[otobiografi] Menjemput Kekasih ke Bima (Part 2)
Dalam kondisi nyaris pesimis karena belum mendapat isyarat lampu hijau dari Mak Badnah. Sesuai saran Ibu Fadilah, teman guru, kuserahkan sebuah cincin emas dua puluh dua karat seberat tiga gram yang kubeli di Pasar Anyar Tangerang sehari sebelum keberangkatan. Nominalnya relatif kecil. Itu aku maksudkan sebagai tanda keseriusanku. Kalaupun kemudian tidak jadi menikah tekornya tidak terlalu banyak.
“Bagaimana
kalau gak jadi?” tanya Nuraeni saat memegang pemberianku.
“Buat
kenang-kenangan saja!” balasku ringan.
Nuraeni
senang banget menerimanya. Cincin itu
langsung dipakainya. Kukira dia senang bukan karena cincinnya melainkan lebih
karena kesungguhanku.
Pukul
15.00, sudah sore. Aku belum mendapat jawaban positif dari Mak Badnah. Nanti
malam aku tidur dimana yah? Tak mungkin
aku menginap di rumah Nuraeni, apalagi Mak Badnah belum bersedia menerimaku.
Aku mulai panik. Kemana aku harus pergi, selain pulang. Kucoba kirim SMS kepada
Haji Abdul Hamid di Ntonggu. “Pak haji, boleh saya menginap di rumah Bapak gak, nanti malam?” Sampai beberapa saat
tak juga ada balasan. Sungguh aku panik.
Pulang
adalah pilihan paling tepat. Aku tidur di bus saja, hematku. Segera aku pergi
ke agen bus Rasa Sayang, samping jalan raya, belakang rumah Nuraeni. “Untuk
malam ini habis, Pak. Kalau buat besok
ada,” ungkap perempuan pemilik agen setelah
mengecek melalui telepon.
Aku kembali ke rumah Nuraeni. Selanjutnya, aku
diantar seseorang membeli tiket di
Cabang Donggo, dekat perempatana jalan, untuk bus tujuan Mataram. Jadwal
keberangkatan sekitar pukul sembilan belas. Aku kembali ke rumah Nuraeni,
sekaligus shalat asar.
Shalat
magrib aku laksanakan di masjid seberang jalan, di desa Kananga. Sekembalinya
dari masjid aku diajak berbincang dengan kakak dari ibunya Nuraeni,
suami-istri. Belakangan aku baru tahu beliau adalah Haji Mukhtar. Mereka biasa
dipanggil dengan sebutan Abu dan Umi. Hadir pula saat itu Mak Badnah. Materi
obrolan biasa saja, bahkan lebih terkesan sebagai tegur sapa saja. Aku menanti
kata-kata bernada setuju dari Mak Badnah. Sayang, nihil.
**
Aku
memilih pulang. Waktu menunjukkan setengah tujuh lewat. Khawatir tertinggal
bus, aku putuskan untuk segera pamit pulang. Tak ada keputusan apapun kecuali
keadaan bahwa Mak Badnah belum setuju alias masih ragu. Nuraeni dan Fatma
(adiknya), serta Hijrah (sepupunya) menyertaiku menuju Cabang Donggo tempat
menanti Bus, sekitar seratus meter jaraknya. Aku melenggang tanpa oleh-oleh
“persetujuan” ibunya. Namun sikap Nuraeni yang terkesan full naksir mampu melegakan
hatiku, yang berarti masih ada harapan. Kukira di depan jalan panjang masih
menikung.
Beberapa
jam lalu aku ingat dengan saran Bu Fadilah, agar aku memberinya sekadar uang
jajan. Namun jika aku memberinya dengan cara langsung pasti mengalami
kesulitan. Dia pasti menolak karena tak enak hati atau malu. Aku sempat
berpikir akan menaruh amplopnya di bawah taplak meja atau di tatakan gelas
seperti yang dilakukan pacar kakakku pada tahun tujuh puluhan, tapi khawatir
tidak tepat sasaran. Akhirnya kuberikan langsung amplop berisi beberapa lembar
uang cepe’an itu saat mendekati tempat
menanti bus. “Ni surat, baca!” kataku seraya memberikannya. Dia senang
menerimanya. Dikiranya surat betulan.
Tiba
di Cabang Donggo dekat agen bus, suasana ramai, banyak orang yang hendak naik
bus. Bus Surya Kencana jurusan Mataram yang kunanti belum tiba. Aku membeli air minum. Baru sekitar
sepuluh menit kami tiba, ibunya Nuraeni datang menyusul. Dia langsung menemui
Nuraeni dengan senyum mengembang namun tanpa kata-kata.
Selanjutnya
Nuraeni mendekatiku. “Kayaknya Ma
sudah berubah. Mungkin sudah setuju!” ujar Nuraeni gembira. Aku turut gembira
meskipun baru ‘mungkin’. Si Ma menghampiriku. Wajahnya ceria, jauh berbeda
dengan saat aku di rumahnya. “Tunggu informasi berikutnya!” ujar si Ma memberi
harapan disaksikan Nuraeni. Kurespon dengan senyum gembira. Berarti besar
kemungkinan si Ma akan setuju, kukira. Alhamdulillah! Dia juga ingin membelikan aku jajanan untuk
di perjalanan. “Gak usah!” tampikku
penuh hormat. Dua tiga bus tiba, tapi bukan Surya Kencana. Deru mesin dan
teriakan kondektur membuat gaduh suasana. Total hampir setengah jam aku
menanti, tibalah bus Surya Kencana warna merah, tapi kodenya berbeda dengan
yang tertera pada tiket. “Usman! Usman!” panggil si kondektur keras tapi tak
jelas. Kukira bukan ditujukan kepadaku. Karena bus tak segera berangkat, aku
tanyakan soal tiketku. “Tadi juga dipanggil-panggil,” balasnya. Ternyata betul. Segera aku pamit dan langsung
masuk ke bus. Sungguh perpisahan yang tidak dramatis.
**
Meskipun
memberikan perkiraan akhir Januari, tapi sejatinya Ma Badnah masih ragu.
Desakan Nuraeni agar Ma Badnah segera melaporkan rencana menyelenggarakan mbolo weki (hajatan) tak segera
ditanggapi. Nuraeni kesal dengan kebijakan ibunya yang tak segera benar-benar
merestui. Ide untuk kabur pun muncul. Orang-orang yang setuju banyak, termasuk
Anwar. Nuraeni SMS kepadaku. “Bisa gak kakak transfer uang, saya mau kabur
ke Tangerang.”
Waduh, mulai nekat dia. Aku tak mengira. “Siap!” balas-ku. Kukira dia juga telah
mendapat ‘pencerahan’ dari orang-orang. Kupikir kabur itu cara terakhir,
setelah cara terbaik tak berhasil. Kalau nantinya dia memilih kabur, kaburlah,
aku siap mengiriminya ongkos. Aku juga siap menjemputnya di bandara atau di
terminal. Sekalipun dia kabur ke Tangerang toh
bukan tinggal di rumahku, melainkan di rumah sepupunya. Kalau sudah kabur,
katanya pasti direstui. Biasanya begitu. Pokoknya aku siap. Siapa takut!
Mungkin
orang tua malu. Orang sekampung pasti bakal tahu “aib” itu. Bisa jadi tidak
semua orang tahu duduk perkaranya, akibatnya nama baik keluarga bisa tercemar.
Kukira begitu. Itu sebabnya aku berharap Nuraeni tak sampai kabur. Kita harus
bermain elegan kukira.
**
Lamaran
dilaksanakan akhir Desember 2012. Yakinlah aku bahwa Mak Badnah yang menjadi
penentu di keluarga itu benar-benar bersedia menerimaku untuk kelak menjadi
menantunya. Aku ketahui hal itu dari Nuraeni. Mak Badnah telah mendapat banyak
masukan dari orang-orang. Layaknya pembeli dan penjual, aku tawar-tawar agar
pernikahan bisa dilaksanakan secepatnya, awal Januari. Begitu cepat. “Katanya ndak bisa, ada Pilkades,” cetus Nuraeni
di telepon.
**
Rabu,
17 Januari 2013, sekitar pukul sepuluh. Aku sedang mengajar di kelas XII IPA 5.
Ada panggilan telepon dari Anwar. Katanya, ada yang harus dibeli untuk dibawa
Haji Abdul Hamid. Anwar meminta aku segera mentransfer uang ke rekening Haji
Abdul Hamid. Sedikitlah. Katanya, uangnya akan segera dipakai..
Selesai
mengajar aku segera tancap gas menuju bank BNI di jalan Daan Mogot, berjarak
sekitar 4 km. Langit mendung, menyusul gerimis. Di perjalanan kukenakan jas
hujan yang selalu tersimpan di bawah jok motorku. Jika tidak, pasti basah
kuyup. Arus lalulintas ramai lancar.
Tanpa
harus antre segera aku disambut petugas kasir. Kuberikan secarik kertas
bertuliskan H.A. Hamid dan nomor rekeningnya. Petugas kasir mengeceknya.
“Rekening dengan nomor 0053644xxx atas nama A. Hamid, BNI cabang Palibelo!”
Aku
ingat kata “Palibelo” yang pernah disebut-sebut Anwar. Palibelo adalah sebuah
kecamatan di kabupaten Bima. “Ya!” balasku.
Kuserahkan sejumlah uang kepada petugas kasir. Pada tanda setor tunai
tercetak waktu transfer pukul 11:27:31.
Jumlahnya aku tambahkan, sehingga lebih dari yang Anwar mintakan. Semoga
pantas, harapku, dan lebih dari cukup buat ongkos transportasi. Kupikir, selain untuk melamarkan aku juga masih
membutuhkan beliau untuk acara ijab-kabul dan resepsi. Aku berterima kasih
sekali kepada Haji Abdul Hamid atas
kesediaannya membantuku. Dia kuanggap saudara.
“Apa
saja yang akan Pak Haji bawa?” tanya Haji Abdul Hamid via telepon di waktu
lain.
Kesanggupanku
sangat terbatas. Sejumlah gram emas untuk mahar dan sejumlah uang. “Harap
maklum segitu adanya,” ungkapku. Haji Abdul Hamid harus menyampaikan hal itu
kepada keluarga Nuraeni saat melamar.
Lamaran
dilakukan esok harinya, sekitar pukul tiga sore waktu setempat. Haji Abdul
Hamid disertai dua rekannya. Beberapa jam kemudian Haji Abdul Hamid mengirimkan
nomor rekening atas nama Mansyur, BRI unit Sila. Mansyur adalah paman dari
Nuraeni. Sesuai permintaan, esok harinya, Jumat, uang serahan kukirim melalui BRI unit Kelapa Dua. Pengiriman itu
disertai uang tambahannya lima ratus ribu rupiah untuk biaya penghulu, katanya.
Hujan menderas. Usai stor, dengan avanza aku meluncur ke pesantren Daar El
Qalam untuk menjenguk anakku, Alda.
Kukabarkan rencana keberangkatanku kepada Alda. Dia tak keberatan.
**
Aku
mengajukan permintaan ijin cuti dua pekan. Tertulis. Kendati hari H-nya Senin,
28 Januari, tapi Jumat sebelumnya aku harus berada di sana untuk lapor diri ke
KUA (orang-orang di sana mengejanya
dengan lafal kua, bukan ka-u-a). Kupilih Jumat karena kalau
Sabtu kemungkinan bukan hari kerja, sedangkan Kamisnya tanggal merah. Itu
sebabnya kupilih berangkat Senin (21/1/2013) dengan pertimbangan bahwa aku
belum hafal betul rute yang harus dilalui, khawatir kesasar sehingga bisa
memakan waktu lebih lama. Plus, kabar bahwa tanggal 15 pelabuhan Gilimanuk
ditutup karena ombak mencapai empat meter. Itu juga cukup mengkhawatirkanku.
Sampai
Sabtu (19/1) Erwe Dodol belum menyatakan kapastiannya karena KTP-nya belum ketemu
di rumah, bersama SIM-nya yang kadaluarsa. Sampai minggu pagi belum ada kepastian siapa sopir penggantiku.
Erwe Dodol belum memastikan kesediaannya.
Aku cemas. Kau bisa bayangkan, Tangerang – Bima bukan jarak yang dekat,
butuh tiga hari tiga malam untuk perjalanan darat. Kupikir, jika Erwe Dodol tak
bersedia, aku akan kendarai sendiri mobilku, sekuatnya. Tekatku bulat.
Beruntung,
Erwe Dodol kemudian menyatakan kesiapannya. Senin pagi pukul tujuh kami start
dari tempat tinggalku di Gurubug.
Langit cerah matahari bersinar penuh gairah. Arah kami terus ke
timur. Satu perjalanan yang amat
melelahkan.
Hari
itu Kamis (24/1/2013), sekitar setengah delapan. Tibalah kami di depan rumah
Nuraeni. Puluhan pasang mata, dari anak-anak, tua-muda, laki-perempuan mengarah
kepada kami. Rumah-rumah di kiri dan kanan jalan sepanjang lebih dari lima
puluh meter, penghuninya menghambur ke luar untuk melihat kedatangan kami,
kedatangan calon pengantin. Kebetulan hari itu tanggal merah, peringatan
maulid, anak-anak libur sekolah.
Kedatanganku layaknya penggede turun ke kampung, jadi pusat perhatian.
Aku jadi tak enak hati. Hal itu
terjadi karena mereka tahu bahwa dalam waktu dekat bakal ada acara pernihakan,
apalagi tenda dengan tiang bambu telah dipasang. Mobil diparkir di kanan depan
rumah. Aku masuk ke rumah. Kekasih hati menyambut dengan senyum mekar.
**
Ijab
qabul dilangsungkan pada Senin pagi (28/1/2013), di masjid Al Hidayah, dekat
rumah dihadiri sejimlah orang. Siangnya, Hujan turun dengan derasnya. Saat
hujan reda, sekitar pukul tiga kami dijemput sedan merah sebagai mobil
pengantin. Acara berlangsung di gedung
sekira dua kilometer ke timur. Acara berlangsung sekira dua jam.
Selasa
sore acara syukuran. Rabu pagi kami berangkat pulang dengan mengajak istriku
dan kedua mertua. Isi mobil jadi berenam. Mereka berada di Gurubug dalam
beberapa hari.[]
Komentar
Posting Komentar