[Catatan Perjalanan] Niat ke Sumur Sampai Panimbang

 


Titik tuju perjalanan kali ini adalah daerah Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Mengapa Sumur? Alasan utamanya adalah aku belum pernah ke sana. Dulu, kabarnya temanku Yoyon mendapat SK CPNS pada tahun 1999 dan mengajar di SMPN Sumur. Ketika dikonfirmasi hal itu dibenarkan oleh yang bersangkutan. Lantas ada apakah di sana? Tak kudapati informasi yang spesial, tapi yang penting aku bisa datang ke Sumur sekadar untuk menambah pengalaman dan wawasan.

Jaraknya dari rumahku 190 KM. Aku ditemani Unus. Dari rumah berangkat pagi, Kamis (25/12/2024), tanggal merah Hari Raya Natal). Hari-hari sebelumnya aku sudah menghubungi Rofik, temanku di Kadu Kolecer (Labuan), untuk minta ditemani. Dia bersedia. Kukabarkan keberangkatanku via WA, namun agar dia bersiap-siap, tak ada respon. Mungkin HP-nya belum aktif.   

Sejak roda depan motor “ngegecrek” keras di lubang jalan di kawasan Tenjo, begitu memasuki kawasan Rangkasbitung terdengar piringan rem cakramnya ngesrek, mengeluarkan bunyi srek terus menerus. Kami mengira itu kemasukan kotoran atau pasir. Aku coba berhenti dan menyiramnya. Hilang sebentar, tapi kemudian ada lagi. Rasanya tak nyaman.

Antara Saketi dan Labuan, depan sebuah rumah sakit aku berhenti kembali mengecek roda depan sekalian menelepon Rofik. Walau sudah pernah, aku tak hapal gapura masuk kampungnya. Teleponnya diangkat, Aku sangat berharap dia dapat menemani ke Sumur. Ternyata gapura kampung Rofik masih jauh. Aku bermaksud agar dia bersiap-siap untuk bareng dan menunggu di gapura pinggir jalan.  Ternyata dia malah mempersilakan aku ke rumahnya sekalian ngopi-ngopi. Dari informasi yang dia peroleh dari orang yang pulang dari Sumur disampaikan bahwa jalan menuju Sumur ada yang longsor. Kata-katanya seolah membujuk agar aku tidak usah ke sana. Secara tersirat jelas bahwa dia enggan ikut bersamaku. Mungkin dia malas ke sana karena jauh dan tidak ada keperluan penting. Sedikit kecewa kusimpan dalam hati. Jika memang tidak bersedia, harusnya dari awal memberi tahu. Tadinya kupikir akan ada sensasi berbeda jika pergi ke tempat yang jauh bersama teman lama.

Aku pun meneruskan perjalanan sesuai rencana. Bunyi srek tak juga hilang perjalanan masih berlanjut sampai jauh. Sekalian ingin memeriksa kembali roda depan kami berhenti dan makan di warteg. Aku masih mencari-cari pengebab bunyi srek. Barang kali akibat gesekat spakbor tambahan maka aku bukalah. Namun setelah diputar bunyinya tetap ada. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan.

 

Bunyi srek makin keras. Lagi-lagi aku tak nyaman. Kata Unus, abaikan saja, sehingga kami terus melaju. Pasar Panimbang ramai. Setelah jauh dari situ kondisinya makin parah, bunyi gesekan makin kasar. Roda agak goyah. Demi menghindari risiko yang lebih besar kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. Balik kananlah. Dalam perjalanan kembali, ada pantai tampak berpengunjung. Berhentilah. Pada gapuranya tertera “Pantai Cinta”. Masuklah, bayar 10 k. Kondisinya sederhana. Ada gazebo sederhana, kami duduk-duduk sambil melempar pandangan ke arah laut. Ada perahu dan nelayan. Angin sejuk menyemilir. Dengan cahaya matahari yang belum terik cuaca masih terasa nyaman. Namun dengan kondisi motor yang bermasalah rasanya aku tak tenang berlama-lama menikmati kearifan pesona alam itu.

Bergeraklah kami meninggalkan pantai itu. Perhatian terfokus ke kiri dan kanan jalan untuk mencari bengkel terpercaya. Setelah sekian jauh ketemulah bengkel di sisi kiri, sepertinya besar, di sekitar Pasar Panimbang. Motor diperiksa, diketahuilah penyebabnya yakni bearing atau klahernya rusak satu. Roda depan dibuka, klaher dibuka (hancur), lalu diganti. Pengerjaan hampir mencapai satu jam. Biayanya seratus ribu. Aku melihat lampu mata tiga seperti yang telah kubeli di Lazada tapi tidak menyala ketika dipasang di mobil. Di situlah aku mendapat penjelasan. Bahwa lampu yang kubeli 24 volt tidak cocok dipasang di mobil yang akinya 12 volt. Lampu yang kutunjuk itu 12 volt. Aku membelinya dua untuk dipasang di kolong depan mobil.

Dua pilihan. Jadi berangkat ke Sumur atau kembali pulang? Aku kehilangan mood untuk terus ke Sumur yang jaraknya sekira 52 KM dengan waktu tempuh satu jam lebih. Pilihannya adalah pulang. Sampai di Labuan kami mampir sebentar karena hujan. Meskipun hujan belum benar-benar reda kami teruskan perjalanan pulang. Dari jalan raya Labuan belok kiri arah Cilegon, lewat Anyer terus sampai Cilegon Timur belok kanan arah Serang.

Agar tidak stagnan hidup harus terus bergerak. Pada setiap pergerakan ada beragam hal yang bisa terjadi, baik yang sesuai harapan maupun tidak. Anggaplah itu semua sebagai kewajaran yang jamak terjadi. Senang dan sebaliknya merupakan bagian dari romantika hidup yang tidak bisa dielakkan. Namun waspada, antisifasi, dan hati-hati harus tetap dilakukan agar risikonya terminimalkan. Bumi tuhan amat luas. Dengan atau tanpa alat, berjalanlah terus wahai diriku selagi ada kemampuan dan kesempatan.[]


Penulis: Usman Hermawan

  

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia