[cerpen] Lelaki Penjaga Kuburan
Usman Hermawan
Tentang Arhali, lelaki renta penjaga makam yang kini
sebatang kara, ada kisah masa lalu yang pernah diceritakan ayah sekadar untuk
memberi pengertian agar aku tidak heran kalau ada orang lain yang menceritakan
kisah suram masa lalunya. Walau kian samar seiring waktu masih bisa kuceritakan
semampuku. Papar ayah, tragedi terbunuhnya para jenderal memang tidak berdampak apa-apa terhadap kelangsungan hidup
seorang buruh bengkel batik di bilangan Karet Tengsin macam Arhali muda. Namun pada masa-masa berikutnya ketika partai
komunis dinyatakan terlarang dan dibubarkan, keselamatannya mendadak terancam.
Melalui berita radio diketahui, orang-orang yang terindikasi mempunyai
keterlibatan secara langsung atau pun
tidak satu persatu ditangkapi.
Atmosfir Jakarta menegang, mencekam siang-malam dalam beberapa
hari. Rekan-rekan sekerjanya yang pernah
tergabung dalam arisan di warung kopi yang dikelola Karmaji jadi kancrut, kacau. Mereka
belingsatan kabur meninggalkan mes setelah mengetahui tiga orang rekannya diciduk aparat. Karmaji belakangan
diketahui sebagai kader partai komunis. Arhali tidak menyadari kalau para
lelaki yang namanya tercatat buku arisan
itu secara otomatis sebagai pengikut partai komunis. Sudah terlanjur, tak ada
gunanya berdalih membela diri. Bukan saatnya untuk berargumentasi.
Kumpul-kumpul di warung kopi milik Karmaji tak akan ada lagi. Kabur untuk
menyelamatkan diri adalah satu-satunya pilihan. Pulang ke Dukuh Pinang, kampung
tempatnya lahir dan dibesarkan itu pilihan terbaik.
Sarwiti, istrinya, tidak
mengerti maksud kepulangan suaminya yang tidak sesuai dengan perhitunganya.
Belum saatnya. Tak cukup waktu bagi Arhali untuk menjelaskan ihwal dirinya yang
tengah didera ketakutan. Dia tak bersembunyi di rumah, karena mudah digeledah, hematnya. “Dik, kalau aku kelak tak kembali jangan
sedih berlama-lama. Jaga anak kita. Banyaklah berdoa agar sedih dan sesal tak
jadi terlalu. Aku akan kembali bila keadaan aman. Tak jauh dari kampung kita
aku pergi. Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku titip anak-anak. Kalau ada
orang mencari dan menanyakan di mana aku, katakan tidak tahu.” Arhali
membayangkan kemungkinan terburuk atas nasibnya yakni tertangkap, dipenjara
lalu disiksa sampai mati, seperti
gerakan wanita yang konon menyiksa para jenderal dalam iringan lagu genjer-genjer, atau ditembak lalu mayatnya di buang ke jurang.
Mengerikan!
Dukuh Pinang, kampung yang
tidak tercatat dalam peta nusantara itu tampak anggun dalam belaian angin laut
utara. Kesiah daunan bambu dan derit batang-batangnya bak gadis jelita menimba
air di sumur gali. Sahutan ayam jago di pagi dini sabahat setia kehidupan yang
terus memompakan gairah hidup menyongsong fajar dan matahari dengan segala
kehangatannya. Cinta dan kesabaran tumbuh dan berkembang dengan sewajarnya.
Pohon-pohon yang ditanam dan dirawat kemudian membalas jasa kepada pemiliknya
bila tiba masanya. Mengerjakan apa saja
yang bisa dan semestinya dikerjakan adalah wujud kesungguhan menerima tugas
hidup. Berkat semua itu Dukuh Pinang
menuai damai, tanpa badai, tanpa baku tikai. Diyakini, dari kampung ini kasih
sang maha bijak tak akan pernah beranjak.
Harmoni tetap terjaga. Dalam keadaan panik paman tak merasakan harmoni
itu ada. Meskipun kampungnya jauh dari keramaian, bukan tidak mungkin aparat
hukum akan datang menciduknya.
Meskipun belum mengerti betul
alasan suaminya terlibat partai terlarang
di Jakarta namun Sarwiti bisa memahami
bahwa suaminya dalam bahaya. Setelah berkemas dengan bekal sekadarnya
paman bergegas meninggalkan rumah. Kebun rumbia (kiray) yang menyerupai hutan
di sebelah barat yang hampir seperempat luas kampung menjadi tempat
persembunyiannya. Dia tahu seluk beluk lingkungan kampungnya. Kebun rumbia itu
sering dimasukinya semasa kecil. Malam hari di situ gelap dan seram.
Tiga hari tiga malam bukan
waktu yang singkat. Arhali telah memenjarakan diri dalam persembunyian di kebun
rumbia. Lapar, dingin dan gigitan nyamuk turut melengkapi penderitaannya.
Setelah merasa aman karena tak terdengar teriakan-teriakan yang mencurigakan,
tengah malam dia kembali ke rumah yang jaraknya tak sampai tiga ratus meter. Tak
ada tanda-tanda ada orang yang mencarinya.
Juga dia yakin tak ada orang yang melihat kepulangannya. Namun naas bagi
Arhali, dua orang berbadan tegap dengan pakaian preman mengintai rumahnya sejak
siang. Menyadari hal itu Arhali lari
tunggang langgang menerabas semak-semak tanpa rasa takut terluka atau dimangsa
harimau jadi-jadian yang pernah ditemui warga di situ. Arhali mencelupkan diri
dalam gelap kebun rumbia. Raib di rimba malam. Jantungnya berdegup cepat.
Nafasnya tersengal. Sementara Arhali
lolos dari kejaran.
Ternyata kedua lelaki tegap
tadi tahu ke arah mana Arhali kabur. Dua kali letusan senjata sempat
mengejutkan warga. “Maling! Buron!” Selang beberapa saat teriakan warga seperti
hujan yang tiba-tiba lebat. Bunyi kentongan
pun bersahutan. Para lelaki yang keluar rumah dengan senjata tajam dan tumpul
dalam genggaman. Warga Dukuh Pinang tak mau kampungnya dimasuki pencuri atau
penjahat. spontan mereka mengejar buruan
ke arah yang ditunjukkan dua orang berpakaian preman tadi. Kedua orang itu mengaku
sebagai aparat yang ditugasi melakukan pengejaran orang yang menjadi targetnya.
Pencarian dilakukan berjam-jam, sampai redup lampu senter yang digunakan warga
karena lemah baterainya. Mereka menyisir semak-semak sampai ke bagian yang
paling seram. Seperti berburu tikus.
Menjelang subuh dua orang yang
mengaku aparat tadi atas bantuan warga berhasil menangkap buruannya. Arhali
ditemukan terselip di bawah pohon rumbia yang rebah di permukaan air. Tubuhnya
dan wajahnya kuyup berlumur lumpur. Tak ada yang mengenalinya sebagai Arhali
yang mereka kenal. Mereka tak tahu siapa
yang hendak mereka cincang. Beberapa pukulan sempat mendarat di wajah dan tubuh
Arhali. Mereka megira buronan itu
berasal dari daerah lain yang kemudian masuk ke kampung mereka. “Ampun, ampun,
saya Arhali.” Salah seorang warga yang tak peduli dengan emosi dan beringas
menghajarnya. Arhali yang baru saja berdiri, roboh. Dia mengaduh, meringis
menahan sakit. Pelipisnya bocor. Hidungnya berdarah-darah. Ketika pukulan
berikutnya akan mendarat, salah seorang dari warga melerai. “Betul, dia Arhali.
Arhali putra Pak Marsadi!” Satu dari dua lelaki tegap segera memborgolnya.
Pagi itu juga Arhali diangkut
dengan mobil dinas tentara. Dalam berita yang beredar di kalangan warga sedesa
bahwa pagi itu seorang warga Dukuh Pinang telah diciduk petugas. Orang-orang
yang turut membantu pengejaran Arhali merasa menyesal. Menyesal karena telah
bersikap beringas dan kemudian menyerahkannya kepada aparat penegak hukum yang
menurut mereka belum tentu akan berlaku adil. Arhali yang mereka tahu bukan
tipe penjahat. Mereka yakin Arhali tidak bersalah. Mereka juga malu terhadap
pak Marsadi, ayahnya. Pak Marsadi itu guru mengaji mereka waktu kecil. Sejak
pagi, mendung terus menggantung di atas Dukuh Pinang. Duka menyelimuti keluarga
dan kerabatnya. Sarwiti sesenggukan tak henti-henti. Kedua anaknya yang masih
kecil-kecil tak tahu ke mana sang ayah dibawa pergi. Dukuh Pinang telah
kehilangan warganya hari itu.
Lama setelah penangkapannya,
tersiar kabar bahwa Arhali dipenjarakan di seberang pulau. Tak seorang pun
penduduk Dukuh Pinang yang tahu. Tak ada pula keluarganya yang dapat menjenguk
karena jauhnya, di seberang lautan! Nasib Arhali di mata keluarga tak jelas,
hidup atau mati. Hari-hari berjalan terasa lamban. Bagi Sarwiti menghidupi dua
anak tanpa bantuan suami teramat berat. Ia tak sanggup menanggung beban hidup.
Dalam kondisi serba sulit itu ia tidak dapat menolak berbagai bantuan dari
Marzuki, seorang duda kaya yang ditinggal mati istrinya. Kehadiran Marzuki sangat dirasakan dapat
mengubah jalan hidupnya, sehingga ketika Marzuki mengutarakan niatnya untuk
menikahi dirinya Sarwiti tak dapat menolak.
Pernikahan mereka bisa
terlaksana apa bila ada surat cerai dari Arhali. Seminggu menjelang pernikahan
mereka, Marzukilah yang mengusahakan Sarwiti bisa bertemu Arhali di
pengasingan. Tak sedikit biaya yang dikeluarkan Marzuki. Ketika mengantar
Sarwiti, Marzuki tak menampakkan diri kepada Arhali. “Sabarlah dik, aku mohon,
tidak lama lagi aku bebas dan kita bisa bersama lagi.” Arhali menangis
sejadi-jadinya. Seluruh badannya gemetar. Serasa badai melibas seisi ruang
batinnya, tanpa kecuali yang dijaga rapi: cinta.
“Tidak bisa Kak, sudah terlalu
lama.” Sarwiti bercucur air mata. Keinginan Sarwiti tak dapat ditawar. Sarwiti
sendiri juga tidak kuasa mengurungkan niatnya. Dengan berat hati Arhali terpaksa menuruti keinginan istrinya
dibuatkan surat cerai pada secarik kertas yang telah disiapkan Sarwiti.
Sepulangnya Sarwiti, Arhali
mengalami goncangan batin yang hebat, shok berat. Sempat terlintas keinginan
mengakhiri hidup. Namun nalurinya tak menghendaki hal itu. “Kita sudah kalah,
apakah akan diperparah dengan kekalahan
berikutnya yang diciptakan sendiri?” Hibur Sarpani, teman sekamarnya.
Beruntung, aktivitas di penjara dan bimbingan rohani yang didapatnya sedikit
demi sedikit dapat meringankan beban derita batinnya “Segala yang pernah
menjadi milikmu itu hanya titipan. Relakan sang pemilik berkehendak. Ambillah
hikmahnya. Semua yang telah terjadi adalah atas
kehendaknya, percayalah!” tambah Sarpani. Keinginan untuk hiduplah yang
membuatnya bertambah tabah menghadapi persoalan sebagai cobaan. Kelak ketika
kembali ke masyarakat Arhali ingin menjalani kehidupan secara wajar. Untuk itu pula keterampilan pertukangan yang
diajarkan di lapas dipelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dia sadar, bahwa
dirinya harus punya keahlian. Arhali pesimis bisa kembali bekerja di bengkel
batik. Di samping statusnya kelak sebagai bekas tahanan, usianya yang dianggap
tidak produktif, juga tidak mustahil kalau
perusahaan tempatnya bekerja akan gulung tikar.
Lima tahun berselang Arhali
bebas. Itulah hari yang dinanti-nantinya.
Genaplah lima belas tahun
menjalani hidup sebagai tahanan. Pemenjaraannya tanpa melalui proses
pengadilan. Selama itu pula Arhali tetap menjalankan ibadah secara normal. Tak
ditemukan indikasi Arhali sebagai orang ateis. Bahkan dia sendiri tak mengerti
arti kata ateis. Tak ada pula niatannya untuk meninggalkan agama. Ketenteraman
batin yang diperolehnya justru karena dia merasa dekat dengan tuhan berkat
aktivitas ibadahnya yang sungguh-sungguh. Shalat lima waktu dan puasa ramadhan
dijalaninya dengan semestinya.
Sasaran pertama kepulangannya
adalah rumah yang ditinggali bekas istri dan kedua anaknya yang kini telah jadi
milik orang lain. Tak ada maksud untuk menuntut Sarwiti atas
pilihanya meninggalkan dirinya. Utamanya, Arhali ingin bertemu dengan kedua
anaknya. Andai bertemu Marzuki, suami Sarwiti, Arhali ingin menyampaikan terima
kasih atas kesediaannya menyayangi kedua anaknya.
Bertopi laken, kaca mata hitam,
kumis dan janggut tebal, rambut dicukur stik (pendek), jaket kulit hitam, celana jeans
biru lusuh, sepatu model hansip, dan bersepeda batangan merk RRT Arhali tampil
menggagah-gagahkan diri. Dengan usia dan pengalaman yang menempanya, Arhali
menjadi pribadi yang relatif matang
dengan bekas luka di batinnya. Dia juga tidak mau menjadi orang yang terpuruk
dan kalah, kalah menantang hidup. Darahnya mendesir begitu kakinya menapak di
beranda rumah Sarwiti.
“Assalamualaikum!” salam Arhali bernada meninggi.
Tak ada yang menjawab. Sesaat
kemudian dari balik pintu muncul seorang
gadis, menyusul Sarwiti bersama anak
kedunya yang beranjak dewasa. Arhali tak dikenali kedua anak perempuannya itu.
Begitu pula Sarwiti. Menyadari mantan istrinya tak mengenali, Arhali membuka
kaca mata hitam dan topi lakennya.
“Saya Tuan Arhali. Arhali bin
Marsadi. Dari kampung seberang saya berasal. Datang untuk menyambung
silaturahmi,” ungkap Arhali dengan suara yang sedikit dibuat-buat. Senyumnya
berenergi masih seperti senyum yang pernah ditebarnya ketika pertama kali
Sarwiti kepincut sekian tahun lalu pada acara hajatan di rumah paman Sarwiti.
“Kakak!” Sarwiti tersentak, tak
mengira bahwa orang yang pernah disakitinya hadir di depannya. Perasaan
bersalah, haru, takut, gembira jadi satu.
Seperti ada utang yang tak akan
terbayar saat penagihnya datang. Beruntung, Arhali sangat memahami
keadaan bekas istrinya itu. Sikap simpatinya berhasil mencairkan suasana.
Itu
puluhan tahun lalu. Kini, waktu telah mengirimnya ke masa senja. Sisa hidupnya
dihabiskan untuk menjaga pemakaman umum di ujung kampung. Makam Sarwiti, bekas istrinya selalu menjadi perhatiannya. Makam itu kerap
diziarahinya. Tak pernah pula rumput dibiarkan sampai merambatinya.[]

Komentar
Posting Komentar