[cerpen] KECAPI



Usman Hermawan
Sepeninggalan Wak Bidin,  pohon kecapi di sudut kebun sepenuhnya berada pada penguasaan Mak Eroh, istrinya. Pohon kecapi itu kini masih produktif. Tinggi pokok pohonnya lebih dari lima meter, lingkarnya  mencapai satu setengah dekapan lengan orang dewasa. Cabang utamanya tiga. Bagian dari cabangnya menjulur ke segala arah. Daunnya rimbun. Jika musim berbuah tentu saja buahnya amat lebat. Almarhum Wak Bidin  menyebutnya ini jenis kecapi daun. Satu buah kecapi bijinya berkisar empat sampai enam. Daging biji dan daging kulitnya tebal, rasanya lebih manis dari kecapi biasa. Setahun sekali pohon kecapi ini tak pernah absen menyumbangkan buahnya bagi banyak orang, bahkan bagi sejumlah codot dan kalong. Sekali waktu sepasang burung emprit memanfaatkan rantingnya untuk bersarang hingga menghasilkan sejumlah anaknya.
Kecapi yang belum masak rasanya asam. Mak Eroh juga perempuan lainnya sering menggunakannya sebagai pengganti buah asam ketika masak sayur asem.
Pohon kecapi sebesar itu kini sukar dicari padanannya dalam sedesa, di antara lima dusun.  Tak jelas betul berapa usianya. Yang pernah dikatakan suami Mak Eroh bahwa  pohon itu baru mencapai tinggi satu meteran ketika anaknya keduanya, Sainah, dilahirkan sekitar tiga puluh lima tahunan. Sekitar segitulah umur pohon kecapi itu.
Jika Mak Eroh butuh uang seluruh buahnya diborongkan kepada tengkulak. Tengkulak bisa mendapat empat sampai lima beronjong di sepeda motor. Harga buah kecapi sangat murah. Uang hasil penjualannya tidak seberapa, meskipun masih terbilang lumayan bagi Mak Eroh.  Namun jika Mak Eroh merasa perlu untuk menghibahkannya, siapa pun boleh memetik  secukupnya.
Ada cerita jorok yang menyertai riwayat pohon kecapi berbuah manis itu. Dulu, ketika pohon itu mulai belajar berbuah terjadilah pertengkaran kecil antara Mak Eroh dan suaminya. Masing-masing mengklaim diri sebagai penanam  dan pemilik sah pohon kecapi itu. Perdebatan berlangsung sengit dalam beberapa saat. Keduanya ngotot,  tak ada yang mau mengalah. Akhirnya dicapai kesepakatan  bahwa pohon itu hasil menanam bersama, meskipun sebenarnya tidak  demikian.  Sejatinya pohon kecapi itu tumbuh dari biji  yang keluar barsama entah kotoran Mak Eroh atau Wak Bidin.
Saat mereka makan buah kecapi bijinya ditelan. Seperti kebiasaan orang kebanyakan ketika itu, mereka tak punya jamban keluarga. Buang hajatnya  di sudut-sudut kebun yang dirimbuni pohon-pohon. Suatu kebiasaan Wak Bidin pula, untuk mengurangi aroma tak sedap atau khawatir terinjak dibuatlah sejumlah logak, lubang-lubang kecil sebagai penampungan. Jika dinilai perlu maka selanjutnya lubang-lubang itu ditimbunnya. Pohon kecapi itulah salah satunya yang tumbuh dengan cara tanam ala mereka. Beberapa pohon ‘rambutan biji’ yang kini masih produktif pun tumbuh dengan cara demikian.
Sepeninggalan Mak Eroh, lahan berikut pohon kecapi itu beralih kepada penguasaan Mang Japra, anak laki-laki mereka satu-satunya, sedangkan yang lain ketiganya perempuan. Beruntung kami para tetangganya masih diperbolehkan menikmati buahnya setiap musim.
Walaupun ketika malam tampak seram karena gelap, tetapi saat siang pohon kecapi itu menjadi tempat berteduh banyak orang. Kitiran, baling-baling bambu yang dipasang di puncaknya, saat berbunyi kulik-kulik diputar angin turut menggenapi  kenyamanan di sekitarnya. Bahkan saat malam hari suaranya menjadi musik pengantar tidur.
Kini lingkungan di sekitarnya  tidak lagi berupa semak-semak. Tak mungkin lagi ada ular tanah seperti dulu. Letaknya kini menjadi strategis. Dua meter di sebelah utara terdapat jalan selebar satu meteran yang kerap dilalui orang dan sepeda motor.  Area  di bawah pohon kecapi itu berfungsi sebagai tempat bertemu banyak orang.  
Pedagang sayur keliling memilih berhenti di bawah pohon itu untuk melayani pembeli. Saat itu pula para pembeli berkumpul dan bercakap-cakap ngalor-ngidul. Beberapa pedagang keliling lainnya pun sering beristirahat di situ. Begitu pula beberapa warga kompleks perumahan, jika ingin santai sambil menikmati  keteduhan udara tengah hari di situlah pilihannya. Hampir setiap hari di bawah pohon kecapi itu terjadi interaksi antarwarga. Tukang odong-odong tiga hari sekali mangkal di bawahnya untuk memikat anak-anak. 
Belasan tahun lalu aku mengajak Karmila yang kini menjadi istriku bermain di bawah pohon kecapi saat buahnya  mulai menguning. Sebuah kecapi paling masak yang kupanjat sengaja kuberikan untuknya. Agar tak memar, tak kujatuhkan buah kecapi itu, tetapi kukantongi sampai aku turun dari pohonnya. Kukupaskan kecapi dan makan bersama.  Pohon kecapi itu menjadi saksi bisu saat-saat bahagia di masa pacaran. Sebulan kemudian kami menikah.  Bagaimana mungkin aku lupa momen penting kala itu.
Bahkan ketika mulai hamil, Karmila mengidam buah kecapi muda. Itu sebabnya aku kaget ketika mendengar kabar bahwa Mang Japra berencana akan menebangnya. Melalui ibu kutitip pesan agar Mang Japra mengurungkan niatnya. Sejumlah alasan kusampaikan agar ibu menyampaikannya.
“Kenapa tidak kamu saja yang bicara?” tukas ibu.
“Bu, akan banyak yang dikorbankan. Dampaknya besar. Ibu ngerti global warming? ”
“Iya, apa kek. Kamu saja sana, bilang sama si Japra kalau berani!”
“Jadilah ibu penyambung lidah bagi orang-orang yang membutuhkan pohon kecapi itu. Ibu kan kakak misannya!”
“Lahannya  telah menjadi milik dia, termasuk pohon-pohonnya, apalagi kayunya akan digunakan untuk merehab rumah peninggalan Wak Bidin. Tak bisa ibu melarang-larang. Apa  hak ibu?”
“Merehab rumah cuma alasannya saja, Bu, lagi pula belum saatnya. Kalau pohon kecapi itu ditebang akan banyak yang dirugikan. Pohon kecapi itu begitu besar kontribusinya bagi kehidupan. Menurut Pak Nurdin,   insinyur pertanian yang melakukan penyuluhan di balai desa, sebuah pohon, termasuk pohon kecapi, menghasilkan oksigen  yang dihirup manusia dan hewan. Satu pohon menghasilkan satu koma dua kilogram per hari. Satu orang membutuhkan nol koma lima kilogram oksigen per hari.”
“Terserah. Ibu tidak punya urusan dan kekuasaan apa-apa atas pohon kecapi itu!”
Seperti halnya ibu,  Jarkoni, tetanggku,  pun terkesan memilih bersikap netral. Itu bukan karena dia tak punya kepedulian, melainkan lebih karena  kisah kelamnya terkait pohon kecapi itu. Suatu ketika  Jarkoni sepulang membajak sawah. Lapar dan haus mendorongnya untuk menikmati buah kecapi masak sisa borong. Dipetiknya buah kecapi tanpa meminta ijin lebih dulu kepada pemiliknya, Mak Eroh ketika itu. Hal itu tidak dianggapnya sebagai pencurian karena dia yakin Mak Eroh membolehkannya. Di bawah pohonnya pula Jarkoni memakannya sampai kenyang. Tentu saja bijinya ditelan. Jarkoni sangat menikmatinya. Lapar dan dahaga hilang lenyap.
Apes bagi Jarkoni, keesokan paginya dia tak dapat buang hajat. Saluran pembuangannya mampet. Jarkoni uring-uringan, sakitnya tak alang kepalang, langsung parah. Terpaksa keluarganya melarikan Jarkoni ke rumah sakit umum kabupaten dengan menumpang mobil kepada desa. Dokter yang menanganinya mencabuti satu persatu biji kecapi di dubur Jarkoni. Walhasil, terkumpullah tiga puluh satu biji kecapi. Para tetangga yang mengetahui terheran-heran atas kerakusan Jarkoni. 
Dokter menyuruh keluarga Jarkoni membawa pulang biji kecapi itu. Mungkin maksudnya sebagai peringatan. Orang-orang yang mengantarnya sepakat jika biji kecapi itu ditanam saja. Namun Jarkoni tidak setuju. Dia meminta agar biji kecapi itu dihancurkan, sehingga tidak bakal tumbuh. Jarkoni khawatir jika biji kecapi itu tumbuh kelak bisa membawa sial bagi bagi anak keturunannya.  Selanjutnya tak ada kabar mengeni nasib ketigapuluh satu biji kecapi itu. 
***
Kabar keberatan orang-orang atas rencananya menebang pohon kecapi telah sampai ke telinga Mang Japra sejak beberapa hari lalu. Mang Japra tak peduli. Pohon kecapi sedang tak musim berbuah. Tanpa bicara Mang Japra mengayunkan kapak ke pohon kecapi miliknya. Mengetahui aksi Mang Japra, satu per satu orang-orang berdatangan menyaksikannya dengan perasan iba bahwa mereka akan kehilangan tempat berteduh dan saling bertemu. 
“Mang, tunggu dulu. Jangan ditebang, sayang!” sergah seorang perempuan paruh baya diamini beberapa orang lainnya.
Mang Japra meletakkan kapaknya. Kedua matanya nyalang,  “He, tak ada yang berhak melarangku menebang pohon ini!”
“Tapi Mang...”
“Tidak. Tak ada yang berhak ikut campur urusanku!”
Kapak ditancapkannya di pohon kecapi. Melihat Mang Japra  yang spontan emosi para penonton bergegas mundur.  Ayunan kapak Mang Japra mengerikan.
 “He, Mang Japra, jangan ditebang sayang!” Salah seorang perempuan memekik.
Lelaki pendiam itu tak peduli. Dia terus menghantamkan kapaknya dengan sekuat tenaga dan setengah emosional. Dengan cepat keringat bercucuran. Baru belasan hantaman, mata kapaknya menancap dalam, sukar diangkat. Mang Japra menggerak-gerakkan gagangnya. Mata kapaknya tak segera lepas. Kali ini dia mencobanya dengan tenaga lebih kuat. Krakkk! Gagang kapak patah dan terlepas. “Hhhhh!” emosinya meledak.
“Nah lu!” Beberapa orang yang melihat bersyukur. Mereka berharap pohon kecapi urung ditebang.
“Sialan!” umpat Mang Japra  terhadap kapaknya.
“Kualat!” bisik perempuan yang memperhatikan laku Mang Japra.
Kapak tak dapat digunakan.  Mang Japra mengakali mata kapak yang menancap. Tak mudah, tapi kemudian berhasil juga. Harapan orang-orang terkabul. Mang Japra urung menebang pohon kecapinya. Hasil tebasan Mang Japra baru sedikit untuk ukuran pohon sebesar itu. Baru sepersepuluhnya. Pohon kecapi masih jauh dari kemungkinan bakal tumbang. Orang-orang masih bisa berlindung di bawahnya. Keesokan harinya pedagang sayuran masih bisa mangkal dan istri Mang Japra masih bisa berbelanja sayuran di situ. Siapa pun masih bisa memanfaatkan kerimbunannya. Burung cerukcuk dan burung-burung lainnya masih bisa hingap di dahannya sambil mengumbar suara. Kekhawatiran warga akan kehilangan pohon kecapi  mereda dalam beberapa hari.
Kabar bahwa Mang Japra sakit disinggung-singgung sebagai akibat terkena tulah. Mang Japra kualat. Penunggu pohon kecapi itu marah. Demikian dugaan sebagian warga. Sepekan kemudian, tanpa disangka, Mang Japra mendatangkan tukang gergaji mesin untuk menebang pohon kecapi itu. Mendadak warga dikejutkan oleh dengik motor gergaji mesin. Sejumlah orang menyaksikan adegan penebangan pohon kecapi.  Teriakan keberatan mereka raib ditelan kebisingan. Tak sampai seperempat jam, pohon kecapi telah tumbang. Dengan cekatan operator gergaji mesin memotong dan membelah pohon kecapi menjadi belasan balok.  Mang Japra puas.
Beberapa waktu kemudian, ketiadaan pohon kecapi di situ membuat keadaan menjadi sangat berbeda. Malam hari memang tak terlampau gelap dan tak terkesan seram. Namun saat matahari terik, panasnya sangat terasa. Peristiwa silaturahmi antarwarga tak lagi ada. Sejumlah burung kehilangan tempat bercengkrama. Saat musim buah kecapi tak mudah mencari buah kecapi seiring kian menyempitknya lahan karena kian padatnya bangunan rumah.
Mang Japra tampak termenung di depan tumpukan balok kayu kecapinya. Rencana merehab rumah belum terlaksana karena tak cukup biaya. Dia memandang ke bekas pohon kecapi. Terbersit kerinduan di hatinya akan keramaian yang terjadi di bawah pohon kecapi. Bincang-bincangnya ngelor-ngidul dengan pedagang keliling yang sempat istirahat di bawah pohon kecapi tak lagi bisa diulanginya. Mang Japra mulai merasakan kesepian.[]  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia