[cerpen] KOPRAL SAKRI
Oleh: Usman Hermawan
Matahari mulai terhalang pohon-pohon di kampung seberang kali. Petang kian membayang. Sebagian langit masih
cerah, sebagian merah jingga. Puluhan orang dengan busana beragam warna dan
bentuk memasuki area pemakaman di ujung kampung. Belasan laki-laki berdesakan seperti berebut untuk tetap meraih kurung
batang yang diusung. Dari keempat orang yang memikul sejak dari rumah duka tak
seorang pun bersedia digantikan. Pun
seorang yang memayungi bagian kepala si mayat, tidak mau bergantian. Bukannya
tidak merasa pegal, tetapi karena mereka ingin memberikan penghormatan. Sebagian dari mereka menganggap bahwa si mayat adalah orang penting. Pejuang
kemerdekaan. Dua penggali kubur yang telah sejak tadi menyelesaikan tugasnya
menyambut dengan gembira kedatangan si mayat. Semua ingin agar penguburan tak
sampai kemagriban.
Kurung batang diletakkan di
sisi barat lubang. Penutupnya dibuka. Perlahan si mayat dikeluarkan, diangkat, langsung
disanggah oleh ketiga orang yang berdiri di lubang kuburan. Tali pengikatnya
dibuka, termasuk ikat pocongnya. Seseorang
mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri. Si mayat
dimiringkan agak menelengkup di liang lahat. Agar posisi tidak berubah, mayat ganjal
dengan bulatan tanah yang dipadatkan sebesar kepalan orang dewasa. Selanjutnya,
belasan bambu gelondongan dipasang miring untuk menahan tanah penutup sehingga
si mayat tidak langsung tertimbun tanah urukan. Gundukan tanah bekas galiannya diurukkan sedikit
demi sedikit sambil diinjak-injak agar padat. Selanjutnya gundukan tanah dibuat memanjang.
Tingginya sekitar dua jengkal. Sebagai penanda, dua gelondong bambu hitam dipatokkan
di kedua ujungnya. Sedikit bunga ditaburkan istrinya, lalu disirami dengan air
dari kendi. Tak ada nisan yang menunjukkan identitas si mayat. Doa bersama
dipimpin oleh seorang pemuka agama setempat. Prosesi penguburan berlangsung
khidmat, tak sampai setengah jam.
Tak ada sedikitpun tanda
yang menunjukkan bahwa hari ini telah berpulang seorang pejuang kemerdekaan .
Kopral Sakri. Hampir separuh usianya dihabiskan di medan juang. Orang-orang hanya
mengetahui bahwa pangkatnya kopral. Dia tidak pernah menolak jika dipanggil
begitu. Padahal itu dulu, ketika dia mulai bergabung dengan kesatuannya. Sejak
terpisah dari kesatuannya dan berhenti dari ketentaraan dia seperti tidak
peduli dengan pangkatnya yang sejatinya telah mencapai pangkat sersan dua. Dia
merasa tidak layak jika disebut sebagai pejuang kemerdekaan. Dia berhenti jadi
tentara sebelum kemerdekaan diproklamasikan. Kini dia meninggal dunia bukan di
medan juang, melainkan di sawah. Dia
petani. Petani gurem. Penyakit ayannya yang tak mengenal waktu kumat
saat dia berada di sawah sendirian untuk sekadar melihat-lihat tanaman padinya
yang baru berusia sepekan. Dia terjerembab ke lumpur, tak bisa bernafas hingga
tewas.
Di masa muda jiwanya terpanggil
untuk ikut berjuang merebut kemerdekaan
negeri ini dari penjajah. Atas bantuan seorang kenalan bernama Sutikno, Sakri
bergabung di sebuah kesatuan pejuang rakyat. Istrinya, Sumanah, yang tengah hamil muda terpaksa ditinggalkannya.
Sumanah kiranya tidak keberatan. “Berjuanglah, Kang, sampai titik darah
penghabisan. Aku terus berdoa untuk mu.” Sumanah memberi semangat. Bicaranya lirih.
Sakri menitipkan Sumanah kepada kedua orang tuanya. Tak ada masalah, keduanya
merestui. Sakri pergi bersama Sutikno menembus gerimis malam di awal bulan
November 1921.
Sejak itu, hingga berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun kemudian Sakri tak dapat memberi kabar keberadaannya di
medan juang. Aktivitas perang gerilya nyaris tanpa henti-hentinya. Situasi genting kerap terjadi di mana-mana. Tak ada waktu
untuk pulang. Bukan tak rindu kepada istrinya, tetapi keadaan memang belum mengijinkan
untuk dia pulang. Tak ada orang yang
bisa dimintai tolong untuk sekadar memberi kabar kepada keluarganya.
Saat diperkirakan, pertempuran
tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Sakri memohon ijin kepada komandannya
untuk pulang kampung. Sakri diijinkan
pulang. Hanya sehari. Sehari di rumah, bolak-balik perjalanan empat hari. Sakri
harus kembali setelah lima hari. Markas darurat di lereng gunung tempat Sakri berada saat ini sepi. Mereka
yang terjaga hanya dalam hitungan jari. Tak ada ledakan senjata. Tak ada kepulan asap
dari tungku yang biasa digunakan sebagai penghangat badan. Udara dingin dan berkabut. Embun sepertinya
masih turun. Pagi masih perawan. Setelah pamit kepada komandannya, Sakri
bergegas meninggalkan markas. Sendiri. Tak ada atribut ketentaraan yang
dibawanya.
Tiba di beranda rumah bambunya
dini hari. Sepi. Udara dingin. Dia tak mau mengganggu
tidur istrinya. Duduklah dia di situ hingga pagi. Beberapa saat setelah azan subuh berkumandang
barulah dia uluk salam sekalian membangunkan istrinya untuk sembahyang. Namun dari
dalam rumah terdengar jawaban suara laki-laki. Sakri terkejut bercampur heran.
Siapa gerangan laki-laki itu? Laki-laki
itu mendeham, sesaat kemudian keluar.
Temaram cahaya lampu semprong membuat wajahnya tak begitu jelas. Sakri mengamatinya dengan penuh keheranan. Demikian pula sebaliknya.
“Tamrin, kamu?” cetus Sakri
jengah.
“Masyaallah, Kang Sakri.”
“Mengapa kau ada di sini?”
“Sumanah sudah aku nikahi, Kang.
Sudah jadi istriku.”
“Benarkah?”
“Lillahitaala, Kang. Maafkan aku.”
“Semua orang mengira Akang telah gugur.”
Sakri terdiam, perasaannya seperti
teraduk-aduk.
“Maafkan aku Kang.”
“Bagaimana dengan anakku.”
“Dia baik-baik saja. Namanya
Nasirah.”
Mendengar kegaduhan itu Sumanah
keluar. Menyadari bahwa orang yang sedang berhadapan dengan suaminya adalah
Sakri, dia terkejut bukan main. Dia nyaris memeluk laki-laki yang dikhianatinya
itu. “Ampun Kang, ampun.” Sumanah menangis seketika. Sakri berusaha keras
mengendalikan diri. Tekanan darahnya mendadak naik. Perasaannya tak karuan.
Namun dia sadar bahwa terlalu lama Sumanah ditinggalkannya.
Pilu hatinya tiada terperi. Pagi
itu juga Sakri menemui ibu-bapaknya sekaligus untuk berpamitan. Dia akan
kembali ke medan juang. “Pergilah sekehendak hatimu, Nak, asalkan jangan pernah
berbuat aniaya. Menetaplah di tempat yang jauh, yang memungkinkan engkau bisa
hidup tenteram. Yakinlah, akan kau dapati pengganti yang lebih baik. Relakan
Sumanah. Maafkan dia. Kalau engkau masih mau berjuang, berjuanglah terus.
Jangan takut mati. Mati hanya soal waktu. Ibu tahu, kemerdekaan negeri ini juga
penting untuk diperjuangkan. Ibu hanya bisa mendoakan.” Ibunya menahan tangis.
Ngilu hatinya merasakan derita Sakri.
Ayahnya diam saja, tetapi
wajahnya menyiratkan perasaan yang sama. Meski berat akhirnya bicara juga. “Terimalah
kenyataan sebagai takdirmu, Sakri. Maafkan kami yang tidak mampu menjaga
amanahmu. Jika kelak keadaan sudah memungkinkan kau pulang, pulanglah ke sini.“
“Mohon pamit, Bapak, Ibu. Maafkan
Sakri. Mohon doa.” Sakri bersujud di kaki ibu dan bapaknya. Sepeninggalan
Sakri , keduanya bertangisan.
***
Pertempuran
sengit terjadi di bukit Perdu, dekat kaki Gunung Lawu. Serangan lawan tak bisa
dibendung. Sakri ambruk. Sebuah peluru menembus kepalanya. Beberapa orang
tewas. “Mundur!” teriak sang kapten. Tentara
rakyat telah terdesak. Selebihnya kocar-kacir menyelamatkan diri hingga belasan
kilometer. Mereka yang tertinggal diyakini telah gugur.
Tiga hari
setelah itu, seorang perempuan tua pencari kayu bakar mendapati jasad Sakri
tergeletak di akar pohon. Nafasnya masih ada. Sakri masih hidup. Dengan bantuan
penduduk, Sakri diangkut ke rumah perempuan itu. Sakri dirawatnya beberapa
bulan. Keadaannya kian membaik. Meski begitu kondisinya tidak memungkinkan dia
untuk kembali bergabung dengan pasukan yang tak lagi diketahui keberadaannya.
Kali ini
keberuntungan berpihak kepada Sakri. Perempuan tua itu menjodohkannya dengan
Kartimah, cucu kesayangannya. Kartimah bukan orang baru bagi Sakri. Selama
Sakri dirawat, Kartimahlah yang kerap membantu merawatnya. Saat itu pula
benih-benih cinta mulai mengecambah. Hanya
saja, keduanya tak berani untuk saling mengungkapkan isi hati. Akad-nikahnya dilaksanakan
sepekan setelah kemerdekaan diumumkan. Sebulan kemudian Sakri memutuskan untuk
memboyong Kartimah ke kampung halamannya. Selanjutnya Sakri menjalani hari-harinya
sebagai rakyat biasa.
***
Sepeninggalan
Kopral Sakri, seiring dengan adanya kebijakan pemerintah Kartimah mengupayakan
haknya sebagai istri bekas tentara. Perjuangan Kartimah tak sederhana. Barbagai
persyaratan harus dipenuhi, sehingga dia harus bolak-balik ke berbagai lembaga.
Mentalnya tak gentar manakala harus berhadapan dengan hakim yang akan
memutuskan berhak atau tidaknya sebagai istri
bekas pejuang mendapat dana pensiun. Perjuangannya akhirnya membuahkan
hasil. Hingga pada usia tuanya, beban hidup Kartimah teringankan.
Nenek
Kartimah, begitu dia biasa dipanggil, setiap bulannya mendatangi kantor pos di
pusat kota untuk mencairkan dana pensiun mendiang suaminya yang kemudian
menjadi haknya.
“Mau kemana
Nek?” sapa seseorang suatu ketika.
“Ke kantor
pos, ambil gaji buat biaya sekolah cucu.” Wajahnya sumringah. Langkahnya masih
lincah.
Setiap malam
kemerdekaan di kediamannya diadakan yasinan. Jika dia dapat menyediakan jamuan
diundangnya para tetangga. Salah seorang dimintanya memimpin doa, kirim puji dan hadiah zikir. Sedangkan jika
dia sedang tak cukup biaya, cukuplah dia sendiri yang melaksanakannya. []

Komentar
Posting Komentar