[Catatan Perjalanan] Pesona Pantai Ceria

 


Titik ujung perjalananku kali ini adalah Pantai Ceria (106 km) di Cigondang, kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Dengan motor sendiri aku melalui rute dari rumah ke Bitung - Cikande - Citeras - Pandeglang -  Saketi, Minggu (19/3/2023). Aku berhenti di Saketi untuk menghubungi teman kuliah yang bernama Rofik Namlani. Rumahnya di Kadu Kolecer, Desa Babakan Lor, Kecamatan Labuan. Aku tak tahu posisinya. Tak mudah untuk tersambung ke HP-nya. Diminta serlok tak juga dikirim. Setelah tersambung aku diarahkan untuk terus hingga Situ Cikedal.  Sampai Situ Cikedal aku menunggu. Beberapa saat kemudian muncullah dia. Itu pertemuan pertama setelah hampir tiga puluh tahun.

Dia di depan, aku mengikuti. Dia mampir ke warung dan membeli jajanan balok alias getuk. Konon balok sempat viral di media sosial. Dari warung balok kembali sekira lima puluh meter lalu masuk jalan kampung tak lama sampailah di rumahnya. Rumahnya terpisah dari rumah orang tuanya. Dulu bersama orang duanya Rofik tinggal di Rangkasbitung, sekitar Ona. Ayahnya pegawai depag. Tahun 2007 ketika aku mengikuti PPG di LPMP selepas magrib aku mencoba ke rumahnya, ternyata kosong dan gelap. Kata tetangganya mereka sudah pindah ke Labuan. Itu setelah ayahnya pensiun. Perbincangan kami ditemani makanan balok, yakni getuk singkong dengan bumbu kelapa sanggrai rasanya manis asin gurih.

Meskipun lama tidak bertemu, tapi sebagian kabar tentang dirinya telah aku ketahui melalui sehingga tidak kaget begitu tahu istrinya telah pergi meninggalkannya setelah kurang dari setahun berumah tangga. Katanya, sofanya baru kemarin diangkut istrinya. Kawin juga cuma buat melunasi utang, katanya kecewa. Maka kali itu statusnya duda tiga kali. Aku tertarik dengan kisah asmaranya, tapi sedikit saja dia bercerita. Pembicaraannya justru lebih banyak tentang pekerjaan. Dia jadi kepala sekolah SDN di suatu tempat. Tak mau dia pengalaman pribadinya dikorek lebih jauh. Obrolan berlangsung sambil makan kue balok. Lumayang dapat menebus rasa lapar.

Itu pertemuan yang membahagiakan bagiku. Di tengah kami asik mengobrol Rofik berkomunikasi dengan seseorang. Rupanya perempuan.  Katanya, dia dari Warung Gunung minta dijemput di Saketi. Rofik pun memenuhi permintaannya. Rofik pun pergi. Obrolan kami terjeda. Tentu saja pertemuan berharga itu kami terganggu. Aku mendatangi ibunya, mengobrol sebentar. Sepertinya dia menyayangkan nasib anaknya. Ayahnya telah tutup usia. Kukira, dengan status sebagai  kepala sekolah sepatutnya rumah tangganya beres karena dari segi ekonomi seharusnya cukup. Namun entahlah, aku enggan mengorek lebih jauh soal pribadinya.

Sekira hampir setengah jam Rofik baru kembali dengan membonceng seorang perempuan. Aku pun berkenalan. Rupanya itu pacar barunya. Janda anak dua. Suaminya meninggal dunia. Namanya Murni. Soal paras, lumayanlah. Lama-lama aku jadi tak enak hati, serasa mengganggu kebersamaan sepasang calon kekasih.

Aku pun batal mengajak dia ke rumah Pak Ikin.  Aku pamit. Sasaranku rumah Pak Ikin. Waktu di Saketi tadi aku mengecek keberadaan Pak Ikin. Beliau sedang berada di rumahnya yang di dekat pantai, yakni di Kampung Laba. Meluncurlah aku ke sana. Dari jalan raya masuk jalan kecil. Tidak mudah juga mencarinya sehingga harus bertanya-tanya walaupun kemudian dipandu melalui telepon. Namun akhirnya ketemu juga. Pak Ikin bersama istrinya. Lokasi rumahnya dekat dengan pantai, sekira 50 meter. Rumahnya menghadap ke utara. Jarang ditempati. Lingkungannya tenang juga walau tidak masuk mobil. Guna menghilangkan rasa lapar aku pun menumpang makan.

Diajaknya aku jalan-jalan ke pantai. Ada area yang lumayan luas ditumbuhi pohon kelapa. Pada bagian tepi pantai terdapat batu-batu penahan ombak. Ombaknya relatif tenang. Di bagian lain, pantai dengan hamparan pasir yang landai menjadi area bermain para pengunjung. Ingin rasanya aku berlama-lama di situ, tapi mengingat waktu yang beranjak sore sedangkan aku harus segera pulang aku sudahi kebersamaan di pantai itu.

Aku pulang memilih rute berbeda yakni ke arah Cilegon, melewati Anyer. Hari kian gelap, perjalanan terganggu oleh lampu motor yang goyang-goyang. Mengisi bensin di pom bensin sekitar Anyer sekira pukul tujuh. Jarak perjalanan pulang masih 80 km. Dengan kondisi lampu yang begitu sungguh perjalananku terganggu, harus ekstra hati-hari.  

**

Keinginanku mengajak keluarga ke Pantai Ceria akhirnya terlaksana juga, Sabtu (7/9/2024). Kali ini dengan mobil dan empat keponakan yang usianya kisaran umur tujuh sampai sebelas tahun, yakni Gasania, Hamzah, Izal, dan Febri. Dari tol Cikande belok ke tol Rangkasbitung. Tarif tol Rp 46.000. Google maps distel ke Pantai Ceria. Tiba di pertigaan bingung, belok kiri putar balik karena takut salah. Sedangkan arah google maps lurus. Diikutilah lurus ke Mandalawangi. Padahal maksudnya hendak ke Saketi-Menes ke rumah Rofik. Perjalan terlanjur jauh, teruslah hingga ke pantai. Selanjutnya makanlah kami di warung nasi Padang. Ya, itu kali pertama aku mengajak keponakan makan seperti itu. Tentulah ada kepuasan aku meneraktir mereka.

Aku kabarkan kepada Rofik bahwa kami tidak lewat Menes akibat salah teknis. Masuk pantai Ceria hanya membayar parkir Rp 5000. Pantainya tak berombak. Anak-anak aman bermain. Dua anakku dan empat pokanan bermain air. Demi mengajari anakku berenang aku pun ikut bermandi. Anak-anak itu tanggung jawabku. Tentu aku khawatir mana kala mereka terlampau jauh ke kiri. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Aku halau mereka. Ternyata, semua membandel. Teriakanku tak diindahkan. Aku kesal. Namun setidaknya aku jadi tahu, mereka yang bukan anak-anakku itu seperti itu karakternya. Aku membatin, kapan-kapan aku tak mau lagi mengajak mereka.

Sekira hampir setengah jam kami di situ, datanglah Rofik dengan motor Honda Beat. Rupanya motor Yamaha Vixionnya telah dijual. Dia bercerita telah kalah ikut lelang Toyota Avanza. Dananya tujuh puluh juta yang telah disetor akan diambil. Soal calon pendamping masih belum ada tanda-tanda akan jadi. Dengan Murni batal akibat terjadi ketidakcocokan.

Soal pantai Ceria, lumayan baguslah, cocok untuk anak-anak. Jika mau menyewa ban bisa. Pasirnya landai. Tak ada ombak. Tersedia fasilitas ganti, dan MCK berbayar. Keluar dari area pantai Rofik memandu sampai jalan raya. Aku mengambil rute arah Cilegon.[]  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia