. Para tamu yang datang menikmati hidangan yang disediakan dengan
iringan lagu yang dinyanyikan sang vokalis wanita. Pesta berlangsung lancar,
selama tiga jam.
Malam pertama, malam yang banyak
diceritakan orang sebagai malam istimewa tak dirasakan Suradin. Tak ada sensasi
yang berarti. Ibarat persneling, giginya masih netral. Suradin belum bisa tancap
gas. Apanya pula yang hendak digas? Kendaraannya saja tak ada kunci kontaknya. Suradin
gamang. Kebersamaannya di tempat tidur tak sesuai harapannya. Nurma selalu
membelakangi.
Malam kedua, kejadian serupa terulang.
Bantal guling berada di tengah sebagai penghalang.
“Nur, kenapa kamu selalu begitu?”
“Kamu tidur sajalah!” Nurma bangkit dan
keluar kamar.
Suradin berusaha bersabar. Pikirnya,
masih ada malam-malam lain yang memungkinkan menghadirkan sensasi tak terduga.
Dicobanya memejamkan mata untuk tidur pulas, tapi gagal hingga kemudian Nurma
kembali.
“Astaga, kenapa kamu malam-malam begini makan
mangga muda Nur? Asam. Bisa sakit perut nanti.”
“Lagi mau.”
Suradin berpikir beberapa jenak. “Jangan-jangan
...”
“Benar Sur. Sejujurnya aku katakan, sampai
malam ini tak ada rasa cinta di hatiku. Hambar Sur. Kukira cinta akan tumbuh
dengan sendirinya. Ternyata tidak. Sekarang aku ngidam. Ini sudah bulan
ketiga.”
“Kamu hamil?”
“Ya.”
“Astagfirullah, pantas .... Kenapa kamu
mau saja dijodohkan dengan aku? Pernikahan
kita tidak sah. Sebenarnya aku curiga, tapi aku buang jauh-jauh pikiran buruk
itu demi menghomati martabatmu sebagai perempuan, juga martabat keluargamu.”
“Aku minta maaf.”
“Tidak ada maaf. Kalian bersekongkol
menipu aku.”
“Ini
salahku Sur. Umi dan yang lainnya tidak tahu.”
“Terserah. Aku pulang sekarang juga!
Dengan membawa barang pribadinya Suradin
keluar rumah tanpa pamit kepada Umi Salimah dan Haji Murad. Pikirnya, biarlah
mereka tahu dengan sendirinya.
***
Mak Badriah menangis. “Maafkan Mak Sur.
Mak menyesal menjodohkan kamu Sur.”
“Biarlah segala sesuatu menemui
takdirnya Mak. Kita hanya tinggal menjalani. Kesedih dan penyesalan Mak tak
akan mengembalikan kita kepada posisi semula. Mungkin ini jalan yang harus saya
tempuh untuk sampai kepada keadaan yang membahagiakan. Mak jangan bersedih.”
“Saya masih sanggup menghadapi
kenyataaan ini Mak.”
“Mak malu kepada orang-orang Sur. ”
“Mak jangan keluar rumah dalam beberapa
hari.”
Dalam waktu yang relatif singkat kabar
memalukan itu diketahui warga sekampung. Sebagian besar mereka murka terhadap
keluarga Haji Murad. Bahkan seorang paman Suradin hendak melaporkannya ke
polisi namun dicegah oleh ayah Suradin.
Bulan terus berganti, kandungan Nurma
terus membesar hingga tiba saatnya untuk melahirkan. Nurma dibawa ke rumah
sakit umum kabupaten. Tak ada kendala berarti dengan proses melahirkannya.
Bayinya laki-laki. Kabar itu pun segera diketahui keluarga Mak Badriah.
Seorang anggota keluarga Umi Salimah
datang menanyakan Suradin. Kebetulan Suradin sedang tak ada di rumah.
“Ada apa?” tanya Mak Badriah.
“Minta KTP Suradin, atau fotokopinya.”
“Untuk apa?”
“Permintaan bidan, untuk syarat administrasi.”
Tanpa pikir panjang Mak Badriah
mencarikannya. Didapatilah tiga lembar fotokopi Suradin dan diberikannya.
“Bukan cucuku,” gumam Mak Badriah
membatin.
Berarti secara administrasi ayah bayi
itu Suradin. Setelah mengetahui hal itu Suradin marah. Kemarahannya
diekspresikan dengan cara membanting gelas yang kebetulan ada di hadapannya.
Dia kemudian pergi dari rumah. Beberapa anggota keluarga menyalahkan Mak
Badriah.
***
Sebulan setelah bayi lahir, tampak di
rumah Nurma berdiri tenda dan ada keramaian. Nurma menikah dengan ayah biologis
bayinya, orang Semarang. Ijab qabul
dipimpin penghulu KUA. Meskipun mengetahui hal itu, Suradin tak mau peduli. Dia
ingin mengubur dalam-dalam kisah pilunya.
Hubungannya dengan Haryanti kembali terjalin.
Keduanya bersepakat akan berumah tangga. Ayah Haryanti memanggilnya untuk menghadap. Beliau
ingin memastikan kesungguhan hubungannya
dengan Haryanti.
“Saya dan Haryanti telah saling
menerima. Kami telah mantap untuk beranjak ke jenjang pernikahan. Untuk itu
saya mohon restu bapak dan ibu.”
“Sebagai
orang tua, kami tinggal mengikuti. Kalau begitu, tolong sampaikan salam
kami kepada orang tuamu, kira-kira bulan
depan, orang mereka bapak persilakan untuk melamar.”
“Baik Pak, akan saya sampaikan. Terima
kasih, bapak telah bersedia menerima kehadiran saya.”
Suradin gembira, tak peduli dengan beban
biaya yang harus ditanggung kedua orang tuanya untuk biaya pernikahannya nanti.
Sementara itu, mendengar restu ayahnya, Haryanti berbinar-binar.[]
Gurubug7/5/2021

Komentar
Posting Komentar