Berburu Eksotika Bandar Lampung dan Pahawang [Sebuah Catatan Perjalanan]
Langkahku tertinggal jauh oleh dua belas orang pemuda
kampungku pada tahun 1980-an yang judulnya merantau ke Lampung. Ketika itu aku
masih SD kelas enam. Saat itu jalan tol belum ada. Kabarnya mereka bekerja
menjadi pelayan toko. Begitu pulang ke Kampung Gurubug, salah satunya ada yang
istrinya memakai gelang emas di kaki. Kabar itu menyebar dan menjadi buah bibir,
seisi kampung jadi tahu. Itulah simbol kesuksesan terbesar dalam sejarah ketika
itu. Singkat cerita, hanya satu orang yang bernama Anin (usianya sekira dua
sampai 4 tahun di atas aku) yang kemudian beranak pinak. Entah di kawasan mana.
Pernah suatu waktu, mungkin tahun 2017, aku berada di dekat
pelabuhan Merak. Ketertarikan untuk menyeberang ke pulau Sumatera nyaris tak
tertahankan, sehingga dari Tangerang aku mendekat ke pelabuhan itu. “Pak kalau
saya nyeberang ke Bakauheuni lalu balik lagi kira-kira sampai sini jam berapa?”
tanyaku kepada lelaki berumur. Jawabnya, “Sekitar pukul dua belas malam.”
Seketika terpikir sulitnya mendapat kendaraan untuk pulang. Enggan menanggung
risiko yang merepotkan terpaksa aku batalkan keinginan itu. Tak jelas entah
kapan aku bisa menginjakkan kaki di pulau Sumatera, minimal Bakauheni atau Lampung.
Tentu saja keinginan itu tak pernah sirna karena jaraknya dari Tangerang ke
Merak lalu menyeberang bukan perjalanan yang teramat jauh. Kabar tentang
destinasi wisatanya yang indah juga menjadi daya tarik. Karena tak ada yang
ditujulah sehingga aku tidak juga bisa ke sana.
Sekian lama kemudian, Bu Indah Cs, berencana
berwisata ke Pulau Pahawang, Lampung. Seketika aku menyatakan bersedia ikut.
Soal biaya pastinya akan aku usahakan. Kukira ini kesempatan penting yang aku
nantikan. Tiba waktunya Jumat siang (26/5/2024), titik kumpul seluruhnya di
Dahung dekat pintu tol Karawaci. Dua mobil yang digunakan, yakni mobil Bu Indah
dan mobil Pak Deni. Yang disopiri Pak Diky memuat Bu Indah, Pak Deden, Pak
Agus, Bu Siti Fatimah, Bu Fadilah, , Bu Agustin, Bu Eni. Dan yang disopiri Pak
Deni memuat aku (Usman), Pak Ricky, Bu Qori, Bu Laely, Bu Dini, Bu Retno. Semuanya
guru SMAN 15 Tangerang.
Tiba di pelabuhan Merak menjelang asar. Mobil kami masuk ke kapal
feri ekspres. Ini kali pertama aku naik kapal besar. Sansasi mulai terasa. Area
parkirnya memuat banyak mobil. Mamasuki area tempat duduk, kursi kosong masih
banyak. Masih ada penumpang ynag baru naik. Menunggu kapal berangkat waktu
terasa bergerak lamban. Kami duduk di tempat yang tersedia. Aktivitas lazim
dalam kalap mulai terjadi. Beberapa teman memesan makanan dan minuman. Jenuh
hanya dengan duduk. Kami kemudian berpencar.
Aku melempar pandangan ke luar kapal lalu mendekat ke
jendela. Pemandangan laut sayang jika dilewatkan. Perlahan kapal bergerak memutar
dan maju. Aku dan Pak Agus menunaikan salat asar. Ada masjid lengkap dengan
tempat berwudu dan toilet.. Areanya luas. Bakda salat asar aku pun mendatangi
teman-teman yang berkumpul di geladak atas perahu motor. Sungguh pemandangan
yang menyenangkan. Bagian atribut kakapal seperti benda berbentuk kapsul besar
pun merupakan pemandangan yang jarang aku temui sehingga masih merasa aneh.
Karena tak ada yang menjelaskan, aku hanya menerka-nerka. Momentum itu juga
kami manfaatkan untuk berfoto-foto dan video. Selama perjalanan kami lebih
banyak berada di geladak tersebut seraya menikmati panorama dan suasana senja yang kian memudar. Begitu kapal sandar kami telah
siap meninggalkan geladak parkian kapal.
Magrib tiba saat kami dalam perjalanan, di jalan tol Trans
Sumatera, menuju penginapan di Bandar Lampung. Tiba di penginapan Aquila Pamily
Homestay waktu sudah lewat isya. Lokasinya di Jalan Rasuna Said, Gulak Galik,
Kec. Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung. Terdapat tulisan: PERHATIAN! AQUILA
PAMILY HOMESTAY TIDAK MENERIMA TAMU UNTUK TUJUAN MELANGGAR NORMA YANG BERLAKU. Setelah
melapor kepada resepsionis masuklah kami ke ruang masing-masing dan istirahat
beberapa saat.
Tidak tersedia warung nasi di sekitar penginapan itu. Untuk makan malam kami pergi ke Restoran Padang Begadang II di Jalan Diponegoro No.164. Inilah kali pertama aku menemukan restoran padang menunya sekomplit itu. Ya, Cuma aku saja kali! Ruangannya lumayan besar. Menunya beragam. Karyawannya banyak. Setelah duduk dan menanti agak lama dikeluarkanlah beragam masakan yang di setiap wadahnya dibalut plastik. Rasa lapar membuat beragam menu itu bertambah menggiurkan. Rasanya aku ingin memperbesar kafasitas perutku untuk menyantapnya. Ya, namanya juga restoran tentu berbeda dengan warung nasi padang pada umumnya. Meskipun relatif murah tentu nominal yang dibayarkan lebih banyak. Namun intinya aku puas makan di situ semuanya pas di lidah. Tak ada yang perlu dikeluhkan. Untuk membayarnya kami berurunan. Mungkin jika ada yang mentraktir rasanya lebih enak lagi.
Sensasi malam terasa juga ketika kami berada di taman kota
sekitar Tugu Muli Mekhanai, seberang Masjid Agung Al Furqon Bandar Lampung.
Kami ngopi-ngopi dan ngobrol. Ini bukan hal yang biasa, malam, berada di tempat
yang jauh, juga pertama kali sehingga terasa spesialnya, seperti baru kenalan
dengan gadis cantik, kendati tidak menjanjikan cinta. Setelah puas berada di situ dalam beberapa
saat kami kembali ke penginapan.
Sabtu pagi dengan mobil kami bergerak ke suatu kawasan untuk
sarapan, melintasi bundaran di pusat kota. Ketemulah warung makan RAJA KETUPAT.
Kami menempati sejumlah meja dan kursi. Ada pengunjung lain yang makan di situ
dan membeli ketupat sayur di bungkus ada juga pengemudi ojol yang memesan.
Sepertinya warung tersebut amat laris.
Usai sarapan perjalanan dilanjutkan hingga sampai di kawasan
pantai tempat perahu motor-perahu motor bersandar. Jarak yang ditempuh tak
kurang dari lima puluh kilometer. Ada pengusaha jasa layanan wisata ke pulau
Pahawang yang telah dikontek sebelumnya. Kami dipakaikan rompi pelampung warna
kombinasi kuning merah biru, dan kacamata serta selang napas.
Pemandunya mewanti-wanti agar setiap peserta bertanggung jawab menjaganya. Kami
berjalan menuju satu perahu motor. Tidak melalui dermaga, kami pantai yang
landai, naik ke semacam bangku untuk
naik perahu motornya. Semua termuat di satu perahu motor berbahan kayu
dilengkapi sebuah diesel dan beratapkan terpal. Badan perahu motornya bercat
hijau merah. Juru kemudinya satu di depan dan satu di belakang.
Kami duduk rapi. Keseimbangan telah ditakar. Mesin dihidupkan
selanjutnya digas. Perahu motor bergerak. Sungguh sensasi yang jarang dirasakan
oleh kebanyakan orang darat seperti kami. Airnya tenang sehingga perjalanan tidak
mengkhawatirkan. Mata kami dipuaskan
oleh panorama laut dengan pulau-pulau yang hijau. Pulau-pulau tersebut tampak
seperti gunung. Dalam perjalanan itu sang juru kemudi merangkap sebagai
pemandu. Dia mengaku berasal dari Pontang, Serang. Tempat tinggalnya tidak jauh
dari dermaga tadi. Perahu motor tersebut
milik majikannya. Kali ini dia bekerja seharian untuk melayani rombongan kami.
Belasan menit berlalu. Perahu motor mendekati sebuah pulau.
Ternyata mengalami kerusakan komponen, yakni baling-balingnya. Seorang dari
keduanya kembali dengan perahu motor lain untuk mengambil suku cadang. Kami dipersilakan
turun. Perahu motor ditepikan. Kayu semacam bangku tadi diletakkan untuk
diinjak sehingga memudahkan kami turun. Pada bagian tidak jauh dari tempat kami
turun terdapat dermaga kecil yang bisa digunakan untuk naik dan turun penumpang.
Ada beberapa perahu perahu motor yang tersandar dan menaik-turunkan penumpang.
Tepian pulau dipenuhi pohon waru layaknya pagar. Tingginya
sekira lima meter. Semuanya miring ke perairan. Daunnya rimbun. Pertanda pulau itu
subur. Kendati bukan destinasi utama kami namun pulau kecil itu merupakan
destinasi wisata yang banyak pengunjungnya. Dari plang selamat datang yang kami
temui diketahuilah bahwa itu Pulau Kelagian Besar. Ada banyak gazebo yang bisa
dimanfaatkan pengunjung.
Dataran berpasir. Pulau tersebut merupakan salah satu dari
gugusan pulau di Teluk Lampung yang merupakan wilayah perairan dangkal Selat
Sunda. Di sinilah kami bermain di pasir putih, berfoto-foto, video dan ayunan,
seperti orang yang masa kecilnya kurang bahagia. Kondisi alamnya masih asri, menenteramkan
jiwa ketika memandangnya dengan rasa.
Sekira lebih dari setengah jam kemudian kami kembali ke perahu
motor yang sudah diperbaiki. Perahu motor digas dan bergerak ke area lain yang
menjadi tujuan. Sang pemandu terus memberikan penjelasan dan menjawab setiap pertanyaan
peserta. Berada di perairan dangkal itu tidak terasa sepi. Bisa disaksikan beberapa perahu motor yang melintas dan
tersandar di tepian pulau. Perahu motor yang kami tumpangi lalu merapat ke
sebuah pulau besar, ternyata itulah pulau Pahawang Besar. Pulau ini banyak
penghuninya. Kabarnya terdiri atas enam dusun. Seperti kata pemandu, Warga
pulau ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari belanjanya sebulan sekali
menyeberang darat, dekat pesisir tempat kami meninggalkan mobil tadi.
Sudah waktunya makan sehingga lapar mulai terasa. Sesuai
pesanan, kami disediakan makan dengan ikan laut. Walau sederhana tapi nikmatnya
terasa. Lingkungannya teduh, banyak pohon kelapa. Selesai makan dan salat kami
kembali ke perahu motor untuk menuju destinasi berikutnya.
Perjalanan ditujukan ke area bermain air. Ada geladak
terapung. Di atasnya ada warung yang menyediakan makanan jajanan. Beberapa
teman ada yang menyewa wahana donat boat.
Agak menyesal aku tak mengambil kesempataan itu, sehingga tidak sempat
merasakan sensasinya. Kami berendam dan berenang bagai katak di awal musim
hujan. Seperti umumnya orang darat,
ketika bermain air gembiranya bukan main. Walaupun tidak terampil berenang,
seperti aku, tapi bisa mengambang karena memakai rompi pelampung. Tanpa itu
pasti kelelep karena airnya dalam.
Berdiri di bebatuan yang tidak rata tak bisa tegak karena airnya
bergerak-gerak. Cukup lama kami bermain di situ. Setelah puas, kami berlanjut
ke destinasi berikutnya.
Pasir Timbul. Kedengarannya aneh. Kami pun penasaran. Faktanya adalah hamparan pasir yang menghubungkan Pulau Pahawang Besar dengan Pahawang Kecil. Airnya jernih. Manakala air surut pasirnya timbul. Saat itu ada yang timbul ada yang masih sebetis. Kami bermain air dan berfoto-foto dengan beragam fose, seperti kembali menjadi anak-anak, ceria dan imut. Pak Deden membuat adegan, aku yang memvideokan. Lumayan seru adegannya, namanya juga seru-seruan. Selanjutnya berfoto-foto. Beberapa saal berlalau, kubuka hasilnya. Di tempat yang terang pencahayaan HP-ku tak jelas. Matahari masih “moncorong” sinarnya bikin layar HP-ku tak jelas. Berselang beberapa saat kututup dengan jari seraya aku membelakangi arah sinar matahari untuk melihat hasilnya. Ternyata yang tampak hanya wajahku sendiri karena yang dipakai ternyata kamera depan. Adegan tak bisa diulang. Aku tak enak hati dengan Pak Deden yang dengan susah payah membuat adegan yang dramatis bersama teman-teman. Aku meminta maaf.
Bagai serombongan anak-anak dan emaknya naik naik
odong-odong, kami pun kembali naik perahu motor, masih ceria walau agak capek. Kengerian-kengerian
kecil adalah sensasinya. Bayangkan, andai badan perahunya bocor atau pecah
akibat keberatan muatan. Andalannya adalah rompi pelampung yang kami kenakan.
Dalam pada itu, hati kecil kami tak putus menguntai doa keselamatan.
Sang jurumudi mengarahkan perahu ke geladak terapung lainnya. Singgahlah kami di situ. Ada gapura bertuliskan Selamat Datang Pahawang, di atasnya ada simbol love. Ada pula bangunan kayu bentuk rumah. Sejumlah pengunjung telah berada di situ lebih dulu. Destinasi terakhir itu menggenapi perjalanan wisata kami. Berfoto-foto adalah aksi paling jamak dilakukan oleh siapa pun karena pesona pemandangan di bagian manapun tetap memikat.
Tak lama kami di situ. Tiba saatnya kembali ke darat.
Matahari meredup pertanda petang akan segera datang. Kekencangan angin
meningkat. Laut berombak mengombang-ambing perahu motor yang terus bergerak.
Tak sampai setengah jam tibalah di tepian. Satu per satu kami pun turun,
mencelupkan kaki pada kedalaman sepaha. Jika mau lebih bersabar, menunggu
sampai perahu mentok di area paling dangkal dan sang pengemudi meletakkan
bangku kayu guna memudahkan turun.
Alhamdulillah kami selamat. Kami telah berada di darat,
masuk ke ruang bilas dan berganti dengan pakaian kering. Perjalanan wisata di
Pahawang yang seharian itu menyisakan kesan mendalam di benak kami. Bila suatu
saat ada kesempatan rasanya aku pun bersedia kembali, terlebih jika ada yang
mengongkosi alias gratis. []




Komentar
Posting Komentar