[cerpen] Tamu Tak Diundang
Usman Hermawan
Kicau burung cerukcuk
masih ramai di pohon-pohon tepi sungai Cisadane depan rumah Darji.
Beberapa burung kecil berkeciak menimpali dengan bebasnya. Gelap sisa malam
masih menggumpal di rerimbunan dan semak-semak. Gerimis semalam meninggalkan
butiran air di dedaunan juga rumputan. Udara sejuk terbalut kabut tipis. Angin
menyelinap di ketiak pohon kaktus. Baling-baling bambu yang terpasang di puncak
pohon mangga tak berputar. Langit dengan sedikit awan masih menjanjikan hujan.
Namun hujan semakin sukar diprediksi. Hujan deras sore kemarin tidak ditandai adanya awan pagi
harinya. Sementara itu, jalan beraspal sekitar lima puluh meter di belakang
rumah Darji belum menunjukkan keramaian. Hanya sesekali terdengar sepeda motor
melintas. Sementara lampu depan rumah Darji masih menyala.
“Assalamualaikum!”
Darji tak segera bergeming dari tidurnya meskipun akhirnya
ia mendengar juga tamunya mengucapkan salam disertai ketukan pintu sampai
beberapa kali. “Siapa Bu?”
“Tidak kenal.
Laki-laki. Lihat sajalah!” bisik istrinya usai mengintip dari jendela kamar.
Dengan sedikit kesal karena sisa tidurnya terganggu, Darji ke luar kamar.
Dibukanya pintu depan. Ia langsung mengenali tamunya, Tarjo, teman semasa kuliah.
Sejak lulus kuliah belum pernah mereka bertemu. Kedatangan tamunya yang
di luar dugaan, sungguh mengejutan sekaligus mengherankan. Tamunya langsung
merangkul, Darji mengimbangi meskipun terasa canggung. Ia tak biasa berangkulan
dengan sipapun, kecuali dengan istrinya. Ini rangkulan pertama sejak mereka
saling kenal.
“Bagaimana
ceritanya kau bisa sampai di sini?”
Yang
ditanya tak segera menjawab. Darji menaruh rindu pada sahabatnya ini. Kabar
kesuksesan Tarjo pernah didengarnya beberapa tahun lalu dari teman-teman seangkatannya.
Darji memaklumi jika Tarjo sukar ditemui karena memiliki kesibukan dengan jam
kerja yang padat. Tarjo eksis di bidang yang bukan jurusan kuliahnya. Meskipun
kuliah jurusan keguruan, Tarjo bekerja di perusahaan ekspor impor di bilangan
Kuningan, Jakarta. Darji sempat membayangkan
bagaimana Tarjo berpenampilan saat berangkat kerja dengan gaya kaum
eksekutif. Walau belum mempunyai mobil pribadi, minimal berangkat dan pulang
kerja naik taksi. Belum lagi gajinya,
tentu jumlahnya belasan kali lipat dari gaji guru honorer di sekolah pinggir
kota seperti dirinya. Tasnya yang besar pasti berisi banyak dokumen penting
perusahaan. Berbeda dengan dirinya, paling-paling tas besarnya berisi buku
pelajaran dan kertas ulangan para siswa yang belum sempat dikoreksi.
Namun ironis, saat ini penampilan tamunya jauh dari yang ia
bayangkan.Tak ada tanda-tanda sebagai eksekutif muda sukses seperti yang pernah
diceritakan teman-teman seangkatannya. Kostum sekenanya. Rambut kusut dan
mata memerah akibat kurang tidur. Wajahnya kusam seperti karung goni tanpa isi.
Senyumnya menyiratkan kegetiran. Tatapannya kosong, layaknya tentara kalah
perang. Derita apa gerangan yang mendera, dalam hati Darji bertanya-tanya.
Walaupun berusaha bersikap tegar tetap saja kesusahan sahabatnya ini tak dapat
disembunyikan.
“Aku tahu alamatmu dari album wisuda..”
“Di situ kan tertulis alamat rumah
orang tuaku !”
“Ya, tadi malam aku datang ke sana.”
“Lantas?!”
“Mohon maaf, aku menginap di sana. Aku menumpang
tidur di musholah ayahmu.”
“Ditemani nyamuk dong!”
Darji terengah-engah atas tindakan Tarjo yang dinilainya
nekad. Tempat tinggal orang tua Darji berjarak
sekitar empat kilometer ke selatan. Dalam hatinya kembali
bertanya-tanya. Namun ia tidak berani menerka hal yang tidak-tidak.
Burung-burung belum menyudahi kicaunya. Hawa dingin dari
luar masuk di ruang tamu. Udara terasa segar. Darji berusaha menyembunyikan
rasa penasarannya atas maksud kedatangan tamunya. Ia hafal benar karakter
sahabatnya ini, jika punya maksud tekadnya tak mudah surut. Hal itu terbukti
ketika Tarjo berburu cinta seorang gadis jawa yang kini jadi istrinya. Sampai
ke lubang jarum sekalipun diburunya. Prasangka buruk atas kedatangan Tarjo tak
mudah dihapus begitu saja meskipun ia sadar tak ada sesuatu yang bisa diminta paksa,
pinjam uang misalnya. Uang, dia tak
punya. Honor bulanan mengajar tiga puluh
jam di dua sekolah swasta sudah terpakai. Hartanya yang sedikit
berharga cuma sepeda motor bebek keluaran sembilan tahun lalu yang selalu
dipakainya pergi-pulang mengajar.
Akhirnya tanpa ditanya, tamunya menjelaskan maksud
kedatangannya. Istrinya melahirkan. Kista sekaligus rahimnya pun diangkat. Masa
kritis istrinya sudah lewat. Sekarang, butuh uang untuk membayar biaya
rumah sakit. Tarjo mengeluhkan mahalnya biaya rumah sakit. Tak ada kebijakan
pihak rumah sakit untuk mengurangi biaya yang mesti dibayarnya. “Pulang kampung percuma saja. Panen bawang masih
lama. Tak ada yang bisa diuangkan di sana. Untuk itu aku mohon bantuanmu,
pinjami aku uang, tolong!” pintanya memelas.
“Kau tidak punya tabungan ?”
“Sedikit, tak cukup.”
“Kabarnya gajimu lumayan besar. ”
“Hanya cukup untuk biaya hidup. Maklumlah, hidup di
Jakarta.” Tanpa ditanya Tarjo merinci pemasukan yang diterimanya setiap bulan
juga pengeluarannya. Sebelumnya Darji mengira sahabatnya ini orang yang
paling berhasil di antara teman seangkatannya. Pakaian berdasi, duduk di depan
komputer, di perusahan asing pula. Semula Darji salut atas nasib baiknya. Pikir
Darji, mestinya dia tidak akan bermasalah dengan keuangan asalkan bisa
mengelolanya.
“Gajimu itu dua belas kali lipat dari honorku mengajar.
Bukan aku tak mau meminjamimu uang. Aku sedang tak ada uang. Kalau
pun aku baru terima honor, uangku tak cukup untuk sekedar meringankan bebanmu,
kebutuhanmu terlampau besar.”
“Tolonglah Ji, kali ini saja. Aku mohon dengan sangat !”
“Untuk kebutuhn sehari-hari saja kembang kempis. Aku
prihatin dengan keadaanmu, Jo.”
“Pinjam di tetangga, barangkali ? Aku akan
mengembalikannya.”
“Maaf, Jo. Tidak berani.”
Darji tak dapat memenuhi permintaan tamunya. Usai sarapan
nasi uduk Tarjo berpamitan. Kembali dengan tangan hampa.
Dua hari kemudian Pak Sarja, ayah Darji datang membawakan
sekantong jambu cingcalo kesukaan istrinya yang sedang ngidam. Pak Sarja
bercerita ihwal kedatangan Tarjo. Kepada Pak Sajra, Tarjo mengaku ditinggal
kabur istrinya bersama lelaki lain dengan membawa semua harta miliknya bahkan
anak semata wayangnya sehingga ia menderita lahir batin. Hidupnya
menggelandang. Darji terperanjat mendengar cerita karangan Tarjo.
“Dia pinjam uang ?” terka Tarjo.
“Bapak bukan meminjamkan, melainkan hanya membantu. Kasihan,
temanmu itu dalam kesulitan. Bapak cuma punya lima ratus ribu rupiah. Adikmu
Ramli menyumbang tiga ratus ribu rupiah.”
“Si Roni ?”
“Karena tak ada uang, ya tak menyumbang. Si Rasdi juga.”
Darji yakin bahwa ada yang tak beres
dengan Tarjo. Namun ia tak enak hati mengatakan hal itu kepada ayahnya. Dia
tidak mau ayahnya kecewa karena ulah temannya itu. Darji mengucapkan terima
kasih atas bantuan Pak Sarja terhadap temannya.
“Tidak berubah pula watak teman yang satu ini,” pikir Darji membatin. Segera Darji menelepon nomor yang tertera
pada secarik kertas yang ditulis Tarjo. Tidak tersambung. Diulangnya sampai
tiga kali: nomor yang anda hubungi belum
terpasang. Keberadaan Tarjo tak bisa dilacaknya. Tak ada alamat jelas yang
diberikan kepadanya. Dalam upacara hari guru di lapangan Ahmad Yani, Darji
bertemu dengan beberapa teman seangkatannya yang bertugas di beberapa sekolah di Tangerang. Salah satu
dari mereka bercerita banyak mengenai Tarjo. Tarjo meninggalkan utang di
sejumlah teman dengan jumlahnya bervariasi
dan alasan peminjaman berbeda-beda pula. Ada pula kabar lain bahwa Tarjo
di-PHK. “Ah, Tarjo. Semoga Tuhan membimbingmu ke jalan yang diridhoinya,” harap
Darji lirih.[]
Komentar
Posting Komentar