[cerpen] Nyanyian Ibu Mertua
Usman Hermawan
Kalau saja ibu mau menjagai Farly,
anak pertamaku di rumah, tak akan kami
mengajaknya menjagai Firman, adiknya
diopname di rumah sakit. Toh perginya pembantu kami karena ibu
juga yang mengusirnya, padahal hanya sebab sepele.Sebelumnya Farly baik-baik
saja, segar bugar. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan dia bakal sakit. Anak ini ngedrop
dalam waktu relatif singkat ketika menemani adiknya diopname. Farly pun
diopname saat Firman masih diimpus.
Sungguh, tak sampai 24 jam Farly tak dapat diselamatkan saat impusan
masih melekat. Penanganan Farly lamban. Virus yang menyerangnya keburu menjalar
ke otak. Itu yang membuatnya tak sanggup bertahan. Duka kami mendalam. Namun bicara ibu
sangat tak mengenakkan, menusuk ulu
hati, menghunjam jantung. “Itu anak meninggal dijadikan tumbal, apa? Kalian
geguru di mana buat cari kekayaan?”
“Astagfirullah, tumbal apa, geguru apa, Bu? Demi Allah. Kenapa ibu
bicara begitu?” Sontak aku naik pitam.
“Ibu cuma tanya. Kalau tidak ya
sudah, tidak perlu marah.” Ibu berkilah seraya menjauh.
Aku menghela nafas, menahan amarah. Kupikir percuma diperpanjang, hanya
memperkeruh keadaan.
“Maksud ibu apa? Kok ibu bicara
begitu?” sela istriku menyesali ucapan ibu.
“Biasanya orang yang mencari kekayaan suka mengorbankan anaknya sebagai
tumbal. Ibu cuma tanya kok. Kalau tidak, ya tidak perlu emosi.” Nada bicara ibu
meninggi.
“Pertanyaan ibu itu yang bikin sesak.”
“Kalian saja yang terlalu sensitif.”
Begitulah ibu, tidak suka dibantah.
Istriku yang tahu persis sikap ibunya nyaris terpancing. Beruntung dia
mengerti isyaratku agar tidak meladeninya. Biasanya aku pun menghindar dari
pembicaraan ibu yang kurang berkenan khawatir aku lepas kontrol jika menimpali.
Semenjak sakit-sakitan dan berhenti berjualan di pasar Mayestik-Kebayoran ibu mertua
menjadi lebih banyak tinggal bersama kami di Karawaci. Maklum, istriku anak satu-satunya. Tampaknya ayah mertua pun
tidak keberatan, menurut saja apa pun yang dikehendaki ibu. Tetapi dengan
begitu beban ayah sedikit berkurang. Biasanya dia menjadi pelayan bagi ibu.
Kalau dulu ayah yang dilayani, sekarang sebalik. Kini ibu menjadi seperti tinggal menetap di
rumah kami. Baru saja pulang ke Jakarta selang
dua hari kembali lagi, hingga berminggu-minggu. Kukira ibu kurang mendapat pelayanan prima
dari ayah, maklumlah ayah juga sudah tua, mengurus dirinya sendiri sudah repot.
Bukannya aku enggan direpotkan dengan kehadirian ibu mertua, toh aku
juga menganggapnya seperti ibu sendiri
atau paling tidak aku ikut membantu istri berbakti kepada ibunya, disamping aku
juga tidak mau dibilang sebagai menantu yang tidak tahu berterima kasih. Banyak
keperluan ibu yang tidak bisa dikerjakan oleh istriku. Selagi aku bisa akulah
yang mengerjakannya, dari menyediakan air minum hingga mengantarnya ke dokter
atau mencarikan makanan kesukaannya. Sebagai menantu sebenarnya tetap saja berbeda dengan anak. Aku tidak
bisa berlaku seperti terhadap ibu yang melahirkanku. Wajar kukira. Kesabaranku
lebih terbatas. Ketika ibu mengomeliku tetap saja aku dongkol. Ibu terlalu
banyak ikut campur urusan rumah tangga kami. Istriku juga sering mengeluhkan
perilaku ibu. Kalau saja dia tidak sedang sakit entah tindakan apa yang
kulakukan karena merasa terkekang. Kian hari ibu kian diktator. Aku jadi
kehilangan kedaulatan di rumahku sendiri, rumah yang kucicil belasan tahun
dengan uang dari hasil kerja kerasku. Apa-apa dia yang menentukan. Apalagi
kalau rumah itu dia yang berikan, bisa-bisa aku
ditindas sesuka hatinya.
Mungkin akibat penyakit yang dideritanya, emosi ibu sangat labil.
Logikanya sering eror. Bicaranya nyaris tanpa rem, kurang bisa menyaring mana
kata-kata yang pantas diucapkan dan mana yang tidak. Korbannya tentu saja aku
dan istri, bahkan beberapa pembantu kami yang keluar masuk akibat sering
dimarahi ibu. Aku berusaha memaklumi, tapi tetap saja nyeseknya terasa. Sekali waktu ibu kandungku berkunjung sekadar
untuk melepas kangen pada cucunya. Akibat ucapan ibu mertua yang asal jeplak, ibu kandungku tersinggung sampai menangis. “Maklumlah Bu, dia sedang sakit, ngomongnya
asal keluar saja,” bujukku agar ibu kandungku tak lagi menangis. “Iya, tapi
jangan begitu dong. Jelek-jelek begini ibu masih punya harga diri.” Ibuku tak
bisa terima diperlakukan semena-mena oleh besannya. Untung tidak terjadi perang
baratayuda di rumahku. Ibuku memilih mengalah, menelan sendiri setiap cercaan
menyakitkan dari besannya. Untuk menghindari bertambahnya penderitaan ibuku
karena ulah ibu mertua, tak kuijinkan ibuku berlama-lama di rumahku. Segera
kuantar pulang ibuku. Mengusir ibu mertua jelas tak mungkin.
“Bu, jangan ngomong begitulah. Itu bisa membuat orang sakit hati.” Aku mencoba ingatkan ibu mertua.
“Memang iya sih, ibu kan berkata sebenarnya!” Dia tak mau mengalah
untuk mengakui kekelirunnya. Selanjutnya aku memilih diam. Kukira akan percuma
jika kuladeni bicaranya.
Menjelang tengah malam, kami sedang tidur. Aku terbangun mendengar ibu
mertua menangis kecil. “Kenapa Bu?” tanyaku.
“Panggilkan ibu taksi, ibu mau pulang!”
“Memangnya ada apa?”
“Pokoknya ibu mau pulang. Carikan
taksi! Kalau tidak ada yang mencarikan taksi, biar ibu sendiri yang
mencarinya.”
“Bu, besok pagi saja. Sekarang tidur saja dulu. Taksinya juga tidak ada
kalau larut malam begini.”
“Memangnya ibu anak kecil dibohongi begitu.”
“Kalau begitu, biar saya saja
yang antar ibu dengan mobil kita.”
“Tidak. Ibu mau naik taksi.”
“Bu, naik taksi malam-malam begini ngeri lo!” sela istriku.
“Iya, rawan kejahatan!” tambahku.
“Apa yang dimaui penjahat dari ibu. Perempuan tua begini mana ada yang
mau. Uang? Paling berapa rupiah ibu bawa uang, cuma buat ongkos taksi doang!”
“Memangnya ibu kangen bapak?”
“Bukan begitu. Di sini ibu tidak betah. Rumah kalian panas. Banyak
setannya kali!” Ibu mengemasi pakaiannya.
“Saya coba carikan taksi ke depan Bu. Ibu tunggu saja.” Terpaksa aku ke gerbang kompleks agar
ibu bisa pulang naik taksi.
Tak sabar menanti aku kembali, ibu menyusulku. Beruntung, begitu ibu sampai sebuah taksi kosong
melintas dan kuberhentikan segera. Ibu tak mau ditemani. Kepada sopir aku beri
tahu alamat rumah ibu, khawatir kalau-kalau ibu lupa arah jalan pulang.
Berselang tiga hari, ibu datang lagi di rumahku, diantar bapak mertua.
Di sana tak ada yang ngopeni katanya.
Setelah menitipkan ibu, bapak kembali pulang dengan taksi yang mengantarnya.
Ibu masuk, layaknya petugas pengawas ibu memperhatikan setiap sudut ruang sambil bersungut-sungut. “Berantakan amat
ini. Kemana pembantu, kerjanya tidur melulu!”
Ibu lupa bahwa dalam sebulan ini kami sedang tak punya pembantu. Pembantu
kami yang terakhir mengundurkan diri pulang ke Panimbang karena diusir ibu gara-gara
memecahkan piring tak sengaja.
Kali ini ibu mogok makan. Istriku sampai berulang kali membujuknya.
Ditawari mau makan apapun ibu diam.
Pasalnya, ibu ingin diantar berobat ke dukun patah tulang di Ciheulang,
daerah Bogor, sedangkan ibu baru saja diajak berobat ke dokter spesialis
penyakit dalam di rumah sakit Siloam, obatnya baru dimakan sekali. “Obatnya
pahit,” keluhnya. “Haduh Buuuuuu, bu. Obat ya pahit!”keluhku dalam hati. Tak
berani aku mengutarakan kekesalanku secara langsung, ibu toh bukan anak kecil. Sebelumnya memang ibu pernah kuantar ke dukun
patah tulang itu karena ibu juga mengalami keretakan tulang belakang. Kali ini keluhan ibu tidak berhubungan dengan
tulang. Aku katakan bahwa aku tidak
sempat, sedang banyak pekerjaan. “Sepertinya ini bukan penyakit medis. Ibu kena
energi negatif. Dukun itu yang bisa mengobati. Tolong antar ibu ke sana!” pintanya ngeyel. Sampai pengang telingaku.
Minggu pagi barulah kukabulkan keinginannya. Namun karena mobilku sedang
diservis di bengkel aku minta temanku mengantarnya. “Sekalian nyobain mobil
baru!” selorohku. Aku duduk di depan. Temanku itu yang mengemudikannya. Jalan
ke arah Ciheulang banyak bantingan. Ibu tak bisa diam, sepanjang jalan
bersungut-sungut mengeluh. “Ini mobil apa bajaj, bau lagi!” Bicara ibu ketus. Aku tak enak hati dengan
temanku itu. Aku hanya memohon agar dia dapat memaklumi.
Menurut dukun ahli patah tulang itu tak ada indikasi bahwa ibu terkena
energi negatif atapun guna-guna sebagaimana yang ibu kira. Ibu hanya diberikan
sedikit ramuan tradisional dan nasihat-nasihat spiritual bahwa ibu harus banyak
beristigfar. Ramuan itu kemudian tidak ibu gunakan. Selanjutnya, ibu punya satu
permintaan yang mengejutkan setelah penyakitnya kumat. Ibu minta diantar
berobat ke Singapura. Busyet! Kalau
sekadar mengantar mungkin tak jadi masalah, tapi untuk menalangi biayanya,
ampun deh! “Dokter di Indonesia
kurang canggih. Ibu ingin berobat di Singapura. Tolong usahakan!” Hal itu
dikemukakan ibu setelah mendengar berita di televisi bahwa pejabat negara ada
yang berobat di sana. Siang malam keinginan itu ibu dikemukakannya. “Junarti,
kamu kan bidan, tanya sama dokter kenalanmu bagaimana caranya agar ibu bisa
berobat di sana.” Pinta ibu kepada
istriku. Kami tidak bermaksud memanjakan ibu dengan memenuhi permintaannya. Ini
karena ibu terus merengek ingin berobat di luar negeri. Ibu tidak main-main
dengan permintaannya itu. Dimintanya
bapak menjual aset-asetnya. Namun karena hasilnya tidak memadai mobil yang kubeli
dengan susah payah akhirnya dengan berat
hati kujual. Bagiku, ini demi istriku, lagi pula kecukupan biaya menjadi syarat
penting untuk bisa berobat di sana.
Bertolaklah ibu ke Singapura ditemani istriku dan bapak mertua. Aku di
rumah bersama Firman. Aku punya harapan besar bahwa ibu akan sembuh, kemudian
menetap di rumahnya seperti sedia kala tanpa harus mondar-mandir ke rumahku
kecuali jarang-jarang saja. Dengan begitu kehidupan keluargaku kembali normal,
tanpa ada intervensi ibu mertua. Kedaulatanku bisa kembali utuh.
Hampir sebulan ibu berobat di sana hingga tibalah waktu kepulangannya,
aku menjemput di bandara. “Syam, ibu pulang ke rumahmu saja. Ibu ingin dekat
dengan kalian.” Kukira ibu akan minta pulang ke Kebayoran, ternyata memilih
pulang ke rumah kami di Karawaci. Istriku memandangku tanda minta pendapat. Aku
tak dapat menolak. Hahhhh! Ini gelagat kurang bagus, pikirku. Akhirnya, yang
aku khawatirkan terjadi juga, ibu masih suka “bernyanyi” kadang merdu kadang
fals. “Syam!” teriaknya, “jaga anak
kalian jangan sampai mati lagi. Jangan cuma bisa bikinnya doang!” Segera
kurengkuh anakku ketika sedang bermain di beranda. Aku masih berharap, semoga
ini hanya sementara karena kesembuhan ibu masih sembilan puluh persen, belum
sepenuhnya sembuh. Nyatanya, sampai
berbulan-bulan ibu tak pernah pulang ke Kebayoran. Selama itu pula ibu tak
pernah absen ‘bercuap-cuap’.
Pertengahan November lalu, ibu menghembuskan nafas terakhir setelah
penyakitnya mendadak kumat dan tak sempat dilarikan ke rumah sakit. Duka
sungkawa meliputi keluarga kami. Selanjutya, aku merasakan hari-hari berlalu
tanpa ibu mertua. Tak ada yang mendikte,
tak ada yang mengambil alih kekuasaanku, tak ada yang mengerjaiku, tak ada yang
membuat pengang telingaku. Tak ada ibu mertua aku jadi kangen, aku merasa
kehilangan. Sepi. Orang yang berjasa melahirkan istriku tak lagi kudengar nyanyiannya.[]
Komentar
Posting Komentar