[cerpen] Pesona Ramadhan
Usman Hermawan
Omset
penjualan pakaian di satu kios dan berbagai
jenis barang kelontong di kios lainnya
menurun. Seperti ada yang mempropokasi pelanggan kian sedikit yang
datang. Pemasukan terus mengecil, sedangkan pengeluaran cenderung naik, belum lagi
tagihan yang harus dipenuhi. Usahaku
gulung tikar. Kios dan rumahku disita
bank untuk menutupi utang yang tak terbayarkan. Sedangkan istriku lebih dulu
di-PHK tanpa mendapat pesangon karena pabrik sepatu tempatnya bekerja mengalami
kebangkrutan.
Antiklimak
ini terjadi setelah lebih dari sepuluh
tahun aku berada di puncak kejayaan. Inilah perputaran roda. Aku sedang berada
di bawah. Kesulitan keuangan berimbas kepada banyak hal. Kami terpaksa tinggal
beremper di rumah orang tuaku. Hingga dua tahun berjalan keadaan belum juga
membaik. Jadi tukang ojek, mengayuh becak, mendagangkan ayam pemberian teman,
menjadi pengejeg di tempat hajatan,
kuli bangunan, berjualan mainan anak-anak, hingga kini berjualan macam-macam perangkat ibadah seperti sajadah,
tasbih, aneka macam peci dan minyak
wangi. Hasilnya, dicukup-cukupkan sekadar untuk menyambung hidup.
Nela,
istriku semula berusaha tegar menghadapi keadaan ini. Tak pernah aku mendengar keluh penyesalan keluar dari
kedua bibirnya yang tipis. Justru dialah yang berusaha meneguhkan hatiku untuk
terus bangkit dari keterpurukan. Itu
sebabnya aku tak begitu peduli ketika dia mengungkapkan sedikit isi keluhnya
hingga terakhir dia ingin pergi dari rumah. “Kang Darman, aku akan pergi, jauh.
Titip anak-anak!” ujarnya lirih seraya menerawang ke langit kosong yang mulai
digelapi malam. Aku tak menganggap
serius bicaranya itu. “Kayak orang mau mati besok saja!” gumamku sembarang. Tak
kulayani dia bicara sendiri. Istriku
baik-baik saja kelihatannya, tak ada indikasi
bahwa dia sakit, juga tak ada perselisihan yang penyebab batinnya
terganggu. Berbagai pekerjaan rumah
dikerjakannya sebagaimana biasa. Dengan siapapun dia masih seperti biasa,
bertegur sapa. Bahkan terhadap peminta-minta yang datang dia sempat memberinya
uang recehan. Jadi tak ada alasan bagiku untuk mengkhawatirkan ucapannya yang
kuanggap ngasal.
Magrib telah berlalu hampir setengah
jam. Kuambil Yassin, kubaca hingga selesai. Aku menguntai doa, segera dia mengamini. Riang anak-anak mengaji di musholah Haji Musa
masih terdengar lamat-lamat. Suara burung kecruk
di kebun bambu belakang rumah mulai berpacu menyusun irama bertempo cepat
seakan memacu malam bertambah kelam. Tak ada percakapan serius malam itu.
Televisi dihidupkan hanya sebentar. Tak ada hal-hal yang tak wajar, semua
berjalan seperti biasa. Tak ada pertengkaran, tetapi juga tak ada romans malam
Jumat saat itu. ”Neng, bade?” Aku bercanda, tetapi pertanyaan yang biasa
kugunakan sebagai basa-basi pembuka cumbuan itu
tak mendapat respon. Kuanggap hal
itu biasa saja, tak perlu dipermasalahkan.
Esok
paginya aku berangkat untuk menggelar sedikit dagangan di pasar Bonang. Hari
itu aku tak pulang dulu, langsung shalat
Jumat di masjid dekat pangkalan angkot dengan harapan dapat menggelar dagangan
pas bubaran shalat jumat. Alhamdulillah,
beberapa peci dan tasbih juga minyak wangi terjual. Rejeki Jumat itu menjadi
energi pendorong yang kuat bagiku untuk terus bangkit dari keterpurukan. Aku
tak menduga kalau Jumat itu juga menjadi awal perubahan nasib keluargaku,
perubahan yang tak mengenakkan. Setibanya aku di rumah, istriku tak ada. Pergi. Tak jelas entah kemana. Aku terheran-heran.
Tak ada pesan yang ditinggalkan.
Orang-orang sekitar tak ada yang tahu. Kedua anakku juga tak tahu ke
mana ibu mereka pergi. Mungkin dia pergi ketika anak-anak lengah bermain.
Kuperhatikan keadaan rumah tertata sebagaimana mestinya, rapi. Aku tak mengira bahwa kepergiannya sore itu untuk tidak
kembali. Aku lantas mencari dan bertanya
sana-sini, tak ada yang tahu.
Komantar
orang-orang sekitar sungguh tak menenteramkan
hatiku. Pengang telingaku mendengar ocehan mereka. Tak kuambil hati
pembicaraan mereka. Dihadapan mereka aku bersikap biasa untuk mengesankan bahwa
aku tidak tersinggung walau sesungguhnya hatiku dongkol juga. Selanjutnya, aku
terus melakukan pencarian. Setelah
sepekan tak juga kembali, aku cari istriku di rumah orang tuanya di Lampung
Selatan. Tak ada. Bukannya dibantu, aku
justru diberondong dengan banyak pertanyaan yang menyudutkanku.
Beberapa teman yang pernah sepekerjaan di pabrik
sepatu kudatangi. Sejumlah pabrik yang
memungkinkan istriku bekerja di situ aku
sasari saat jam istirahat dan jam pulang. Melelahkan. Banyak energi yang terbuang, selain
pekerjaanku terbengkalai. Hasilnya selalu nihil. Tak kudapati istriku.
Senja
mulai turun saat aku merapat ke pabrik Panarub di Pasar Baru. Pandanganku terarah ke setiap wajah
perempuan yang hampir mirip istriku. Melihat para karyawati saat bubaran aku teringat Nela gadis rantau yang menawan
hatiku belasan tahun lalu ketika pabrik Doson tempatnya bekerja tengah berjaya,
karyawannya berjumlah ribuan. Aku berjualan di situ. Saat berjualan di situ
pula usahaku mencapai jayanya. Itu sebabnya aku cukup percaya diri menghadapi
perempuan yang kusukai. Kukenalkan namaku,”Darman!” Dengan bangganya dia menunjukkan name tag-nya. “Nela!” balasnya. Di bawah
namanya tertera kata packing. Tak
mengalami kesulitan aku berkenalan dengannya. Bibir tipisnya menyungging senyum
begitu manis. Sinar matanya yang jernih
lembut menusuk jantungku. Aliran darahku terasa mendesir-desir
karenanya. Itu hari kelima dia bekerja.
Hampir
setiap hari kurasakan debaran jantung karena pesonanya. Tak sukar untuk sekadar
memandangnya setiap kali karyawan bubaran karena dia selalu menyapaku walau sehelo. Aku makin yakin bahwa aku tak
bertepuk sebelah tangan. Itu sebabnya aku lantas punya keberanian untuk
mengenalnya lebih dekat.
“Boleh
aku datang ke kontrakanmu?”
“Kapan?”
“Nanti.”
“Kenapa
mesti nanti. Sekarang saja. Bareng. Ayo!”
Lampu
hijau menyala terang di matanya. Pertanda aku boleh maju. Kutitip dagangan kepada teman yang berjualan
di dekatku setelah kurapikan lebih dulu.
Belum sampai pada asyiknya
bercengkerama di kontrakan Haji Mad Soleh itu, seseorang nenepuk bahuku
dari belakang. “Kang Darman, lagi ngapain?”
Ah, Si Uda Buyung rupanya, pedagang anting-anting yang berjualan dari
pabrik ke pabrik yang kukenal sewaktu berjualan di PT Doson. Buyarlah lamunanku. Senja segera berganti
malam. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Kemacetan di sekitar pabrik Panarub
lambat laun terurai. Lalu-lintas kendaraan kian lancar. Bis pengangkut karyawan semua telah
diberangkatkan. Tak kutemui Nela, istriku di situ.
Soal
Nela, percintaan kami tak mengalami
hambatan berarti. Dalam waktu singkat gadis rantau itu dapat kumiliki. Kendati
aku tak mengalami kesulitan berarti, sama sekali aku tak menganggapnya sebagai
perempuan gampangan. Aku tahu simpatinya tak terbagi kepada setiap lelaki. Aku
suka pada kegigihannya, juga kebaraniannya menghadapi setiap persoalan hidup.
Namun kiranya sifat itu pula yang membuatnya
berani mengambil keputusan untuk meninggalkanku. Lelah mencarinya, aku
menyerah. Sampai lebih dari setahun, kupikir aku harus ikhlas menerima ujian
ini.
***
Senin, 12 April, ketika pagi masih terlampau
dini, beberapa burung masih mengumbar
kicaunya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh
kedatangan Nela. Dia datang diantar ojek.
“Masyaallah, kemana saja istriku ini!” seruku dalam hati. Dia tampak segar. Oh, dia masih istriku.
Tanpa kata, kami berpelukan. Aku merasakan kehangatan seperti ketika kami baru
menikah. Perasaan bahagia seketika menjalari setiap relung hatiku. Aku bingung memilih kata, demikian juga dia. Kedua anakku pun senang bukan main. Mereka
kangen pada ibunya. Tak ada perasaan
marah pada diriku terhadap dia. Justru rasa rindu yang terlalu yang ingin
kutumpahkan kepadanya. Aku terkesima, tiba-tiba aku menjadi sangat pemaaf.
Kekecewaanku atas kepergianya hilang seketika.
Seketika
itu tangisnya pecah.“Aku minta maaf !” Air matanya tetes di bahuku, sisanya
menggenang di kelopak matanya. Kutatap matanya dalam-dalam. Aku memaafkannya.
Aku tanggapi dengan senyum permintan maafnya agar dia tak bertambah menyesali
kekeliruannya meningalkan keluarga berlama-lama. “Sudahlah, yang penting kau
sudah kembali. Anak-anak masih membutuhkanmu, sayang.”
Kiranya
ibu bernazar untuk mengadakan tasyakuran bila Nela kembali. Tak dapat kutampik
maksud ibu. Esok harinya kami menyelenggarakan syukuran. Semua kerabat yang
rumahnya dekat hadir. Demikian pula para tetangga. Mereka mengucapkan
selamat. “Terima kasih atas kedatangan
saudara-saudara untuk turut mendoakan kebahagiaan keluarga Darman.” Tutur ibu
mengakhiri acara syukuran malam itu. Aku
bersyukur keluargaku kembali utuh. Tak
pernah kutanyakan alasan kepergian istriku, khawatir dapat melukai perasaannya
atau membuatnya tak nyaman. Bagiku yang sudah, sudahlah.
Kebahagiaan
itu ternyata hanya sampai seumur jagung. Nela kembali menghilang. Dia pergi
membawa Nilesia, putriku. Mengetahui hal itu ibu marah besar. “Jangan dicari!
Jangan khawatir, masih banyak perempuan
lain yang mau jadi istrimu. Biarkan perempuan binal itu pergi. Biarkan!” Ibu bersungut-sungut melampiaskan
kekesalannya. Keadaan ini menyesakkan
dadaku. Aku tak bisa merelakannya begitu saja. Dia tetap sebagai ibu dari kedua
anakku. Jika ada waktu luang kucari ke
pabrik-pabrik setiap jam pulang atau pagi sebelum karyawan masuk, juga kucari
kemana aku sanggup mencarinya. Tanpa kuminta teman-teman dan saudaraku membantu
mencarikan. Hingga tahun-tahun berikutnya, teramat sering aku menerima laporan
bahwa mereka telah mencarinya namun tak berhasil.
Kini
sudah berjalan lima tahun, aku telah belajar untuk ikhlas
menerima kenyataan. Duka laraku berangsur-angsur pulih berkat wejangan-wejangan
ustadz Badru Khotim, sahabatku. Dia kerap bertandang ke rumahku meski tanpa
diundang. Senin lalu awal Ramadhan,
melalui sahabatku itu pula datanglah seorang perempuan muda yang ditinggal mati
suaminya dua tahun lalu karena kecelakaan kerja di pabrik kertas. Dia lumayan cantik, tak ada kekurangan yang menjadi alasan aku
tidak menyukainya. Bersedia pula dia dinikahi. Melihat aku tampak sangsi,
ustazd Badru Khotim memberi dukungan.
“Apa lagi yang antum pikirkan,
Darman. Antum masih muda, masih punya
masa depan. Jangan takut, soal rezeki Allah yang mengatur. Antum mau pilih yang bagaimana lagi? Tapi ana tidak memaksa, keputusan ada di tangan antum. Kalau boleh ana sarankan,
antum jangan menutup hati. Jangan
menolak karunia Allah. Ini hari baik bulan baik. Menyegerakan menikah di bulan
ramadhan ini bukan hal yang dibenci
Allah.”
Bayangan Nela masih melintas-lintas dalam ingatanku. Bibir
tipisnya menyungging senyum seakan mengisyaratkan bahwa dia bakal kembali. Ah,
berapa lebaran lagi aku harus menanti, pikirku. Aku ingin kepastian, seperti
pastinya tiba lebaran. Akhirnya kuputuskan, kuturuti saran sahabatku itu.
Sungguh ramadhan tahun ini penuh pesona. Bersama Saodah, istriku, kunikmati
karunia ilahi.[]
Komentar
Posting Komentar