Postingan

[CERPEN] PERNAH MERANTAU

Gambar
                                                                      Usman Hermawan Kampungnya kini dijuluki sebagai kampung majelis taklim. Dengan percaya diri seorang ketua RT membubuhkan tulisan di gapura masuk kampungnya: Selamat Datang di Kampung Majelis Taklim . Dari malam Senin hingga malam Sabtu berlangsung pengajian majelis taklim kaum laki-laki. Malam Jumat pengajian berlangsung   di masjid jami, malam-malam lainnya bergiliran, di musala   dan rumah warga yang ada di empat wilayah RT. Pengajian kaum perempuan berlangsung setiap Kamis pagi di majelis taklim khusus. Suaranya tersiar nyaring   melalui pengeras suara, terdengar hingga ke kampung tetangga.   Malam Minggu dimanfaatkan sejumlah warga untuk kongko-kongko sambil ngopi di balai warga...

[cerpen] Penomena Cobek

Gambar
Usman Hermawan Semenjak ‘lulus’ dari penjara Tanah Tinggi karena membunuh orang, dia jadi gila. Tak jelas penyebab kegilaannya. Ada yang menduga akibat dia dikeroyok massa sebelum akhirnya dipenjarakan. Ada pula yang mengira akibat perlakuan tidak manusiawi saat dia di dalam penjara. Kini beberapa orang telah menjadi korban amuknya. Keluarganya yang susah tak sanggup membawanya ke rumah sakit jiwa. Karena kerap meresahkan warga, orang tuanya terpaksa memasungnya di sebuah gubuk di belakang rumah. Meski dalam pasungan dia tak bisa tinggal diam. Amukan dan teriakannya kerap mengundang orang untuk menyaksikannya. Sumpah serapah dan keinginan menghajar ditujukan kepada setiap orang yang menontonnya.   Kalau dia sedang mengamuk tak ada yang berani mendekat. Ekspresi kegalakannya menakutkan setiap orang, seperti ingin menghajar lawannya. Dia tak lagi punya kawan. Para preman pasar yang pernah menjadi anak buahnya tak seorang yang menjenguknya, bahkan saat dia menjalani masa...

[cerpen] MEY

Gambar
Usman Hermawan Karena diharuskan memakai nama Indonesia untuk pencantuman di ijazah, menjelang lulus sekolah dasar papanya mencarikan nama baru . Jadilah nama nya Megawati, tanpa embel-embel. Nama aslinya   Ong Lian M ey, biasa di panggil Mey. Kendati telah berganti nama, o rang-orang dekat tetap saja memanggil nya dengan panggilan Mey. Ada yang mengira bahwa dia lahir bulan Mei , b ukan, melainkan Maret , sehari setelah pohon-pohon di kebun papanya dieksekusi karena terkena proyek saluran udara tegangan tinggi alias sutet. Akibat adanya sutet itu pula kemudian rumahnya harus pindah ke lokasi yang lebih aman , tanpa mendapat biaya pemindahan .   Selepas sekolah kejuruan Mey di pertemukan dengan seorang pemuda warga keturunan Tionghoa oleh kakak perempuannya . Pemuda itu dari keluarga berada, ayahnya pemilik toko kelontong di P asar Anyar . Wajah nya lumayan tampan , b ermata sipit, putih, atletis, tutur katanya santun .   Pemuda itu   juga ...

[cerpen] Guru Kecil

Gambar
Usman Hermawan WINARTI namaku. Gadis dengan seratus persen percaya diri, meski uang saku nyaris tak pernah surplus. Gaya sedikit metropolis. Ibu jawa, bapak Palembang. Tinggal di bilangan Kalideres. Ngontrak! Kalau pulang sekolah turun dari angkot persis di depan rumah bagus milik pengusaha garmen. Jujur, kalau berdasarkan penampilan aku layak dianggap sebagai   penghuni rumah itu. Padahal tempat tinggalku terselang tiga rumah di belakangnya. Rumah petak yang kutinggali sebetulnya agak tak layak jika di sebut sebagai rumah. Itu sebabnya tak sembarang teman boleh datang ke rumahku sekadar untuk jaga gengsi. Namun selagi tak ada masalah dengan rumah itu kami sekeluarga enjoy saja menikmatinya, toh itu bukan milik kami.   Letak sekolahku hanya beberapa puluh meter dari rumah sakit kusta yang konon pernah terbesar di Asia, Sintanala. Rumah sakit itu kini tidak hanya melayani pengobatan kusta. Riskanlah kalau aku bicara kusta. Mengenai sekolah saja, waktu kelas satu SPG...