[CERPEN] SAKSI NIKAH
Usman Hermawan
Begitu
turun dari sepeda motor seketika kata-kata tak etis meluncur deras dari mulut
istrinya, Munarti. Kuding kaget. Tak puas hanya bicara, diambilnya bongkot
bambu lalu dilemparnya dengan kuat. Kuding spontan mengelak. Jika tidak, bisa bocos kepalanya. Menyadari istrinya
sedang kalap, Kuding meningkatkan kewaspadaan.
Seketika
itu pula istrinya mengacungkan golok. “Mampus, pergi!”
“Mun...”
Kuding panik.
“Tidak
ada kompromi. Sekarang juga kamu pergi. Jangan lagi kembali ke rumahku! Ini
rumahku. Pergi kalau mau selamat!”
“Ini
apa masalahnya Mun?”
“Halah,
pura-pura kamu! Menyebalkan. Dasar suami tidak tahu diuntung. Pergi, golok nih!”
Kuding
bergegas kabur.
Ini
kali ketiga dia diusir dari rumah. Namun seberat apapun kesalahan istrinya
tidak bakalan dia mengusirnya karena rumah dan lahannya milik mertuanya. Hampir
tidak ada biaya yang dikeluarkan Kuding untuk membangunnya. Semula dia merasa
bangga, juga ibunya, mendapat istri anak orang berada. Namun itulah salah satu konsekuensinya,
dia diusir. Dia tidak begitu dihargai. Segala sesuatu harus menuruti istrinya.
“Ada
apa lagi Ding? Berantem sama istrimu?”
“Biasa
Mak, Munarti ngamuk.”
“Dan
kamu diusirnya?”
“Begitulah.”
“Terserah
kamu. Keputusan ada di tanganmu. Manisnya, pahitnya, kamu yang merasakan.
Emakmu ini memilih sikap netral saja. Takut salah. Mau kamu pertahankan
silakan, mau kamu tinggalkan terserah. Bukan rahasia kalau tabiat istrimu
begitu. Mentang-mentang kamu anak orang miskin. Memang sih orang miskin harus
tahu diri, tapi kalau direndahkan terus-terusan, semut juga bisa menggigit
kalau diinjak.”
“Kali
ini cuma salah paham Mak.”
“Memangnya
kamu melakukan kesalahan apa?”
“Jadi
saksi Mak.”
“Saksi
apa?”
“Saksi
nikah.”
“Siapa
yang menikah?”
“Kang
Musoleh nikah lagi.”
“Maksud
kamu nyandung, poligami.”
“Betul.”
“Nikah
di bawah tangan? Kenapa harus kamu yang jadi saksi?”
“Yang
lain tidak bersedia. Mungkin mereka takut dimarahi istrinya.”
“Kenapa
si Musoleh kawin lagi?”
“Karena ada janda yang mau sama dia Mak.”
“Kenapa
tidak kamu yang nikah lagi?”
“Kok
Ema bertanya begitu?”
“Becanda
Ding?”
“Saya
belum menikah lagi karena belum mampu Mak.”
“O,
jadi kalau mampu kamu akan menikah lagi?”
“Ah,
becanda Mak!”
“Jangan
sakiti istrimu Ding. Laki-laki harus banyak mengalah. Mungkin ada yang tidak
beres dengan istrinya temanmu itu.”
“Kira-kira
begitulah.”
“Memang
bagaimana istrinya?”
“Lumayan
Mak. Maksudnya, yang saya dengar, istrinya itu tidak suka menyeduhkan kopi,
kecuali kalau ada tamu. Terus, kata Kang Musoleh, dalam lima tahun belakangan walaupun
dalam satu rumah mereka hidup sendiri-sendiri. Tidak harmonis.”
“Kenapa
begitu?”
“Hanya
itu yang Kang Musoleh ceritakan, tapi dari omongan seseorang bahwa Kang Musoleh
pernah memergoki istrinya selingkuh.”
“Itu
sih Emak sudah tahu.”
“Dari
mana?”
“Dari
ibu-ibu pengajian.”
“Kok
Emak malah tanya?”
“Biar
kamu menjawab.”
“Setelah
saya jawab Emak mau tanya apa lagi?”
“Mungkin
itu masalahnya sehingga si Musoleh kawin lagi. Kalau selama ini dia
mempertahankan perkawinannya itu pasti karena dua anaknya masih kecil-kecil.
Sekarang anaknya yang pertama lulus SMA, yang kedua naik ke kelas lima.”
“Kok
Emak lebih tahu?”
“Info
dari ibu-ibu di pengajian.”
“Itulah
untungnya ikut pengajian Mak yah!”
“Lantas,
apa hubungannya dengan istrimu? Istrimu tidak terima kamu jadi saksi nikah?”
“Bukan
begitu Mak. Istri muda Kang Musoleh lagi galau. Karena saya jadi saksinya, maka
saya pula yang dianggapnya pantas dimintai tolong.”
“Tolong
apa Ding?”
“Menasihati
Kang Musoleh. Mereka bereteru. Katanya, Kang Musoleh galak, kasar. Saya jadi
bingung, saya saja sering dinasihati Kang Musoleh, bagaimana bisa saya
menasihati dia. Dia itu lebih tua, juga lebih berilmu. Pengalamannya luas. Saya
ini apalah.”
“Kaitannya
dengan istrimu apa Ding, sehingga kamu diusirnya?”
“Ya,
ada Mak.”
“Coba
jelaskan Ding.”
“Begini
Mak. Istri saya berangkat, mau ke pasar, naik motor, sendiri. Tidak lama
kemudian datanglah istri muda Kang Musoleh, naik motor juga.”
“Atas
permintaan kamu?”
“Tidak
Mak, demi Tuhan.”
“Terus,
panjang lebarlah dia bicara. Segala macam dibicarakan, dari masalahnya dengan
Kang Musoleh sampai masalah utang negara.”
“Apakah
ada kemungkinan dia naksir kamu Ding?”
“Kalau
itu saya tidak tahu. Tapi bukannya tidak mungkin, saya masih ganteng kok. Yang
pasti saya tidak memberikan harapan apa pun. Saya hanya menghargai
kedatangannya. Tidak mungkin juga saya mengusirnya, dia masih ingin terus
bicara. Nah, pada akhirnya dia pamit pulang setelah puas.”
“Lantas
masalahnya sebenarnya apa Ding sehingga kamu diusir istrimu?”
“Sabar
Mak, saya belum selesai cerita. Baru dua puluh meter istri muda Kang Musoleh meluncur
tibalah istri saya, Munarti yang paling
cantik sekeluarga. Nah, dikiranya saya ada main dengan perempuan istri muda
Kang Musoleh itu.”
“Tapi
betul kamu tidak selingkuh?”
“Demi
Tuhan Mak, tidak. Saya belum punya keberani an untuk itu.”
“Berarti
itu tandanya dia cemburu Ding.”
“Tapi
saya tidak mau dicemburui dengan cara diusir Mak.”
“Emak
sudah pernah menasihati istrimu agar jangan ngusir-ngusir. Dia bilang iya. Tapi
nyatanya kamu diusir lagi.”
“Apakah
saya mesti kawin lagi Mak, nyandung kayak Kang Musoleh.”
“Halahhhhh
Ding, kamu ngaco!”
“Bakal
saksinya sudah ada. Kang Musoleh.”
“Tidak
cukup ada saksi, tapi harus ada duit. Duitmu receh Ding. Sudahlah mandi sana,
lalu makan. Ada jengkol semur tuh. Enak.”
“Baiklah.”
Sesuai
saran ibunya, Kuding tidak pulang semalam. Alat komunikasinya dimatikan. Kangen
juga dia pada istrinya, sekaligus khawatir kalau-kalau ada laki-laki lain yang
menggoda. Maklum, lima tahun berumah tangga belum juga dikaruniai anak. Istrinya
di rumah sendiri. Kuding mencoba untuk
bertahan tidak pulang, rencananya sampai tiga malam.
“Ding,
bangun!” teriak ibunya dari luar.
Kuding
sedang tidur siang.
“Ada
Munarti!”
Munarti
masuk menemui Kuding. Diguncang-guncangnya badan Kuding hingga bangun.
“Mas,
ayo pulang!” suaranya manja.
“Tidak.”
Kuding tak acuh.
“Aku
takut sendirian di rumah.”
“Rumahmu,
bukan rumahku.”
“Rumah
kamu juga Mas. Aku janji, tidak akan galak lagi.”
“Ah,
gombal.”
“Benar.
Sumpah. Lagi pula kemarin aku cuma becanda. Prank mas, prank. Marah tapi
bo’ong.”
Begitulah
istri Kuding, punya banyak cara meluluhkan hatinya. Bagi Kuding menjadi tak
jelas, apakah kemarahannya betulan atau pura-pura. Namun sesungguhnya, rasa
sayanglah yang mampu menghapus kemarahannya.
“Bunuh
saja aku.”
“Tidak,
aku tidak mau jadi janda. Tadi pagi ada yang datang, perempuan, namanya Erna.”
“Istri
muda Kang Musoleh?”
“Betul.”
“Perlu
apa dia?”
“Dia
perlu bantuanmu. Katanya mau cerai dari suami barunya.”
“Apa
urusannya dengan aku?”
“Karena
kau saksi nikahnya.”
“Ampun.....
Masabodohlah. Aku tidak mau peduli. Aku kapok jadi saksi. Apakah seperti itu
tanggung jawab saksi Mun?”
“Mungkin.”
“Salahmu,
kenapa mau?”
“Tadinya
kupikir, kalau aku perlu saksi bisa minta bantuan Kang Musoleh.”
“Apa?
Jadi, kau punya keinginan menikah lagi? Aku tidak mau dimadu.”
“Tadinya
Mun! Sekarang tidak.”
“Pokoknya
aku tidak terima!”
“Itu
kalau kau tidak memperbaiki akhlakmu terhadap suami.”
“Aku
minta maaf, serius minta maaf yang sebesar-besarnya. Dari hati yang paling
dalam. Aku tidak akan mengulanginya, demi Allah.”
“Allah
saksinya yah!”
“Ya.
Tapi mas mesti mau kerja keras dan periksa ke dokter agar kita punya keturunan
yah.”
“Siap.”
Kuding
dan istrinya berdamai. Mereka pulang berdua. Ibunya geleng-geleng kepala. “Ya,
Allah karuniailah mereka keturunan.”
***
Dua
bulan berlalu. Kang Musoleh menemui Kuding di rumahnya. Di antara obrolan yang
panjang Kang Musoleh menyampaikan kabar penting.
“Ding,
aku telah menceraikan istriku.”
“Waduh,
istri yang mana?”
“Istri
pertama.”
“Maaf
Kang, kali ini aku tidak mau jadi saksi perceraian. Berat.”
“Aku
sudah minta bantuan ketua RT untuk menyaksikan bahwa kami sudah berpisah. Tidak
serumah lagi. Aku yang keluar. Biarlah untuk sementara anak-anak bersama
ibunya.”
“Kasihan
mereka Kang.”
“Tidak
ada pilihan Ding. Kondisinya semakin tidak kondusif.”
“Saya
tidak bisa memberikan saran apa-apa. Pahit-manisnya hanya Akang yang merasakan.
Semoga saja tidak berdampak buruk bagi anak-anak Kang.”
“Akan
saya usahakan.”
Sepulangnya
Kang Musoleh, Munarti kepo (Knowing Every
Particular Object, ingin tahu. “Apa katanya Mas?”
“Rahasia
laki-laki.” Kuding enggan banyak bicara.
“Kedengarannya
cerai.”
“Istri
pertamanya diceraikan.”
“Kau
diminta jadi saksi.”
“Tidak.
Sudahlah, aku ingin istirahat. Kalau istri keduanya datang, katakan bahwa aku
sedang pergi jauh untuk suatu keperluan. Pulangnya tidak pasti, entah kapan.”
“Kok
begitu?”
“Aku
malas melayani curhatannya. Sekarang kau siap-siaplah.”
“Untuk
apa?”
“Sore
nanti kita ke dokter spesialis kandungan. Periksa, biar kita punya momongan.”
“Kita?
Jadi kau mau diperiksa juga Mas?”
“Aku
akan ikuti saran dokter.”
Munarti
senang bukan main. []

Komentar
Posting Komentar