[cerpen] Baruang
Usman Hermawan
Madrikun
menjalani rawat inap selama dua minggu di rumah sakit umum sebagai pasien
miskin. Dia dipulangkan dalam kondisi
kesehatan yang belum stabil. Bukan tak mungkin pemulangannya dengan
alasan terlalu lama membebani rumah sakit atau pihak yang menanggung
biayanya. Mungkin pula untuk memberikan kesempatan pasien lain untuk menikmati
ruang rawat inap sewajarnya. Setidaknya
dugaan macam itu yang keluar dari pikiran sebagian tetangga yang sempat
menjenguknya di rumh sakit mengingat di bangsal rumah sakit banyak pasien
miskin yang belum tertampung. Sampai hari ketujuh sejak kepulangannya Madrikun
masih mengeluhkan penyakitnya. Perutnya masih membusung meskipun tidak separah
sebelum dirawat. Saat itu datanglah Rasudin bersama Ki Sugema dari kampung P
menawarkan jasa pengobatan alternatif.
“Dali jangan biarkan penderitaan bapakmu
berkepanjangan. Kalau begitu artinya
bapakmu tak dapat diobati secara medis.”
“Maksudmu?”
“Mumpung
Ki Sugema bersedia menangani, mubazir bila kedatangannya kau tolak. Hanya ini
yang bisa aku lakukan untuk membantu keluargamu. Ini semata-mata karena aku
temanmu, Dali. Aku membantu lillahitaala.”
Semula Mardali ragu terhadap kebaikan kawan
masa kecilnya itu. Namun melihat kondisi ayahnya yang masih mengeluhkan
sakitnya akhirnya diterima juga tawaran itu. “Coba deh!” Mardali tak enak
hati menolak tawaran Rasudin meskipun dia tahu sahabatnya itu selain
tukang ojek juga dikenal sebagai makelar dukun. Dukun mana yang tak
dikenalnya. Kalau ada orang yang ingin
berobat dengan cara nonmedis dia selalu bersedia mengantarkan dengan sepeda
motornya atau menjemput sang dukun lalu mengantarkannya ke rumah pasien. Jika
jaraknya terlampau jauh dan perlu mobil, Rasudinlah yang mencarikannya dengan
biaya ditanggung keluarga pasien. Hal
itu dilakukannya dengan harapan orang menghargai jasanya, sehingga dapurnya
tetap ngebul.
Kalau
yang dimintai tolongnya kiyai yang punya pesantren paling-paling disarankan agar si pasien sabar
dan tawakal, tak ada tuduhan negatif terhadap siapapun. Ini yang sering tidak
memuaskan. Lain halnya dengan beberapa dukun yang pernah ditemuinya. Ada pihak
yang diduga sebagai pelakunya. Ciri-cirinya disebutkan. Tak jarang sang dukun
mampu menunjukkan bayangan fisik pelaku melalui air di baskom di kamar
prakteknya. Bahkan bila pihak korban
ingin membalas dendam sang dukun dapat
melakukannya, dengan catatan dia tidak bertanggung jawab atas dosanya, seperti
dukun yang kali ini bersama Rasudin.
Ki
Sugema duduk bersila di ruang tengah beralas tikar lampit. Mulailah dia mempraktekkan
keahliannya. Sebilah keris usang ukuran mini berlekuk lima, sepanjang jari
kelingking orang dewasa, dikeluarkannya dari gulungan kain putih kusam yang
dikeluarkan dari sebuah kantong berjerat hitam
selebar tiga jari. “Sejak turun dari motor juga muka saya sudah panas.” Ucapan
Ki Sugema menguatkan dugaannya sendiri bahwa besar kemungkinan Madrikun terkena
buatan orang lain, baruang.
“Biayanya
Ki ?” sela Rasudin seakan mewakili Mardali.
Ki
Sugema terdiam sejenak seperti merinci
biaya pengeluaran.”Saya bukan dukun, jasa
saya tak perlu dibayar, saya membantu lilahi taala. Cuma untuk ini-itu
kan perlu biaya. Penyakit bapak Saudara
lumayan berat. Kalau buat orang lain satu setengah, tapi khusus untuk Saudara
biarlah satu juta sampai tuntas.”
“Yang
penting sembuh!” sela Rasudin kembali.
Mardali
mengangguk tanda setuju. Ritual pun dilanjutkan. Mulut Ki Sugema komat-kamit,
matanya terpejam. Kedua tangannya menggenggam sebuah benda serupa keris ukuran
kecil tadi. “Sudah tahunan ini,” ujar Ki Sugema menengadah seakan melihat
sesuatu di loteng dengan mata batinnya.
Tak lama kemudian matanya
terbuka. “Din coba di sekitar sana!” Dia
menunjuk ke langit-langit. Dengan sigap Rasudin mencari bagian yang
dapat dipanjat untuk sampai di loteng. Mardali segera mengambilkan tangga, lalu
meletakkan bagian atasnya di lubang masuk loteng. Dengan cekatan Rasudin
berhasil naik.
“Wah,
gelap!” teriak Rasudin.
“Hati-hati,
Din, plafonnya rapuh,” ujar Mardali menengadah.
Kaki Rasudin gemetar bertumpu di plafon. Tangan kirinya berpegang pada kaso, tangan
kanannya menggeser genteng. Dia mencoba
menurunkan posisi sebuah genteng agar cahaya dari luar dapat masuk. Loteng agak
terang. Matanya nyalang mencari-cari sesuatu yang diyakininya sebagai barang
kiriman gaib. Tanganya meraba-raba
barangkali mendapatkan benda yang belum jelas wujudnya itu. Digesernya lagi
sebuah genteng di bagian lain. Pandangannya tertuju ke berbagai bagian yang
bisa dilihatnya. ”Tidak ada, Ki!” teriak
Rasudin pesimis.
“Coba
cari lagi, di semua bagian, pasti ketemu. Apa saya perlu naik juga?” Ki Sugema tetap dalam posisi bersila.
“Saya
ngaso dulu.” Rasudin duduk di kuda-kuda sambil mengatur nafas. Beberapa saat
kemudian Rasudin mengeserkan beberapa genteng lagi di bagian agak depan.
Keringatnya bercucuran karena hawa loteng panas dan agak pengap. Muka dan tangannya cemong-cemong terkena haranghangsu. Tiba-tiba matanya
terbelalak tertuju ke sela wuwungan.
Jantungnya berdebar. Tangannya gemetar. Benda warna hitam itu segera
diambilnya, diarahkannya ke bagian yang terkena cahaya untuk memastikan bahwa
benda itulah yang dicarinya. “Ki dapat ni!” teriak Rasudin kegirangan. “Cuma
satu, Ki?”
“Ya,
satu. Turunlah!” Ki Sugema tetap dengan posisinya.
Segeralah Rasudin turun. Diserahkannya benda
asing itu kepada Ki Sugema. Setelah mengamatinya benda itu dikembalikan kepada
Rasudin.
“Boleh
dibuka Ki?”
Ki
Sugema mengangguk.
Benda
itu berupa gulungan kain hitam sebesar dan sepanjang dua ruas bagian jari
kelingking berisi kapas dan kerikil. Melalui benda itulah orang mengirim
penyakit, sehingga akhirnya Madrikun sakit-sakitan. Demikian penjelasan Ki
Sugema. Sementara itu, Madrikun yang masih merasa-rasakan sakitnya tak banyak
berkata-kata. Mardali dan ibunya masih terkesima dengan penemuan benda kiriman tadi, antara percaya dan tidak.
Ki
Sugema menyudahi semedinya.“Bakar saja, Din.”
Pembakaran
benda itu dilakukan di belakang rumah disaksikan
oleh semua yang hadir.
“Kira-kira
perbuatan siap, Ki?” telungtik Rasudin
seakan mewakili Mardali.
“Untuk
memastikannya, besok malam Saudara Mardali datang saja ke rumah saya, bisa
diantar saudara Rasudin.”
“Biasanya
bakal kelihatan siapa pelakunya, Dali.”
Mardali
manggut-mangut menghargai.
***
Sepulangnya
Rasudin dan Ki Sugema selang hampir satu jam tibalah Sarkowi, adik Madrikun.
“Bekas ada tamu sepertinya, siapa yang datang?” tanya Sarkowi setelah mengamati
dua gelas dengan airnya yang tinggal
seperempat. Mardali menjelaskan ihwal kedatangan Ki Sugema termasuk biaya yang
harus dikeluarkan. Sarkowi jengah. “Paman bukan tidak bersedia membantu
menggenapi biaya pengobatan itu, Dali. Satu juta memang bukan uang sedikit,
tapi mengapa kalian mesti percaya kepada yang begituan sih. Paman mohon
batalkan pengobatan dengan dukun itu! Yang paman tahu dia tukang ngibul. Di
kampungnya tak ada orang yang percaya. Kalian bisa kurus kering diperasnya.
Nanti bakal ada biaya lain-lain yang dibebankan kepada kalian, minyak wangi
saja harganya tidak tanggung-tanggung.”
“Tapi…”
Mardali tidak mengira pamannya bakal seekstrem itu.
“Ikhtiarmu
tidak tepat, hanya akan menimbulkan fitnah dan memperparah kesulitan kalian.”
Mardali
tak punya nyali jika harus membatalkan “kontrak” yang terlanjur disepakati.
Jika Ki Sugema tersinggung bisa runyam urusannya, pikir Mardali. Dia tercenung
beberapa saat.
“Bagaimana?
Tidak berani? Atau paman saja yang
datang ke rumahnya agar pengobatan ini tidak perlu dilanjutkan?”
“Tidak
usah, terima kasih. Saya saja yang akan ke sana, tapi…”
“Katakan
dengan bahasa yang baik, bahwa kamu dilarang paman Sarkowi mengobati ayahmu
dengan cara ini. Jangan lupa beri amplop barang lima puluh ribu agar dia tidak
kecewa.”
Mardali
tak mampu menyebunyikan kecamuk batinya. Rasa bersalah tak bisa dihapuskannya
begitu saja. Selanjutnya, pemberhentian pengobatan Madrikun
didelegasikan Mardali kepada Rasudin. Rasudinlah juru bicaranya.
***
Madrikun
muntah darah. Busung perutnya kembali membesar. Setiap kali orang menjenguk
pertanyaan mengenai jenis penyakitnya selalu terlontar. Namun tak ada yang bisa
menjawabnya karena dokter yang menanganinya tidak memberi tahu jenis penyakit
yang diderita Madrikun. Menjelang subuh, tanggal 24 April, Madrikun menghembuskan nafas
terakhir.
Awan
kelabu menggantung di atas Babakan Gawir dua hari lamanya. Suasana duka sungkawa begitu terasa. Orang-orang
bersimpati. Suara selawatan di sepeker masjid yang biasanya bernada gembira
berubah menjadi tarikan baca quran bernada syahdu menandakan pembacanya tengah
berduka. Burung gagak melintas dari
utara ke selatan seakan mengabarkan bahwa hari ini telah berpulang orang biasa,orang
yang hidupnya santun, jujur dan
bersahaja. Namun kematian
Madrikun menyisakan ganjalan rasa ‘percaya tidak percaya’ di hati keluarga dan
kerabatnya. Kebencian dan buruk sangka muncul tak bisa ditepis karena terlanjur
mengemuka bahwa kematiannya akibat ulah
seseorang yang menaruh dengki. Kabar bahwa Madrikun terkena baruang (pitenah, guna-guna, teluh, alias santet) menjalar dari mulut ke
mulut. Orang-orang seisi kampung pun dihinggapi perasaan serupa mengingat
semasa hidupnya Madrikun berkelakuan baik. Sedangkan orang yang diduga sebagai
pelakunya adalah masih terbilang saudara sepupu. Dugaan itu
konon hasil terawangan Ki Sugema yang
dikabarkan Rasudin. Atas kematian Madrikun, Ki Sugema yang mengaku dapat mengobati berbagai jenis
penyakit medis maupun nonmedis, tak mau
dipersalahkan. Hal itu karena Mardali
menyudahi berobat ayahnya sebelum
Ki Sugema berbuat lebih banyak untuk menyembuhkannya.[]
Keterangan:
Baruang=santet
Komentar
Posting Komentar