[cerpen] Gadis Santri


Usman Hermawan


Lembaran  daun rumbia dipermainkan angin laksana ribuan jemari menari kecak dengan serempak. Sesekali terdengar berderak manakala angin mendadak menggelombang.  Beberapa sarang burung manyar yang bergantung terombang-ambing nyaris terpental. Rajutan yang rapi dengan pengikat yang kuat menjadikannya kokoh berpegang di pelepah rumbia. Si mungil burung ciang-ciang nan jelita melompat-lompat di dahan kihujan dengan suara soprannya. Tampak bahagia hidupnya tanpa ada rasa takut diterkam hewan pemangsa.
Burung kucica melakukan manuver di ketinggian sepuluh meter untuk menangkap mangsanya, serangga. Ekor dan sayapnya seperti gerakan penari kipas diiringi hentakan musik pengiring. Sementara  itu di puncak pohon jalitri burung tekukur betina memamerkan repetisi suara merdunya dalam rangka mengundang sang pejantan. Setidaknya  demikianlah sekelumit eksotisme alam di ujung kampung saat matahari mulai condong ke barat. Hasrat cintaku kepada Baedah pun tergenapi karenanya.
Senandung cinta mengalun indah di ruang batinku. Kurasakan semak-semak kihujan dan deretan pohon nenas pagar bagai dipenuhi bunga-bunga cinta yang semerbak wanginya.  Serasa Baedah ada di dekatku menyenandungkan ayat Quran bersama tarikan angin dari bebukitan. Aku menangkap sinyal yang kuat di matanya kemarin lusa bahwa dia manyukaiku. Kukira rasa sukanya tak mungkin dia utarakan. Tabu hukumnya. Itu sebabnya sebagai pejantan  aku harus punya nyali untuk menyatakan bahwa aku mencintainya.
Kendati mirip dengan artis Nikita Willy namun Baedah tetaplah gadis desa sekaligus santri hasil binaan belasan tahun pimpinan pondok pesantren salaf. Kesahajaannya memberi kesan mendalam pada diriku. Tak berlebihan kiranya jika aku berharap bahwa dialah gadis pilihan yang Gusti Allah diberikan buatku. Kelak kepadanya aku bisa banyak belajar agama. Konon Baedah sering tampil sebagai qoriah pada acara-acara tablig seperti peringatan Maulid Nabi atau Isra Mikraj. Kini, jika diperlukan aku siap menemaninya jika dia mendapat tugas mulia macam itu.
Jumpa dengan Baedah, bersenandunglah lagu cinta di hatiku. Pesona Baedah layaknya mojang Bandung dalam syair tembang Pasundan: panon hideung, pipi oneng, mojang Bandung! Sunguh, begitulah Baedah di mataku. Duh, dengan apa dasyatnya pesona Baedah kuumpamakan. Energi cinta  begitu kuat memacu gairah dan keyakinanku untuk segera meminangnya.
Telah kusiapkan topik-topik pembicaraan untuk pertemuan istimewa. Malam Minggu yang dianggap sakral oleh sebagian besar kaum lajang dalam dunia percintaan kucoba ambil bagian. Hatiku berdentang-dentang.   Dia bukan gadis kebanyakan. Kesahajaan tata krama, gaya pakaian, dan tutur kata yang santun mendominasi karakternya sebagai gadis berkepribadian santri. Telaga pada sorot matanya begitu menyejukkan, menjanjikan masa depan sakinah, mawadah, waramah.
“Aku segini adanya. Hanya kesetiaan yang sanggup kujanjikan. Aku bukan orang berpunya. Itu kau tahu. Soal materi, aku hanya bisa ikhtiar dan berharap pada rejeki yang Gusti Allah karuniakan. Meski begitu, aku berharap engkau beredia menerimaku. Telah kusiapkan singgasana di hatiku untuk menerimamu sebagai belahan jiwaku,”  ungkapku mendalam. 
Baedah terdiam, kedua tangannya meremas-remas ujung bajunya. Aku mendadak bimbang, jangan-jangan dia tak mengerti maksudku.
“Aa orang berpendidikan, sedangkan aku cuma keluaran pesantren kampung. Apa tak akan menyesal nantinya? Dunia tak selebar daun kelor, masih banyak gadis lain yang lebih sepadan dengan Aa.” Suara Baedah lirih.
“Artinya?”
“Sungguh-sunguhkah Aa?”
“Dengan segenap jiwa-raga, Dek.”
Baedah terdiam. Hening berlangsung beberapa jenak. Degup dadaku bertambah kencang. Aku nantikan Baedah bicara.
“Belum ada laki-laki lain yang mengutarakan maksudnya  seserius itu. Bila Aa bersedia menerimaku apa adanya, maka dengan bismillah aku bersedia memasuki singgasana sediakan itu. Aa-lah yang berhak menerima cintaku. Aku pun berharap kelak Aa menjadi imamku.”
“Insyaallah.”
“Namun jalani sajalah dulu hubungan ini. Namun bila ada gadis lain yang lebih memikat dan lebih menjanjikan kebaikan, itu hak Aa untuk pindah ke lain hati. Soal itu aku selalu berpasrah diri kepada Gusti Allah, yang maha membolak-balikkan hati hambanya. Toh kita yakin Dia-lah yang maha menentukan dengan siapa kita berjodoh.”
Layaknya musafir, serasa telah kutempuh jarak ribuan kilo hingga melintasi padang luas nan tandus, maka tibalah kini di oase. Penawar dahaga jiwa itu tinggal selangkah akan kuraih. Pengisi sepi ruang batin telah hadir di depan mata. Subhanallah. Kukabarkan berita gembira itu kepada ibu dengan suka cita.
“Ibu ijinkan aku meminang Baedah dalam waktu dekat.  Perkenankan aku mempersuntingnya saat Ramadhan. Agar kami dapati berkah di bulan mulia. Tak ada keraguanku memilihnya sebagai pendamping hidupku kelak. Aku ingin segera beristri, Bu."
“Perempuan baik-baik akan berpasangan dengan laki-laki yang baik-baik pula. Begitu pula sebaliknya.”
“Aku juga laki-laki baik-baik kan Bu?”
“Insyaallah!”
“Amiiiiiiin.”
“ Anakku, laki-laki yang baik adalah laki-laki yang mempunyai ketakwaan dan keshalihan akhlak. Laki-laki harus mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagaimana memperlakukan istri, berbuat baik kepadanya, dan menjaga kehormatan diri serta agamanya. Dia akan dapat menjalankan kewajibannya secara sempurna di dalam membina keluarga dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai suami, mendidik anak-anak, menegakkan kemuliaan. Dia sanggup menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dengan tenaga dan nafkah.
“Sekalipun sang istri penuh dengan kekurangan?”
“Jika dia merasa ada kekurangan pada diri si istri yang dia tidak sukai,   maka dia segera mengingat sabda Rasul: Jangan membenci seorang laki-laki pada perempuan jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. Itu laki-laki super! Paham maksud ibu?” 
“Iya Bu.” Kuresapi tausiah ibu. Tak biasanya, kali ini ibu bicara begitu dalam dan bermakna. Kukira, tak percuma setiap Kamis pagi ibu hadir di majelis taklim ustadzah Mariyam. Tak percuma juga aku memberi selembar uang dua ribuan untuk sedekah ibu.  Tambah pintar ibu sekarang.
“Sepertinya kamu bersungguh-sungguh terhadap Nak Baedah?”
“Begitulah, Bu.”
Ibu diam, hendak menyudahi bicaranya.
“Ibu setuju?” kejarku.
“Terserah kamu.”
“Terserah bagaimana?”
“Nak Baedah itu yatim piatu...” Seperti ada sesuatu yang ingin ibu katakan.
“Ya. Itu aku tahu. Lantas ?”
“Kamu sanggup menghargainya?”
“Maksud ibu?”
Ibu diam beberapa jenak, dibiarkannya pertanyaanku menggantung. “Dia mau terhadapmu?”
“Ya, dari bahasanya mengisyaratkan begitu Bu, juga sorot matanya. Aku cocok terhadap Baedah. Kemistrinya begitu kuat.”
 “Ya pasti cocoklah!  Ibu juga tahu Nak Baedah itu cantik. Pemuda sini juga banyak yang naksir, cuma mereka tidak punya nyali untuk mengungkapkannya. Mereka segan dengan kesantrian Nak Baedah.”
“Bu, perempuan baik-baik hanya untuk laki-laki baik-baik.” Aku coba mengurai canda.
“Entahlah. Apakah kamu termasuk laki-laki baik?” Ibu menimpali. “Yang ibu tahu kamu sering ditolak cewek!”
“Jadi ibu setuju aku berjodoh dengan Baedah?”
Ibu terdiam, menarik nafas panjang. Sesaat ingatannya melesat ke masa lalu.  
“Dengar anakku! Cukuplah Baedah kau jadikan sebagai teman, saudara, atau pun adik.” Ibu menepuk pundakku.
“Maksud ibu?”
Ibu terdiam lagi. Aku tak menduga ucapan ibu seekstrem itu.
“Bu, tak ada laki-laki lain di hati Baedah sebelum dia bersedia menerimaku. Juga tak ada perempuan lain yang telah mengisi ceruk jiwaku.  Pengakuannya jujur Bu. Aku tak memilih gadis lain untuk kunikahi selain aku memilih Baedah. Ada kemistri, Bu. Aku mencintainya. Dia pun begitu. Ibu keberatan, hanya karena Baedah yatim piatu?”

“Bukan.”

“Lantas.”

“Ibu sudah tanyakan kepada ustadzah Mariam andai kamu menikahi Baedah. Katanya, jawabannya ada pada surat An-Nisa ayat dua puluh tiga.”

“Maksudnya?”

“Kamu haram menikahi Baedah, karena Baedah termasuk saudara sepersusuanmu.”

“Masyaallah! Benarkah?  Bagaimana ceritanya?”

Aku terheran, namun juga terkejut bukan main.  Ibu membiarkannya dalam beberapa saat. Pandangannya kosong, pikirannya menerawang ke masa silam. Ibu tak dapat menyembunyikan rasa sesalnya karena mengatakan hal itu.  Namun kiranya tak ada pilihan lain. 

“Ayahnya, Mang Sayuti, seorang perajin petasan. Potasium yang disiapkan untuk membuat petasan tiba-tiba terbakar. Mang Sayuti ikut terbakar. Nyawanya tidak tertolong.  Ibunya menyusul setahun kemudian karena terserang penyakit demam berdarah. Nak Baedah kemudian dibesarkan oleh Mak Antih, neneknya.  Suatu saat Mak Antih kekurangan ASI, ibu sempat menyusuinya beberapa kali.”

“Tapi Bu, aku sudah berjanji akan menikahinya.”

“Janjimu adalah bentuk ikhtiar yang nilai kebaikannya insyaallah dicatat malaikat. Namun soal rencanamu, tak ada pilihan Nak, kecuali harus dibatalkan. Jadilah kalian bersaudara. Maafkan ibu.”

Ibu tak sanggup membendung air matanya. Tangisnya pecah. Remuk redam hatinya, juga hatiku. Tak ada yang dapat kubantah kesaksian ibu. Getir rasanya.

Kutemui Baedah, kuceritakan pembicaraan ibu. Baedah nyaris tak percaya. Namun kesaksian Mak Antih membuatnya mudah mengerti  meski hatinya berat menerimanya. Derai air mata tak kuasa dibendungnya. Mak Antih melongo lahir batin. Rasa bersalah pun mengusik batinnya.  Dia baru menyadari bahwa kebaikan ibu ternyata berakibat pada takdir macam ini. Isak tangis kecil berlangsung sesaat, menyusul sepi.  Repetisi merdunya suara burung tekukur di puncak pohon kecapi depan rumah Mak Antih mendominasi keheningan yang berlangsung beberapa saat. Tekukuuur kuk... tekukuuur kuk... tekukuuur kuk...[]




Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia