[otobiografi] Menjemput Kekasih ke Bima, Part 1

 


Drama yang teramat menyakitkan berlangsung sekitar enam bulan, yakni proses cerai. Betapa tidak, gol kemenangan diraih oleh istriku yang menginginkan berpisah demi lelaki yang diperjuangkannya dalam kurun hampir dua tahun. Sidang pengadilan agama Tigaraksa mengabulkan gugatannya dengan alibi “tidak cinta” sementara itu anak kami sudah tiga. Dana sepuluh juta, empat jutanya dari rekeningku, menjadi senjata makan tuan bagiku. Tidak aku ragukan bahwa dana tersebut sebagai pelicin dan masuk ke saku oknum petugas.

Pengajuan banding aku batalkan, karena saksi mata menyatakan di masa banding itu dia semobil dengan  seorang lelaki yang diperjuangkannya . Selanjutnya, dengan berat hati aku tandatanganilah lembar kesepakatan cerai. Selesai masa iddah mereka menikah. Menyaksikan fotonya di ponsel, kembali berdarahlah hatiku. Sejak awal tekanan darah berkali-kali memuncak dan luka pada syaraf kepala berdenyut perih, seperti tusukan jarum bertempo lambat dan kadang cepat. Tentang semua itu telah aku himpun kronologinya dalam buku tersendiri, boleh dibaca siapa pun.

    Menyadari bahwa jika larut dalam duka berkepanjangan dapat menghancurkan diri sendiri maka aku pun berusaha bangkit. Penjajakan demi penjajakan aku lakukan, tak kurang dari delapan hati aku coba dekati. Namun sepertinya status duda anak tiga walaupun PNS, ibarat barang komoditi harga jualnya jatuh. Tak mudah menemukan hati yang ikhlas untuk menerima. Waktu terus bergulir. Jika diam berarti memperlama penderitaan diri. Melalui Ibu Enung, Ibu Lily, dan Pak Akmal tersambunglah dengan Nuraeni, saudara sepupu istri Pak Akmal. Dia berada di Bima, NTB.

Dalam waktu singkat, pesan singkat (SMS) bolak-balik mengalir deras di ponselku. Namanya Nuraeni kerja honorer di TU SMA 2 Bolo.

 Adanya komunikasi yang sambung dan kesediaannya menerimaku apa adanya mendorong hasratku untuk melacak Nuraeni  ke alamatnya. Jauh! Berat di ongkos pula. Tak jadi soal. Aku mencari tahu perihal teknis dan rute yang harus ditempuh. Pak Anwar, kawanku asal Bima menjadi narasumber yang banyak kutanyai terkait soal itu. Kurencanakan bahwa hari Jumat (30/11/2012) aku akan berangkat naik bus. Tak peduli bahwa aku ada tugas kepanitiaan ujian semester gasal. “Ini soal cinta, penting, menyangkut hajat hidup!” pikirku mencari pembenaran.

Agar tak mendapat hambatan, aku berencana tidak meminta ijin dulu kepada kepala sekolah. Aku akan meminta ijin melalui SMS saat di perjalanan menuju Bima, mungkin saat tiba di Surabaya, Bali, atau Lombok. Tekadku bulat. Ini soal hati. Soal cinta. Soal masa depan. Soal hidupku. Ini untuk kemaslahatan hidup yang tak bisa ditunda-tunda. Aku tak mau buang-buang waktu, ingin segera berangkat, biar cepat selesai segala sesuatunya.

**

Rabu malam (28/11/2012), melalui SMS Nuraeni mengabarkan bahwa ada kendala bagi niatku menemuinya. Ini SMS-nya: “ass.. kk eni minta mf ya, kyakx hbngan qt ga bs ber-satu, td smua kluarga pd ngumpul membicarakan hbngan qt tp mrk ga stuju trutma nenek, jrak antra qt cukup jauh. klo kk dtng percuma kan, jdi eni mhon mf yg sbesar2x, kk jng mrh y.”

Ibunya tidak setuju. Neneknya juga ikut-ikutan. Bahkan katanya si nenek sampai sakit. Jarak yang terlampau jauh menjadi alasan keberatannya. Aku sedikit syok. Kobaran semangatku mendadak surut. Kecewa? Ya, sedikit, tapi ini tantangan. Mudah-mudahan masih bisa diusahakan, harapku. Aku masih punya  harapan. Harapan akan adanya perubahan positif. Harapanku masih besar karena aku yakin bahwa Nuraeni sendiri pada dasarnya menerima dan siap jika kelak diboyong ke Tangerang.

Kukirimkan SMS dari Nuraeni tadi kepada Pak Akmal. Maksudku agar beliau tahu. Beliau menyatakan bahwa beliau  dan istrinya sudah berusaha meyakinkan orang tua Nuraeni bahwa aku baik bagi Nuraeni. Jika kemudian hasilnya seperti itu beliau mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sampaikan pula kepadanya bahwa aku masih berharap ada perubahan, setidaknya dalam sepekan ke depan.

Kukabarkan pula masalah itu kepada Bu Lili. Dia menyayangkan. Sepertinya dia merasa kasihan terhadapku. Sungguh, saudara baruku itu sangat serius ingin membantuku. Kemudian dia katakan bahwa ternyata dia masih punya ‘stok’.  Kebetulan dia sehabis pulang kampung, di Kuningan (Jabar). Melalui kontak telepon, dipresentasikannya wanita yang dimaksudnya, yakni cantik, baik, janda dua anak, usia 39, dan punya usaha. Intinya, yang bersangkutan kira-kira baiklah.

 “Kalau ada, gadis, Bu! Itu buat cadangan saja!” cetusku via SMS.

Entahlah, aku belum  berminat. Beberapa kali teman-teman menawariku janda melulu, mentang-mentang aku duda. Kukira, boleh dong aku dapat gadis! Sesuai saran ayahku, kalau bisa memilih, aku lebih memilih gadis agar lebih “simpel” sesuai keadaan dan kemampuanku. Kiranya Bu Lili belum punya ‘stok’ gadis. Aku masih berharap Nuraeni bisa kudapati. Kukira, upayaku belum maksimal. Akan kucoba lagi. Semoga berhasil.

**

Esok harinya, dalam dialog SMS aku tegaskan sebuah pertanyaan kepada Nuraeni. “Sebenarnya Eni mau gak menikah dengan saya?”

“Mau.”

Dia mau! Nuraeni begitu yakin meskipun mengenalku baru sedikit. Dia percaya bahwa aku orang baik-baik. Aku merasa dihargai. Statusku yang ‘seken’ beranak tiga, tak sedikitpun dipermasalahkannya. Dengan kesederhanaan hati, aku tekadkan akan menerimanya apa adanya jika orang tuanya merestui. Entahlah, aku begitu yakin.

Komunikasi kami terus terjalin. Nuraeni menyampaikan haparan-harapannya ke depan. Harapan-harapan yang menurutku ringan, mudah untuk kupenuhi, seperti: kalau sudah jadi suami jangan pulang larut malam; jangan suka memukul; harus menyayangi keluarganya; dan lain-lain yang kukira tidak memberatkan. Kekhawatiran Nuraeni atas dirinya juga sempat disampaikannya. “Jauh-jauh cari jodoh hasilnya cuma disakiti. Apa kata orang nanti.” Dia takut disakiti. Mungkin itu yang terjadi pada orang di sekitarnya.

Aku jamin bahwa tidak akan pernah ada kekerasan atau pun pengkhianatan dari aku. Tidak sukar kiranya meyakinkan dengan kejujuran kepada seseorang yang juga memiliki dan menjunjungnya.  

Sesekali aku mengirim pulsa, meskipun jumlahnya tak seberapa, agar komunikasi bertambah lancar. Sungguh, dia bertambah yakin dengan pilihannya bahwa aku adalah yang terbaik baginya.  Mengirim pulsa berarti aku menunjukkan kesungguhan.  Hal itu disadarinya.

Satu hal yang belum aku tanyakan langsung, yakni statusnya. Yang kutahu baru “katanya”. Janda atau gadiskah dia? Tak enak aku menanyakannya. Aku akali kalimatnya. “Seorang temanku tanya, ceweknya gadis atau janda? Aku bilang, belum tahu.” Pertanyaanku memancing. Lalu dia membalas, ”Ya pasti gadislah!” Aku percaya. Aku jadi yakin bahwa dia gadis.  Dialah yang aku cari.

**

Saat aku mengunjungi pameran buku di Senayan, via SMS kutawari buku kepada Nuraeni. Dia pun mau. Namun buku berisi fikih sunah yang dimaksudkannya tak kudapati. Kubelikan buku lain, yakni buku mengenai pernikahan dan buku fikih keluarga muslim. Hari berikutnya kukirim via pos. Dalam paket kiriman itu kuselipkan biodataku dengan foto bercetak printer tinta hitam. Ketiga fotoku tampak tak sama dengan foto di hape yang diterima-nya. Dibandingkannya fotoku itu dengan foto yang terdapat di hape. Dia lebih suka yang di hape, pakai jaket hitam. Manis, katanya. Aku tersanjung.

Esoknya, belum sirna lonjakan rasa tersanjungku, menyusul komplain Nuraeni. Di  foto itu  katanya aku tampak kurus. Berat badanku memang tidak ideal, sejak dulu. Sudah bawaan dari orok kali! Sepertinya dia kurang suka. Dia juga khawatir ibunya tak suka karena aku kurus. Memangnya aku mau kawin dengan ibunya? Aku membatin, sensi. Agar penampilanku dapat meyakinkan ibunya disarankannya aku agar menggemukkan badan. Duh, bikin repot!

Masih ada waktu sepuluh hari ke tanggal keberangkatan. Aku tidak tinggal diam. Segera aku manfaatkan waktu. Aku ke apotek membeli multivitamin, biar gemuk. Apotekernya memberi dua jenis pil kecil dan satu jenis tablet, entahlah apa namanya. Pokoknya Vitamin-lah! Lima belas ribu rupiah. Relatif murah. Dosisnya dua kali minum. 

Baru sekali minum efeknya terasa. Ngantuk luar biasa! Sekujur badan lemas, ingin istirahat dan tidur. Kegiatanku selanjutnya makan tidur-makan tidur. Wah, gak beres ni! Dulu-dulu juga begitu. Pekerjaanku jadi terganggu.  Kukira, mustahil aku bisa gemuk dalam waktu singkat. Mungkin aku akan mengatakan, bahwa sebaiknya aku mencari sarang tawon, biar disengat oleh ratusan induknya. Pasti badanku bisa gemuk. Bengkak. Hah, bisa-bisa racunnya menjalar ke jantung. Matilah aku!  

Daripada percuma. Aku sudahi mengonsumsi multivitamin itu. Aku harus menampakkan diri kepada Nuraeni  sesuai wujud asliku, kurus. Namun aku yakin aku masih punya pesona yang diminatinya. Entahlah pesona apa. Yang jelas aku harus percaya diri. Itu tekadku.

Kuabaikan soal badan kurus. Lampu hijau dari Nuraeni sepertinya makin terang, seterang cahaya matahari di bawah tenda biru. Namun orang tuanya masih belum siap jika suatu saat anaknya diboyong ke Tangerang, kejauhan. Ibunya belum juga setuju. Kusadari itu hal wajar bagi orang tua, apalagi anaknya mengenalku belum seumur jagung. Memang, bagaimana bisa keluarganya tiba-tiba setuju sedangkan aku belum pernah mereka kenal. Khawatir dan belum percaya, pastilah. Aku memahami sikap mereka. Itu sebabnya aku harus menampakkan diri di hadapan keluarganya, juga Nuraeni sendiri.

Tekadku untuk bertandang ke Bima bertambah mantap meskipun belum terlalu yakin akan mendapat restu ibu-bapaknya.  Segala sesuatunya segera dipersiapkan, termasuk siap mental jika ditolak. Konsultasi dengan Pak Anwar terus dilakukan. Rute dan teknis perjalanan menuju Bima kian terbayang.   Rabu siang (5/12/2012) aku membeli tiket  pesawat di agen travel kawasan Periuk, untuk penerbangan tanggal 20, rute Jakarta - Lombok.  

Untuk pesawat Lion Air tanggal itu yang harga tiketnya paling rendah, Rp 874.000. Kian mendekati tahun baru harga tiket lebih mahal. Selain alasan harga yang lebih terjangkau aku ingin perjalananku tidak terlalu fokus ke Bima.  Walau Nuraeni melalui telepon telah aku “tembak” dan menerima 100% cintaku, tapi keluarganya yang belum setuju menjadikan aku khawatir gagal. Kemungkinan gagal tentu saja ada.

Waktu demi waktu kutanyakan perkembangan sikap ibunya. Tetap belum setuju! Kudorong agar Nuraeni melobi ibunya. Tak ada yang berubah. Aku galau.

“Orang tuanya gak setuju sih mau ngapain?!” ujar seorang teman di sekolah saat kumintai pendapat. Teman lainnya menyarankan agar aku memperhitungkan untung-ruginya berangkat ke Bima, apalagi sendirian. “Jika terjadi apa-apa, bagaimana?  Bapak punya anak!” Begitu katanya.

Betul juga, pikirku. Ya, aku punya anak. Satu anak pertama yang menjadi tanggungan utamaku paling aku khawatirkan. Kalau terjadi apa-apa denganku, bagaimana nasibnya. Aku nyaris larut dalam kekhawatiran itu. Konsentrasiku sedikit terganggu. Namun kemudian aku yakin bahwa aku harus berangkat ke Bima. Soal musibah atau mati itu bisa terjadi di mana dan kapan saja.  Ah, bismillah sajalah, tekadku. Semoga niat baik akan membawa kebaikan. Kuteguhkan keyakinan dan keberanian itu dalam-dalam.

**

Kabar tentang Lombok dengan aneka objek wisata pantai mengundang rasa ingin tahuku. Katanya Lombok itu indah. Pulau di kawasan NTB itu konon memiliki panorama alam pantai nan eksotik. Aku ingin menikmati eksotisme pantai Senggigi di sana. Sambil menyelam minum es cingcaw!  Begitu peribahasanya.  Kuharap hasilnya menyegarkan. Kalau pun tak berhasil di Bima, aku masih bisa pulang dengan membawa oleh-oleh berupa pengalaman menginjakkan kaki dan wisata di pulau Lombok.

Memasuki masa liburan, usai pembagian rapor, Kamis (20/12/2012), diojeki Sahrul, karyawan sekolah, aku meluncur ke Bandara Soekarno-Hatta. Aku mengenakan kaos, jaket hitam, celana jeans, dan sandal gunung. Di ransel terdapat barang bawaan berupa salinan luar dan dalam, obat-obatan, alat elektronik, dll, dan yang paling penting uang secukupnya. Kartu ATM yang baru dibuat terselip di dompet, untuk jaga-jaga manakala dibutuhkan. Ongkos kuperkirakan cukup untuk pergi-pulang dan makan secukupnya.

Sesuai pemberitahuan, aku ceck in sebelum  pukul 18.00 di terminal keberangkatan 1A. Aku membayar pajak bandara empat puluh ribu rupiah sebelum sampai ke ruang tunggu.  Setelah delay sekitar dua jam, pesawat Lion Air  JT 650 737-900ER siap dimasuki.  Bersama penumpang lain aku masuk. Ini pengalaman pertamaku naik pesawat terbang domestik, sendiri pula, tanpa teman. Interior pesawat tampak sederhana, jauh dari kesan baru. Kucari tempat duduk. Di bagasi atas tertera nomor kursi. Nomor kursiku 20. Ternyata nomor 20 di deret kiri, ketiganya diduduki orang. Aku pilih duduk di deret kanan. Sekitar lima menit kemudian. Seseorang hendak menduduki tempat yang sedang kududuki.  Dia tanya nomorku. Selanjutnya dia halau orang yang menduduki kursi nomor 20 untuk kududuki. Kukira penumpang boleh duduk di mana saja. Ternyata harus sesuai nomor tiket. Maklum baru pertama.

Sebelum pesawat lepas landas, “kondektur” pesawat memperagakan cara mengenakan alat pengaman. Sepanjang perjalanan, hampir tiga jam, tak kulakukan percakapan, tak ada teman bicara. Aku mengira di pesawat itu bakal  ada pembagian snack seperti di garuda jurusan Arab Saudi bagi para jemaah calon haji. Ternyata tidak.

Pesawat melandas. Selamat! Tiba di Bandara Internasional Lombok (LOP) Zainuddin Abdul Majid  pukul setengah dua belas malam waktu setempat. Seluruh penumpang menghambur keluar lewat pintu depan dan belakang. Langit kelam, tapi penerangan di bandara memadai. Ini kali pertama aku menapakkan kaki di tanah Lombok. Menyenangkan. “Weeeeei Lombok, aku datang!” teriakku dalam hati. Cuma dalam hati beraninya!  Aku nikmati saja kesendirian. Perasaanku, duh, gimana gitu! Aku terus melenggang menuju area luar bandara. Di area penjemputan banyak orang berwajah kampung menjemput kedatangan sanak saudara mereka. Aku sedikit terbawa suasana. Tak seorang pun melambaikan tangan untukku. Ada perasaan ngenas karena tak seorang pun yang menjemput kedatanganku. 

Mengikuti petunjuk seorang karyawan yang kutanyai, aku membelok ke kanan menuju bus Damri yang sedang menanti penumpang. Langsung bayar tiket Rp 15.000. Naik dan duduk di kursi paling belakang. Kamera sekali-sekali aku panteng untuk merekam suasana. Belasan menit kemudian bus penuh. Selanjutnya bus meluncur sejarak 26 km. Tujuanku adalah pool Damri. Setelah satu jam perjalanan   tibalah di sana. Aku turun. Aku menuju penginapan diantar ojek, ongkosnya lima ribu perak. Ternyata jaraknya cuma lima puluhan meter, jalan kaki sebentar saja sampai. 

Orindo nama penginapan itu, terletak di kawasan Sweta. Tarip penginapan Rp 120.000 untuk yang tanpa AC. Aku bayar. Diantar petugas, aku langsung memasuki ruangan. Di dalam terdapat dua dipan dengan kasur dan seprey sederhana yang masing-masing cukup untuk ditiduri oleh dua dan tiga orang.   

Malam merayap serasa pelan. Lapar kian terasa. Aku keluar mencari makanan. Tak jauh. Adanya mi rebus. Tak mengapalah. Pedagangnya perempuan berusia 60-an. Sambil makan perbincangan terjadi. Kasihan dia, suami tak setia. Usai santap mi, aku kembali ke penginapan. Beberapa saat berbincang dengan petugas jaga. Belum terpikirkan bagaimana cara pastiku  mencapai pantai Senggigi yang sejak awal aku ingin kunjungi, naik ojek atau taksi. Biarlah bagaimana esok pagi saja, pikirku. Selanjutnya tidurlah.

**

Pagi. Salat subuh agak kesiangan. Bukan agak sih, tapi kesiangn betulan. Asal duga saja langsung pasang alas jaket hitam buat sajadah. Salatlah aku. Dalam waktu singkat selesailah. Begitu matahari mulai naik aku baru tahu bahwa aku salat menghadap utara.

Usai mandi dan berkemas. Di luar tampak orang bersepeda. “Ckring, ckring!” Itu bunyi bel sepeda ternyata pedagang nasi bungkus. Aku berminat. Keluarlah aku. “Berapa, Pak?” tanyaku. “Lima ribu,” jawabnya. Aku  beli dua bungkus, sepuluh ribu.

Usai sarapan aku mencari ojek dengan tujuan kota Mataram. Aku bermaksud ingin keliling Mataram. Harga disepakati. Aku naik. Tukang ojek tancap gas. Sepanjang perjalanan berlangsung tanya jawab. Perannya merangkap sebagai pemandu. Aku tertarik kepada kota Mataram. Aku ingin mengelilinginya. Sesampainya di pusat kota, Jumat pagi itu teryata masih sepi. Tak ada keramaian atau pun bahan tontonan yang memungkinkan aku bisa bermain-main.

Tadinya aku mau meminta turun di dalam kota. Tiba-tiba aku jadi khawatir kalau-kalau bingung sendiri di tengah kota.  Aku putuskan untuk langsung ke pantai Senggigi. Namun tukang ojek menawariku berkunjung ke pantai Ampenan. Aku setuju. Sepanjang perjalanan, tukang ojek memberikan penjelasan mengenai tempat-tempat tertentu. Di antaranya ada bekas bandara, kantor gubernur dan sebagainya.

Hanya beberapa saat aku berdiri di Ampenan. Tukang ojek kembali tancap gas menuju pantai Sengggi yang ternyata jaraknya lumayan jauh dari situ. Sepanjang jalan pesisir, mataku dimanjakan dengan pemandangan pantai yang eksotis. Di sekitar pantai terdapat hotel-hotel, kabarnya harganya bervariasi, dari yang mahal sampai yang berharga ekonomis. Hal ini menandakan betapa bergairahnya pariwisata di sini. Jalan-jalan mulus. Tak sulit menemukan taksi di sekitar pantai Senggigi. Ada banyak fasilitas yang tersedia di Pantai Senggigi, seperti restoran, toko-toko, bar, hingga hotel berbintang lima di sekitar pantai. Jadi, akan memudahkan dan memanjakan wisatawan yang menghabiskan waktu bersama orang terkasih di pantai ini. Romantisme ala Lombok bisa didapatkan dipantai ini. Yang penting cukup duit!

Pagi itu pantai Senggigi masih sepi. Aku masuk ke area wisata pun tak ada yang menagih bayaran. Deretan kursi santai yang menghadap ke pantai tak ada yang menduduki. Jumlah wisatawan masih dalam hitungan jari. Pedagang souvenir hanya tampak beberapa. Tampak pula sejumlah awak kapal dengan aktivitas ringannya. Banyak kapal motor tersandar di darat menanti jamahan pemiliknya. Pantai Senggigi adalah tempat pariwisata yang terkenal di Lombok. Letaknya di sebelah barat pesisir Pulau Lombok, menghadap ke Selat Lombok. Jarak dari kota Mataram 12 km, bisa ditempuh dengan ojek, mobil sewaan, taksi, atau angkutan umum. Jalan kaki pun tak ada yang larang!

Memasuki bibir pantai seperti menyibak tabir. Langsung  tampak bentangan laut dengan awan putihnya dan sebagian berawan kelabu. Bahkan pelangi tampak seperti tertancap di permukaan laut, menjulur ke langit. Ah, sungguh seksi pemandangannya. Pantainya landai. Pasirnya bersih, airnya jernih.  Aku hirup dalam-dalam udaranya. Sebagian langit mendung. Angin  semilir lembut, menenangkan.

Konon pemandangan bawah lautnya sangat indah. Wisatawan bisa melakukan snorkling sepuasnya karena ombaknya tidak terlalu besar. Terumbu karangnya menjulang ke tengah mengakibatkan ombak besarnya pecah di tengah. Kabarnya, senja di pantai Senggigi sangat terkenal dengan kecantikannya. Cahaya kuning keemasan akan menambah suasana romantis terutama bagi yang tengah berbulan madu. Bagi yang tengah datang bulan juga boleh saja!

Tidak bisa tumakninah aku menikmati eksotika pantai Senggigi yang sebegitu indahnya. Selain tak enak dengan tukang ojek yang menunggui, rasanya aku ingin segera tiba di tempat tujuan utama, rumah Nuraeni. Bima masih teramat jauh.  Aku cukupkan beradu pandang dan bercumbu dengan riak ombak pantai. Aku putuskan untuk berangkat menuju terminal bus.

         Tiba di mulut gang keluar area wisata, tepi jalan raya, yang mestinya membelok ke kanan, tukang ojek mengajakku  ke pantai berikutnya. Sekadar ingin tahu, aku setujui. Kami membelok ke kiri. Sekitar lima ratus meter, sepuluh menit kemudian tibalah di sebuah pantai, dia menyebutnya pantai Lambaran, kalau aku tak salah dengar, kalau salah harap maklum. Di sekitar pantai ini terdapat banyak saung yang bentuknya seragam terbuat dari bambu dan beratap rumbia. Namun saat itu tak satu pun saung digunakan orang. Tak ada orang. Mungkin lebih dari lima puluhan jumlahnya.

                Menurut tukang ojek, kawasan pantai itu ramai saat hari libur. Aku cuma mengambil gambar saja. Sepertinya pantai itu cukup terawat. Tak tampak ada sampah di sana.  Keluar dari area wisata itu  aku membayar dua ribu rupiah. Aku berharap kelak bisa kembali. Sayonara, pantai nan indah!

**

Menuju Terminal Mandalika. Bayangan Nuraeni seakan memanggil-manggil agar aku segera ke sana. Aku berharap kapan waktu bisa kembali ke Lombok bersama orang terkasih untuk menik-mati segala keindahannya. 

Selanjutnya aku men-uju terminal Mandalika, 12 km. Sepanjang perjalanan tidaklah sukar menemukan cidomo (delman) sebagai sarana transportasi rakyat. Lalu-lintas lancar.   Pegal juga naik ojek.  Sekitar dua ratus meter sebelum terminal, aku turun dari ojek. Tinggal berbayar.

“Berapa Mas?”

“Seratus lima puluh ribu!”

“O, sedanglah,” batinku. Jasanya bukan saja sebagai tukang ojek, tetapi juga pemandu wisata. Sekalian saja aku bayar seratus enam puluh ribu rupiah karena aku terpuaskan.

Saat itu pula aku disambut seseorang yang mengendarai motor yang telah dihubungi oleh tukang ojek tadi. Lelaki berbadan kekar itu penjual tiket bus.

“Berapa ke Bima?”

“Dua ratus ribu.”

Gak bisa kurang?”

“Seratus depalan puluh ribu.”

Aku bayar. Selanjutnya aku naik motornya menuju terminal. Dicarikannya aku bus tujuan Bima. Ramah juga dia. Setelah dapat aku masuk menemui sopir untuk menanyakan alamat yang kutuju. Waktu menunjukkan sekitar pukul sebelas, sedangkan bus berangkat jam tiga. Hah, masih lama! Aku memilih duduk-duduk di area terminal. Haduh, tak enak juga celingak-celinguk sendirian, kayak orang hilang. Tapi, aku kan wisatawan, bukan orang sedang susah, heu heu heu! Aku tak boleh susah. Aku harus senang. Apapun keadaannya, kubuat enjoy saja.

Aku mencari masjid. Beberapa tukang ojek di gerbang terminal menawarkan jasanya. Aku pilih berjalan kaki. Ngirit! Ternyata lumayan jauh, sekitar empat ratus meter. Masjid yang kudapati terlewati saat naik ojek tadi. Aku shalat Jumat di situ. Usai jumatan, mengingat bahwa pukul tiga masih lama, aku rebahan dan tidur dulu di sisi dalam masjid. Aku seperti musafir saja, musafir cinta!

**

Mendekati pukul tiga aku keluar dari area masjid menuju terminal naik ojek. Tiba di terminal Mandalika kucari mobil yang akan membawaku ke Bima. Mobilnya ternyata pindah posisi. Aku naik, langsung duduk di kursi kedua belakang sopir. Sekitar sepuluh menit kemudian, seorang perempuan memasuki bus.

“Nomor Bapak berapa?” tanyanya.

Aku tak mengerti maksudnya. Sesaat kemudian aku sadar. “Hah, nomor?!”

“Nomor Bapak berapa. Ini tempat saya.” ulangnya.

“Waduh, pakai nomor?!” Aku gelagapan.  Aku baru tahu bahwa naik bus juga pakai nomor kursi. Maklumlah ini kali pertama aku naik bus jarak jauh dan bertiket.  Kursi yang kududuki nomor 6. Kulihat tiketku. Nomorku 19. Tempatnya di belakang, agak tengah. Aku baru tahu bahwa nomor kursi tercantum di bagasi atas. Sebenarnya sejak masuk bus aku mencari-cari nomor di kursi, tapi di kursinya tak ada nomor.

Lebih dari pukul setengah empat sore bus mulai star, bertolak meninggalkan terminal Mandalika, ke arah timur, melewati masjid tadi. Sepanjang perjalanan kunikmati indahnya pemandangan sambil sesekali mengarahkan kamera. Aku melihat gunung di kejauhan, sawah, dan pohon-pohon dengan kombinasi warna yang menyejukkan.  Semua itu seakan bergerak meninggalkanku. Sementara itu musik dan lagu terus berganti turut menggenapi kebagahiaanku. 

**

Pengalaman Pertama Naik Kapal. Sekitar lima kilometer ujung perjalanan darat di pulau lombok senja pun mulai meredup. Keadaan agak gelap. Saat magrib tak jelas, tak terdengar alunan adzan. Hujan mulai turun selanjutnya melebat. Bus terus melaju. Sejumlah kelokan dilalui. Dalam belasan menit kemudian tiba di pelabuhan Kayangan. Bus tertahan beberapa saat sebelum memasuki loket pembayaran. Ada sejumlah mobil di terminal pelabuhan yang antre sambil menanti kapal bongkar muat. Hujan belum reda.  Selanjutnya satu per satu mobil masuk ke kapal. Tak terlalu besar kapal itu. Prosesi menuju kapal berlangsung lamban. Sejak tiba di area pelabuhan hingga bus yang kutumpangi masuk kapal memakan waktu hampir satu jam.  Lebih kurang sepuluh mobil tertampung.

 Magrib tak jelas waktunya. Tak terdengar kumandang adzan. Kapal penuh muatan segera bertolak menuju pelabuhan Pototano, pulau Sumbawa. Seluruh penumpang bus turun untuk pindah atas kapal. Hujan reda beberapa saat kemudian. Aku berdiri di luar, menikmati pemandangan laut lepas. Tiupan angin lumayan kencang. Wuih, sensasional! Kapal melaju dengan kecepatan yang tak terasa cepatnya. Untung tak ada gelombang besar. Meskipun begitu nyaliku empot-empotan juga, takut terjadi sesuatu. 

Shalat magrib kupindahkan di waktu isya. Tempat shalat cukup darurat. Sungguh, ini pengalaman pertamaku naik kapal penyeberangan. Di tengah perjalanan, perut terasa tak nyaman, lapar. Kubeli segelas pop mie seduh. Sepuluh ribu. Mahal juga. Harga normal biasanya sekitar tiga setengahan. Lumayanlah, perut hangat, lapar lenyap. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam.

**

Setelah mendarat, bus terus tancap gas, melintasi jalan raya Lintas Sumbawa. Kawasan yang akan dilalui adalah kabupaten Sumbawa, kabupaten Dompu, selanjutnya memasuki wilayah kabupaten Bima.

Saat masih di kawasan kabupaten Sumbawa kukira, persisnya aku tak tahu. Baru sekitar dua jam melaju Bus berhenti di warung makan. Para penumpang turun. Kulihat banyak yang makan. Baru aku tahu bahwa saat itu makan gratis, ditanggung sopir. Menunya alakadar. Namun lumayan, ampuh buat mengusir lapar. 

Ini perjalanan yang belum pernah kulakukan. Kekhawatiran kesasar kerap menghantui. Beruntung, orang yang duduk di sebelahku tahu tempat turun yang kumaksud. Cabang Donggo lewat sedikit, tepatnya agen bus Rasa Sayang. Aku jadi lebih tenang. “Masih jauh, Pak,” tambahnya, “nanti dikasih tahu sama kenek.”

Aku tidur, sesekali terbangun, khawatir terlewat. Komuni-kasi SMS dengan Nuraeni masih dijalin. Sekitar jam satuan, saat kuperhatikan, sepanjang jalan sepi, warung atau toko tak ada yang buka. Tak kutemui manusia seorang pun di pinggir jalan. Yang sempat tampak hanya segerombolan sapi dan beberapa ekor anjing. Aku khawatir, bagaimana jika pas aku turun tak ada orang? 

Kondektur sangat konsen terhadap kebutuhan penumpang dalam hal tempat turun. Tak ada penumpang yang turunnya terlewat, walaupun hampir seluruhnya sempat tertidur. 

Aku turun tepat di seberang agen bus Rasa Sayang seperti yang Nuraeni tunjukkan. Kata Nuraeni, untuk menuju rumahnya, dari agen bus itu masuk ke jalan kecil ke selatan. Aku tak tahu arah mata angin.  Waktu menunjukkan pukul 02.25. Tentu saja Nuraeni tak dapat menerimaku datang ke rumahnya, apalagi orang tuanya tidak tahu bahwa aku akan datang. 

Aku mencari masjid, atas petunjuk Nuraeni via SMS, aku berjalan ke utara memasuki jalan kecil. Sekitar lima puluh meter, tibalah aku di dekat masjid. Memperhatikan posisi masjid, barulah aku sadar mana barat, timur, selatan dan utara. Namun sayang, pintu pagarnya terkunci. Keadaan sepi. Tak satu pun orang berkeliaran di situ, meskipun banyak rumah. Sepi bertambah  mendadak setelah kuamati bahwa di sebelah selatan masjid banyak kuburan. Aku bukan takut. Cuma risih. Aku khawatir kalau-kalau ada penampakan di tempat gelap itu. Ada balai bambu, duduklah aku di situ. Aku kian grogi, salah tingkah, serasa dicuekin kuburan-kuburan itu.

Menyusul suara burung mencericit di tower seluler milik telkom di seberang masjid. Aku kerap menengok ke segala arah, tetap tak ada orang. Aku iseng sendiri. Rasa takut sesekali menyeruak masuk ke nyaliku, takut ada orang jahat, atau penampakan makhluk halus. Rasanya aku ingin jadi makhluk halus agar bisa melihat makhluk halus lainnya,tapi mustahil. Detik demi detik berjalan terasa lamban. Waktu subuh terasa lama tibanya.

Setelah capek menanti, lelaki tua keluar dari bangunan samping masjid, membawa golok. Sungguh, membawa golok! Aku kaget. Aku lebih hati-hati untuk memanggilnya agar dia bersedia membukakan pintu pagar masjid. Dia menuju ke WC, sepertinya buang air kecil. Beberapa saat kemudian keluar.

“Bapak, maaf, saya mau numpang istirahat,” pintaku setengah berbisik.

Dia mendekat dengan golok di tangan. Kami terlibat obrolan singkat. “Mau masuk?” tambahnya.

“Iya saya mau masuk.”

Dari tadi juga saya mau masuk, batinku.

Dibukanya gembok. Pintu didorong, terbuka beberapa jengkal. Aku diterimanya. Aku beristirahat di teras masjid. Sesaat kemudian pintu masjid dibukanya. Dia merapikan karpet  dan menyapunya. Menyusul waktu shubuh tiba. Warga berdatangan untuk menunaikan shalat shubuh. Lelaki tua itu mengumandangkan adzan. Suaranya biasa saja, maksudku sama dengan suara adzan aki-aki di masjid kampungku. Fals dan gemetar.

Aku mengikuti shalat berjamaah. Usai shalat shubuh dan wirid beberapa jamaah menghampiriku, bertegur sapa. Lelaki tua tadi mendekat, mengajak berbincang. Ada jamaah yang mengajakku singgah ke rumahnya, ada pula yang menawarkan diri mengantarku ke rumah yang menjadi tujuanku. Salah seorang dari mereka ada yang anaknya bekerja di Gading Serpong, tapi tak jelas nama dan tempat bekerjanya. 

Pukul tujuh sebentar lagi. Sambil berbincang denganku lelaki tua alias Pak Marbot mengepal-ngepal kunci. Dia akan segera mengunci pagar masjid. Menyadari hal itu aku bergegas pamit. Itu masjid Nurul Falah, berada di wilayah desa Kananga.

**

Menuju Sasaran. Yang terbayang adalah fotonya. Aku ingin segera bertemu wujud asli mahkluk misterius itu. Aku meluncur ke alamatnya. Dimintanya aku menemui kepala dusun. Wah repot juga prosedurnya, pikirku. Kucari rumah kepala dusun dengan bertanya kepada warga setempat yang kebetulan kutemui.

“Itu Pak Azis, tu yang lagi duduk!” tunjuk seseorang yang kutanyai.

Kuhampiri Pak Azis, sang kepala dusun. Agak kurang lancar berkomunikasi dengannya. Dia seperti terbengong-bengong. Mungkin dia tak tahu-menahu urusan aku dan Nuraeni. Istrinya justru yang langsung tanggap.  

“Ayo ikut saya!” ajak istrinya simpel.

Segera kuikuti.

Hah! Kukira jauh dari situ. Ternyata cuma di seberang jalan, persis di depan rumahnya. Berhadapan. Cuma berjarak enam meteran. Dalam pada itu, terbersit kepasrahan dalam batinku, bahwa aku akan pasrah untuk bersedia menerima Nuraeni bagaimana pun keadaannya, bagaimana pun bentuknya.

Istri Pak Azis masuk, aku masuk juga. “Nuraeni sedang mandi,” katanya.

Aku duduk. Perempuan itu masih di dalam. Sesaat kemudian muncul perempuan lain. Perawakannya ramping. Langsung kuarahkan pandang ke mukanya. Aku kaget. Dengan spontakaku katakan, “Nuraeni?!” tanyaku setengah berbisik. Kok tuwil, tua. Kalau setua itu, entahlah aku bisa menerima atau tidak. 

 “Nuraeni lagi mandi!” balas perempuan itu. Kukira itu Nuraeni.  Ooooh, ternyata itu adalah ibunya, yakni Mak Badnah.  Legalah hatiku. Beberapa saat kemudian Nuraeni muncul. Jilbabnya coklat kombinasi. Bajunya murah tua kombinasi. Huaaah! Betul. Dialah orangnya yang kucari. Parasnya tak jauh berbeda dengan fotonya. Aku suka. Cocoklah. “Bungkus, Mang!” pekikku dalam hati. Ah, seperti mau membeli buah-buahan saja. Dia pun sangat senang bertemu denganku. Wajahnya sumeringah. Matanya berbinar-binar. Aku pun senang bukan main! Aku bertambah pede. Aku yakin bahwa aku tak bertepuk sebelah tangan. Insyaallah, inilah jodohku, harap batinku.

Duduklah kami bersama, bertiga. Istri Pak Azis sudah keluar. Kukenalkan diriku. Kusampaikan maksud baikku. Tak ada jawaban penerimaan atau kata yang menyatakan setuju. Mak Badnah pergi, ganti dengan bapaknya, Baba Yasin. “Kalau Baba berkenan, saya ingin menjadi bagian dari keluarga ini,” tandasku. Baba Yasin mengerti. Dia mengangguk-ngangguk kecil. Responnya tanpa kata.   Keduanya pendiam. Aku faham. Namun aku juga faham, bahwa kedunya belum bisa menerimaku untuk kelak jadi menantunya. Tak lama kemudian Baba Yasin pamit hendak ke kota Bima membawa dagangan: bede’ alias bilik.

Kedatanganku bukan bermaksud melamar, tapi seperti melamar. Lamaran bisa menyusul. Yang penting aku mendapat kepastian bahwa mereka bersedia jika nanti anaknya kulamar. Jangan sampai lamaranku ditolak. Belum harga mati. Masih bisa digoyang, kukira. 

Aku berbincang dengan Nuraeni. Tanpa harus kutanya lagi, aku yakin Nuraeni pasti mau.  Mak Badnah masih belum setuju. Mak Badnah ke luar rumah, duduk di bale-bale.  Termenung dia. Aku sedikit protes kepada Nuraeni. “Ini bagaimanaaaaa?!” tandasku bernada seloroh. Nuraeni tak kuasa. Beberapa saat kemudian Mak Badnah mendekat. Kami berbincang lagi. Nuraeni kirim SMS, “Bilang sama ma, nanti kakak mau beli sawah di sini, gitu. Biar Ma setuju.”

“Waduh, memangnya aku kebanyakan duit?” cetus ku dalam hati. Aku mencari kata-kata yang tepat untuk membalasnya.  Ketemu. “Kakak gak mau bilang begitu, takut dikira gombal.” Padahal aku tak berani. Sumber duitnya belum kebayang.  Harga gadai saja tadi kata Mak Badnah dua puluh jutaan, apalagi kalau beli.

“O iya yah,”  balas Nuraeni setuju. Sepertinya Nuraeni mencari-cari akal agar ibunya merestui hubungan kami. Kekhawatirannya dialihkan dengan cara ber-SMS-an entah kepada siapa. Mungkin dia curhat dalam rangka mencari dukungan.

Mak Badnah ternyata tak tinggal diam. Dicobanya telepon ke Pak Anwar, dalam bahasa Bima. Aku yakin pasti Pak Anwar turut membujuk Mak Badnah agar bersedia menerimaku buat anaknya. Walhasil, sikap Mak Badnah masih tetap. Ragu.  Aku masih sabar.

Duh, lama-lama cape deh! Aku mengantuk sekali. Aku minta ijin untuk menumpang tidur. Diperbolehkan. Tidurlah aku di ruang terbuka, di atas dipan, bukan di kamar Nuraeni.

Bangun tidur aku hendak menumpang mandi. Nuraeni-lah yang menyiapkan kamar mandi. Tengok kiri-kanan, aman. Mak Badnah di luar rumah. Saat itu kuminta tangan kanannya. Aku mencuri-curi dari pandangan ibunya. Kupegang ujung jarinya, lalu sedikit kukecup. “Cuah! Kubayangkan  atraksi itu seperti adegan dalam film India.  Kejadiannya berlangsung sangat singkat. Nuraeni takut ketahuan ibunya. “Malu, tuh ada Ma!” bisiknya grogi seraya menarik tangannya. Namun dia tampak senang sekali.

Usai mandi dan shalat. Aku dapat jatah makan. Nuraeni membelikannya. Tanpa malu-malu, kami makan berdua, ya berdua.  Sungguh, keakraban kami seperti telah kenal lama. Aku juga heran, kenapa bisa begitu. 

Bersambung ke Part 2

Penulis: Usman Hermawan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia