[cerpen] Lelaki Bertongkat Satu
Jarkoni
tertatih. Langkahnya lamban. Kaki kirinya tak berfungsi dengan baik. Kaki kanan
penopang tubuhnya dibantu sebuah tongkat kayu menyangga di ketiak kiri. Tiba di
teras masjid At Taubah, satu demi satu anak tangga dilaluinya dengan sangat
hati-hati. Jika tergelincir, akibatnya bisa fatal. Diucapkannya doa sebelum
memasuki masjid. Kedua tongkatnya diletakkan dengan posisi rebah di sisi
kanannya, menyentuh dinding. Di dekat tiang sisi kanan itulah dia biasa duduk
dan bertafakur sebelum dan sesudah melaksanakan salat.
Kopiah,
baju koko, dan kain sarung serupa dengan kebanyakan jamaah lain. Yang berbeda adalah
posisi duduknya. Saat salat, rakaat demi rakaat dikerjakannya bersama jamaah
lainya. Kaki kirinya selonjor ke depan, telapaknya menghadap kiblat. Kaki
kanannya melipat layaknya duduk tahyat. Rukuk dilakukannya dengan membungkukkan
badan. Pada posisi sujud badannya lebih membungkuk hingga hidungnya mengenai
karpet. Tangan kirinya memegang kaki kiri, tangan kanannya bertumpu pada
karpet. Ketika orang lain berdiri, badannya tegak dan kedua lengannya
bersedekap.
Anak-anak
dan remaja serta warga pendatang atau pindahan pastilah bertanya-tanya, apakah
penyebabnya yang menjadikan dia catat seperti itu? Jawaban singkatnya adalah akibat
tabrakan sepeda motor. Untung nyawa selamat. Gusti Allah masih melindunginya.
Awal
kejadiannya, suatu malam dia hendak pergi ke suatu tempat menggunakan sepeda
motor. Sendiri. Maklumlah motor tua, lampunya redup. Sampailah pada satu
kawasan yang tidak ada penerangan jalan dan jauh dari cahaya lampu rumah. Terjadilah
tabrakan dengan sepeda motor yang lampunya mati. Lawannya hanya luka ringan,
sedangkan Jarkoni luka parah dan tak sadarkan diri serta berlumur darah,
sehingga dilarikan ke rumah sakit. Jarkoni koma. Hari keempat baru sadarkan
diri.
Istri
dan kedua anaknya, tentu terkena imbasnya. Untung serta keluarga besarnya turut
membantu sehingga biaya pengobatan Jarkoni dapat diatasi. Jarkoni diperbolehkan
pulang setelah sepuluh hari dirawat. Selanjutnya dia diharuskan menjalani
berobat jalan.
Kendati
kemudian dianggap sembuh dan tidak lagi berobat jalan, Jarkoni belum bisa
berjalan. Berbulan-bulan dia berbaring di tempat tidurnya. Setiap hari dia mencoba-coba berlatih berjalan.
Sebagian
orang menilai, peristiwa nahasnya merupakan buah dari sumpah serapah bapaknya.
Berkali-kali bapaknya menyumpahinya agar tuhan segera mencabut nyawanya karena
kenakalannya sangat keterlaluan dan tidak bisa dinasihati. Namun yang terjadi
kemudian bapaknya tutup usia lebih dulu. Bapaknya meninggal dunia dalam usia
delapan puluh tiga tahun.
Sumpah
serapah bapaknya memang bisa dimaklumi banyak orang. Jarkoni tak lagi mempan
dinasihati. Berkali-kali bapaknya kehilangan muka akibat kenakalannya. Berkali-kali
pula bapaknya dimaki-maki orang akibat Jarkoni mencuri. Bapaknya juga harus
mengganti kerugian hingga terpaksa menjual seekor kambing piaraannya.
Abangnya
sebagai seorang ustaz yang disegani juga tercemar nama baiknya, wibawanya jatuh.
Nasihatnya tidak didengar Jarkoni. Seiring bertambahnya usia bertambah luaslah
pergaulannya. Hampir semua preman di beberapa kampung menjadi temannya. Kenakalan
Jarkoni terus meningkat. Jarkoni berani mencuri ban serep mobil truk yang
terparkir di pinggir jalan.
**
Perihal
Jarkoni bergini kisahnya, selepas SD tahun 1982 Jarkoni terpaksa mengikuti
keingian bapaknya yakni masuk pesantren
kobong Kiyai Sahrudin, mengikuti jejak abangnya. Abangnya telah pindah dari
situ karena telah mengkhatamkan sejumlah kitab. Andai dia masuk SMP terbayang
di benaknya panggilan yang bertubi-tubi
karena menunggak SPP, belum lagi jaraknya yang jauh dan harus sering menahan
lapar. Selama sekolah SD pun dia jarang diberi uang jajan. Saat jam istirahat
dia memilih berada di kelas atau rebahan di semak, di belakang sekolah. Setiap
kali kenaikan kelas selalu menyisakan tunggakan SPP beberapa bulan.
Selama
di pesantren Jarkoni sering minta izin pulang dan kembali sesukanya. Bapaknya
sampai marah karena dia enggan kembali ke pesantren. Hal itu terjadi
berulang-ulang hingga bapaknya menyerah dan Jarkoni tidak lagi nyantri. Daripada
menganggur dia kembali mengangon kerbau, menggantikan bapaknya. Kebiasaan
buruknya pun kembali diulangnya. Apa pun milik orang lain yang dia mau
diambilnya jika ada kesempatan, baik buah-buahan maupun hewan piaraan terutama
ayam. Hal itu dilakukannya saat mengangon kerbau.
Hal yang terbilang luar biasa salah satunya di kawasan Kampung Cina. Dia
memburu ayam jago yang diyakini milik Babah Liem Hok Kwan. Digoroknya ayam tersebut dengan sembilu,
dikuliti, dicuci dengan air sawah, dan dipanggang di atas tungku. Beberapa
temannya turut membantu aksinya. Ayam panggang dimakan bersama.
Saat
usianya beranjak remaja, sekira tujuh belas tahun, dia tak lagi menjadi anak
angon. Jarang-jarang saja dia membantu bapaknya seperti mencangkul atau
membantu memanen padi. Waktunya lebih banyak digunakan untuk bergaul dengan
teman-temannya di kampung lain. Bahkan dia sering tidak pulang. Dia mulai
terlibat aksi-aksi kriminal yang dilakukan oleh teman-teman gaulnya yang dua di
antaranya mantan narapidana.
Karena
banyaknya kasus kriminal seperti pencurian, perampokan, dan pembegalan yang
melibatkan orang-orang yang menjadi temannya itu polisi menjulukinya sebagai
kelompok Tiga Belas. Rupanya Jarkoni
merupakan orang ketiga belas yang termasuk dalam catatan kepolisian.
Karena
merasa sudah cukup berpengalaman di dunia kriminal Jarkoni berani memimpin
sebuah aksi perampokan di Kampung Cina.
Dialah yang paling tahu medan. Sasarannya rumah Babah Ong Jie. Posisi
rumahnya agak terpencil. Hewan peliharaannya banyak, selain babi ada pula kambing,
sapi, bebek, ayam, dan anjing. Namun sasarannya bukan itu melainkan
barang-barang berharga di dalam rumah. Beberapa anjing yang biasa menggonggong
berhasil dibungkam oleh temannya dengan cara mejik. Seluruhnya lima orang.
Jarkoni mengetuk pintu dengan gagang golok. Keempat temannya berdiri di
belakangnya sejarak tiga meter. Semuanya
mengenakan kain penutup muka. Sampai tiga kali ketukan tak juga ada sahutan.
“Buka
pintu!” suara Jarkoni meninggi seraya menggedor pintu. Jarkoni akan membakar
rumahnya jika tidak dibukakan pintu.
Begitu
Babah Ong Jie membukakan pintu Jarkoni langsung mencengkeram kerah bajunya
seraya mengancam, “Jangan bergerak!”
Istri
Babah Ong Jie mengikuti di belakang. Ketakutan.
“Kenal
saya gak?”
Babah
Ong Jie dan istrinya gemetar ketakutan.
“Kenal
saya gak?” ulang Jarkoni.
“Enggak
Bang,” keduanya kompak.
Sesungguhnya
suami istri itu mengenali Jarkoni sebab telah sering terjadi tindak pencurian
di Kampung Cina. Jarkoni termasuk salah seorang yang diduga pelakunya oleh
sejumlah warga. Hanya Jarkoni yang
mereka kenali, sedangkan keempat tidak begitu dikenalnya.
Dengan
isyarat Jarkoni memerintahkan teman-temannya mengikat kedua korban. Babah Ong
Jie dan istrinya diikat pada sebuah tiang di area dapur. Mereka dalam ancaman,
tak berani berteriak.
“Awas,
teriak mati luh!”
Tanpa
dipandu pemiliknya dua orang menyasar lemari yang berisi kotak perhiasan. Dalam
waktu singkat barang-barang berharga dapat digasak. Jarkoni memanggul sebuah TV
tabung 20 inci. Semuanya kabur dengan sepeda motor.
Esok
harinya Kampung Cina geger. Berita perampokan dengan cepat menyebar ke
kampung-kampung di sekitarnya. Setelah mendapat laporan polisi melakukan oleh
TKP. Sesuai dengan petunjuk korban dalam
waktu dua puluh empat jam polisi behasil menangkap Jarkoni.
Tentu
saja hal itu menjadi pukulan bagi keluarga besar Jarkoni terutama ibu dan
bapaknya, juga bagi abangnya. Apa kata orang, seorang tokoh agama yang banyak
memberi nasihat kepada banyak orang tapi adiknya jadi perampok.
Dalam
sidang di pengadilan Babah Ong Jie dan istrinya bersaksi bahwa pelaku
perampokan di rumahnya adalah Jarkoni, sedangkan empat orang lainnya mereka
tidak kenal. Pada akhirnya hakim memutuskan bahwa Jarkoni divonis hukuman penjara
selama lima tahun dari sembilan tahun tuntutan jaksa.
Namun
meskipun terbukti bersalah pihak keluarga Jarkoni tidak terima. Dinilanya
Jarkoni hanya korban fitnah dari keluarga Babah Ong Jie. Sebagian orang menilai
hal itu merupakan upaya menutupi rasa malu. Jarkoni menjadi tumbal karena
keempat temannya tidak ditangkap. Tak jelas mengapa hal itu bisa terjadi. Hal
itu pula yang menjadi penyebab kekesalan kaluarga Jarkoni sehingga menuduh
pihak berwajib berlaku zalim dan Babah Ong Jie dianggap membuat fitnah.
Kendati
sangat membenci perbuatan Jarkoni, rasa kasihan kedua orang tua dan saudaranya
tidak benar-benar hilang. Pada waktu-waktu yang direncanakan mereka menjenguk
Jarkoni di penjara Tanah Tinggi. Semua memberi nasihat kepada Jarkoni agar
kelak setelah bebas Jarkoni harus berubah menjadi orang baik
Setelah
menjalani hukuman hampir lima tahun Jarkoni bebas. Meskipun bertatus sebagai
mantan narapidana Jarkoni tak sungkan bertemu dengan siapa pun. Obrolannya
tentang pengalaman selama di lembaga pemasyarakatan tak habis-habis.
Keluarga
besarnya menyambut gembira atas kepulangannya. Ibunya mengadakan syukuran sebagai penebus nazarnya.
Semua berharap Jarkoni menjadi orang baik. Kehidupan Jarkoni berangsur normal.
Kelompok tiga belas terkabarkan bubar. Perilaku Jarkoni melegakan hati keluarganya.
Setidaknya setiap magrib Jarkoni ikut salat berjamaah.
Agar
dapat menjajalani kehidupan dengan sewajarnya Jarkoni dijodohkan dengan seorang
gadis berusia lima belas tahun, masih lugu, dari kampung yang jauh. Dibuatkan
rumah pula. Untik menafkahi istrinya Jarkoni bekerja serabutan. Lemahnya
perekonomian membuat Jarkoni tidak mampu menghindar dari perbuatan tidak
terpuji. Jarkoni masih mau mengambil sesuatu yang bukan haknya, sehingga ada
yang menjulukinya sebagai preman kampung. Asal mengetahui bahwa dia mantan
narapidana orang kemudian segan, enggan berkonflik. Sekadar semen satu sak
diminta oleh Jarkoni seorang mandor bangunan bersedia memberinya. Menyadari hal
itu istrinya kecewa dan menderita batin. Namun walaupiun begitu istrinya berusaha
bertahan hingga dikaruniai tiga anak.
**
Salat
isya dan tarawih dilakukannya di masjid dari malam pertama hingga malam
terakhir. Setidaknya itulah yang bisa disaksikan orang-orang yang juga tidak
pernah absen salat isya dan tarawih di masjid At Taubah, Dukuh Sentilan. Terutama
pada malam terakhir ketika lebih dari separuh jamaah tidak hadir Jarkoni
sanggup menggenapkan salat tarawihnya. Dengan begitu pantaslah kiranya jika
dikatakan bahwa dia sudah benar-benar insyaf. Dengan keterbatasan yang ada pada
dirinya tak ada lagi hal buruk pada aktivitas sehari-harinya. Jarkoni jadi tunadaksa. Biaya hidup
sehari-harinya mengandalkan penghasilan anak laki-lakinya dan sedikit pemberian
dari saudara-saudaranya dan orang lain yang menaruh belas kasihan.[]

Komentar
Posting Komentar