[otobiografi] Buku Yang Nyaris Terbakar

 


Usai libur awal puasa, Senin masuk. Rabu pagi (23/2/2026), begitu tiba di sekolah semua guru dikejutkan oleh bau gosong menyengat napas. Aku dan yang lainnya diminta tidak menyiarkannya di media sosial. Sebenarnya tidak diminta pun aku paham bahwa itu tidak perlu dipublikasi. Lagi pula aku tidak tertarik memvideokannya. Semua orang bertanya-tanya, apa gerangan penyebabnya? Ternyata ruang BK terbakar. Kara satpam yang berjaga pukul tiga lampu masih menyala. Mungkin baru diketahui pukul enam. Berarti di antara waktu itulah kejadiannya.

Aku penasaran sehingga kemudian mencoba masuk. Ternyata bau menyengat bikin sesak napas itu bersumber dari ruanga BK. Ruang berukuran 2,5 x 4 meter itu gosong dan pengap. Hawanya panas. Kabel-kabel hangus. Benda-benda berbahan kertas di rak kecil terbakar. Demikian juga dengan kipas angin yang diduga sebagai sumber pertama api. Ruangan kecil itu gelap, panas, dan pengap. Masih ada bara di situ. Insiden itu tidak boleh disiarkan. Cukuplah kalangan internal yang tahu. Sebelum diminta, aku memang tidak tertarik untuk merekamnya. 

Yang bersangkutan, yakni pengisi ruangan menyatakan bahwa kemarin semua tidak ada steker yang tercolok di stop kontak. Dugaan terkuat tertuju kepada kipas angin. Namun dia yakin benar steker kipas angin kemarin telah dicabut. Tak ada upaya investigasi. Penyebab pasti insiden tersebut dibiarkan misterius, walaupun dugaannya bisa dua, yakni kelalaian atau ulah tikus.

Perbaikan dilakukan oleh teknisi sekolah saat jam kerja, sedikit-sedikit. AC di ruang guru tetap bisa hidup karena jalur kabelnya tidak terganggu, tapi lampu dan wifi mati. Namun dua hari ke depannya normal kembali. 

Seiring waktu hawa panas di ruang tersebut berangsur mereda. Namun bau gosong yang sepet masih menguar di sekitarnya, yakni ruang guru di sebelahnya, ruang lobi,  dan wakasek, dan area luar di lantai atas. Itu sampai beberapa hari.

Barang-barang yang tidak terbakar diamankan, sejumlah sampah terserak di area lobi luar, tak segera dibereskan seluruhnya. Sepekan dari peristiwa, Rabu (3/3/2026), saat jam ketiga aku hendak mengajar melewati area lobi luar tadi, Mas OB memanggilku. Katanya ada bukuku di tumpukan sampah yang akan dibuangnya. Aku segera menghampiri. Entah buku apa. Diangkat-angkatlah sampah kertasnya, ternyata ada buku karyaku, ditemukan satu per satu. Ada 6 eksemplar, yakni 2 buku kumpulan cerpen Perjumpaan Malam  (Gong Publishing, 2014), 1 buku kumpulan cerpen Penantian Ibu (Gong Publishing 2017), 1 buku kumpulan puisi Anjal (SMAN 15, 2017) karya para siswa , dan 2 buku kumpulan puisi Suara Cinta Bagimu Negeri (SMAN 15, 2017) karya para siswa.

Semua buku ber-ISBN tersebut hasil jerih payahku. Dua buku puisi didanai pihak sekolah. Itu digratiskan, sedangkan buku cerpenku aku jual. Keenam buku tersebut rupanya selamat dari kebakaran. Yang membuat aku tercengang keenam buku itu masih utuh terbungkus plastik, belum dibuka. Masya Allah, setega itu.  Karya besarku tertimbun, tanpa pernah dibaca, berdebu pula. Miris.

Terwujudnya buku-buku itu atas perjuanganku yang nyaris berdarah-darah, salah satunya buku Penantian Ibu berisi tiga puluh cerpen, masa penulisan empat tahun. Proses pengurusan ISBN ke Perpustakaan Nasional pun rumit. Termasuk buku Perjumpaan Malam, merupakan proyek tekor. Demi hobi, tentu tekor tidak mengapa. Buku puisi, dua kali membuat buku puisi kerumitannya pada upaya mengumpulkan materinya dari siswa.  Lalu, pengajuan dana yang juga harus mampu meyakinkan pihak terkait. Berbagai risiko akan terbayarkan manakala karya terwujud dan terapresiasi. Di tengah rendahnya minat baca masyarakat, aku pun maklum jika karyamu minim pembaca.

Sejujurnya aku agak syok juga mendapati fakta itu.  Namun aku sadar bahwa itu hak siapa pun untuk bersikap begitu. Kukira aku tak perlu meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan. Yang tidak bisa aku lakukan adalah diam. Aku tidak bisa diam memendamnya sendiri “ketakjuban” itu sehingga aku ceritakannya kepada beberapa teman yang belum tentu bisa merasakan hal yang aku rasakan.

Aku bawa keenam buku itu ke kelas. Aku tawarkan kepada para siswa. Tak langsung mendapat respons hingga kemudian ada satu siswa yang mau, siswa lain menyusul hingga semuanya berada di tangan siswa. Di antara mereka ada yang senang dan berucap terima kasih. Besar kemungkinan mereka melepas plastiknya lalu membuka dan membaca isinya.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Catatan Perjalanan] Takziah

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia