[cerpen Lelaki Titipan
Usman Hermawan
Tak ada yang menarik untuk kuceritakan perihal kampungku.
Untuk menyebutnya saja aku malu. Apakah kampungku memalukan atau penuh aib?
Sejujurnya tidak. Warganya hidup rukun, tak pernah macam-macam. Aktivitas keagamaan berlangsung normal.
Pemilu tak pernah bermasalah. Begitu pun pilkada dan pilkades. Kalau ada yag
membagi-bagikan uang mereka terima dengan senang hati. Orang-orang kampungku sering tidak percaya
diri menyebut nama kampung kelahirannya karena merasa tak memiliki gengsi
apa-apa. Mungkin itu sebabnya kampungku
tak begitu dikenal banyak orang. Tidak percaya? Tanya saja sembarang orang di
kota kabupaten apalagi di kota provinsi, kampung Gurubug di mana − tuh kan terpaksa kusebut juga nama
kampungku − tak bakal ada yang tahu. Di peta kabupaten, apa lagi peta
nusantara, tak tertera nama itu. Kecuali dalam peta desa yang terpampang di
kantor kepala desa, itu pun sudah tidak
sesuai dengan kondisi terkini. Jadi, tak ada hal positif yang dapat membuat
harum nama kampungku sampai ke tingkat kabupaten atau ke tingkat yang lebih
tinggi. Namun tidak berarti tak ada
yang bisa diceritakan perihal orang di kampungku. Salah satunya adalah
datangnya seorang lelaki yang semula dianggap aneh karena tak ada yang tahu
datangnya. Tahu-tahu ada saja, juga tak jelas asal-muasalnya. Lelaki itu bernama Biing. Komentar pun
berlontaran dari mulut warga.
“Orang stres dia.”
“Bukan. Dia gila. Gila seratus persen.”
“Tidak juga. Kesadarannya timbul tenggelam.”
“Dia setengah gila. Buktinya dia masih ingat namanya
sendiri.”
“Ya, tapi dia tidak suka pakai baju, juga celana.”
“Iya, perkakasnya kadang gerandulan!”
“Ya, tapi kan tak polos-polos amat. Dia masih punya malu.
Dipakainya selembar kain jelek buat menutupnya.”
“Kasihan anak-anak gadis. Ketakutan.”
“Jinak dia. Tidak berbahaya.”
“Kata anak saya dia bisa mengucap istigfar.”
“Itu kalau lagi lurus.”
“Dia itu penurut,
rajin, dan mau diajak bekerja.”
“Ya, asal diberi makan.”
“Tuhan telah
menitipkan seorang lelaki unik dengan segala kekurangannya kepada warga kampung
ini. Manusia yang satu ini sebagai pelengkap sekaligus sebagai sumber pelajaran
bagi siapa saja yang mau menarik hikmah.”
Unik dia. Semenjak kehadirannya di kampungku Biing tidak
pernah mau keluar atau melintasi batas-batas wilayah kampung. Bahkan pada saat
sebagian besar warga pergi ke tempat pemungutan suara dalam pemilihan kepala
desa di luar kampung, Biing tak bergeming. Seakan ada daya magnet kuat yang
membuatnya tetap berada di dalam kampung yang setia melindunginya. Namun yang
lebih mungkin, karena keadaan kampungku tenang dan ramah sehingga dia menjadi
betah. Kampungku, sungguh kampung yang diamanati tuhan untuk menerima dan menghidupi lelaki malang selama lebih dari
separuh masa hidupnya. Setidaknya seperti itu yang disampaikan Ustadz Kholili
dalam suatu taklim. Keiklasan menerima Biing merupakan pengejawantahan welas
asih yang dititipkan tuhan di relung hati setiap warga dengan kesederhanaan
hidupnya. Sejak awal kehadiran Biing dalam keadaan tak waras bukan hal yang
dianggap mengganggu atau pun tabu. Meskipun sebagian warga mulanya merasa
was-was kalau-kalau Biing dapat membahayakan. Kenyataannya Biing sendiri tidak
pernah berulah macam-macam. Dia terlampau pasif untuk beronar. Tenaganya justru
dimanfaatkan warga untuk membantu meringankan pekerjaan warga yang membutuhkan.
“Ing, pacul terus!”
“Siap, juragan!”
Asal diberi cukup makan dan fisiknya masih kuat, Biing
terus bekerja. Namun jika ia sedang tidak mood
siapapun yang meminta bantuan tak akan dilayani. Tak banyak cakap, cukupgeleng
kepala.
Dari mana Biing berasal?
Tak mudah mencari jawabannya. Tak ada yang berhasil mengungkapkan
asal-usulnya secara pasti. Tak ada orang yang mengaku sebagai bagian dari
keluarganya. Yang mengaku saudara jauh pun tak ada. Wajahnya tak mirip siapa
pun di kampungku, sehingga tak cukup alasan untuk mengira-ngira dia masih
saudara siapa. Jidatnya lebar dan rambutnya jarang, begitu juga kumisnya.
Perawakannya agak pendek. Hidungnya mirip hidung almarhum Benyamin S, penyanyi
legendaris Betawi. Sesekali ada juga yang berolok-olok memanggilnya dengan
panggilan Bang Ben. Dia tak peduli, mungkin tak mengerti. Andai dia mengerti
mungkin bangga dibandingkan dengan orang terkenal. Pakaiannya compang-camping
bahkan kotor. Kaos atau baju selalu diselempangkan di pundaknya. Tak pernah dia
mengenakan celana panjang. Kostum bawahannya
tak layak disebut celana, hanya berupa sobekan kain. Bentuknya seperti
rok selutut atau seperti handuk mini yang lusuh berbahan karung terigu. Ketika
ia melintas dekat rumah orang yang kebetulan anaknya menangis, orang tersebut cukup mengatakan, “Awas ada Biing,
nanti diculik!” Lalu diamlah anak yang menangis itu karena ketakutan.
Sering juga orang memberinya pakaian bekas layak pakai bahkan baru, tetapi hanya
diterima, tidak pernah dipakainya. Pakaian bagus yang diperolehnya dari
pemberian orang lain diberikannya kepada siapa saja yang mau menerima.
Selanjutnya dia konsisten dengan gayanya. Itu sebabnya kemudian tak ada lagi
orang yang bersedia memberinya pakaian yang lebih baik. Percuma. Pakaian yang dikenakannya dirancang sendiri. Ini
menandaskan bahwa dia orang tak waras. Semua orang memaklumi. Jika tak ada yang memintanya membantu bekerja hari-hari dimanfaatkannya dengan
berjalan-jalan mengitari kampung. Asal ia mau keliling melintasi rumah-rumah
pastilah ada saja yang menawarinya makan meski cuma sekedar nasi dan garam,
ikan asin atau tempe. “ Ini kalau boleh Pak, Bu. Saya minta nasi sedikit.
Belum makan.” Biing tak segan meminta
makanan bila merasa lapar. Orang pun tak segan memberinya makanan apa saja, karena
makanan apa pun diterimanya dengan senang hati.
Adzan berkumandang secara kebetulan dia
melintasi kerumunan anak-anak yang masih bermain gundu. “Hei hei, berhenti,
bubar, bubar. Magrib. Besok main lagi!” Tangannya menggapai-gapai menghalau
kerumunan anak-anak.
***
Hampir setahun Biing menderita sakit, berbaring di emper rumah Mak Ijah, janda tua
yang miskin. Tempat Biing berbaring adalah bekas kandang kambing yang menyatu
dengan rumah yang hanya terbuat dari gedeg bambu, beratapkan rumbia (kiray). Meskipun
sakitnya bertambah parah tak ada yang bersedia membawanya ke dokter. Bagi Mak
Ijah, jangankan membawa Biing ke dokter, untuk mengobati dirinya sendiri ketika
sakit ia tak sanggup. Yang bisa dilakukan Mak Ijah hanya mencarikan obat-obat
tradisional, selain memberinya makan seadanya. Bahkan yang paling sering hanya
nasi dengan garam atau ikan usam dan
sayur bening yang ia punya. Biing kalap karena sakit yang dideritanya, Mak Ijah
kewalahan, sehingga harus meminta bantuan tetangga untuk menenangkannya.
Kamis. Pagi masih terlampau dini. Mak Ijah mendapati Biing
dalam keadaan tak bernyawa beralas tikar pandan yang lusuh. “Innalillahi waina
ilaihi rojiun,” lirih Mak Ijah. Berita kematian Biing segera meyebar ke seluruh
penjuru kampung. Namun tak serta-merta orang datang melayat. Sungguh kematian
yang teramat sederhana. Tak ada tangis, tak ada duka menikam jantung. Seekor
gagak berputar-putar di langit kampungku, seakan mengabarkan berpulangnya lelaki malang sebatang
kara. Menyusul, matahari tiba dengan sinarnya yang sangat sederhana
pula, mengisyaratkan bela sungkawa. Angin berhembus lamban. Pepohonan hening
cipta. Burung cerukcuk menahan
kicaunya. Hanya beberapa orang yang datang dari rumah yang berjauhan. Tak ada
yang membawa bingkisan. Seorang perempuan dengan balita di gendongan,
bersungut-sungut menyampaikan permohon maaf jika ada kesalahan. Dimasukkan
selembar uang seribu rupiah ke dalam baskom yang ditutupi selembar kain di
dekat si mayat. Hingga selesai dikafani tak banyak uang takziah terkumpul. Kain
kafan dibiayai kas masjid yang dialokasikan untuk biaya kematian bagi warga
yang tak mampu. Tak ada suguhan lain untuk menyambut tamu, kecuali seteko air
minum dengan beberapa gelas yang
diletakkan di atas balai bambu sebagai formalitas.
Jenazah Biing dishalati belasan jamaah di musholah
terdekat. “Saudara-saudara, yakin tak ada sanak keluarga dari almarhum Biing di
sini?” Amil Rosyid bertanya untuk terkhir kalinya sebelum mayat diusung menuju
astana raga. Hadirin geleng kepala.
Gerimis ceplas-ceplis yang
menyertai penguburan jenazah Biing turut menggenapi duka sungkawa di ujung
kampung. Segunduk panjang tanah merah dengan dua patok bambu menandaskan bahwa
petualangan ragawi seorang lelaki titipan yang bernama Biing telah berakhir,
telah kembali kepada Sang Pemilik. Soal siapa yang akan menyusul lebih dulu, hanya Tuhan yang tahu.
Belum genap sebulan kematian Biing, dua lelaki dari kota tiba di rumah kepala
kampung menanyakan ihwal keberadaannya. Keduanya bermaksud akan membebaskan
tanah untuk dibangun minimarket. Di atas tanah tersebut terdapat puing-puing
rumah terbakar yang konon menewaskan semua orang yang ada di dalamnya. Menurut
keduanya tanah yang mereka maksudkan tak
lain pemiliknya adalah Biing. “Ah, Bapak-Bapak salah kali?!” tukas kepala kampung.[]
Komentar
Posting Komentar