[esai] Layar Tancap


Usman Hermawan 


Saya masih ingat pertama kali saya menonton film layar tancap pada tahun 1975. Ketika itu saya berusia lima tahun. Tempatnya di lapangan berumput di kampung tetangga, kampung Dukuhpinang, yang sekarang ditempati yayasan Al Asmaniyah. Proyektor tunggal dan spekernya  dipasang di mobil milik badan pemerintah yang bertugas mengampanyekan program Keluarga Berencana (KB). Selain film iklan KB diputar pula film yang tokohnya para binatang. Saya tidak paham, entah apa judulnya, tapi orang-orang menyebutnya film kimos. Dalam film itu tokoh bangsa tikus dengan cakatan memetik kelapa. Selebihnya saya tidak begitu ingat. Belakangan setelah sekian tahun kemudian saya baru mengerti bahwa ada film kartun berjudul Mickey Mouse. Ketika itu untuk film jenis kartun, apapun tokoh dan judulnya, orang-orang menyebutnya film kimos.
Selain film KB, lain waktu di tempat itu ada pula film rokok, yakni  pemutaran film yang dilakukan oleh produsen rokok. Pemasaran dan pengiklanan rokok dengan cara memutar film menjadi tren kala itu, terutama di wilayah Tangerang. Ketika itu pengiklannya atas nama PT Gentong Gotri Semarang. Jeda film digunakan untuk berjualan rokok. Durasinya lebih banyak digunakan untuk berjuallan rokok daripada pemutaran film. Pembelinya bebas, boleh siapa saja. Anak-anak pun boleh membelinya.
Tahun 1978 saya mulai mengalami nonton film layar tancap pada acara hajatan warga kampung saya, yakni kampung Gurubug kabupaten Tangerang. Selanjutnya saya makin sering mendengar orang hajatan dengan hiburannya film layar tancap. Saya bersama teman juga sering nonton film, bahkan ke kampung lain hingga radius empat kilometer berjalan kaki. Itu malam hari, saat listrik belum masuk kampung. Kegelapan di kawasan tertentu yang dirasa seram membuat kami terpaksa harus beruji nyali baik ketika berangkat bakda isya maupun saat pulang dini hari.
Film layar tancap menjadi tetanggapan favorit bagi orang hajatan sebelum dan sesudah tahun 1980. Film-film yang dibintang Rhoma Irama sempat mendominasi, menyusul film-film yang dibintangi Benyamin S. dan Ida Royani. Keberadaan film layar tancap berdampak signifikan pada nasib seni tradisional seperti lenong, topeng sunda, wayang golek dan jaipongan, bahkan orkes dangdut.
Di masa-masa awal kebangkitan layar tancap, proyektor yang digunakan hanya satu. Setelah diputar, film digulung secara manual sekitar seperempat jam. Saat itu diputar musik yang umumnya dangdut. Dalam satu kesempatan hajatan biasanya diputar empat judul film. Jika film yang tengah diputar mengalami hambatan seperti putus, penonton dengan mudah emosi dan langsung menghakimi. Layar pun dirobohkan, selanjutnya disobek dan dibakar. Tak ada perlawanan dari pemilik maupun dari empunya hajat. Pertunjukan berakhir sebelum waktunya. Sadis!
Persaingan pun terjadi. Pengusaha layar tancap berinovasi. Maka proyektor pun jadi dua, sehingga penonton menyaksikan film tanpa jeda. Film diputar nonstop. Kami menyebutnya film mabak. Film mabak inilah yang sempat menjadi primadona bagi para pecandu film layar tancap. Dalam perkembangannya, semua pertunjukkan film layar tancap menggunakan dua proyektor. Istilah mabak pun memudar.
Seiring waktu, grup seni tradisional mati suri dan selanjutnya bubar total peralatannya entah dilego kemana. Satu yang saya ketahui masih eksis hingga hari ini yakni topeng sunda Putra Tolay, bermarkas di Parigi, Sukabakti, Curug, kabupaten Tangerang. Sang putra melanjutkan jejak ayahnya, almarhum Tolay. Suatu ketika, Tolay pernah pula tampil di TVRI.
Berjayanya film layar tancap seirama dengan eksisnya film nasional di bioskop-bioskop yang merambah hingga di wilayah kecamatan, bahkan tingkat desa. Sebaliknya, ketika film nasional dikatakan lesu yang terjadi adalah bangkrutnya bioskop-biskop kelas bawah, menyusul berkurangnya jumlah bioskop di kota-kota besar. Pengusaha layar tancap pun banyak yang gulung tikar.
Pertunjukkan layar tancap pun jarang ada. Di tengah langkanya film layar tancap yang layarnya mencapai 3 x 4 meter, timbul kerinduan sebagian warga ingin nonton layar tancap. Maka muncullah layar tancap versi baru, serba mini. Layarnya sekitar 2,5 x 2 meter, mengunakan in vocus, film dalam format DVD atau usb.
Namun film layar tancap macam ini pada momen hajatan cenderung tidak dijadikan sebagai acara pokok. Seperti pada hajatan di rumah Bang Jana di kampung Gurubug. Acara puncaknya Minggu malam (31/1/2016), tetanggapannya dangdut. Dua malam berturut-turut sebelum acara puncak digelar pertunjukkan layar tancap. Filmnya beragam, film Indonesia dan asing. Bahkan sempat dua kali diputar film Jodoh Darurat (Jodar) garapan Atta Cs., berdurasi lebih dari setengah jam. Para pemainnya pun warga setempat.
Film layar tancap macam itu kini bisa menjadi alternatif hiburan dalam acara hajatan kecil-kecilan maupun pada momen tertentu. Namun sikap selektif dari empunya hajat maupun pemilik perangkat juga diperlukan, agar film yang diputar layak ditonton semua umur.[]









Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia