[cerpen] Perempuan 75%
Usman Hermawan
Mujenah menangis karena sekumpulan anak-anak
menakalinya. Mereka tidak suka bermain
bersama Mujenah. Mujenah tidak diikutkan dalam permainan taplak, tapi dia
memaksa ingin mendapat giliran. Salah seorang dari mereka mendorong Mujenah hingga menimpa seorang yang lainnya. Anak itu
pun lalu mendorong Mujenah hingga terpelanting lalu jatuh. Anak-anak lainnya
menyoraki sinis. Mujenah bangkit lalu berlari pulang. Ibunya menyambut tanpa
ada rasa terkejut melihat anaknya menangis karena dapat diduganya bahwa Mujenah dinakali
teman-temannya. Didekapnya anak semata wayangnya sambil menanyai dan membujuk
agar dia tidak lagi menangis.”Biar mereka akan ibu hajar.” Ibunya mengacungkan
tinju sekadar menggembirakan anaknya.
Mujenah masih terisak-isak ketika ayahnya tiba. “Siapa yang
nakal?” Hentakan suara ayahnya
mengagetkan Mujenah dan ibunya. Mujenah menunjuk ke arah anak-anak tadi.
“Lawan! Ayo lawan! Kamu berani? Jangan pengecut. Anak perempuan tidak boleh
cengeng. Ayo lawan!” Ayahnya mengepalkan golok ke tangan Mujenah. Mujenah
didorongnya untuk maju. Suara ayahnya meninggi,”Ayo lawan!” Seperti ada dendam
yang belum terbayarkan di hati sang ayah. Ayahnya baru saja menebang kayu di
kebun belakang, masih kecapaian. Napasnya masih Senen-Kemis, tersengal-sengal.
“Bapak…!” Ibunya tak berdaya menghalangi keinginan ayahnya
agar Mujenah melawan anak-anak tadi.
“Kebiasaan, mereka
harus dikasih pelajaran!”
Mujenah memandang wajah ayahnya. Mendadak ayahnya melotot
menunjukkan kegarangannya seperti harimau hendak menerkam mangsanya. Mujenah
ketakutan. spontan timbul keberanian Mujenah untuk membalas kenakalan anak-anak
tadi. Mujenah nekat. Dengan golok di tangan kanannya dia bergegas menuju
karumunan anak-anak yang sedang bermain taplak tadi. Mujenah mengacung-acungkan
golok sambil berteriak dengan suara khasnya yang tak jelas pelafalannya.
Mujenah memutar-mutarkan golok layaknya seorang jawara menghadapi lawan.
Seorang perempuan yang kebetulan ada di situ
berteriak-teriak agar Mujenah mengurungkan aksi nekatnya. “Jangan Nak, nanti
kesetanan. Jangan main golok.” Mujenah tidak peduli. Malah ditebasnya sebatang
pohon kecil yang ada di situ layaknya petarung menebas lawan dalam suatu
pertarungan sengit, penuh emosi dan keberanian.
Ya, Mujenah mengamuk. “Haech…haech!” Goloknya diacungkan ke arah
anak-anak yang tadi menakalinya.
Anak-anak spontan belingsatan. Mereka berlari tunggang langgang
ketakutan. Ada yang berteriak-teriak minta tolong. Langkah Mujenah berakhir di
arena permainan taplak. Ditancapkannya dengan posisi berdiri golok ayahnya itu.
Mujenah memandang ke arah perginya anak-anak tadi sambil berkacak pinggang. “Yaaah takut!” teriaknya.
Mujenah puas, lalu dia mencoba bermain taplak sendiri.
Sejak peristiwa itu tak ada lagi anak-anak yang berani
menakalinya, juga tak ada lagi yang berani mengolok-olok ataupun menghinanya
secara terang-terangan. Namun kebanyakan anak-anak enggan bermain bersamanya.
Mereka sepertinya trauma, khawatir kalau-kalau Mujenah mengamuk secara
tiba-tiba. Hanya seorang anak laki-laki anak bibinya yang bersedia menemaninya
bermain. Anak laki-laki itu kerap menemaninya bermain bola. Sekali-sekali
Mujenah diajarinya membaca dan berhitung dengan menulis di tanah memakai kayu ataupun jari tangan, walaupun tak
membuahkan hasil yang menggembirakan. Mujenah pun tetap saja tak bisa tulis
baca.
Karena kondisinya yang tidak seperti kebanyakan anak
seusianya, Mujenah tidak sekolah. Kepala sekolah pernah menolak ketika Mujenah
hendak didaftarkan menjadi murid baru kelas satu. Disarankannya agar Mujenah
disekolahkan di sekolah luar biasa. Namun mustahil bagi kedua orang tuanya
karena selain kondisi ekonomi mereka tidak memungkinkan juga SLB hanya ada
dekat pusat kota kabupaten, terlampau jauh dari kediamannya. Karena
kekurangannya itulah Mujenah dijuluki sebagai perempuan tujuh puluh lima
persen. Mujenah dikaruniai kondisi mental kurang normal.
***
Mujenah beranjak dewasa. Fisiknya tumbuh relatif normal. Dia
ingin selalu melibatkan diri dalam pekerjaan ibunya. Keseharian ibunya
menganyam tikar pandan untuk dijual ke pasar atau melayani pesanan. “Tak
usahlah kamu ikut-ikut menganyam tikar, cuma bikin kacau. Ibu bisa dimarahi
orang karena hasil anyamannya berantakan,” sergah ibunya ketika Mujenah hendak
mencoba mengerjakan anyaman tikar. Mujenah bersungut-sungut membela diri tak
jelas kata-katanya. Yang maksudkannya dia ingin diperbolehkan menganyam karena
menurutnya dia juga bisa. Mujenah kerap ditugasi ibunya mengerjakan pekerjaan
dapur. Untuk sekadar masak air, mananak nasi, menggoreng ikan asin, dan membuat
sayur asam dia mampu.
Kebutuhan Mujenah meningkat. Dia butuh biaya untuk memenuhi
berbagai macam kebutuhannya semisal membeli pakaian. Cara yang paling efektif
adalah bekerja. Beruntung saudara sepupunya yang menjabat kepala desa
membutuhkan pembantu rumah tangga.
Sekadar memasak, mengepel dan mencuci pakaian dia dapat melakukannya.
“Nanti ibu antar kamu ke rumah paman lurah. Kamu bekerja di sana saja, masak,”
janji ibunya.
Karena masih ada ikatan saudara, keluarga kepala desa dengan
mudah dapat menerima kehadiran Mujenah. Mereka memahami keadaan Mujenah.
Hari-hari dilaluinya dengan giat bekerja. Apapun yang bisa dia kerjakan maka
dikerjakanlah. Gaji pertama diterimanya dengan suka cita. “Tilimakacih, tilimakacih!”ujarnya dengan senyum lebar dan hidung
mengembang. Dengan gaji itu dia merasa dihargai, hidupnya punya arti. Saat itu
pula dia minta pulang. Dikabarkanya hal itu kepada ibu-bapaknya.
Bulan ketiga, suatu malam saat itu keluarga sang kepala
desa menghadiri undangan perkawinan
warga, di luar gerimis ceplas-ceplis. Hawa dingin menyeruak ke setiap sudut
ruang rumah sang majikan. Mujenah disergap Santani tiba-tiba. Dia terjekut luar
biasa. Santani begitu buas di hadapannya. Pergulatan hanya berlangsung sesaat.
Mujenah tak dapat menandingi kekuatan tenaganya. Gerak Mujenah terkunci. Remaja 17-an itu begitu kuat mendekap
Mujenah. Mujenah gagal mempertahankan kehormatannya. Hatinya remuk redam. Sang
pecundang kabur dengan sepeda motornya. Anak itu terbiasa pergi malam pulang
pagi. Santani adalah adik sang kepala desa, satu ayah beda ibu. Dia tinggal di
rumah itu, sekolahnya dibiayai sang kakak. Sejak kehadiran Mujenah tak pernah
dia menaruh simpati ataupun kebencian. Sikapnya biasa-bisa saja. Pengaruh
alkohol membuatnya gelap mata.
Mujenah menangis sendiri. Mendadak malam berubah muram,
menyusul hujan dengan derasnya mengguyur seisi desa. Mujenah tak dapat
mengatakan ihwal nasib buruknya itu kepada sang majikan juga kepada siapapun.
Namun Mujenah menyimpan dendam, dia
berharap kapan-kapan dapat membalas kebiadaban saudara jauhnya itu.
***
Mujenah menikamkan belati
bertubi-tubi hingga Santani rebah, meregang nyawa. Tak ada perlawanan
berarti dari Santani. Peristiwa itu kemudian diketahui sang majikan sepulang
menghadiri acara peresmian balai warga. “Siapa pelakunya, Dek, siapa? Kamu pasti tahu karena kamu di rumah saja,” desak sang
kepala desa dengan suara memadati seisi ruang. Mujenah menggeleng, diam, tak
tahu harus menyampaikan apa. Malam bertambah muram kendati gerimis telah usai.
Angin dari luar menusuk lewat jendela. Santani dilarikan ke rumah sakit
kabupaten.
Gegerlah. Warga desa dikejutkan oleh kabar bahwa telah
terjadi peristiwa pembunuhan di rumah kepala desa. Korbannya adalah Santani,
adiknya. Investigasi polisi mengarah kepada Mujenah. Mujenah kemudian dijemput
polisi untuk diamankan. Dia meronta ketakutan sampai kehabisan tenaga. Dua
petugas polisi terlampau kuat tenaganya. Beberapa hari Mujenah berada di kantor
polisi untuk menghindari ha-hal yang tidak dikehendaki, selanjutnya dibebaskan.
Kondisi keterbelakangan mental menjadi alasan dibebaskannya Mujenah. Mujenah
sendiri tak mengerti alasan dirinya dipulangkan.
Mujenah kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.
Keduanya menerima Mujenah layaknya kembalinya anak yang hilang. Hari-hari dihabiskannya
di rumah bambu. Janin yang tertanam di rahimnya lambat laun membesar. Mujenah hamil. Ngidamnya petis tongtolang nangka. Dia tampak risih
dengan kondisi perutnya yang membuncit. Kehamilannya mendapat reaksi beragam
dari orang sekampung. Namun pada acara tujuh bulanan yang dilangsungkan dengan
cara sederhana sejumlah tetangga dan kerabat turut hadir mendoakan. “Siapa nama
anaknya nanti?” goda seorang perempuan basa-basi. Mujenah mesem-mesem. Wajahnya tampak semringah.[]
Komentar
Posting Komentar