[cerpen] PASANGAN KE-31


Usman Hermawan

Maidawarni Sasmita Wiguna nama lengkapnya. Orang-orang memanggilnya Ceuceu May atau May saja. Ibunya berasal dari Garut dan ayahnya dari Bandung. Keduanya tinggal di Bandung. Sejak masuk SMA May tinggal bersama bibinya di Tangerang, selain dimaksudkan untuk meringankan beban orang tuanya juga sebagai pemancing agar bibinya yang belum juga punya anak segera hamil dan mendapatkan momongan. Ayah dan ibunya tidak keberatan, si sulung May juga senang.  Benar saja, mungkin tersugesti, dua tahun kemudian bibinya hamil. Begitu lulus SMA May kembali tinggal bersama ibu-bapaknya di Bandung. Kuliahnya pun di Bandung. Lulus kuliah dan meraih gelar sarjana pendidikan May berjodoh dengan Mardali, kekasihnya sejak SMA. Selanjutnya May dan suaminya tinggal di Tangerang. Sikapnya yang terbuka dan luwes bergaul menjadikannya disukai banyak orang. Kemampuannya berdiplomasi tanpa disadarinya telah mambantu banyak sahabatnya. Dia telah menjadi perantara bagi jodoh banyak pasangan. Tak kurang dari tiga puluh pasangan berhasil dipertemukannya dan kemudian berjodoh. Calon pasangan yang gagal hanya dalam hitungan jari.
Tak pernah May menawarkan diri untuk membantu menjodohkan. Ketika ada teman atau kenalan yang meminta bantuannya, May tak dapat menampik.Tak peduli walau harus merogoh kocek sendiri jika diperlukan. Kebahagiaannya adalah saat pasangan yang dijodohkannya berbahagia.
Saat lebaran May pulang kampung ke Bandung bersama keluarganya. Hampir dua tahun dia tak bertemu ibu-bapaknya. May disambut hangat keluarga besarnya, juga para tetangga. Secara kebetulan May bertemu dengan Ambu  Sopiah, sang tetangga jauh yang juga sahabat ibunya.
“May, ari maneh kamana wae,  Kamu kemana saja? Mani hebring kitu eta penampilan,” sambut Ambu Sopiah kagum.
Hampura Ambu, atuh biasalah mencari penghidupan di muka bumi!” balas May dengan jenaka.
“Tolong carikan jodoh buat si Maman!”
“Ah, Ambu suka becanda. Yang saya tahu si Maman teh sudah berkeluarga.”
“Serius May. Si Maman teh sekarang duda.”
“Kenapa?”
“Hah, istri si Maman mah dasar si borokokok. Dua anaknya.”
“Si borokokok bagaimana, Ambu?”
Miduakeun. Selingkuh. Sekarang sudah kawin dengan jenderal manajer pabrik kutil!”
“Ah, ari ambu. Mani pabrik kutil begitu.”
“Anaknya sekarang ikut si Maman. Di Tangerang ada calonnya?”
“Calon mah banyak atuh Ambu. Mau yang gadis atau janda?”
“Yang penting mah suka sama suka, setia, perempuan baik-baik. Jangan kayak si Epon, perempuan si borokokok. Kalau bisa mah orang Sunda juga.”
“Ambu, tidak orang Sunda tidak orang mana-mana kalau sifat borokokok mah sama saja. Gak usah lihat sukunyalah. Ada tuh tetangga saya orang seberang.”
Sok mangga atuh, siapa?”
“Namanya Jarwanti, masih gadis, dewasa, punya rumah sendiri, mobil ada, motor ada. Orangnya baik pokoknya saya tidak akan menjerumuskan.”
Sok atuh dicoba.” Ambu Sopiah memanggil anaknya, “Maman!”
Sesaat kemudian yang dipanggil muncul.
“Dia lagi cari calon suami. Ni nomor HP-nya”
Maman segera mencatatnya. “Usianya, May?”
“Jangan tanya usia, yang penting baik buat kamu. Mudah-mudahan kamu pasti suka. Aku kenalkan nanti?”
“Kapan?”
“Sabar. Aku temui dulu orangnya, biar mau terima kamu.”
“Cantikkah dia?”
“Kamu ini, jangan lihat cantiknya, yang penting bisa membahagiakan kamu. Dia tidak macam-macam orangnya! Sekarang bagaimana bisnis kamu masih jalan?”
“Masih.”
“Biar tambah semangat harus ada istri baru. Yang sudah, sudah. Laki-laki tidak boleh cengeng, dikhianati istri, cari yang lebih baik. Perempuan baik-baik masih banyak di republik ini.”
Aura sebagai orang tersakiti masih tampak pada diri Maman. May terus menyemangati  sahabatnya itu. “Mau punya istri berapa?” tanya May guyon. Yang ditanya senyum-senyum.
***
Jarwanti terbilang gadis telat menikah. Telah mencapai usia kepala empat belum juga dia mendapat pasangan yang cocok. Teman-temannya, terlebih sanak keluarganya di seberang selalu menunggu kabar, kapan dia menikah. Gadis perantau ini terbilang gigih bekerja dan pandai mengatur keuangan. Dari hasil kerjanya dia telah memiliki rumah sendiri. Jika pun bersuami, sang suami tinggal mengikutinya.  Dia juga telah menyelesaikan studi pascasarjana. Namun semakin dia mandiri bisa jadi laki-laki yang belum mapan enggan mendekatinya. 
Sejak menolak dijodohkan dengan paman temannya yang ditinggal mati istrinya, Jarwanti belum juga mendapat tawaran calon pendamping.  Kini tawaran May datang tepat waktu. Jarwanti begitu antusias menanggapinya.
“Bujangan?” tanya Jarwanti dengan mata mendelik.
“Hari gini cari bujangan, mana ada bujangan mau sama kamu. Paling juga bujang lapuk!” jawab May ketus. “Sekarang mah ingat usia, yang penting bisa menerima kita apa adanya, sayang kepada kita. Si Maman, baik orangnya, temanku  di Bandung. Anaknya dua. Pengusaha dia, duitnya banyak. Pokoknya, duda kerenlah! Tunggu saja nanti aku suruh dia telepon.”
Jarwanti senang, seperti tak sabar ingin segera bertemu lelaki  yang belum bisa dibayangkannya itu. “Nanti malam yah, aku tunggu!”
Malam harinya May menghubungi Maman agar menelepon Jarwanti. Selanjutnya tak ada kabar, apakah Jarwanti ditelepon oleh Maman atau tidak. Sejak saat itu Jarwanti tidak berkomunikasi dengan May hingga beberapa hari. Sesungguhnya May menanti-nanti kabar itu. Namun sengaja May menahan diri  tidak menghubungi Maman ataupun Jarwanti untuk menguji kesungguhan keduanya dalam menjalin pertemanan.
Minggu sore May ditelepon Ambu Sopiah. “May, ini bagaimana?”
“Bagaimana apanya Ambu? Kenapa Ambu tiba-tiba tanya begitu?”
“Teman kamu ada di sini?”
May kaget. “Jarwanti? Dia datang dengan siapa ke situ?”
“Sendiri. Di jemput si Maman di terminal. Dia itu orang baik-baik  atau bukan?”
May gelagapan, khawatir Ambu Sopiah beranggapan buruk terhadap Jarwanti. “Ya orang baik-baik Ambu. Saya tahu kepribadiannya, solehah, rajin ibadahnya.”
Sejujurnya May menyayangkan kepergian Jarwanti ke Bandung tanpa sepengetahuannya. Jarwanti  telah bertindak gegabah. Andai dia tahu, pasti dilarangnya Jarwanti mendatangi kediaman pihak laki-laki yang baru dikenalnya itu tanpa ditemani siapa pun. Itu kurang etis, hemat May. Namun meskipun begitu, May tetap berusaha agar Ambu Sopiah  tidak ragu terhadap Jarwanti.  “Saya titip Jarwanti, jangan dimarahi Ambu. Mudah-mudahan cocok buat si Maman,” tutup May.
Esok harinya May menelepon Jarwanti. “He Jarwanti, kamu  apa-apan.  Tidak tahu malu datang ke rumah laki-laki sendirian. Kamu itu guru, harus tahu etika, jangan menjatuhkan martabat. Tidak pantas, tahu! Kegatalan!” May mengomel.
“Kata ambu juga tidak apa-apa, justru ambu senang  menerima kehadiranku.”
“Sekarang kamu dimana?”
“Masih di rumah ambu. Aku menginap”
“Astagfirullah. Jarwanti…. kamu itu teterlaluan.”
“Tidak apa-apalah May, lagi pula aku dan Kang Maman sama-sama suka kok.”
May menelan kekesalannya terhadap Jarwanti. “Kamu tidur dengan siapa?”
“Dengan Ambu. Tidak ada yang salah kan?”
“Terserah kamulah, tapi tolong di situ kamu jaga sikap. Jangan bikin malu korp!”
***
Ketenangan May terganggu dengan kedatangan Marsiti, kakak kandung Jarwanti. “Mengapa kau suruh adikku menemui laki-laki jelek itu, hah? Kemarin dia datang bersama Jarwanti. Laki-laki itu tidak cocok dengan Jarwanti.”
“Aku hanya mengenalkan, selanjutnya terserah mereka. Jarwanti berangkat ke Bandung saja aku tidak tahu.”
“Aku tidak setuju. Bikin malu. Sudah jelek, duda pula. Anaknya dua lagi. Di kampung, kami keluarga terpandang. Tak pantas laki-laki itu jadi suami Jarwanti.”
“Terserah, itu bukan urusanku. Aku hanya memperkenalkan, selanjutnya terserah mereka. Mereka sudah dewasa.”
Menyadari bahwa Jarwanti perlu dukungan, May mencoba berupaya. “Kak maaf, Jarwanti sudah lebih dari dewasa, semakin tua, bukan bertambah cantik. Jangan harap dia mendapatkan pasangan yang menurutmu ideal. Mana ada anak muda mau sama dia? Jarwanti sudah tua, lagi pula tidak cantik-cantik amat. Kakak harus menyadari hal itu. Kalau Kakak bisa, cobalah carikan jodohnya! Kakak sendiri tidak bisa mencarikannya. Biarkanlah Jarwanti menentukan pilihannya. Sepertinya dia cocok dengan si Maman. Yang akan menjalani kan Jarwanti sendiri, bukan siapa-siapa. Lagi pula, si Maman bukan orang susah. Orang kaya dia, punya perusahaan.”
 “Tapi mauku bukan begitu caranya.”
“Sudahlah, itu sudah terjadi. Sekarang apapun caranya yang penting Jarwanti menemukan pasangan yang cocok. Aku harap Kakak bisa memaklumi. Kasihan dia. Jarwanti itu teman saya, adik Kak Marsiti. Saya tidak akan menjerumuskan. Si Maman juga orang baik-baik. Kakak jangan khawatir .”
May mengelus-elus pundak Marsiti. Kekesalan Marsiti mencair. Tak ada lagi yang mesti dikatakan mengenai Jarwanti. Namun May tidak mau menyia-nyiakan kesempatan datangnya Marsiti. May yang punya kegiatan sampingan berjualan pakaian mencoba menawarkannya kepada Marsiti.
 “Maaf  bukan mengusir, aku mau ke rumah teman mengantarkan pesanan baju. Aku jualan baju. Tenang, Kak Mar jangan pergi dulu. Sepertinya ada baju yang cocok buat Kak Mar. Tunggu aku ambilkan.”
May bergegas membuka-buka dagangannya. Bisnis sampingan May berjualan pakaian. Biasanya dia berbelanja dagangan di pasar Tanah Abang atau di pasar Cipulir.  Marsiti tak beranjak dari duduknya. “Nah, yang ini.” May memberikan baju. Transaksi pun berlangsung tanpa hambatan berarti. Tampaknya urusan Jarwanti tak ada hambatan. May berharap kedua sahabatnya itu menjadi pasangan ketiga puluh satu yang dikaruniai kebahagiaan kelak, seperti pasangan yang sudah-sudah.
***
 Sepulang mengantarkan daster pesanaan koleganya, tangis May pecah. Dia sesenggukan sejadi-jadinya. Meskipun suaranya keras, tapi tak seorang pun tetangga yang datang berempati. Sepertinya mereka tidak mau ikut campur urusan orang lain. Mardali pun gagal menenangkan May. May tidak terima dikhianati Mardali yang selama ini diyakininya sebagai suami setia. Mardali tak dapat mengelak ketika didesak agar mengakui bahwa dirinya telah menikah lagi sejak delapan bulan lalu. Perempuan yang jadi istrinya kini sedang hamil muda.   Yang lebih mengejutkan May, istri muda Mardali itu adalah Sumirah. Dua belas tahun lalu May berhasil menjodohkan Sumirah dengan Jatmiko, yang ketika itu pangkatnya masih kopral dua. Kabarnya Jatmiko tewas dalam kecelakan pesawat saat bertugas. Kini May masih bingung menentukan pilihan, apakah menggugat cerai atau terpaksa menerima kenyataan hidup dimadu.[] 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia