[cerpen] Anak Angkat Matahari

Usman Hermawan

Konon, walau usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan mama masih terus kuliah.  Mama ingin agar kuliahnya, yang sempat tertunda karena mendahulukan menikah,  selesai sesuai target. Kehamilan tidak menjadi penghambat untuk mama mengikuti setiap perkuliahan. Itu tidak berarti mama selalu dalam kondisi nyaman. Di ruang kuliah mama kerap mual-mual dan nyeri perut. Tak ada teman mama yang tahu atas kehamilannya kecuali tante Azmi teman karib yang duduk di sampingnya. Perut mama memang tidak begitu buncit walau hamilnya mencapai bulan ketujuh. Mama suka mengenakan baju dan celana longgar. Dengan begitu mudah baginya menyembunyikan kehamilannya. Papa menyebutnya fostur mama bersize S, berbadan kecil walaupun tidak dalam kategori bantet.
Wajah mama juga terkesan lebih muda dari usianya, ditambah dengan paras yang cantik, sehingga beberapa teman laki-lakinya ada yang naksir. Mereka tidak mengira bahwa mama telah berkeluarga.  Bahkan menurut kesaksian tante Azmi, di awal masa kuliah seorang di antaranya nekat mengantar jemput mama, tanpa mama bisa menolaknya. Hal itu tanpa sepengetahuan papa.   
Walau terkadang perutnya terasa sakit mama berusaha agar bisa tetap kuliah. Sakit perut mama tanpa sebab yang jelas. Dokter spesialis kandungan yang mama datangi tak berhasil mendiagnosis secara pasti. Bahkan ketika memasuki bulan ketiga, mama mengalami kesakitan yang luar biasa siang-malam dalam beberapa hari. Mama mengerang persis seperti saat-saat orang melahirkan. Papa hanya bisa mengelus-ngelus perutnya yang buncit. Atas saran seorang psikolog kenalannya, mama mencoba memeriksakan diri ke klinik Raden Saleh ketika kandungannya mencapai usia tiga bulan. 
Dalam kekalutan terbersit keinginan mama untuk menggugurkan kandungannya. “Gugurkan saja dokter!” pinta mama. Sontak papa terkejut. Mendadak nafasnya tertahan beberapa saat. Jantungnya berdegup kencang. Papa tak mengira mama senekat itu. Mama tidak main-main. Iblis apa yang merasuki pikiran mama? Papa tak berdaya, antara kasihan, heran, ngeri, dan perasan takut berdosa berkecamuk. “Ma, sabar yah!” bujuk papa. Mama terus merintih. Keinginannya untuk menggugurkan kandungan tak juga surut. Sepertinya mama mengira dengan digugurkan kandungannya sakit perutnya akan dengan serta-merta sembuh.  Papa menyadari betul  bahwa pengguguran kandungan berisiko dapat mengancam keselamatan mama.
“Dok, kalau digugurkan apa sakit perutnya sembuh dengan sendirinya?” papa berlagak heran agar mama menyadari kekeliruannya.
“Tak ada jaminan. Ini bayinya sudah besar, sayang. Sudah tiga bulan.”  Dokter menunjukkan layar monitor USG.
“Gugurkan saja dokter!” rintih mama memohon.
Kecamuk batin justru terjadi pada papa. Papa tak yakin pengguguran akan menyelesaikan masalah. Papa merasa takut berdosa dan sayang pada bayi dalam kandungan.  Di sisi lain papa juga kasihan terhadap mama yang tak henti merintih-rintih. Aroma kematian bayi dalam kandungan mulai merasuki fantasi papa. Itu pula yang mengusi krasa kemanusiaan papa. 
“Sabar Sayang, bertahanlah!” lirih papa berlinang-linang.
“Tidak mau, gugurkan saja, gugurkan saja!” tangis mama pecah, namun keraguan mulai menjalari hatinya.   
“Silakan pertimbangkan baik-baik,” imbuh seorang dokter perempuan dengan tenang.
Mama dipersilakan keluar, papa membimbingnya. Dokter melayani pasien lain.
Papa merenung, mama juga. Hening  berlangsung beberapa jenak di di kursi tunggu. Papa mengelus perut mama perlahan. Pikiran papa menerawang membayangkan akibat buruk penguguran kandungan. Ketakutan berdosa mengancam perasaan papa. Tak henti-henti papa istigfar. Matanya berkaca-kaca.
“Bagaimana Ma?” tanya papa berharap hati mama melunak.
“Gugurkan saja,” tegas mama merintih-rintih.
Lahaulawalakuwwata ilabillah!” desah papa tertahan pelan.  Papa tak dapat memaksakan kehendak karena papa sadar betul bahwa kesakitan itu mama yang merasakan. Namun perasan takut dosa kini kian menjadi. Papa bertambah pusing. Kepalanya terasa berat. Papa menduga mama telah dirasuki pengaruh tante Lita, psikolog kenalan mama. Mama telah mendapat dukungan psikologis untuk menggugurkan kandungannya di klinik itu. Itu tertanam dalam pikiran mama. 
Sementara dalam pikiran mama, kalau pun mengugurkan kandungan mama tak sendiri. Mama sendiri juga punya alasan, yakni ingin bebas dari deraan rasa sakit yang kerap kali menerornya tak kenal waktu dan sebab.   Mama juga tahu bahwa begitu banyak bayi diaborsi di klinik itu dengan berbagai alasan. Informasi itu didapatinya dari tante Lita beberapa pekan sebelumnya. Bahkan ketika mama dalam antrean di ruang tunggu sempat terjadi perbincangan dengan seorang ibu yang anaknya hamil di luar nikah.  Dengan alasan  keduanya masih kuliah, janin yang berumur hampir sebulan kemudian diaborsi.  Itu pula yang turut menguatkan tekat mama menggugurkan kandungannya.
“Sudah tiga bulan, Ma, sayang, kasihan bayinya!” papa mencoba mengingatkan berharap mama berbalik pikir.
Mama memandang wajah papa. Tergambar kesangsian di wajah mama. Ada kecamuk batin yang tak dapat disembunyikan. Rasa sakit mama sedikit mereda. Namun mama tak yakin keluhannya itu akan hilang, di waktu lain akan kembali kumat.  Papa terus berharap, semoga mama mendapat kekuatan. Dalam hati,  papa terus berdoa sebisanya.
Setelah diselingi empat pasien, mama kembali dipanggil untuk masuk ke ruang praktek dokter. “Bagaimana Bu Mala?” tanya dokter dengan suara lembut.
Mama diam.     
“Dok, kalau digugurkan ada kamungkinan sakitnya bakal sembuh total?” selidik papa mengulang pertanyaan.
 “Mungkin rasa sakit itu ada karena adanya kehamilan, tapi sudah besar sayang, sebaiknya jangan digugurkan.” Dokter mengulang kata-katanya. Namun dia tak dapat mendiagnosis secara pasti dan meyakinkan.  
“Kalau nanti hamil lagi, bisa sakit lagi?”  papa penasaran.
“Yah, ada kamungkinan.”
“Penyakitnya apa, Dok?”
Dokter tak menjawab.
Sikap dokter meragukan papa. Jawaban memadai yang papa harapkan sejak keberangkatan tak didapati dari sang dokter. Semula papa berharap di klinik itu dokter ahli bisa memberikan solusi yang memadai. Hasilnya, tak ada jalan keluar. Tak ditemukan kelainan apapun pada kehamilan mama. “Mungkin ini sudah bawaan. Sabar saja,” ujar seorang dokter perempuan yang kedua seperti kehabisan akal.
“Aduuuuuh!” jerit mama menaik hingga terdengar ke ruang tunggu yang jaraknya beberapa meter. Orang-orang sedikit bergeming.
Tak ada tindakan medis yang dilakukan dokter.   
Keinginan mama untuk menggugurkan kandungannya terabaikan.  Papa sedikit lega karena akhirnya mama mengalah. Sakit perutnya sedikit mereda, namun rawan kumat. Sakit perut serupa pernah mama rasakan ketika mengandung kakakku yang pertama dan kedua. Itu berarti memang bawaan kehamilan. Papa menduga begitu. Itu sebabnya mama tak pernah menyambut bahagia atas tiga kali kehamilannya. Yang aku prihatin, mama tidak bisa menghapuskan kebencian psikologis terhadap kakak pertamaku. Sepertinya tak masuk akal memang. 
***
Walaupun hamil perut mama tidak terlalu buncit. Dengan mengenakan baju yang longgar mama dapat menyembunyikan kehamilannya di mata teman-teman sekuliahnya. Hanya dua atau tiga orang teman yang tahu bahwa mama sedang hamil. Merasa kuat, sebagaimana mestinya mama mengikuti saja ujian tengah semester.  Mama tak menyadari bahwa celananya basah. Selesai ujian teman Tante Azmi memberi tahu. Mama terkejut, sedikit panik. “Jangan-jangan mau melahirkan,” pikir mama curiga. Mama  segera menelepon agar papa menjemput. Seperempat jam kemudian papa tiba. Selanjutnya mereka menuju klinik Rani dengan sepeda motor. Barulah diketahui bahwa ternyata mama mengalami  ketuban pecah. Persalinan diprediksi akan mengalami kesulitan. Bidan tak sanggup menangani.    Mama dirujuk ke rumah sakit Qadr untuk persalinan. Mama dan papa kebingungan, bagaimana mungkin melahirkan sedangkan usia kandungan baru mencapai tujuh  bulan.
Proses persalinan mama berlangsung tersendat. Papa sangat merasakan ketegangan.  Papa  terus berdoa. Hingga menjelang tengah malam lahirlah bayi kecil dengan berat dua koma satu kilogram dan panjang empat puluh lima centimeter. Prematur. Mama dalam kondisi sangat lemah.  Namun papa merasakan kegembiran di satu sisi karena sang bayi lahir normal, tanpa cacat dan mama selamat. Hati papa lega dan haru. “Subhanallah!” desah papa gembira.
Namun secara tak terduga, kemudian diketahui sang bayi menderita penyakit kuning. Kegembiraan papa dan mama terusik, tak jadi sempurna.  Suster memasukkan bayi merah pucat ke inkubator. Ada beberapa bayi di keranjang. Bayi kecil di keranjang kedua dan paling kecil, sekujur tubuhnya kekuningan. Ya, sang bayi menderita penyakit kuning. Itu makanya selalu diberi lampu, seperti anak ayam. Sampai seminggu di rumah sakit, penyakit kuningnya hanya berubah sedikit.
Adakah kemungkinan bayi mama tertukar dengan bayi lain? Papa hafal betul bayinya seperti apa. Papa  sempat mengamati kembali kelengkapan anggota tubuhnya. Semua bagian wajahnya diperhatikan. Tak mungkin pula suster teledor.  Di ruang bersalin hanya mama yang melahirkan ketika itu.  Jadi tak ada  kemungkinan sedikit pun bayi tertukar.
Keadaan mama berangsur-angsur membaik, sedangkan kulit bayi masih tampak kekuningan. Dokter membolehkan ibu dan sang bayi pulang.   Namun dapat seminggu di rumah, sang bayi sakit. Panasnya tinggi. Sampai tiga kali dibawa ke klinik terdekat tak turun juga panasnya. Dokter menganjurkan agar sang bayi diopname. Tak ada pilihan kecuali kembali ke rumah sakit. Kembali bayi menjalani rawat inap. Kondisinya mengkhawatirkan.
Kecemasan terus melingkupi mama dan papa. Puncaknya hari ketiga, bayi merah itu mengalami pembengkakan luar biasa, bertambah besar sekitar seratus lima puluh persen.
“Masyaallah……,” mama meringis sambil menutup wajah. Mengerikan. Ayah berusaha tegar. Menyusul timbul bintik-bintik merah. Keadaan ini amat mengejutkan. Dari bisik-bisik suster papa mendengar, “Dosisnya ketinggian atau salah obat.” Menurut dokter yang menangani, ini jenis penyakit campak Jerman. “Penyakit aneh apa lagi ini,” pikir papa pusing. Kematian adalah kata akhir yang begitu mudah menyusup dalam pikiran papa. “Tinggal bagaimana nasib,” bisik papa lirih. Namun herannya, setelah dilakukan diagnosis oleh dokter yang lain hasilnya negatif, bukan campak Jerman.
“Bagaimana sih, katanya campak Jerman, katanya lagi bukan!” keluh mama spontan. Tak jelas selanjutnya entah bernama apa penyakitnya. Sampai dua hari kemudian ukuran bayi kembali normal. Perdebatan mengenai jenis penyakit menjadi tidak penting jika namanya sukar dipastikan. Yang penting adalah kesembuhan. Hingga akhirnya hari ketujuh dokter memperkenankan bayi pulang walau kekuningannya masih tampak dominan.
Totalitas kesembuhan bayi “kuningan” masih harus menempuh waktu yang tidak singkat. Setiap pagi papa dan mama dengan telaten bergantian menjemurnya lebih dari satu jam. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sampai dominasi kekuningan tak lagi tampak.
Bayi itu adalah aku, yang mereka beri nama Bilal Eksis Arsipelago. Papa-mama menjuluki aku ‘anak angkat matahari’. Kini tak ada keraguan bahwa aku anak kandung mereka, bukan anak angkat seperti yang diolok-olokkan kawan-kawanku karena aku tak mirip dengan papa-mama.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia