[Catatan Perjalanan] Menikmati Pesona Pantai Bagedur

 


 

Pantai Bagedur masih dalam angan. Keinginan tinggal keinginan. Rasa penasaran mengendap dalam hati begitu lama. Seolah tidak keren kalau belum pernah ke sana. Seperti menemui takdirnya bahwa tibalah saatnya aku mendapat dorongan dan kemampuan untuk sekadar tahu dan datang ke lokasi yang konon berpesona. Ya, kawasan wisatanya dikenal sebagai Pantai Bagedur letaknya di desa Sukamanah, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Dari rumahku berjarak 129 km. Aku akan menempuhnya dengan motor sendirian berbekal petunjuk google maps.  

Sabtu (13/5/2024), star dari rumah pukul lima. Berkendara dengan motor sendirian tentu ada banyak kebebesan, selain hemat. Inilah kali pertama aku melintasi rute Cileles-Gunung Kencana-Malingping-Bagedur. Keberangkatanku kukabarkan kepada Yoyon Picung dan Rofik. Aku kabarkan juga, pulangnya akan lewat Picung dan akan mampir di rumahnya. Aku minta ditemani kepada Rofik dan akan bertemu di sekitar Gunung Kencana. Sayang, sampai Gunung Kencana HP-ku kehabisan kuota. Padahal telah kuisi kemarinnya dua puluh ribu. Ternyata itu berlaku untuk satu hari. Aku tak bisa menghubungi Rofik yang katanya sekolah tempatnya bertugas di sekitar situ. Padahal sebelum dekat dengan pertigaan Gunung Kencana aku memokuskan pandangan sepanjang tepi jalan. Tak ada Rofik. Aku berhenti. Tak kutemukan konter HP di sekitar situ.

Gagal mendapati Rofik aku terus tancap gas sampai jauh sambil mencari konter HP. Ketemulah konter HP dan mengisi kuota di seberangnya ada toko Indomaret Cijaku. Barulah aku bisa menghubungi Rofik. Ternyata dia masih di sekolah, di sekitar Gunung Kencana. Terlewat jauh. Dia tak mau menyusul. Berarti memang dasarnya tidak bersedia menemaniku ke Pantai Bagedur. Jika ketidaksiapan itu disampaikan sejak awal mungkin aku tidak berharap. Kukabarkan kepada Yoyon, insyaallah pulangnya aku akan mampir.  Katanya rumahnya dekat Indomaret Pasar Picung. 

Cileles-Gunung Kencana-Malingping yang telah lama disebut-sebut orang baru kali ini aku bisa melintasinya. Terasa ini sebagai anugerah dari yang mahakuasa. Sensasi demi sensasi aku rasakan. Kondisi jalan yang secara umum mulus dan sepi ditambah dengan pemandangan hijau di kiri-kanan jalan menambah kenyamanan berkendara. Google maps tak sepenuhnya bisa diandalkan, tiba di kawasan Malingping aku harus bertanya juga sehingga dapat melintasi Jalan Nasional III.

Pada petunjuk google maps di depan ada jalan belok kiri. Selanjutnya, ketemulah pintu jalan utama menuju pantai Bagedur. Kebetulan sedang tak ada penjaganya. Masuk, terus, sampai ketemu lagi gerbang pembayaran tiket. Ternyata cuma Rp 5000. Murah. Jarak ke pantai masih sekitar dua ratus meter. Sebelum sampai pantai, seseorang memberi petunjuk, bahwa ada penginapan. Jika ingin berlama-lama di sekitar pantai itu pengunjung dapat menyewa penginapan. Aku hanya ingin singgah sebentar di pantai menikmati pemandangan dan suasananya.

Memasuki area pantai, tak ada lagi pungutan uang. Area pasirnya luas, bisa digunakan untuk berlalu-lalang kendaraan. Mobil dan motor masuk. Kendaraan mainan  roda empat tersedia untuk disewakan. Karena hari Sabtu, pengunjung tidak banyak. Tentu jika hari raya pengunjung membeludak serta kendaraan pun banyak. Pemandangan lautnya menakjubkan. Ombaknya bergulung kasar, berbuih dan gemuruh terkesan perkasa dengan anginnya yang terus bergerak, cocok untuk berselancar. Warung-warung tersambung memanjang di tepi daratan, cukup untuk memenuhi kebutuhan pengunjung akan jajanan yang variatif. Pantai yang landai memungkinkan pengunjung untuk bermain air. Namun perlu kehati-hatian khawatir terseret ombak.

Aku pun memanfaatkan area pantai dengan menjalankan motor hingga ke ujung selatan dan berfoto-foto sendiri. Sekitar waktu zuhur, setelah merasa cukup aku bergerak meninggalkan area pantai. Kehkawatiranku adalah terkait perjalanan yang jauh. Ada target lain yang harus kucapai yakni rumah teman Yoyon di Picung. Dengan bantuan google maps, keluar dari gerbang tepi jalan raya belok kanan mmungkin dua ratus meter kemudian belok kiri. Ada jalan pintas yang tembus ke ruas jalan Saketi-Malingping.

Jalanan mulus. Di kiri dan kanan terdapat pohon sawit beserta semak-semaknya. Bensin tinggal sedikit. Aku berharap segera menemukan pom bensin. Aku mampir di musala untuk menunaikan salat zuhur. Rasanya rawan karena jarum spido meter berada pada bar merah. Terbayang kesusahan jika kemudian kehabisan bensin di area yang sepi. Aku menelepon Yoyon tapi teleponnya tidak aktif.  Jalan lagi. Pasar Picung kian dekat, bensin hampir habis. Yoyon tak dapat dihubungi. Aku menghubungi Rofik, katanya tidak usah ke tempat Yoyon. Rofik menunggu di warung Bang Boy. Walaupun dijelaskan sejelas-jelasnya aku tak mengerti siapa dan di mana warung Bang Boy.

Lewat dari Pasar Picung ketemulah pom bensin di sisi kanan. Antre. Hujan mulai turun dan terus membesar. Usai mengisi bensin aku kembali menelepon Rofik. Katanya tempat dia berada dekat dengan pom bensin. Dalam keadaan hujan aku paksakan melaju sambil mencari Rofik. Motor berjalan terus sampai jauh, tak ada bangunan pinggir jalan, tapi Rofik tak tampak batang hidungnya. Karena hujan terlampau deras aku pun berteduh. Ada sekelompok pemuda bermotor juga berteduh. Mungkin mereka sehabis dari pantai. Sayang ternyata di bawah jok motorku tak ada jas hujan. Andai ada akan kupakai dan menerabas hujan. Aku gagal bertemu Rofik. Kesal kupendam sendiri. Kukira harusnya dia menampakkan diri sehingga dari jalan raya kelihatan.  Aku merasa di-prank. Aku mengira dia sedang bersama janda kenalannya, Murni, sehingga  perhatiannya terbagi. Maklum duda. Bayanganku senang bertemu teman lama di lingkungannya pun sirna.

Setelah hujan reda kuteruskan perjalanan. Sampai Saketi aku mampir di warung nasi dan makan. Pakaian sebagian besar basah, sepatu juga basah. Namun jalanan kering. Ternyata hujan tak sampai situ. Rute pulang terus mengarah ke timur, arah Pandeglang. Namun HP-ku habis baterai. Saat magrib tiba. Keadaan kian gelap. Aku tak hapal jalan pulang. Ada kawasan jalan yang di sisi kiri dan kanannya tanpa bangunan dan tak ada orang yang bisa ditanyai. Entahlah aku berada di mana.

Setelah terasa jauh melaju sampailah pada tempat yang ada orangnya.. Aku pun bertanya arah Tenjo. Ternyata sudah terlewat jauh. Aku pilih arah pemda Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Ditunjukkanlah. Berjalanlah sampai jauh. Akhirnya ketemulah. Meskipun harus berputar-putar sampai ke Masjid Al Amjad akhirnya ketemulah jalan pulang yang aku kenali.[]            

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia