[cerpen] Malam Qunut
Usman Hermawan
Ayah menjadi amil jauh sebelum aku lahir, sudah lebih dari
tiga puluh lima tahun. Lebih dari separuh hidupnya tercurah bagi kepentingan
umat. Ayah juga manusia biasa, dari jabatannya sebagai amil ada rejeki yang
diperolehnya, ada imbalan yang diterimanya baik langsung ataupun tidak. Mungkin
pula ada pekerjaan keamilan yang dilakukannya lebih karena bakal memperoleh
imbalan materi di samping ada pula yang lillahi taala semata-mata. Ayah juga tak
pernah menyesali hidupnya yang terlampau sederhana, jika tidak disebut miskin, akibat terlalu
setia pada tugasnya. Kami ketujuh anaknya tak ada yang dapat melanjutkan ke SMA
atau yang sederajat karena tak cukup biaya. Setelah menyelesaikan pendidikan
dasar ayah menyerahkan pendidikan kami ke pesantren bale rombeng yang tidak menuntut banyak biaya. Aku sendiri harus puas dengan belajar di
pesantren Abi Musa sampai dua belas tahun.
Terpilihnya ayah selain karena orang yang menjabat amil
meninggal dunia juga karena warga tahu bahwa ayah pernah belajar di pesantren
walaupun cuma beberapa tahun. Ketika itu
ayah dikenal sebagai guru ngaji, tetapi dalam berbagai kesempatan ayah
sering pula didaulat untuk memimpin doa, termasuk dalam perayaan kenaikan kelas
di SD Inpres. Sebagai amil tugas pokok
ayah menangani pernikahan dan hal-hal yang
berkenaan dengan urusan keagamaan di kampung.
Berapa pasangan yang menikah resmi dan berapa pula yang menikah di bawah
tangan yang pernah di tanganinya, ayah tak pernah lagi bisa menghitungnya. Jika
dirata-ratakan sebulan dua pasangan, mungkin hampir mendekati angka seribu
termasuk orang luar yang menumpang nikah. Dalam sepuluh tahun terakhir wilayah
tugas ayah bertambah. Empat blok dari kompleks perumahan yang dulunya sawah
untuk urusan pernikahan menjadi tugas ayah.
Seiring perkembangan jaman kuperhatikan kebiasan-kebiasaan
warga yang tidak sesuai syariat pelan-pelan hilang. Kini acara hajatan warga
tak lagi menggunakan ancak atau sesajen yang diletakkan di empat penjuru
sebagai penolak bala. Cukup dengan doa
tolak bala dan doa selamat yang dipimpinnya.
Kemenyan yang diyakini sebagai pengundang arwah dalam acara selamatan
tak lagi digunakan warga. Sementara itu, acara pengajian malam Jumat untuk kaum
laki-laki yang kini diisi oleh ustaz Hariri berjalan terus, walau pun jumlah
jamaah yang hadir pasang surut. Memang berbeda dengan pengajian kaum ibu,
jamaahnya selalu ramai. Tanpa bermaksud membangga-banggakan ayah, keadaan ini
sedikit banyaknya bisa jadi karena
adanya andil ayah.
Sejak Ustaz Nawis mengakhiri pendidikannya di pesantren
Padarincang, urusan pengajian anak-anak di masjid jami dilimpahkan kepadanya
karena ayah sering uzur karena sakit yang umumnya encok. Namun sayang itu tidak
berlangsung lama, Ustaz Nawis meninggal dunia dalam usia muda dan belum
menikah. Urusan pengajian anak-anak kembali menjadi tugas ayah. Tidak semua
anak diajari langsung oleh ayah, anak yang lebih senior ditugasi mengajari adik-adiknya. Di samping itu,
terhadap mereka yang memasuki akil balig diwajibkan melaksanakan shalat fardu.
Jika kedapatan ada yang bolos ayah tak segan-segan menghukumnya dengan sabetan
sapu lidi. Dengan begitu setiap waktu shalat magrib dan isya mereka tak berani
membolos. Cara itu ayah terapkan sejak lama.
Pada masa berikutnya, masjid jami dipugar dan dipindahkan ke
tempat yang lebih strategis dekat pula dengan kediaman ustaz Hariri. Bersamaan
dengan difungsikannya masjid baru dan majlis taklim ayah melimpahkan tugasnya
mengajari anak-anak mengaji kepada ustaz Hariri. Beruntung Ustaz Hariri
memutuskan untuk mendirikan pondok pesantren setelah hampir tujuh belas tahun
tahun belajar di beberapa pesantren seperti di Banten, Bogor, dan Sukabumi.
Santri yang mondok baru belasan,
selebihnya anak-anak pengajian biasa. Metode pembelajaran ustaz Hariri jauh
lebih baik daripada yang ayah terapkan. Anak-anak tidak melulu belajar mengeja
huruf hijaiyah dan membaca Al Quran dengan tartil. Anak-anak terutama yang
beranjak remaja mulai diajarkan nahwu
dan sharaf, serta diperkenalkan
dengan kitab-kitab kuning. Pengajian
pun terjadwal siang-malam. Agar suasananya lebih menggairahkan anak-anak,
ustaz Hariri dibantu anak-anak membeli peralatan marawis. Pelatihnya
didatangkan secara khusus. Pada momen-momen tertentu kebolehan mereka
ditampilkan di atas pentas.
Kini dengan usianya yang uzur ayah tidak segesit dulu. Itu
sebabnya aku dengar ayah menyatakan keinginannya “pensiun” dari tugasnya sebagai amil. Ayah tidak lagi dapat melayani
kebutuhan warga secara maksimal, juga tidak setiap undangan warga dapat ayah
penuhi. Encoknya sering kumat tak kenal waktu. Sebenarnya ayah pernah
menyampaikan keinginannya untuk meletakkan jabatannya kepada kepala kampung,
tetapi tak mendapatkan jawaban yang diharapkan. Justru ayah yang sendiri
disuruhnya mencarikan pengganti. Ayah menawarkan jabatan itu kepada warga dalam
forum pengajian di majlis taklim, namun tak ada yang menyatakan kesediaan
bahkan warga merasa kesulitan mencari pengganti ayah mengingat pekerjaan amil
membutuhkan banyak keahlian.
“Ayah lihat cuma kamu yang lebih memenuhi syarat jadi amil,
selain ustaz Hariri. Beliau kan
sibuk mengurus pesantren dan mengisi pengajian di beberapa majlis taklim. Belum
lagi pengajian anak-anak dan remaja. Sebelum ayah kembali memasrahkan kepada
warga, dan kalau warga menghendaki, apakah kamu bersedia menggantikan tugas
ayah sebagai amil di kampung kita?” tanya ayah setengah memohon. Aku diam. Ayah
melanjutkan pembicaraannya. “Kalaupun tidak mengajukan kamu, ayah yakin
orang-orang akan menunjuk kamu. Mereka tahu kapasitas kamu. Selain mereka tahu
sebagai lulusan pesantren, belakangan ini kamu aktif di berbagai kegiatan
keagamaan, dari keremajaan masjid, anggota DKM, pembawa acara santapan rohani,
sampai kegiatan karang taruna. Ayah tidak memaksa, tapi mohon dipertimbangkan.
Sebenarnya ayah juga tidak terlalu setuju kamu jadi amil. Ayah telah merasakan
sendiri pahit manisnya jadi amil.”
Aku menggeleng, belum siap. Terbayang dalam ingatanku
bagaimana ayah memandikan jenazah si Winata yang membusuk sementara keluarganya tak ambil peduli untuk
memandikannya. Bahkan sampai mayat itu dikuburkan lengkap dengan tahlilan
hingga malam ketujuh, ayah juga yang mengerjakan. Itu semata-mata kerena tugas
ayah sebagai amil. Aku belum sanggup
menghadapi risikonya macam itu.
“Nadhori, pekerjaan
amil itu ibadah. Menjadi amil itu amanah. Insyaallah imbalannya dari Allah
asalkan kita ikhlas melakukannya. Ayah tidak memaksa.”
Sekonyong-konyong
ibu nimbrung. “Kalau kamu jadi amil, istrimu nanti bisa-bisa minta cerai. Tak
bakalan tahan. Kerjaanmu bisa terganggu. Anak- istrimu mau makan apa nanti.
Apakah kamu merangkap jadi tukang gali kuburan saja sekaigus tukang doa di
pemakaman umum, lalu istrimu jadi penjual kembangnya? Tapi kan sekarang belum begitu ramai. Orang yang dikubur di situ
jarang-jarang, tak seminggu satu. Ibu lebih setuju kalau kamu buka pondok
pesantren saja seperti ustadz Hariri. Bambu di kebun kita banyak. Sayang
bertahun-tahun belajar di pesantren kalau ilmumu tidak diamalkan. Masuk pabrik
juga kamu tidak bakalan diterima. Sekarang ijazah SD-mu tidak laku. Lihat si
Misja, tukang sapu di SD Inpres, ijazahnya SMA.”
“Kalau buka
pesantren balai rombeng santrinya
siapa, Bu? Apa kata orang nanti, punya
pondok tak punya santri. Ustadz Hariri saja mendapat kiriman santri dari
gurunya. Sedangkan saya keluar pesantren juga sudah lama. Lagi pula tak satu
pun kitab yang sampai khatam. Mau nge-hikmat
juga tak cukup ilmunya. Kalau jualan ilmu pelet sih laku kali!” Asal saja
aku bicara.
“Kalau peletnya nggak manjur?” timpal ibu.
“Seperti kata dukun
Ki Drajat terhadap pasiennya, katakan saja: ana
cuma memberikan syariat, terkabul atau tidaknya itu kuasa Gusti Allah. Beres!”
“Ah, dukun sableng
ditiru!”
“Ini soal amil, Bu.”
Suara ayah meninggi. “Apakah ayah jadi amil sampai mati!”
“Terlalu. Itu kan salah ayah sendiri, kenapa tidak dari dulu-dulu membina calon
pengganti,” ketus ibu.
“Sudah ayah lakukan,
Bu. Tidak ada orang yang bersedia. Bahkan empat tahun lalu ayah pernah
menjanjikan hadiah seekor kambing bagi siapa saja yang bersedia jadi amil,
menggantikan ayah.”
“Cobalah ayah
kumpulkan para tokoh masyarakat kampung kita, bagaimana baiknya. Sampaikan
dengan bahasa yang mudah diterima. Bapak-bapak saya minta maaf, tolong carikan
pengganti saya. Saya tidak mau sampai meninggal dunia masih menjabat amil.” Ibu memberi contoh.
“Kalau mereka tanya:
Memang rencananya Bapak kapan mati?
Bu, itu pernah ayah lakukan.”
“Hasilnya?”
“Tak ada yang mampu
memberikan jalan keluar. Salah seorang dari mereka cuma mengatakan: Pak Amil, sabar saja! Sampai kapan, Bu?
Sampai ayah meninggal seperti almarhum amil Sanusi dulu?”
Malam sehabis
gerimis menawarkan keheningan, selain aroma wangi tanah yang didera kemarau.
Baru kali ini aku mendapati ayah shalat istikharah dengan wirid berlama-lama.
Dari bisik bicaranya aku mendengar bahwa ayah tengah menghadapi kecamuk batin
yang serius, antara melepas jabatan amil atau tetap menjalaninya hingga akhir
hayat seperti pendahulunya. Esok paginya, Senin, 3 Januari ayah menulis surat
dengan huruf Arab berbahasa Indonesia ditujukan kepada kepala Kantor Urusan
Agama Kecamatan. Di selipkannya surat itu ke dalam stop map hijau yang pernah
digunakan untuk menampung kertas berisi nama-nama anak yatim yang akan
mendapatkan santunan Muharam.
“Ada urusan penting
sepertinya. Ayah mau kemana?” tanya ibu
sambil memperhatikan pakaian ayah yang tampak rapi.
“Ke kecamatan,
kantor K-U-A.”
“Siapa pula yang
menikah?”
“Bukan.”
“Lantas, cerai?”
“Ayah mau mengundurkan
diri, Insyaallah.”
Ayah tampak mantap
dengan pilihannya. Sepertinya ayah sudah mempertimbangkannya masak-masak.
Kubantu ayah menghidupkan sepeda motor matic
keluaran pertama pemberian kepala desa. Ibu, juga aku tak berkomentar apa-apa,
kecuali melepas keberangkatannya dengan harapan ayah mendapat kelancaran dalam
perjalanan dan kembali dengan selamat. Satu jam kemudian ayah pulang. Wajahnya
menyiratkan kekecewaan.
Memasuki bulan Ramadhan pengurus masjid menjadwalkan ayah
mengimami shalat tarawih. Merasa masih kuat tak ada alasan ayah untuk menolak
tugas rutinnya. Padahal kukira ayah sudah kelelahan. Bulan lalu tiga orang
meninggal dunia berturut-turut. Masing-masing berselang sepekan. Sungguh,
keadaan seperti itu tak biasanya. Dari tahlilan ke tahlilan ayah pula yang
memimpin. Dalam tarawih kali ini ayah berseling dengan ustadz Hariri. Tiba di malam qunut, malam kelima belas, giliran
ayah imamnya. Tarawih kami dua puluh
tiga rakaat. Dari awal ayah sudah tancap
gas, gerak dan bacaanya cepat.
Memang begitulah biasanya tarawih kami. Jamaah mencapai separuh masjid.
Anak-anak diposisikan di shaf paling belakang. Kegaduhan akibat anak-anak
bercanda saat tarawih berlangsung kerap tak terhindarkan.
Usai doa qunut, sujud ayah begitu lama, sungguh tak biasa.
Dalam hati aku bertanya-tanya. Beberapa jamaah sampai terbersin-bersin,
menyusul teriakan anak-anak dari belakang. “Wey imam pingsan!” Salah seorang di shaf terdepan mengambil
inisatif memimpin rakaat witir itu dengan takbir keras. Namun tak semua jamaah
mengerti. Kulihat ayah ambruk pada
sujudnya, tak bergerak. Spontan dari shaf kedua aku bangkit menghampiri ayah.
Jamaah lain di shaf terdepan nyaris bangkit. Kekhusyuan jamaah terganggu. Pandangan sebagian besar dari mereka tertuju
kepada ayah. Imam pengganti kembali mengeraskan takbir dan mempercepat
bacaannya tasyahud akhir.” Assalamualaikum warahmatullah!” Witir pun usai.
Jamaah panik, semua menghambur ke arah ayah.
Ayah dibaringkan dari posisi sujudnya. Oh, ayah
benar-benar tak lagi bernafas. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Desah itu
menjalar dari mulut ke mulut. Sebagian
jamaah membacakan yassin dan sebagian
pulang. Tak seperti biasa, anak-anak dilarang menabuh beduk. Sementara ketupat yang terkumpul dibagikan
secara sembarang kepada siapa saja yang mau membawanya. Anak-anak ikut
berebut. Sampai tak ada lagi yang
membacakan yassin, ayah ditandu ke rumah untuk dimandikan. Suasana duka
sungkawa meliputi keluarga kami. Ayah benar-benar telah mengakhiri seluruh
tugasnya.[]
Komentar
Posting Komentar