[Catatan Perjalanan] Pertama Kali Ziarah ke Merak


 

Bagi orang Gurubug, sejak lama Banten identik dengan tempat ziarah. Yang diziarahi salah satunya makam Sultan Maulana Hasanuddin yang letaknya di sekitar Masjid Agung Banten.  Ketika aku kecil, belum masuk SD, sekira tahun 1975,  aku diajak abah dan emaku ikut ziarah ke Banten bersama warga dari kampung lain. Selain warga Gurubug ada juga yang dari Kamping Bambu, Babakan, Anggris, Bojong Nangka, dan entah dari mana lagi. Rombongan kami diangkut dengan lima bus. Kami berangkat dari rumah ketika pagi masih gelap, berjalan kaki Anggris. Ketika itu jalan tol belum ada. Ada jalan tol baru tahun 1982, jika tak salah. Jika tak salah ingat aku berada di bus 4.

Dalam perjalanan bus tertahan di Cikande, pas kawasan yang saat itu kiri dan kanannya pesawahan. Penyebabnya, bus yang kami tumpangi menyenggol gerobak dar arah berlawanan. Gerobak bermuatan babmu. Orangnya terpental dan mungkin luka. Sekira lebih dari dua jam kami menahan panas dalam bus. Masalahnya ditangani polisi. Korban mungkin hanya mengalami luka ringan. Ketika masalahnya selesai orang pincang saat menuntun kuda. Namun setelah jauh orang tersebut jalannya tampak normal. Hal itu menjadi bahan tertawaan orang-orang dalam bus. Kami tiba di Masjid Agung Banten sekira pukul satu siang.

Setelah puluhan tahun kemudian dalam suatu obrolan bebas tercetuslah ucapan Pak Syarif, mantan ketua RT di lingkunganku, bahwa dia pernah ziarah ke Banten. Persis kejadiannya dengan yang aku alami. Mungkin ketika itu dia telah remaja, aku pun belum mengenalnya karena dia tinggal di kampung lain.

Setelah sekian lama, puluhan tahun, ketika teman-temanku mengajak berziarah aku mengiyakan. Sabtu pagi (7/10/2023) kami berkumpul di ujung selatan kampung.  Dua bus siap mengangkut rombongan yang sebagian besar kaum ibu warga Gurubug. Sasaran pertama makam Kiyai Uci Turtusi di Cilongok. Sejak yang bersangkutan tutup usia makamnya kerap diziarahi banyak orang. Sebagai jamaah kami tinggal mengamini doa yang bacakan pemimpin doa.

Dari Cilongok bus meluncur ke Masjid Agung Banten. Rombongan memasuki area Masjid Agung Banten. Peziarah ramai. Seperti biasa, bagi yang ingin bersedekah para petugas siap menampung. Para peminta-minta pun banyak, sejak dulu. Teriak seorang penjaga kotak amal,“Sodakohnya, diniatkan seikhlasnya.”

Selanjutnya, rombongan bergerak ke Merak. Siapakah gerangan tokohnya? Nah ini baru kali pertama aku ikut ziara ke Merak. Ternyata lokasinya dalam area pelabuhan merak. Dari tempat bus parkir, para peziarah naik tangga jembatan penyeberangan sehingga sampai ke lokasi ziarah. Setelah menunaikan salat zuhur kami masuk ke area makam dalam suatu bangunan. Tak ada pemandu yang menjelaskan. Hanya ada yang memimpin doa, kami tinggal mengamini. Sementara itu tak kutemukan peminta-minta di sini.

Itu adalah makam seorang aulia bernama Syekh Jamaludin Merak. Tak ada yang menjelaskan siapa dia. Informasinya kudapati di google, bahwa beliau dikenal sebagai Syekh Putih, adalah tokoh ulama dan pejuang yang dihormati di Banten. Beliau cucu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim, salah satu dari Wali Songo, dan dikenal karena perannya dalam perlawanan terhadap penjajah Portugis di Selat Sunda. Dengan mengetahui begitu maka timbul rasa takzim atas keteladanan beliau. Andai sebelum masuk area makam jamaah diberi penjelasan tentu akan lebih menghayati. Kehadiran dengan niat ziarah menjadi lebih bermakna.[]


Penulis: Usman Hermawan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia