[cerpen] Bermula di Festival Cisadane

Usman Hermawan 
Dia yang menyodorkan tangan lebih dulu untuk mengenalkan dirinya pada hari kedua aku mengunjungi Festival Cisadane dua tahun lalu. Zahra namanya bersama Jumarnis, rekannya. Tak ada yang istimewa dari perkenalan itu, bahkan menyebalkan. Namun aneh, begitu aku mulai mengajar komputer SMA Islamic Village dia pula orang pertama yang kutemui pagi itu. Rupanya guru bahasa Arab dia. Kendati dia berjilbab tak kutemukan hal menarik pada dirinya kecuali jilbabnya saja yang bagus. Tak enaklah kalau kusebutkan satu persatu ketidakcocokanku terhadapnya, selain usianya sedikit lebih tua  dari aku. Kalau aku tidak mendapat tugas mengajar komputer disekolah  mungkin pertemuan itu tak akan pernah terjadi. Aku  justru lebih tertarik kepada seorang rekannya, Jumarnis. Sayang, perempuan itu tak seagresif Zahra. Jumarnis memilih menjadi pendukung bagi Zahra untuk menarik simpatiku. Kalau kebetulan Zahra sedang tak ada jam mengajar dan tidak datang di sekolah, Jumarnis menyampaikan salamnya yang aku sendiri tidak yakin bahwa itu benar-benar  dari Zahra.
Zahra kerap mengganggu ketenanganku. Pesan singkatnya tak pernah absen masuk ke hapeku sekalipun tak kutanggapi. Dia sok perhatian. Kerap kali aku dibawakannya makanan ke ruang komputer tempat aku mengajar. Para siswa mengira dialah pacarku. Beberapa siswa perempuan yang bersimpati kepadaku tampak cemburu karenanya. Tak mau aku punya pacar macam dia. Selain tampangnya yang tidak representatif, pendidikannya lebih tnggi dari aku. Aku hanya lulusan diploma tiga sedangkan dia telah menyelesaikan program pascasarjana.  Tak ada pilihan kecuali aku berusaha bersikap biasa, bahkan bersikap dingin. Namun lama-lama aku makin muak terhadap tingkahnya. Kendati siswa yang kuajar sebagian besar enak dipandang, tetap saja aku jadi tak nyaman bekerja. Keadaan ini mendorongku untuk kemudian keluar dari pekerjaan setelah mencapai satu tahun. Kuganti nomor hape.  Merdeka ! pekikku dalam hati. Tak ada lagi pesan singkat sayang-sayangan yang menyebalkan itu. Tak ada pula jebakan Jumarnis yang mempertemukan aku dengan Zahra di kantin Bunga depan rumah sakit Qadr.
Atas bantuan seorang teman aku diterima SMA 15 sebagai tenaga honorer. Kini  aku bekerja lebih tenang. Anak-anaknya enak diajak berkomunikasi, tata kramanya masih terbilang baik. Beberapa guru perempuan yang masih lajang bersikap wajar saja.  Jalinan silaturahmi dengan setiap warga sekolah terjaga baik.  Mahluk macam Zahra tak kutemukan di sini. Kabar tentang Zahra tak pernah kudengar dari siapapun sampai belasan bulan lamanya. Face book tak pernah ku-up date setelah foto-fotonya kuhapus. Alamat e-mail kuganti. Semua itu semata-mata karena aku ingin menghindari perempuan menyebalkan yang bernama Zahra itu.  Perempuan yang sama sekali tak berpesona di mataku. Perempuan yang ingin selalu dekat denganku. Iiiih, sebel
Siang sehabis hujan, pembelajaran mengenai photo shop baru selesai aku jelaskan. Anak-anak mengerjakan tugas dengan antusias. Tiba-tiba hapeku bergetar, ada pesan yang masuk. Sambil bersandar di kursi empuk kubuka pesan itu. “Ini nomor pak Agus?  Aku Jumarnis. Boleh dong aku kangen. Kita ketemu di taman kota?” Duh, dari mana perempuan cantik ini tahu nomor hapeku.  Aku bingung, antara membalas dan tidak, tapi  Jumarnis bukan perempuan biasa kukira. Jujur saja, aku menaruh rasa. Sayang jika dilewatkan. Setelah beberapa saat berkecamuk keraguan dalam hatiku antara menyetujui atau tidak. Akhirnya kuputuskan untuk memenuhi keinginannya.
 Segerombolan sriti berputar-putar di atas bendungan Sangego mengiringiku bertemu Jumarnis. Aku baru saja gajian, kupikir uangku cukup jika sekadar meneraktir Jumarnis makan  di Sami Asih kalau-kalau dia meminta.  
“Agus, begitu caramu menghargai perasaan perempuan?”
“Lho, apa urusannya?”
“Zahra merindukanmu. Tak ada laki-laki lain di hatinya, kecuali kamu.”
“Mengapa mesti begitu?”
“Itu namanya cinta. Kau harus menghargai ketulusannya.”
Aku diam, lalu kutatap Jumarnis dalam-dalam. “Mengapa kau begitu serius menghendaki aku jadian dengan Zahra?” suaraku lirih. Sebenarnya ada yang ingin kukatakan kepada Jumarnis bahwa aku mencintainya, bukan kepada Zahra. Dia harus tahu itu, pikirku, ini kesempatan baik. Aku tahan keinginanku untuk mengatakannya sampai dia menjawab pertanyaanku. Jumarnis tampak ragu mengutarakan maksudnya, tapi akhirnya bicara juga. “Maaf, aku menginginkan sahabatku Zahra hadir dengan pasangannya pada resepsi pernikahanku bulan depan, tanggal sepuluh  di Istana Nelayan. Aku tahu satu-satunya laki-laki yang didambakannya adalah kamu.”
Addduhh! Sesaat terasa tersedak nafasku. Hiliwir angin sisa hujan pun tak membuatku bertambah nyaman. Beruntung belum kuutarakan isi hatiku. Segera kuakhiri pertemuan  menyebalkan itu. “Baiklah akan aku pikirkan. Sudah sore, aku harus segera pulang. Kasihan Emak, sudah menanti dari tadi, ada urusan penting katanya.”  Kucari-cari alasan untuk segera meninggalkan Jumarnis.
Di ruang tamu ada sisa suguhan bekas tamu.  “Siapa yang datang, Mak?” tanyaku. Emak tak segera menjawab. Setelah kuulangi bertanya, barulah Emak buka mulut. “Zahra!” Oh, my god!  Tanpa sepengetahuanku rupanya Zahra telah beberapa kali ke rumah. Emak tak pernah mengatakan sebelumnya. Zahra benar-benar berhasil mengambil hati Emak untuk menyetujui keinginannya. Hati Emak lumer. Entah sogokan apa yang telah diberikan kepada Emak. Kalau bukan karena menyayangi Emak sudah kutumpahkan kekesalanku. Kurenung-renung beberapa saat, terlalu jauh aku membenci Zahra padahal dia sudah berusaha bersikap simpati kepadaku.   Apakah karena aku mengiginkan Jumarnis sehingga Zahra yang ada di dekatku menjadi pemandangan tanpa pesona yang menyebalkan?
***
Malam sehabis hujan mempersembahkan orkestra dengan aneka suara binatang yang didominasi perkusi kodok belentung di sawah darat dekat rumah. Jalan beraspal di sebelah barat tak dilalui banyak kendaraan. Keadaan itu menambah sepi rumah kami yang penghuninya hanya aku, Emak dan nenek.   Untuk kedua kalinya Emak mengutarakan harapannya agar aku mau membuka hati untuk Zahra, gadis dewasa yang dinilainya berakhlak mulia.
 “Tak ada yang perlu diragukan,  Gus.”
“Tapi Mak, aku tidak mencintainya. Tak ada sir sedikit pun juga!”
“Mencintai Zahra bukan dengan nafsu.”
“Maksud Emak?”
“Anakku, cintailah dia karena Allah. Niatkanlah ibadah. Cinta yang kau maksudkan  bisa tumbuh kemudian, setelah kamu ikhlas menerimanya. Emak yakin dia perempuan berakhlaqul karimah dan bermartabat.  Mau nyari yang bagaimana lagi, kita mah orang susah, kudu tahu diri!” Emak berlinang-linang memintaku menerima Zahra untuk jadi menantunya. “Nenekmu yang sudah uzur juga ingin menyaksikan  cucunya yang bungsu dapat jodoh sebelum dia tak ada umur,” tambah Emak. Aku diam membatin. Emak belum puas bicara. “Zahra itu perempuan baik-baik. Rumasa orangnya, tahu diri, tidak manja, terbiasa hidup susah, tahan banting, ulet, agamanya bagus, pendidikannya tinggi. Serjana! Kamu juga tidak lebih baik ketimbang dia, Gus. Emak bisa merasakan, betapa Zahra mendambakan laki-laki macam kamu. Laki-laki yang bersahaja, berkepribadian dan bertanggug jawab. Kelebihan itu  ada padamu, katanya. Emak sudah bicara dengan dia dari hati ke hati, sekaligus sebagai sesama perempuan, Emak juga pernah muda.  Jangan lukai hatinya. Emak menganggapnya seperti anak  sendiri. Emak juga menghargai keyakinannya bahwa dia mencintai kamu lillahi taala. Emak mohon keikhlasamu.”
 “Aku pikir-pikir dulu, Mak!” ujarku.
Malam bertambah kelam ketika Emak meninggalkanku beranjak ke ranjangnya yang berkasur kapuk berlapis tikar pandan belian almarhum bapak di pasar Curug empat tahun lalu. Klepak bunyi daunan pisang ditampar angin tepi rumah turut meracau galau hatiku. Derit ranjang yang Emak naiki menjadi isyarat bahwa ada kekecewaan menyesaki dadanya atas sikapku.  Menyadari hal itu kuhampiri emak yang tengah merebah hendak memulai tidurnya. “Mak, insyaallah aku bersedia, Emak tidurlah.” Suaraku lirih. Emak tak bergeming dalam beberapa saat. “Syukur kalau begitu.”  Bicara Emak seperti meragukan perubahan sikapku.
***
Nasihat Emak meluluhlantakkan segala keangkuhanku. Luar biasa! Kata-kata Emak berdaya hipnotis tinggi. Kuterima Zahra dengan jiwa besar. Aku terus belajar menerima kebaikan ini. Karena kepatuhanku, tak kusangka Emak begitu perkasa seperti mendapat suntikan energi yang luar biasa. Dari urusan lamaran hingga resepsi persiapan pernikahan, Emaklah yang mengusahakan. Terhadap kondisi Zahra yang yatim piatu Emak memaklumi benar. Tak ada keluarganya yang dapat diandalkan, sehingga Emaklah yang mengambil alih urusan ini. Pernikahan dan resepsi kami dilaksanakan dengan cara yang amat sederhana. Bahkan usai ijab qabul, nenek yang sakit sejak beberapa hari, menghembuskan nafas terakhir. Suasana mengharu biru.
***
Bertepatan dengan ujian semester genap, kami sama-sama minta libur  untuk menikmati masa bulan madu. Masa-masa ini diisi dengan bersilaturahmi ke rumah-rumah sanak keluarga. Sabtu, 4 Juni,  atas permintaannya dengan alasan ingin bernostalgia, aku menyertai Zahra  mengunjungi Festival Cisadane. Sungguh hiburan yang teramat menyenangkan.  Sepiring berdua makan ketoprak, menyedot aqua bergantian terasa benar nikmatnya. Hiburan seni tradisional turut menggenapi kebahagian kami siang ini.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia