[cerpen] Menempuh Jalan Pulang

Usman Hermawan 
Kalau ditanya berapa umurnya sekarang? Emak tak pernah bisa menjawab dengan pasti. Yang bisa dikatakannya bahwa ia lahir pada bulan silih Mulud. Tanggal kelahirannya konon pernah dicatat di tiang rumah bambu, tapi rumah itu sudah dipugar sejak ia masih gadis. Emak hanya ingat pernah mendengar presiden Soekarno membacakan teks proklamasi di radio transistor dua band milik  Asta, anak tetangga yang bekerja di toko Cina  Benteng. Waktu itu umur Emak baru sekitar tujuh tahun.  Jadi kukira umur Emak sekarang lebih kurang tujuh puluh dua tahun. Anak Emak semuanya  tiga belas, yang ada sembilan. Semuanya sudah berumah tangga, bahkan sudah bercucu. Suami Emak, yang berarti juga ayah angkatku meninggal dunia tahun 1980 saat menunaikan haji, dimakamkan di Baqi dekat masjid Nabawi, Madinah.
Tak terbersit keinginan Emak untuk dimakamkan dekat makam suaminya. Selanjutnya tak ada pula keinginan Emak untuk menikah lagi walaupun pernah ada laki-laki yang bersedia memperistrinya. Itu belasan tahun lalu ketika Emak masih memiliki sisa-sisa kecantikan dan sensualitas masa mudanya. Sekarang? Jangan ditanya!
“Emak hanya ingin dikasihi oleh semua anak dan cucu Emak. Cukuplah almarhum Bapak menjadi karunia di lebih dari separuh hidup Emak.” Ujar Emak sembari membelahi bambu halus-halus untuk anyaman tudung, topi bambu yang diameter lingkarannya sekitar tujuh puluh sentian.
Bambu menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Emak. Emak tinggal di rumah yang sebagian besar bagiannya terbuat dari bambu. Kampung yang Emak tinggali bernama Kampung Bambu, yang belakangan ini di sebelah utaraya  dibangun kompleks perumahan yang diberi nama Taman Bambu. Ketika Emak dalam kandungan, ibunya mules lantas ayahnya menjemput  dukun beranak dengan penerangan obor dari bambu. Emak lahir beralas tikar pandan di atas balai bambu. Begitu pula tempat tidurnya. Mata pencahariannya, sejak usia delapan tahun Emak sudah mahir menganyam tudung. Tudung hasil anyaman Emak pernah dipamerkan tahun 1985 pada pameran yang diselenggarakan dalam rangka hari jadi Kabupaten Tangerang.
Menganyam tudung menjadi pekerjaan utama Emak selain membantu Bapak bertani.  Waktu Emak banyak dihabiskan di atas pola. Tak jarang Emak bekerja siang malam, terutama saat ada pesanan. Emak kejar target! Turun dari pola hanya untuk makan dan shalat saja. Meskipun bekerja siang malam tak pernah Emak mengeluh karena kecapekan. Semangatnya bagai bara dihembus angin, terus menyala. Dari hasil penjualan tudung dan hasil kebun Emak menyisihkan sebagian uangnya di bungbung yang menyerupai kentongan, di sunduk, atau di tiang rumah bambu. Kebiasaan menabung macam itulah yang selalu Emak terapkan hingga di usia tuanya. Kalau uang di celengan bambunya sudah penuh, aku kerap dimintai tolong Emak membelikannya perhiasan emas ke toko Haji Nafis di Pasar Curug.
Kedekatan Emak dengan bambu seperti laut dan ikannya. Itu sebabnya ia sempat berandai tentang kematiannya. Mayatnya ditandu dengan kurung batang dari bambu, liang lahatnya ditutup dengan gelondongan bambu yang dipasang miring ke barat sebagaimana lazimnya, dan gundukan kuburannya ditancapi dua patok bambu sebagai tetengger, penanda. ”Aku ingin mati dengan sederhana. Kalau aku mati saat tak ada biaya jangan paksakan mengundang jamaah shalat jenasah hingga kampung sebelah dan  memanggil pembaca Quran sampai tujuh malam suntuk. Ziarahi kuburanku , bacakan yassin, fatihah, kirim puji dan dzikir semampunya, semoga saja kalian beroleh kebaikan,” harap Emak suatu malam dengan pandangan menerawang.
Selain menganyam tudung kegiatan lain Emak adalah menanami kebun dan pekarangan rumah dengan berbagai jenis pohon.  Selain bambu, pohon-pohon produktif tanamannya memenuhi kebun yang luasnya mencapai beberapa hektar. Di sana bisa dijumpai pohon nangka, jengkol, kecapi, sentul, rambutan, sawo, melinjo, jambu biji, jambu cingcalo, jambu mete, belimbing, jeruk ragi, kokosan,  bahkan beberapa pohon durian. Semasa aku kecil, Emak mempunyai kebiasaan jorok yang unik dalam menanam pohon, terutama kecapi dan rambutan biji. Kalau makan kecapi atau rambutan  seperti rambutan nyonya/nona bijinya ditelan. Selanjutnya dibuatnya lubang di pinggir-pinggir kebun. Esoknya sebelum sholat subuh saat pagi masih gelap Emak -- jujur saja aku juga-- buang hajat di situ. Lubang yang sudah terisi kotoran itu ditimbun dengan tanah bekas galiannya. Persis seperti kucing buang hajat. Digali, diisi, lalu ditutup, 3D. Sebagian besar pohon rambutan dan kecapi di lahan yang dirumahi Emak ditanam dengan cara begitu. Buah dari pohon yang ditanam Emak hingga kini dapat dinikmati anak cucunya, juga anakku. Mungkin karena banyaknya pohon dan banyak kandungan air di bawahnya, sehingga setiap musim kemarau sumur gali kami tak pernah kekeringan.
Usia malam masih terlampau dini, Emak mengemukakan maksudnya kepadaku. “Basrun, ini mah waleh, Emak minta keikhlasanmu, tolong temani  Emak ke Mekah. Kamu satu-satunya anak Emak yang mampu membimbing Emak di sana. Kita berangkat berdua.” Menyadari Emak tidak sedang bercanda aku jengah, terperangah. Detak jantung serasa menyedak aliran darahku. Hatiku berdesir-desir. Lama aku terdiam. Ajakan Emak membuatku serasa tak sedang menapak di bumi.  Rasa haru menyergap batinku. Dengan cepat baitullah terbayang dalam pikiranku. Ah, sebegitunya!  Aku tak dapat menahan gejolak batin. Memang pernah terbersit dalam pikiranku untuk berkunjung ke baitullah, tapi jika Emak yang mengongkosi aku khawatir berujung masalah. “Terima kasih Mak, tak ada keraguan di hatiku bahwa Emak menyayangiku. Aku minta maaf belum bisa putuskan sekarang.“
Nah lu ! Maksudnya?” Emak heran. Kubiarkan pertanyaan Emak menggantung.
Orang yang dipercaya untuk  mendampingi Emak adalah aku. Apalah artinya aku bagi Emak. Aku hanya anak angkatnya. Memang, walaupun anak angkat aku menganggap Emak sebagai ibu kandungku sendiri. Meskipun begitu apapun kebijakannya terkait hak yang diberikan  kepadaku aku merima saja. Namun kali ini, pemberian hak untuk diongkosi naik haji belum dapat kuterima. Kupikir masih ada anak Emak yang lain yang lebih berberhak diongkosinya. Melihat Emak terdiam, aku tak sampai hati. “Tawarilah anak Emak yang lain!” sapaku mengalihkan perhatian.
Namun sayang, semua anak dan menantu Emak tak ada yang bersedia diajak naik haji bersamanya dengan alasan belum siap. Mereka justru minta mentahnya saja, uang. Lebih dari itu, dimintanya Emak untuk mengurungkan niatnya berkunjung ke baitullah yang bertahun-tahun ia angankan. Emak bersikukuh dengan pendiriannya, harus berangkat.  Aku dukung keputusan Emak.
Saat aku memperbaiki pelupuh balai bambu yang rusak. Kudengar di dalam Kak Subali mengumpat Emak. Ia menyampaikan keberatanya atas rencana Emak mengajakku naik haji. “Emak sudah terlalu tua! Lagi pula tak perlu Emak mengistimewakan Basrun sebegitu rupa.”
“Emak hanya ingin ada yang menemani.” Suara Emak lirih. Percakapan mereka hanya sampai di situ.
Sepeninggalan Kak Subali, lama Emak duduk melengkung di atas pola  dengan anyaman tudungnya. Jemarinya yang berkemampuan seperti orang mengetik sepuluh jari  berhenti bergerak. Tak biasa aku mendapatinya begitu murung. Sore yang kian gelap turut menambah kemurungannya. Kumandang adzan magrib tak dapat menyudahi kecamuk batinnya. Kukira penolakanku turut memberati beban batinnya. Emak menganggap aku menampik panggilan Allah yang disampaikan melalui perantara Emak dengan kecukupan biaya. “Kamu tak tahu diuntung, Basrun!” Emak kelepasan. Aku diam membatin. Emak menyesali perkataannya.
Keciak anak ayam mencari induknya memecah keheningan yang berlangsung beberapa jenak. Aku berusaha membesarkan hati Emak agar Emak tetap berangkat. “Allah Maha Kuat Mak. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada Emak. Yakinlah, Dia akan menjawab setiap doa yang Emak panjatkan siang-malam. Sambutlah panggilan ilahi yang terngiang di telinga batin Emak sejak Emak memohon untuk dipanggil. Emak sudah dipanggil, jangan ragu! Basrun akan selalu berdoa buat Emak. Percayalah, walau tanpa kehadiran Basrun Emak pasti sanggup. Basrun siap mengurus segala kerperluan Emak!”
Emak sesenggukan memelukku. Aku terharu. Spontan kubacakan kalimat talbiyah, “Labaik allahuma labaik…” Suaraku gemetar. Tangisku pecah. Haru buncah. Kudekap Emak erat-erat. Kami bertangisan dalam beberapa saat. Seperti tirai sebuah pertunjukkan, malam perlahan turun, menutup pertemuan kami di rumah bambu.
  Emak bergabung dengan yayasan Babussalam pimpinan Haji Romli, berangkat tanggal 30 Oktober dengan kloter 28. Emak tampak suka cita diantar keluarga. Wajahnya tampak lebih muda sepuluh tahun dari usianya.
Dari kerumunan para calon jamaah haji dan para pengantar ada yang memanggilku. “Pak Basrun, Pak Basrun!” Spontan kuarahkan pandangan, ternyata Pak Nanang Suparman, rekan senior di tempat kerjaku. Kuperkenalkan Emak kepada Pak Nanang. Emak tampak sumringah mendapat teman. Ternyata Emak satu rombongan dengannya. “Pak, saya titip Emak.” Kuberanikan berkata begitu, karena aku tahu Pak Nanang seorang yang dermawan dan suka menolong. Selanjutnya kami berpisah. Semua calon jamaah haji diberangkatkan dengan bis menuju Asrama Haji Pondok Gede untuk selanjutnya diantar ke bandara Sukarno-Hatta. Kudadahi Emak.
***
Mendung yang menggantung di atas Kampung Bambu tak segera menurunkan hujan. Kesiah pohonan bambu ditingkah angin menjadi tanda siaga bahwa hujan memang akan segera turun.  Saat itu pula aku menerima pesan singkat dari Pak Nanang Suparman di tanah suci.  “Inalillahi wainnailaihirojiun. Pak  Basrun, Emak tewas saat melempar jumrah. Saya gagal menyelamatkan Emak dari terjangan gelombang desakan manusia yang begitu dasyat. Maafkan saya.  Selanjutnya mungkin akan dimakamkan di Ma’la.” Gelegar petir menghantam isi dadaku. Menyusul gemeretak butiran hujan sebesar jari kelingking berjatuhan di atap rumbia rumah Emak. Hujan menderas membenamkan duka sungkawa. Emak, sang perkasa telah menempuh jalan pulang menuju haribaan-Nya. Aku tercenung mengenggam rindu. Bayang wajahnya berkilatan melintasi ingatanku.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia