[Otobiografi Usman] Lumpuh
Idulfitri jatuh pada hari Kamis, 22 Juli 1982 (1 Syawal 1402 H). Rabu malam adalah malam takbiran. Langgar atau musala kakek cukup eksis, jamaahnya banyak, aktif menyelenggarakan salat tarawih dan takbiran. Seperti biasa, selain bermain petasan, takbiran menjadi acara pavorit yang menggembirakan. Empat buah bedug yang setiap malam ditabuh baik sebelum maupun setelah selesai salat tarawih. Saat masuk waktu salat bedug juga ditabuh. Takbiran dan bedug adalah setali tiga uang, tak terpisahkan.
Takbir
bukan saja digemakan di langgar, sekira puluh sepuluh malam ada arak-arakan dari
rumah ke rumah warga sekalian meminta-minta kue. Bedug dipanggul, dipukul, ada
yang membawa kentongan dan apa saja yang bisa dibunyikan. Takbir tak henti
digemakan. Ya, ini jadi aksi membangunkan warga. Jika pintu belum dibuka dan pemiliknya belum
keluar rombongan yang mayoritas anak-anak dan remaja tak segera beranjak.
Walaupun capek aku pun tetap semangat.
Kue
yang sebagian besar kue khas lebaran seperti jipang, dodol, kue putu,
rengginang, uli, dan lain-lain ditampung di bakul besar. Hasilnya bisa mencapai
dua bakul. Setelah semua rumah terdatangi kami kembali ke langgar. Kue-kue
boleh dimakan. Bagi kebanyakan anak-anak yang menarik bukan kue khas lebaran
melainkan kue toko seperti biskuit dan makanan lain yang berbungkus plastik.
Bagi yang masih kuat dan semangat masih boleh melanjutkan takbiran.
Artinya
aku begadang sampai larut malam. Hari H lebaran seluruh badanku panas. Terlebih
siang mendekati sore, mengalami peningkatan. Mata terasa panas. Tak ada obat
yang bisa dikonsumsi. Hingga malam badanku panas, mata juga panas, tapi aku
masih bisa bertahan. Tidak sampai menggigil. Seperti biasa tidur normal. Tempat
tidurku ranjang besi berkelambu dengan kasur dan bantal berisi kapuk.
Begitu
bangun pagi kakiku langsung menyentuh tanah. Betapa kagetnya, aku tidak bisa
berdiri. Lutut tidak bisa tegak. Lemas. Aku bermaksud hendak ke luar, yakni
ruang tamu. Di bagian luar ada bale bambu. Sungguh, aku tidak bisa berdiri
sehingga aku paksakan dengan cara merangkak alias ngesot sampai mencapai bale
beberapa meter. Untuk bisa duduk di bale harus bersusah payah. Aku menangis
sejadi-jadinya. Ayahku dan ema mengetahuinya kemudian. Sejak hati itulah aku
mengalami kelumpuhan.
Kukira
itu tidak terjadi tiba-tiba. Hari-hari sebelumnya kedua kakiku setiap siang
hingga sore bengkak pada bagian bawah, sekitar mata kaki dan punggung kaki. Hanya
siang atau sore, pagi bangun tidur kakiku biasa saja. Aku ingat betul, pernah
suatu hari kami mengangon kerbau sampai ke area sekitar pabrik penggilingan
serai (sereh) milik Bayahku Lintay. Pabriknya tidak lagi aktif. Beliau masih
sering muncul mengawasi sawahnya. Aku kerap menekan dengan kuat bagian kaki
yang bengkak, ditekan kempot. Itu mungkin yang disebut dengan penyakit
beri-beri dan lumpuh itulah kelanjutannya. Tak kudapatkan penjelasan dari
mantri terkait penyakitku.
Sekolah
libur sepekan. Sampai tanggal masuk sekolah aku masih lumpuh. Aku tidak bisa
menrasakan hari-hari awal naik kelas enam. Rasanya mungkin seperti orang
dipenjara, jenuh, kesal, dan sedih bercampur. Buang hajat pun kesulitan karena
tidak bisa jongkol. Saat itu kebiasaan kami memang buang hajatnya di kebun, di
bagian yang tidak sering dijangkau orang. Kebun kami banyak aneka pohon dan
semak. Aku buang hajat di kebun dengan cara duduk di bangku panjang. Ayahku
sangat peduli dengan keadaanku. Setiap hari aku diberi minum susu kental manis Indomilk
(ternyata bukan susu) dicampur dengan kuning telur ayam kampung.
Seperti
warga lainnya, kami biasa berobat ke klinik Poksuh dekat Pasar Curug. Ternyata
bukan dokter melainkan mantri, tapi pelanggannya banyak. Saat itu angkutannya
mobil colt atau ada juga mobil VC. Setiap kali berobat aku diberinya vitamin
dengan permukaan warna coklat (salut gula) dan berlogo huruf P. Setiap hari ayahku
dan ema memberiku minum susu (kental manis) campur kuning telur ayam kampung.
Hari-hari
berjalan terasa lambat. Karena rumah dekat dengan sekolah, setiap hari aku
melihat teman-temanku pergi dan pulang sekolah lewat depan dan samping rumahku.
Guru kelas kami bapak Sutiya (asal Jogja) sempat menjengukku. Ayahku memberi
tahu bahwa ayahku sudah ke dukun di Palasari. Kata dukun aku terkena pembuangan
guna-guna. Dari raut mukanya aku paham bahwa Pak Sutiya tidak percaya seperti
halnya aku tidak yakin. Pak Suyita menjadi guru kelasku saat kelas tiga, kelas
lima, dan kelas enam. Maklumlah ayahku, bukan orang berpendidikan. Ayahku hanya
orang rajin dan menyayangi anak-anaknya.Yang mengalami kelumpuhan bukan aku
saja, adik ema dan sepupu ema juga.
Aku
sering berurai air mata karena aku belum juga bisa berjalan walaupun aku rajin
berlatih sampil berpegangan ke pelupuh bale dan bagian rumah. Sampai akhirnya aku
bisa berjalan, kelumpuhanku berlangsung tak kurang baru dua bulan. Katanya untuk
melancarkan peredaran darah aku dibawa ke tukang urut, kami biasa menyebutnya
istri Bang Sa’ut (namanya jarang orang yang tahu). Rumahnya di ujung utara
kampung Gurubug. Anaknya, Nican, adik kelasku. Aku pun mengetes kemampuanku
dengan naik sepeda. Rutenya memutar ke Dukuhpinang - Carangpulang - Bojong
Nangka - Kampung Bambu - Gurubug. Berjarak sekitar lima kilometer. Alhamdulillah
lancar.
Meskipun
belum seratus persen normal, aku pun mulai masuk sekolah. Jalanku masih agak
oleng karena lemas. Kaki masih agak lemas. Aku pernah mengira, mungkin aku akan
tertinggal satu tahun karena sakit. Ternyata tidak. Walaupun tidak masuk lebih
dari sebulan, aku tidak mengalami kesulitan dalam memahami setiap materi
pelajaran. Dua bulan “terpenjara” merupakan tempaan kesabaran yang luar biasa.
Beruntung, pada akhirnya Allah memberika kesembuhan dan aku bisa hidup normal.
Selain agak lemas sisa dari lumpuh adalah kedua kakiku masih terasa agak baal.[]

Komentar
Posting Komentar