[cerpen] Lipoma

Usman Hermawan
Kawan, aku ingin curhat kepadamu ihwal benjolan kesayanganku. Jangan khawatir, aku tak akan merepotkanmu. Tak akan pinjam uang atau minta ditraktir, juga tak akan memintamu membeli daganganku. O, ya aku bisnis sampingan: bandrek jahe merah. Tiga ribu lima ratus rupiah per bungkus! Aku yakin engkau semakin bijak, akan tertawa sesuai dosis bila ada yang lucu ! Jika ingin tertawa, tertawalah sebelum tertawa pakai biaya. Kawan, kita sahabat. Itu sebabnya kepadamu aku ingin curhat.
Kebahagiaan di masa awal perkawinan membuat aku bertambah gemuk, 3 kilo-gram naiknya. Itu mungkin karena kebutuhan lahir batin terpenuhi. Walaupun aku tak tahu persis apakah istriku merasakan hal yang sama. Tahun kedua berat badanku kembali seperti semula, agak kerempang, tapi tetap agak seksi menurut istriku. Beberapa bulan kemudian aku baru sadar ada benjolan sebesar ujung jari kelingking di badanku. Letaknya di sebelah kanan perutku. Di luar rusuk, di bawah kulit. Karena tak ada rasa sakit tak kuacuhkan itu. Bahkan ketika istriku mempertanyakan aku tanggapi dengan gurauan. Penyakit keren:  Tumor! Ya, tumor. Tumor jinak kukira. Sampai 12 tahun, anakku lulus SD, benjolan itu telah mencapai  separuh telur ayam kampung. Semula aku tenang-tenang saja karena masih jauh ke usus, pikirku. Namun justru istriku yang mengeluh. Jijik, katanya, kayak perut kodok belentung. Ketika sedang sensi sempat pula ia tak mau tidur denganku. Disuruhnya aku tidur si sofa. Sebabnya ya… itu, jijik. Demi menjaga perdamian dan menghindari perang dunia ketiga, tidurlah aku di sofa. Kukira dia akan terbangun tengah malam karena kedinginan lalu memintaku menemaninya. Atau takut hantu lalu meminta perlindunganku sambil mendekapku erat-erat. Ternyata tidak. Sampai malam berakhir tak kudapati dia tidur sambil memelukku, seperti yang sempat kubayangkan. Justru nyamuk yang begitu setia menghampiriku.  Paginya dia katakan dengan nada bercanda seraya menggoyang-goyangkan telunjuk,”Kacian de lu !” Keki juga aku dibuatnya.
Ketika sedang makan istriku mual dan mau muntah gara-gara melihatku telanjang badan sehabis mandi. “ Bapak!” teriaknya,” kejam kau!”. Tiba-tiba aku kehilangan daya tarik, kehilangan pesona di matanya. Entah apa pemicunya, selain benjolanku. Seperti sedang hamil saja. Istriku sebal.  Makannya disudahi. Kena marahlah aku. “ Maaf, tidak bermaksud…” Segeralah aku berpakaian  rapi dan berangkat kerja. Sebagaimana biasa kemarahan istriku hanya sesaat. Baru ditinggal dua jam saja sudah kangen. Pesan singkatnya mesra. “Sayang, segeralah pulang. Jangan bawa benjolan!” Ah, benjolan lagi.
Masalah benjolanku tak cukup sampai di situ. Anakku juga ikutan jijik ternyata. Tiba-tiba dia ngambek saat kugendong.  Meronta. Tak mau digendong. Aku tahan, dia berontak. Salahnya, aku tak pakai baju. Dilihatnya benjolan itu. Bahkan tersentuh kakinya. Anakku sama sensitif dengan ibunya. Melihat hal yang menjijikkan sedikit saja reaksinya berlebihan.  Kawan, bukan saja istri dan anakku yang rewel melihat benjolan kesayanganku, ibu mertuaku juga.  Ketika pulang kerja, karena gerah aku langsung buka baju.  Sesaat kemudian datanglah dia, langsung bersungut-sungut dengan judesnya agar aku segera memeriksakan diri ke dokter. Dia bahkan bersedia menyumbang biaya operasi seperempatnya, ya seperempatnya saja! Boro-boro buat biaya operasi, untuk biaya makan sehari-hari dan bayar listrik saja kembang-kempis, pikirku.  Aku diam saja daripada salah jawab, bisa berabe.
Dalam kesempatan lain, anak dan istriku minta diantar berenang di kolam renang, bukan di kali Selapajang! Kuantar mereka. Serba salah. Kalau aku tidak masuk kasihan mereka. Kalau aku masuk, berenang ataupun tidak kan tetap bayar. Biar tidak merugi aku putuskan memilih berenang, walaupun kemampuanku cuma berenang dengan gaya kalap. Gerakan tangan dan kaki membabi buta agar tidak kelelep. Seperti laki-laki lain, akupun cuma mengenakan celana renang, tapi bukan yang minimalis. Lagi-lagi istriku berkomentar, “Sudah badan burik, ada benjolan lagi!” Aku anggap itu sebagai pujian dan bentuk perhatian. Mungkin saja istriku menyembunyikan ketertarikannya. Siapa tahu dengan mengenakan celana renang dan basah kuyup aku lebih mempesona baginya. Namun ucapan istriku menyadarkanku bahwa ada benjolan separuh telur ayam kampung di kanan badanku yang perlu mendapat perhatian. Selesai berenang dari pinggir ke pinggir, aku duduk di pilar tepi dengan nafas tersengal-sengal.  Dua gadis remaja SMA berbisik-bisik dan tertawa cekikikan. Aku yakin mereka menertawai aku, jijik dengan benjolan di badanku. “Ah gara-gara benjolan,” sesalku.
Bulan Agustus lalu, di tempat kerjaku diadakan pertandingan putsal antarkaryawan dalam rangka hari kemerdekaan. Sesuai dengan kesepakatan awal, grup yang kalah harus buka kaos, telanjang badan. Apes ! Pada babak pertama grupku terkalahkan lawan. Tak ada pilihan kecuali buka kaos sekaligus pamer benjolan. Aku tak bisa bersikap cuek. Aku  merasa, selain menyoraki kekalahan grupku semua penonton, laki-perempuan, mengungkapkan kejijikannya karena melihat benjolanku. Tak bisa berkonsentrasi aku dalam bermain. Goal demi goal menghujani gawang grupku. Benjolan itu punya andil bagi kekalahan grup kami. Mungkin orang lain menganggap, akulah keladi kekalahan ini.
Ketika kebetulan bertemu ustadz bekam kucoba minta dibekam. Andaikan bisa dengan cara itu berarti aku akan menghemat uang tidak sedikit. Kalau pun uangnya ada, bisa digunakan untuk keperluan yang lebih urgen. Benjolan itu ditusuk-tusuk dengan jarum tembak. Keluarlah darahnya. Biasanya aku ngeri melihat darah, apalagi ditusuk. Tapi kali ini aku nekat. Berani mati. Demi kesehatan dan agar uang jutaan rupiah tak melayang.   Lalu di sedot. Yang keluar cuma darah. Isinya yang kata dokter Surya seperti bubur tak keluar. Itu karena posisinya di bawah kulit. Sedangkan tusukan jarum bekam hanya di permukaan kulit. Upaya mengeluarkan isi benjolan kali ini tak berhasil.
Benjolan itu belakangan diketahui bernama lipoma. “Lipoma merupakan tumor jinak yang berasal dari jaringan lemak. Benjolan lunak, berwarna kuning terang dan disekelilingi oleh kapsul yang tipis. Umumnya dapat digerakkan dari dasar dan tidak disertai nyeri, nyeri timbul jika lipoma di tekan dan di pijat. Pertumbuhannya lambat dan tidak pernah mengalami perubahan menjadi ganas (meskipun tipe tumor ganas liposarkoma juga berasal dari jaringan lemak). Kebanyakan berukuran kecil meskipun dapat membesar dengan diameter lebih dari 6 cm. Lipoma timbul tidak selalu karena faktor keturunan, meskipun bisa tampak seperti multipel lipomatosis herediter. Beberapa dokter percaya bahwa timbulnya lipoma biasanya dipicu dengan trauma kecil pada daerah yang bersangkutan (minor injury). Tidak ada korelasi antara pertumbuhan lipoma dengan kelebihan BB (over weight). Biasanya tidak memerlukan pengobatan, kecuali jika menimbulkan rasa nyeri, mengganggu pergerakan dan secara kosmetik memberikan rasa tidak nyaman. Jika kapsul tidak secara keseluruhan terangkat, Kadang-kadang setelah pembedahan lipoma dapat timbul kembali (angka kekambuhan kurang dari 5 %). Lipoma dapat diambil dengan cara pembedahan atau liposuction. Liposuction biasanya diperuntukkan untuk lipoma ukuran besar. Menghasilkan bekas sayatan luka operasi yang minimal / sangat kecil tapi tidak dapat mengangkat keseluruhan kapsul lipoma sehingga dapat menyebabkan kekambuhan (lipoma tumbuh kembali).” Begitu informasi yang kuperoleh dari dokter spesialis bedah di rumah sakit. Satu-satunya pilihan adalah operasi. Kuterima saran dokter spesialis bedah itu dengan sedikit perasaan takut.
“Silakan Bapak daftar  di sebelah kanan depan gedung ini untuk mendapatkan kamar rawat inap. Sekalian perkiraan biayanya.” Suster menyerahkan map berkas yang sudah diberi catatan oleh dokter spesialis bedah. 
Aku berharap mudah-mudahan biaya operasinya tidak melebihi jumlah uang yang kumiliki.  Ya, benjolan kesayanganku akan dioperasi. Jantungku berdetak tak teratur. Aliran darahku terasa bergetar menjalari seluruh bagian tubuh. Sedikit perasaan takut tak bisa kuhindari. Aku bayangkan bagaimana operasi itu akan berlangsung. Mungkin aku akan dibius. Seperti mati. Mati sementara. Kemungkinan gagal atau malpraktek bukannya sama sekali tidak ada. Aku tahu bahwa aku harus pasrah. Bukankah sejak awal aku sudah berniat untuk menyerahkan benjolan ini kepada ahlinya.
“Belum ada kamar, Pak! Semua terisi. Penuh. Tunggu seminggu lagi. Nanti kami telepon. Bapak tinggalkan saja nomor telepon atau nomor HP.” ujar petugas.
Kuserahkan nomor HP-ku pada secarik kertas. Petugas itu menyalinnya pada berkas dari suster tadi. Aku pulang. Kini aku tengah menanti adanya kamar kosong di rumah sakit. Benjolanku, lipoma menanti eksekusi.[]




Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia