[Catatan Perjalanan] Menuju Puncak Gunung Bromo

 


Dalam rangkaian tur wisata dan kunjungan kampus dengan 308 siswa kelas XI dan 19 pembimbing, Rabu dini hari (13/11/2018). Demi mengantisipasi kedinginan aku pun  mengenakan jaket, cupluk, sarung tangan, dan sepatu dengan berkaos kaki. Dari area Rumah Makan Bromo Asri, rombongan bergerak dengan  kendaraan elf (mini bus) ke selatan sekira 42 kilometer. Butuh waktu lebih dari satu jam untuk tiba di kawasan Kampung Cemoro Lawang, Ngadisari, Kabupaten Probolinggo. Selanjutnya kami berjalan kaki di jalan menanjak sekira setengah kilometer. Beberapa tukang ojek motor mengiringi sambil menawarkan jasanya.

Tak barapa lama tibalah kami di ketinggian yang disebut sebagai Penanjakan Tiga. Di area memanjang dikelilingi semak dan tidak luas itu ternyata telah ada pedagang minuman hangat, menyusul datang tukang bakso colok. Beberapa kilometer sebelah barat dari tempat kami berdiri adalah Gunung Bromo. Namun pandangan dalam kondisi tertutup kabut. Udara dingin. Anyep. Pandangan sebagaian peserta banyak mengarah ke timur, posisi matahari terbit. Sejak keberangkatan, peserta telah disarankan agar berwudu untuk salat subuh. Namun bagiku dalam keadaan seperti itu buang angin menjadi hal yang tak bisa ditahan, berkali-kali pula.

Tak ada air untuk berwudu di ketinggian itu. Demi menyelamatkan salat subuh, tak ada pilihan kecuali aku harus turun, mencari musala. Tukang ojek siap mengantar dengan tarif tiga puluh ribu rupiah. Aku dan kedua rekanku, Pak Diki dan Pak Lasiman sepakat untuk ke sana. Pak Lasiman mencoba menawar harga. Dua puluh ribu. Namun tiga tukang ojek bersikukuh. “Sekalian kita salat berjamaah, biar dapat pahala.” Pak Lasiman membujuk agar harga diturunkan. Ketiga tukang ojek tampak senyum-senyum saja. Beberapa saat kemudian kami mengalah dan menyetujui harga yang mereka tentukan. Naiklah kami. Tiga motor langsung ngacir. Jalan menurun agak basah dan berbatu. Ngeri juga aku. Mereka begitu terampil mengendarai motor bebek di jalan yang tidak mulus.

Pak Lasiman mengajak ketiga tukang ojek untuk salat. Mereka menolak dengan sopan. Dikatakannya bahwa mereka tidak beragama Islam. Tentu saja Pak Lasiman kaget. Aku pun tidak mengira hal itu. Mungkin, mereka beragama hindu. Masjid gelap. Tempat wudu ada, tapi tak ada toilet. Untuk buang air kecil kami harus ke tempat lain di area sebelahnya. Ternyata, tarif kamar kecil  lima ribu rupiah, lebih mahal daripada di tempat-tempat lain yang umumnya masih dua ribu rupiah.  

Yang kami datangi itu ternyata masjid. Ada tulisan yang dapat dibaca: Masjid Nurul Jannah, Kp. Cemoro Lawang, Ngadisari. Ukuran bangunannya 6 x 6 meter. Tak ada pengeras suara toa, yang ada cuma sebuah speker dalam. Ada seseorang yang bisa ditanyai, beliau orang baru di situ dan baru membangun rumah dekat masjid itu. Warga muslim merupakan warga minoritas di sini. Di masjid kecil itu,  katanya, jamaah salat Jumat paling banyak dua puluh orang.   

Usai menunaikan salat subuh masih dengan ojek kami kembali ke rombongan.  Maksud utamanya adalah ingin melihat matahari terbit. Namun apa daya, langit mendung. Matahari terbit tak tampak. Waktu terus berlalu. Matahari tak juga tampak hingga pukul delapan.  Rombongan bergerak ke dataran rendah. Sejumlah mobil jip telah siap mengantar ke Bromo. Setelah sarapan nasi para peserta pun terangkut secara bertahap. Tiap zip rata-rata enam penumpang. Tak sampai setengah jam, tibalah di dataran luas berpasir sebagai titik kumpul.

Di sebelah kanan ada gunung yang selalu muncul pada banyak foro gunung Bromo. Belakangan dikatahui konon namanya Gunung Botak. Itu bukan gunung berapi. Arah lurus ada Gunung Bromo dengan kondisi tidak utuh akibat meletus. Asapnya putih seperti kapas membubung hingga tinggi. Matahari di timur memancarkan cahaya.

Para peserta dan pengunjung lainnya bergerak menuju Gunung Bromo. Aku tak nyaman menahan pipis. Sedikit membelok ke kiri dan lurus ada rumah ibadah. Aku mendekati untuk mencari toilet. Pintu besinya tak terkunci di belakang. Aku masuk. Tak kutemukan orang. Ada toilet. Aku masuk. Airnya banyak, juga bersih. Buang air senilah di situ. Setelah itu keluar lewat bagian depan dan pintu gerbang. Ada orang, sepertinya penjaganya. Aku cuma permisi.   

Bangunan itu adalah tempat ibadah umat Hindu bernama Pura Luhur Poten, tempat suci umat Hindu suku Tengger. Letaknya di lautan pasir, agak dekat dengan kaki Gunung Bromo. Pura ini juga sebagai objek wisata budaya dan spiritual.  Aku tidak terlalu mengamati detil bangunannya. Dengan enteng karena telah pipis aku menuju Gunung Bromo. Ada jalan kecil berjenjang dua arah. Orang ramai mendaki. Satu demi satu anak tangga dilalui. Jumlahnya lebih dari dua ratus anak tangga. Sungguh menguras tenaga dan melelahkan. Pengunjung yang datang lumayan banyak serasa saling menyemangati untuk sampai ke bagian teratas. Kali itu, pencapaian tertinggi adalah ketika berhasil menyelesaikan pendakian hingga melewati anak tangga terakhir. Luar biasa. Sensasi berada di ketinggian, di gunung terkenal pula, sungguh menyenangkan tapi sekaligus mendebarkan.

Menoleh ke kawah yang sedemikian besar, konon diameternya mencapai 600 meter, dengan suaranya yang gemuruh bagai mesin pabrik besar sedang beroperasi bagiku itu ngeri-ngeri sedap. Asapnya terus mengepul, bau belerang menguar, sementara angin pada ketinggian itu berhembus agak kencang. Itu gunung berapi aktif. Terlintas dalam pikiran jika seketika terjadi letusan atau bila angin mengamuk orang-orang yang ada bisa dilemparnya ke kawah yang mendidik. Ngeri,

Orang-orang bergerayangan mengelilingi sisi teratasnya yang sempit. Risiko terburuknya adalah bisa terjerembab ke kawah yang panas. Jika itu terjadi pastilah pulang tinggal nama. Risiko lain yakni bisa terpeleset pada kemiringan gunung terkena babatuan. Untuk saat itu tidak terjadi hal yang tidak diharapkan. Sekira dua puluh menit aku dan teman-teman serta sebagian siswa SMAN 15 Tangerang berada di ketinggian itu lalu turun melalui anak tangga jalur kiri. Turun pun tak kalah melelahkannya. Para peserta terpencar karena areanya memang luas. Sekadar oleh-oleh aku membeli kaos hitam bergambar dan tulisan Gunung Bromo, seharga 25 ribu.[]     


Penulis: Usman Hermawan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia