[cerpen] Burung Perwali

Usman Hermawan
Aku khawatir kalau-kalau ayah terpengaruh pembicaraan Ki Drajat. Aku mohonkan ayah agar tidak mempercayai dan mengikuti ajakannya memburu benda pusaka bertuah yang katanya dikuasai bangsa jin. Tempatnya di ruko yang belum diisi pembelinya di kompleks perumahan Dasana, belasan meter dari pohon putat yang dulu dikenal angker. Katanya Ki Drajat mendapat bisikan gaib bahwa di sana terdapat pusaka sendok dan garpu beserta benda lain yang berharga. Ki Drajat hanya menginginkan sendok dan garpunya, selebihnya  akan menjadi hak siapa saja yang bersedia berkolusi dengannya.
Syarat utama kerja sama itu adalah harus berdua dengan biaya fifty-fifty. Jika bersedia, ayah dipersilakan menyerahkan uang separuhnya, tujuh setengah juta rupiah. Sedangkan separuhnya lagi Ki Drajat yang menanggung. Uang lima belas juta rupiah akan digunakan untuk biaya ritual.   Jika berhasil uang itu akan kembali berlipat ganda. Begitu yang ditawarkan Ki Drajat kepada ayah.
 Pertama kali aku mengetahui hal itu dari cerita adik kedua ketika ia datang ke rumahku untuk suatu keperluan.  Selanjutya aku menemui ayah. Aku merasa tenang setelah ayah menyatakan ketidaktertarikannya. Selain tidak begitu percaya ayah juga tidak mempunyai cukup uang  sejumlah yang disyaratkan Ki Drajat. “Uang sejumlah itu dari mana ayah, untuk berobat ibumu saja sudah kembang-kempis,” sergah ayah. Aku sarankan pula agar ayah lebih fokus kepada upaya pemulihan kesehatan ibu.
   Keadaan ibu masih kerap membuat keluarga khawatir. Setelah diopname di Rumah Sakit Qadr untuk kali kedua, ibu belum sembuh total. Bahkan kemudian muncul pula penyakit psikologis baru: takut berlebihan. Sungguh penyakit yang tak lazim bagi kami. Setiap memasuki waktu malam ibu diserang perasaan takut. Bukan takut biasa. Aneh. Rasa takut itu muncul begitu saja. Sebelum rasa takut menyergap, panas dingin dan  merinding menjalar ke seluruh tubuh. Ibu sampai menggigil, nyaris tak sadarkan diri. Tak jelas apa yang ditakutkan. Kira-kira, ibu seperti berada di antara kuburan sendirian dengan teror hantu yang menakutkan.
Kalau sudah begitu keadaan menjadi runyam. Hampir semalaman ibu merasakan penderitaan itu. Yang bisa dilakukan anak-anaknya hanyalah memijiti dan membaca doa-doa sebisanya. Berkali-kali hal itu dialami ibu. Ibu juga ingin selalu ditemani. Kasihan ibu. Yang membuat merinding bulu kuduk  semua yang hadir, saat ibu terkesiap karena melihat sesosok mahluk serba hitam tinggi besar. Hanya ibu yang melihat. Antara percaya dan tidak, mahluk haluskah atau itu halusinasi ibu saja?  Maklum, kondisi kejiwaan ibu sangat tidak stabil, ditambah dengan alam pikirannya yang sejak  masih muda terbiasa dengan hal-hal yang berbau mistik.
Ketika dikonsultasikan kepada dokter spesialis penyakit dalam sesuai jadwal kontrol, ihwal perasaan takut yang kerap menyerang ibu, dokter tidak memberikan solusi yang memadai. Hanya disarankannya agar ibu jangan takut dan jangan banyak pikiran. Terkesan dokter tidak mengerti dengan takut yang ibu maksudkan, sehingga ibu tidak yakin dokter dapat menerapi penyakit takutnya itu. Dalam pikiran ibu, dugaan bahwa penyakitnya bukan penyakit medis makin menguat.
Hal itulah yang membuat ibu kemudian meminta ayah mendatangkan Ki Drajat, seorang pengobat spiritual serba bisa yang dikenal banyak orang. Segala kelebihan dan keunikan dirinya yang belum kami ketahui kemudian dikemukakannya sendiri, sehingga kami jadi tahu dan percaya meskipun baru sebatas yang dikatakannya. Timbul kesan bahwa Ki Drajat bukan manusia biasa. Ki Drajat  sangat pandai meyakinkan siapa pun lawan bicaranya. Kehadirannya dapat membuat ibu merasa agak tenteram. Kata-katanya lembut, santun dan menyejukkan. Petuah agamanya pun dapat menyentuh hati yang mendengarnya. “Setiap penyakit datangnya dari Allah, dan setiap penyakit pasti ada obatnya,” ujar Ki Drajat memotivasi ibu. 
Meskipun tak mau disebut dukun, tapi prakteknya tak banyak berbeda dengan dukun pada umumnya. Keganjilan penyakit ibu menjadi ekspoitasi praktek pengobatannya. Suasana magis agak terasa. Dia juga menggunakan benda-benda sebagai  alat bantu layaknya dukun yang pernah kutahu. Minyak wangi dengan aroma khas menjadi andalannya. Menanggapi kekhawatiran ibu kalau-kalau ada yang mengguna-gunai dia berujar, “Kira-kira begitulah. Saya kira ibu pasti tahu siapa pelakunya.” 
Ketika aku mengemukakan keraguanku kepada ibu mengenai cara Ki Drajat mengobati ibu, ibu marah besar, sehingga kemudian  aku memilih diam. Selanjutnya banyak hal yang disembunyikan dari aku. Belakangan aku tahu dari ayah. Ibu diharuskan menjalani pengobatan yang lebih serius dengan ritual tertentu. Sejumlah persyaratan ditentukan Ki Drajat. Konsekuensinya ayah harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Mungkin karena tak cukup biaya, penanganan penyembuhan ibu berjalan lamban. Ki Drajat datang jarang-jarang.
“Banyaklah bersabar. Ini ujian. Perbanyaklah berzikir!”ujarnya.
Seperti yang Ki Drajat sendiri katakan sejak awal bahwa dia hanya menolong dan berusaha membantu, juga tidak memungut biaya. “Pekerjaan saya ini tidak perlu dibayar. Kalaupun dibayar tak akan terbayar dengan uang. Saya ikhlas lillahi taala. Saya juga hanya bisa berusaha, yang menyembuhkan yang maha kuasa.”
 Sejak awal kadatangannya, begitu mudah Ki Drajat menarik simpati dan membangun kepercayaan keluarga kami, terlebih ibu. Apapun yang dikatakan Ki Drajat dipercayai ibu bulat-bulat. Selama sebulan masa pengobatan ibu, tak pernah Ki Darjat meminta biaya bahkan diberi uang pun menolak. Semula kami melihatnya sebagai bentuk ketulusan menolong sesama. Mungkin begitulah cara Ki Drajat membangun pencitraan.
Selanjutnya, untuk memudahkan penyembuhan ibu, ada minyak wangi yang harus dibayar. Ini bukan minyak wangi biasa. Harganya di luar kelaziman. Alasannya, minyak dalam botol sebesar kelingking itu diperoleh di tempat keramat di luar daerah. Karena menginginkan ibu sembuh, berapa pun biayanya selalu ayah usahakan bagaimana pun caranya. Namun ketika masih dalam masa penanganan Ki Drajat sampai beberapa kali ayah meminta bantuan ustadz dan orang pintar lainnya atas permintaan ibu. Setelah sekian lama, pada akhirnya ibu sembuh. Sukar dipastikan melalui tangan siapa ibu dapat tersembuhkan. Hal itu tidak jadi soal, bagi keluarga yang terpenting ibu sehat.
***
Karena kesibukan, ditambah jarak tempat tinggalku yang jauh dengan rumah ibu, aku tidak dapat memantau keadaan ibu setiap waktu.  Beruntung ayah dan adik-adik dapat mengatasi segala hal yang terkait dengan ibu, sehingga aku tidak perlu khawatir.
Dalam satu kesempatan kebetulan aku datang pada saat Ki Drajat berkunjung mengobati ibu.  Di sela pembicaraan mengenai penyakit ibu Ki Drajat mengemukakan maksudnya untuk “mengangkat” benda gaib bertuah.
“Ana cuma mau ambil sendok-garpunya saja. Selebihnya buat ente atau siapa saja yang bersedia bekerja sama. ”
“Buat apa sendok dan garpu, Ki?” tanyaku ingin tahu.
“Buat alat bantu pengobatan seperti inilah. Benda-benda itu dikuasai sang gaib.”
Maksudnya, bangsa jin? “
“Betul. Jin yang ini tubuhnya tinggi besar. Nanti benda-benda itu disepak-sepaknya ke arah ente. Ente jangan takut, Pri.”
Fantasiku menyeruak membayangkan perilaku jin bertubuh tinggi besar dengan kakinya yang besar pula menyepak-nyepak benda-benda berharga yang mungkin berupa emas, perunggu, perak dan sejenisnya. Sungguh aku terarik, penasaran ingin membuktikan tawaran Ki Drajat. Spontan pula pikiranku menerawang menghitung-hitung berapa rupiah uang akan kuperoleh jika berhasil. Praktis aku tak bisa berpikir normal. Yang ada dalam pikiranku adalah rejeki nomplok. Memancing uang memang harus dengan uang pula, pikirku mencari pembenaran. Rasa curiga dan tidak percaya ketika aku melarang ayah kini hilang sama sekali. Tak ada yang dapat kubantah setiap ucapan Ki Drajat mengenai “proyek” ini.
Anda yang dalam kedaan normal mungkin bertanya-tanya. Mengapa tidak Ki Drajat sendiri yang membiayai proyek itu? Akan dikemanakan uang dariku separuh dan separuhnya dari Ki Drajat sendiri?  Hal itu sempat pula aku tanyakan. Namun menyimak setiap perkataan Ki Drajat, segala pikiran kritisku melunak dengan mudahnya. Setuju saja dengan segala yang ia ucapkan.
Sadar bahwa tak punya uang, aku tak segera memutuskan jadi. “Saya bilang kepada istri dulu, Ki. Kalau ada uangnya nanti saya antar.”
   Sepanjang jalan pulang dari rumah orang tuaku, kuhitung-hitung ke mana saja uang dengan jumlah tidak sedikit itu kelak akan kusalurkan setelah sebagian kuambil untuk kepentingan keluarga. Aku bayangkan bagaimana nasibku berubah dengan mudah. Bukan tidak mungkin akupun akan berhenti bekerja sebagai tukang sapu di sekolah swasta. Dengan uang yang ada mungkin aku akan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Aku ingn jadi sarjana.  Aku juga ingin  merintis usaha dengan membuka toko sembako atau kelontong. Peluang menjadi bos, walaupun kecil, akan terbuka. Setiap sore membereskan uang hasil penjualan barang dagangan. Terlalu jauh aku membayangkan.
Kusampaikan ketertarikanku memenuhi tawaran Ki Drajat kepada istriku. Kujelaskan panjang lebar, sejelas-jelasnya.
“Apa lagi yang hendak abang katakan, sudah?”
“Kalau boleh, kalungmu abang pakai dulu.”
“ Tidak. Semua itu tidak logis. Bodoh,” istriku ketus. “Kalau abang memaksa, pakai uang abang sendiri.”
“Namanya juga usaha, Dik.”
“Usaha harus realistis, Bang.”
“Kalau berhasil nanti juga modal kita bisa kembali.”
“Ya, itu kalau berhasil. Kalau tidak? Uang kita hanyut ke laut. Tujuh setengah juta bukan sedikit, bang. Berapa kali gaji abang. Lagi pula kalau pun berhasil, aku tidak mau makan uang haram.”
“Haram bagaimana?”
“Ah… pokoknya aku tidak mau!”
Menghadapi reaksi keras istriku aku lalu diam. Aku tak mau ada ketegangan di rumah.  Aku tak kuasa memaksa agar istriku merelakan kalung pemberian orang tuanya. Aku  tak punya uang sejumlah itu. Akhirnya kutelan  kekecewaanku sendiri. Mungkin ini bukan rejekiku. Aku menghibur hati. Pasrah.
Berselang semalam, keadaanku kembali normal. Seperti terbangun dari mimpi. Aku merasa kesadaranku pulih. Ketertarikan terhadap tawaran Ki Drajat tak lagi merasuki pikiranku. Aku abaikan itu semua.
***
Berhari-hari aku tak menjenguk ibu. Tak ada kabar apapun yang kudengar. Namun ketika adikku mampir di rumahku untuk suatu keperluan, dikatakannya bahwa ayah telah mengangkat harta karun bersama Ki Drajat. Kabar itu cukup mengejutkan. Semula aku ragu, tak percaya. Karena ayah pernah mengatakan sendiri,  tidak mau melakukannya. Namun kalau ayah tidak konsisten dengan pendiriannya aku mafhum mengingat Ki Drajat sangat piawai mengumpan siapapun yang menjadi sasarannya.
Kutanyakan kepada ayah ihwal kebenaran pengangkatan benda keramat yang pernah dibicarakan Ki Drajat. Ku coba mengakrabi ayah, kupancing dengan pertanyaan-pertanyaan agar mau bercerita mengenai pengalama uniknya “mengangkat” benda keramat bersama Ki Drajat. Ayah mengiyakan, meskipun awalnya ragu dan malu-malu.
Dari cerita ayah. Jumat malam, saat bulan tak menampakkan diri. Bintang hanya beberapa yang nampak. Di luar adik diminta berjaga-jaga, mengamankan lingkungan sekitarnya. Bias cahaya lampu listrik hanya sampai  di luar ruko. Ayah bersama Ki Drajat memasuki ruko kosong. Dalamnya gelap dan berbau kurang sedap. Untuk mendapatkan penerangan Ki Drajat menyalakan korek sekali-sekali. Ki  Drajat duduk bersila menghadap sudut ruangan, seperti bersemedi. Ayah bersila pula di belakangnya. Hampir dua puluh menit Ki Darjat membaca doa dan mantra-mantra. Ayah diam saja, sekali-sekali mengamini.
Setelah agak lama sang jin yang dinanti tak juga muncul. Selanjutnya seekor burung tiba-tiba menggelapak  seakan sebuah pertanda bahwa jin penguasa benda pusaka akan muncul. Dengan cepat Ki Drajat berhasil menangkapnya. Ayah terkesiap, terkejut dan merinding. Ki Drajat terus membaca mantra-mantra bercampur doa dari ayat quran.
Malam bertambah larut. Jin bertubuh tinggi besar yang ayah perkirakan akan menyepak-nyepak benda pusaka yang dikuasainya tak juga muncul. Sementara itu  nyamuk tak henti-hentinya mengganggu.   Ki Drajat tak dapat berkonsentrasi penuh. Ayah pun mulai jenuh. Dari luar terdengar adik memanggil-manggil karena iseng sendiri atau sekadar mengecek keberadaan ayah di dalam kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Akhirnya, Ki Drajat menyudahi aktivitas ritualnya.
Alhasil,  seekor burung saja yang didapat. Ayah pun belum pernah sebelumnya melihat burung macam itu. Bulunya abu-abu kehitaman dan terdapat bagian bulunya yang kecoklatan,  agak mirip dengn burung ayam-ayaman yang ayah ketahui. Burung dimasukan di sangkar. Ki Drajat juga meminta ayah menyediakan sebuah kotak. Sehelai kain putih yang dibawanya digunakan untuk menutupi kotak itu.
“Tunggu sampai tujuh hari,” pesan Ki Drajat.
Setidaknya masih ada harapan sampai tujuh hari. Kejaiban akan tiba? Bukan mustahil. Demikian ayah berharap. Sampai hari ketujuh Ki Drajat tak kunjung datang. Orang seisi rumah tak sabar.  Disaksikan semua anggota keluarga, termasuk anak-anak, pada hari kedelapan adik nekat membuka kotak itu. Alhasil, tak ada yang berubah, nihil. Diam-diam ayah kecewa. Adik bersungt-sungut, mengumpat dengan emosi. Tapi percuma, tak ada Ki Drajat.
Ki Drajat datang pada hari ke dua belas.  Ayah meminta penjelasan dan sedikit pertanggungjawaban. Ki Drajat memberi alasan dengan ringan, karena di rumah ini ada yang tidak percaya sehingga kotak yang ditutup dengan kain putih itu tidak berisi apapun. Jin jadi enggan mengirim sesuatu. Tak ada yang protes atas ulah Ki Drajat, seakan segala yang  dikatakan Ki Drajat itu benar adanya.   Uang ayah bablas. Tak ada yang berani protes. “Mungkin bukan di situ keberuntugan ayah,” ujar ayah pasrah.Tingallah seekor burung dalam sangkar. Tak ada umpan yang cocok untuk burung itu hingga akhirnya mati dan dikuburkan. “Burung perwali telah mati. Masih untung bukan burung Abang yang mati!” cibir istriku.[]

Keterangan: burung perwali (istilah lokal, bangsa wali) adalah burung yang dianggap memiliki keajaiban. Cerpen tersebut terinspirasi oleh akal bulus dukun A dari Curug Wetan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia