[Catatan Perjalanan] Menyaksikan Pacuan Kuda dari Jarak Dekat
Bima - Minggu (30/6/2024). Syafi’i calon suami adik iparku,
Fatmawati, menemani aku mengantar dua buku karanganku yakni Cinta Yang Tertahan
(Oase Pustaka, 2024) ke Perpustakaan Umum Kota Bima. .Karena hari Minggu
perpustakaan pun tutup. Tak ada seorang pun petugas jaga. Beruntung di motor
ada plastik kresek hitam. Buku dimasukkan lalu digantung di gagang pintu. Aku
berharap semoga bisa sampai ke tangan petugas dan kemudian menjadi koleksi
perpustakaan tersebut. Kendati kutempel alamat dan nomor teleponku di hari-hari
berikutnya tak ada pemberitahuan bahwa buku telah diterima.
Seperti sebelumnya, jika ke Bima rasanya tidak
mantap jika tidak datang ke patung kuda di lapangan Serasuba. Namun saat itu
patung kudanya telah ambruk akibat retak dibiarkan. Selanjutnya kami mampir di
kawasan pantai Amahami, di tepi jalan raya, dekat masjid apung. Setiap hari
Minggu orang ramai berkumpul di sana menikmati suasana pagi.
Sekira dua puluh menit kemudian kami bergerak, dari
jalan raya belok kiri untuk menyaksikan kejuaraan pacuan kuda (pacoa jara) di
Sambina’e. Ini sangat kebetulan bagiku. Ini kali pertama aku berada di Bima
bertepatan dengan diselenggarakannya pacuan kuda.
Kedua sisi jalan dipadati motor yang parkir. Dari
tepi jalan itu tampak arena pacuan kuda di dataran bawah. Areanya amat luas.
Tengahnya berupa ladang. Lintasan pacunya panjang melingkar. Sejumlah bendera,
termasuk merah putih, berkibar di tengah arena. Menyaksikan pacuan kuda dari
ketinggian itu gratis. Namun aku ingin lebih dekat. Di luar pagar juga masih
bisa menyaksikan dan gratis. Aku masuk. Tiketnya Rp 5000. Ternyata ada lagi
pintu masuk agak dekat dengan panggung yang berada di dalam lintasan pacu.
Cukuplah aku berada di situ. Jika ingin lebih nyaman lagi bisa masuk lagi dan
bayar Rp 5000. Tempatnya teduh, terpasang terpal. Demi mengurangi risiko terik
matahari sebagian penonton mengenakan payung. Sementara itu tenda-tenda yang tersedia
tidak dimanfaatkan penonton. Para penonton lebih memilih berpegangan di pagar
arena agar lebih dekat menyaksikan kuda-kuda yang berlari kencang. Saat
kuda-kuda melintas berbalap cepat penonton pun berteriak memberi semangat dan
tepuk tangan. Sensasinya amat terasa. Sementara itu pengamanan dilakukan oleh
petugas tentara dan polisi.
Banyak hal yang aku tak paham terkait pacuan kuda itu.
Aku planga-plongo dibuatnya. Aku hanya mengamati apa-apa yang tampak. Panggung
panitia berada di dekat lintasan dalam. Di seberanynya, yakni di sisi luar
lintasan terdapat tempat penonton VIV. Suara pembawa acara yang menggelegar
diselingi musik menjadikan suasana bertambah meriah. Para penonton amat ramai.
Mereka datang dari berbagai pelosok Bima (kota dan kabupaten). Seperti yang
tertera pada baner KEJUARAAN PACUA KUDA TRADISIONAL BIMA PIALA WALI KOTA.
Seperti biiasa, setiap ada keramaian para pedagang selalu ada.
Kuda-kudanya umumnya berbadan kecil. Jokinya juga
anak kecil, seusia SD kelas 5 dan 6. Anak-anak itu tidak disebut namanya,
tetapi yang disebut nama kudanya. Salah satunya ada yang bernama, kalau aku tak
salah dengar, Nona Enjel (Angle). Kuda-kuda itu seperti dimanusiakan. Mereka
balap dalam jarak pendek, tidak sampai beberapa putaran seperti balapan motor
yang kita saksikan di televisi. Sekali balap ada enam peserta. Entah sampai berapa
kali itu. Pengumuman pemenang dilakukan saat balap masih ada. Garis star dan garis
finis pun tak kutemukan. Pokoknya, planga-plongolah aku. Namun yang paling menegangkan
adalah saat kuda-kuda beradu cepat di depanku dalam jarak kurang dari sepuluh
meter dan penonton berteriak keras-keras. Pokonya saat itu, berapa pun kita
punya utang pasti lupa.
Salah satunya yang dapat kusimak pengumuman yang
disempaikan melalui pengeras suara:
Juara I Rp 12 juta, Juara II Rp 8 juta, Juara III 6 juta. Tentu banyak
hal yang aku tidak paham. Namun kesanku secara kesseluruhan seru dan unik.
Sensasi ketegangan timbul saat menyaksikan sejumlah kuda dengan joki kecil
berburu menuju finis. Banyaknya kata-kata penting yang diucapkan dalam bahasa
Bima membuat aku bertambah planga-plongo. Namun secara keseluruhan aku
merasakan keseruan yang unik.Setelah merasa capai, walau acara belum selesai,
aku pun pulang.[]

Komentar
Posting Komentar