(Catatan Perjalanan) Bermalam di Pulau Pari

 





Pulau Pari di Kepulauan Seribu, termasuk dalam wilayah administratif DKI Jakarta. Pesonanya jadi cerita yang menjalar dari mulut ke mulut. Sejak lama aku ingin berkunjung ke sana, tapi tak cukup mampu aku untuk mewujudkannya. Setelah sekian lama sampailah takdirnya, aku bertekad berkunjung ke sana sendiri karena sulitnya mencari teman yang bersedia.

Pagi-pagi sekali  aku naik motor sendiri sejauh 33 kilometer ke Dermaga Rawasaban, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang. Lokasinya dekat pelelangan ikan. Sebelumnya aku pernah ke pelelangan itu. Sebelum area pelelangan aku membelok ke kanan dan sampailah di tepian sungai. Baru kali pertama aku masuk ke area dermaga itu. Banyak kapal tersandar. Mungkin sebagian telah nonaktif. Ternyata area dermaga menjadi tempat pengangkutan bahan-bahan kebutuhan pokok yang diangkut ke pulau-pulau. Tentu saja banyak orang yang terhidupi dari kesibukan di sana.

 Aku titipkan motor di tempat penitipan yang ada warungnya. Ada kapal yang akan segera berangkat, sedangkan feri dimungkinkan akan datang masih lama. Kapal yang siap berangkat katanya lebih cepat. Tak kuduga ternyata jika pergi ke sana tidak bisa kembali hari itu. Jika pergi ke Pulau Pari tidak ada kapal dengan rute sebaliknya. Harus menginap. Aku sempat ragu. Tak mau kecewa, seketika aku tekadkan untuk terus maju. Katanya di sana ada penginapan, home stay yang harganya mulai dua ratus ribu.

Aku memilih kapal yang siap berangkat. Kapalnya terbuka, beratapkan terpal. Ada barang yang akan dibawa ke pulau. Ada tiga orang termasuk awak kapal sedang menanti seseorang. Aku menanyakan ongkosnya kepada seorang yang kukira calo, ternyata awak kapal. Sebutlah namanya Bang Jali. Seratus ribu. Aku menawar, tapi harga tidak berubah.

Yang dinanti tak kunjung tiba. Hampir setengah jam aku menanti keberangkatan. Sekira pukul 07.30 kapal bergerak meninggalkan dermaga membawa barang dan lima orang, termasuk aku.Kapal dikemudikan oleh juragannya. Alat kemudinya hanya setangkai besi.

Sebagai orang darat yang jarang naik kapal laut aku masih diliputi sensasi ngeri. Aku pakai rompi pelampung yang aku bawa dari rumah. Dari duduk di posisi tengah lalu dipersilakan pindah ke bagian ujung belakang. Laut bergelombang, kapal pun goyang-goyang dan hembusan angin kancang menggoyahkan segala kecongkakan diri. Rasa takut berubah kepasrahan. Melihat ke depan saat gelombang menurun, serasa badan kapal akan tenggelam. Ngeri. Namun setidaknya, dengan mengenakan rompi pelampung beban kengerianku berkurang.

Kapal baru melaju dalam belasan menit, lalu berhenti. Ada masalah rupanya. Bang Jali membuka celana dan kaos. Tinggallah lolor. Diambilnya tangga, dikaitkan di tepi kapal. Dia turun, menyelam ke kolong kapal. Entahlah apa masalahnya, seperti ada sesuatu yang menyangkut, aku tak sempat bertanya. Selanjutnya kapal bergerak kembali melintasi laut yang berombak. Semoga selamat sampai tujuan.

Panorama laut dengan ilustrasi kapal-kapal lain yang melintas dan hembusan angin lembab adalah sensasi menyegarkan. Aku menikmatinya. Momen itu membayar kerinduanku akan wisata laut.  Meskipun begitu, rasanya perjalanan tak segera tiba. Setelah sekian lama, pulau yang hendak dituju mulai tampak. Kapal terus mendekat sampai kemudian masuk ke cekungan area dermaga. Tibalah. Waktu menunjukkan pukul 08.30. Benar, ternyata waktu tempuh satu jam. Badan kapal merapat ke dermaga. Aku pun turun, melangkah ke dermaga. Tak ada yang orang menyambut, aku layaknya tamu yang datang tak diundang.  

Aku pun berucap salam kepada tukang gorengan yang sedang bekerja. Duduklah aku di bangkunya. Di kiri belakangnya ada sederet kursi tunggu menghadap ke perairan. Aku mencicipi pisang goreng dagangannya sambil menyelinginya dengan obrolan. Bahasanya bahasa Indonesia ala Betawi pada umumnya. Benar, tidak ada kapal yang kembali ke Rawasaban hari itu. Sebuah kapal yang disebut feri bercat merah marun kombinasi tersandar di dermaga. Kapal itulah yang akan berangkat ke Rawasaban besok pagi. Aku disarankan pukul enam sudah ada di situ agar tidak ketinggalan sebab jika ketinggalan tidak ada lagi kapal yang ke Rawasaban. Berbagai bahan kebutuhan sehari-hari di Pulau Pari banyak didapatkan dari darat, yakni sekitar Rawasaban seperti Pasar Sepatan.

Katanya, erupsi anak gunung Krakatau berdampak menurunnya jumlah pengunjung. Home stay yang sudah dipesan banyak yang dibatalkan. Orang khawatir terjadi tsunami. Padahal nyatanya keadaan baik-baik saja, bahkan debu vulkanik yang menyebar kemana-mana di sana tidak ada. Gorengan habis lima, aku membayar sepuluh ribu.

Matahari kian meninggi, aku beranjak ke area pantai sebelah selatan mengamati dan menikmati panorama lingkungan sekitar. Pada bagian daratan yang menjorok terdapat banyak tempat berjualan. Kapal-kapal kecil tersandar. Di tepian, ombak menabrak-nabrak. Sebagai orang darat bagiku itu pemandangan eksotik yang memesona. Ada yang bermain wahana banana boat. Aku belum siap bermain wahana itu. Entah kapan aku akan mencoba memulainya. Bereksplorasi seorang diri memang bukan cara untuk menghadirkan keceriaan, yang terjadi aku banyak bicara sendiri dan berkontemplasi. Betapa besar anugerah alam yang diberikan kepada bangsa ini. Beragam sensasi menjejali pengalaman batinku.

Berjalan ke barat, aku mengamati lingkungan yang dekat dengan tepian. Mereka yang gemar memancing menghibur diri dengan memancing di tepian. Rupanya di tepian tak ada jalan melingkar seperti yang ada di Pulau Untung Jawa. Di Pulau Pari, jika kita berada di pertigaan, ke barat satu jalan, ke timur dua jalan. Aku berjalan terus ke barat. Ada seseorang dengan sepeda listrik menawari aku untuk ikut. Aku memilih berjalan kaki.

Aku amati tepian pulau yang dipenuhi beragam vegetasi, barangkali ada akses jalan yang melingkari sisi pulau itu. Ternyata tidak ada. Aku menemukan lubang-lubang di permukaan tanah berpasir. Seperti lubang tikus. Entah hewan jenis apa pelakunya. Karakter lubang-lubang yang tidak rapi dan berantakan mengesankan suatu perbuatan yang brutal. Entahlah hewan apa pelakunya.

Ternyata belakangan aku mendapat jawabannya dari seorang bapak dalam obrolan di tepi dermaga, bahwa itu lubang hewan yang namanya bongo. Apa itu? Sejenis kepiting. Aku belum pernah melihatnya, kecuali kepiting laut biasa. Mungkin aksi brutalnya dilakukan pada malam hari karena siang itu tak aku temukan barang seekor pun.

Aku berjalan terus sampai mentok ke pintu gerbang yang di atasnya terdapat plang lengkung merek BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) berlatar belakang warna merah hati dan lis putih. Walau pintunya terbuka tak berani aku masuk ke sana.

Aku membelok ke kiri, tampak area lapang dan pantai yang landai, sepertinya berbayar. Cukuplah aku menyapu pandang. Aku kembali ke jalan semula. Azan berkumandang. Aku merapat ke musala. Orang-orang berdatangan. Salatlah berjamaah. 

Demi mengulur waktu karena tidak bisa pulang hari itu aku duduk dan rebahan di serambi musala sampai masuk waktu asar.  Setelah salat asar aku kembali timur melalui jalan yang lain, sedikit belok kiri. Berjalan terus ke timur. Itulah sebagian dalaman kampung yang dipenuhi rumah warga. Banyak rumah yang difungsikan sebagai rumah singgah (home stay) bagi wisatawan. Di rumah-rumah itu yang aku lihat ada banyak orang. Dari tampilan fisik bangunan rumah warga mengesankan keadaan yang damai dan sejahtera. Rata-rata rumah relatif bagus.

Sepeda listrik dan sepeda biasa sewaan aku dijumpai terparkir di depan beberapa rumah warga. Sebagian kendaraan sewaan berlalu lalang di jalanan. Harga sewa sepeda antara Rp 20.000 sampai Rp 35.000 per hari atau 24 jam, sedangkan sewa sepeda listrik antara Rp 125.000 sampai Rp 150.000 per hari. Saat itu banyak sepeda yang menganggur mungkin karena jumlah pengunjung belum banyak atau boleh jadi jumlah kendaraan sewaannya yang terlampau banyak. Mungkin pada hari Minggu pengunjung bisa amat ramai jika situasi dinilai sangat aman.

Aku terus berjalan ke timut hingga mentok di pertigaan. Kiri arah Pantai Perawan, tapi aku tak berminat ke sana. Katanya di sana ada tenda sewaan jika mau menginap. Aku belok kanan terus ke tepian. Ada tepat yang memungkinkan aku bisa bersantai. Duduklah aku seraya memandang ke laut 180 derajat. Panorama pantai begitu begitu enak dipandang. Perahu-perahu terparkir. Anak-anak bermandi. Di kejauhan tampak perahu yang bergerak. Seiring waktu senja perlahan turun menuju magrib. Tak terasa waktu telah berlalu. Aku beranjak ke arah dermaga. Rasa lapar tak bisa aku abaikan. Ada warung nasi. Aku pun memesan nasi dan makan.

Kata pemilik warung (suaminya) kemungkinan ada kapal yang bergerak ke Tanjung Pasir. O ya? Seketika pikiranku menelusur. Ketenangan makanku terusik. Jika benar, dari Tanjung Pasir aku akan naik ojek ke Rawasaban. Sayang sudah sore, aku membatin. Makan dengan ayam goreng, tanpa kuah. Agar seret di tenggorokan. Rp 30.000, wajarlah. Setelah itu aku beranjak menuju dermaga. Bertanya-tanya, adakah kapal yang akan berangkat ke Tanjung Pasir? Ternyata tak ada. Lantas di mana aku harus bermalam, di penginapan atau di tenda? Memandang jauh ke laut, betapa hati ingin segera pulang, tapi apalah daya.

Seorang bapak usia sekira 60-an menawarkan solusi. Daripada tidur di penginapan dua ratus ribu, atau di tenda bayar tujuh puluh ribu, lebih baik tidur di masjid. “Boleh?” tanyaku memastikan. Katanya, “Booooooleh! Tukang dagang juga suka ada yang nginep boleh.” Pengertian sekali dia. Ketika waktu magrib sebentar lagi aku segera pamit meninggalkannya.

Sedikit ke timur, belok kiri masuk gang sampai ketemu jalan utama kedua/ Bertanya kepada seorang anak, belok kiri sekira lima puluh meter, sampailah di Masjid Al Ikhlas.

Tas dan rompi pelampung aku taruh di beranda masjid. Aku duduk. Azan pun dikumandangkan. Orang-orang berdatangan, baik warga lokal maupun pengunjung. Setelah berwudu aku pindahkan barang bawaanku ke dalam masjid. Imam tiba belakangan, masuk lewat pintu selatan. Sesaat kemudian  salatlah.

Usai salat aku keluar membawa barangku ke pintu timur. Orang-orang keluar ssemua, kecuali sang imam. Dia keluar belakangan. Begitu dia muncul langsung aku arahkan pandangan ke wajahnya seraya menyapa. Disalaminya aku. Aku bangkit dan membalasnya. Selanjutnya terjadilah obrolan sampai agak panjang. Namanya Roni. Anaknya tiga, salah satunya mondok di pesantren di Bogor. Kerja Pak Roni di KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan). Sepertinya statusnya honorer, karena katanya dia tidak siap jika diangkat jadi tenaga PPPK karena tempat kerjanya bakal pindah ke tempat yang lebih jauh.

Dia punya kapal (seharga mobil Avanza) yang digunakannya untuk berangkat kerja. Dia berasal dari Pulau Lancang. Memilih tinggal di Pulau Pari karena menurutnya di Pulau Pari nyaman dan aman. Tak ada bencana. Meskipun ketinggian tanah antara 1 sampai 2 meter kawasannya belum pernah terendam. Tak ada kejahatan. Warung Madura yang buka siang malam pun tak pernah ada yang mengganggu. Dulu ada orang yang melakukan kejahatan, oleh warga diusir ke luar dari pulau itu.

Setelah percakapan berlangsung beberapa menit barulah aku sampaikan maksudku. “Mohon izin, saya ingin bermalam di sini.”

“Oh, silakan. Nanti AC-nya pakai saja. Remotenya di sana.”

“Terima kasih.”

Seketika hilanglah kekhawatiraanku. Padahal jika tidak diizinkan di dalam masjid aku bersedia tidur di luar dengan risiko diganggu angin dan hawa dingin. Saat Pak Roni pulang hanya ada aku di masjid itu. Aku jadi cungcang cingkeung ku sabab keueung. celingak-celinguk sendiri karena iseng.  Aku kabarkan keadaanku kepada istriku agar dia tidak khawatir. Aku bawa masuk barang bawaanku. Waktu bergerak maju, malam bertambah larut. Rompi pelampung aku jadikan bantal. Tak mudah untuk segera tertidur di dalam masjid dengan hawanya yang panas. Aku enggan menghidupkan AC. Remotenya mungkin di sekitar mimbar, tak enak mengambilnya. Aku tak mau lancang. Biarlah aku terima keadaan seperti itu.

Sesekali masih terdengar suara motor lewat. Iseng, aku buka facebook. Ada kabar duka dari status akun yang aku tak kenal orangnya. Dia mengabarkan bahwa suami dari saudaranya meninggal dunia. Istri dari yang meninggal dunia itu adalah saudara sepupu istriku yang bernama Johari. Suaminya bernama Akmal, guru SD di Periuk. “Innalillahi wainnailaihirojiun,” aku membatin. Suami - istri itu berasal dari Bima (kecamatan Sape dan Bolo). Mereka tinggal di Lebakwangi, Sepatan Timur.

Pasangan yang dikaruniai tiga anak itu pernah berjasa menghubungkan aku dengan gadis desa Leu (Bima) yang kini menjadi istriku. Langsung terpikir, esok pagi aku segera pulang dan akan mengajak istriku bertakziah ke rumah duka. Almarhum meninggal dunia setelah dua kali masuk rumah sakit. Itu pun meninggalnya di rumah sakit. Katanya, paru-parunya terendam. Semasa hidupnya aktif merokok dan mengopi. Dia mengidap diabetes juga.

Aku matikan ponsel. Aku berusaha tidur. Setelah tertidur sedikit ada seorang dewasa membuka pintu dan masuk. Mungkin dia marbut. Entah mengambil apa. Aku pura-pura tidur saja. Entahlah, dia tahu atau tidak bahwa aku sudah minta izin kepada Pak Roni. Untung dia tidak mengusikku. Setelah itu aku tertidur tapi kemudian kebangun dan mendengar suara “tok.... keeeeeee” sampai beberapa kali. Ya, ada tokek. Aku tak menafsirkan apa-apa atas suara tokek itu.

Pintu masjid tidak terkunci. Siapa pun bisa masuk. Cerita orang tidur di masjid dipindahkan oleh jin pun sedikit mengusik ingatanku. Aku tetap waspada kalau-kalau itu terjadi padaku. Segala doa aku panjatkan, semoga aku terlindungi dari hal-hal yang mengganggu.

Tidurku tak berkualitas, terutama akibat hawa panas. Gerah. Mendekati azan subuh aku pun bangun, ke kamar kecil dan berwudu. Menyusul suara azan dari sumber lain. Orang-orang berdatangan. Sampai suara azan berhenti muazin di Masjid Al Ikhlas belum juga bersuara. Sepertinya belum tiba. Mungkinkah itu kebiasaanya? Mungkin.

Dikumandangkanlah azan. Suaranya tak sebagus suara azan di tempat lain. Ada dua musala di sekitar situ, di sebelah barat dan sebelah timur. Imam salat subuh Pak Roni. Begitu selesai salah aku segera keluar untuk segera menuju dermaga. Aku tak sempat menampakkan diri dan pamit kepada Pak Roni karena khawatir ketinggalan kapal.

Pagi masih gelap, lampu-lampu masih menyala, tapi petugas kebersihan sudah mulai bekerja. Aku duduk di bangku warung yang masih tutup. Selanjutnya pindah lebih dekat ke dermaga. Angin dari laut masih terasa kencang dan dingin. Menyendiri memang terasa ‘enak tak enak’. Enaknya bebas, tak enaknya iseng. 

Sudah pukul enam. Belum ada tanda-tanda kapal feri merah siap berangkat. Menyusul tukang gorengan mulai mengaduk-aduk adonan gorengannya selanjutnya menggoreng. Setelah ada yang matang aku mengambilnya. Agar pas bayarnya sepuluh ribu, aku makan lima sebagai sarapan pagi. Perut pun aman. Detik demi detik berlalu. Calon penumpang berdatangan. Di antara mereka ada yang akan bepergian ke darat. Dari obrolannya ada yang hendak pergi ke Bogor.     

Rasanya cukup lama aku menanti kapal feri mereh bergerak. Kata tukang gorengan, ada pesta laut di jalur yang akan dilalui kapal tersebut. Lama-kelamaan kapal merapat ke dermaga. Para penumpang naik, ada anak-anak. Aku pun naik. Setelah semuanya masuk. Kapal mulai bertolak meninggalkan dermaga, pukul 07.38. Khawatir aku tiba di rumah kesorean, aku tawarkan istriku berangkat takziah menggunakan mobil grab. Alhamdulillah, dia sanggup melakukannya dengan mengajak serta dua putri kami.

Pergerakan kapal cukup dinamis. Ada gelombang yang membuat laju kapal naik-turun. Sebagian penumpang menempati bagian depan sehingga bisa melihat ke depan. Sebagian yang lain berada di geladak. Babaeara orang tertidur dengan alas seadanya. Aku duduk di peti bagian dalam kapal, sepertinya di dalamnya mesin kapal. Setelah sekian lama melaju, kapal benepi ke dermaha. Aku mengira sidah sampai, ternyata belum. Aku lihat di google maps, itu pulau Lancang Kecil. Tak sampai lima menit kembali kapal bergerak. Berarti masih jauh. Sesekali aku melihat pemandangan di luar. Laut tak sepi. Ada kapal-kapal yang melintas dengan banyak penumpang. Momen berharga itu tak aku abaikan. Aku mengarahkan kamera ponsel. Bagi orang-orang pulau yang sering naik kapal apa pun yang ada sepertinya biasa saja, juga tak ada rasa khawatir kapal tenggelam. Lain halnya bagi orang darat seperti aku, banyak khawatirnya. Namun kekhawatiran itu mengantarkan hati mendekat kepada sang khalik untuk memohon perlindungan dan keselamatan.    

Dermaga Rawasaban kian tampak dan teruslah mendekat. Suasananya ramai. Banyak orang yang menanti kapal feri yang aku tumpangi untuk keberangkatan ke Pulau Pari. Itulah kapal utama yang mengangkut banyak penumpang dengan ongkos lima puluh ribu. Kapal-kapal beraneka warna dengan kibaran bendera menambah kesan hidup suasananya. Waktu menunjukkan pukul 10.05.  Berarti waktu tempuh satu setengah jam. Ongkos seratus ribu dengan lima puluh ribu memang beda.

Terbayar lunaslah rasa penasaranku mengunjungi Pulau Pari untuk pertama kalinya. Keinginanku untuk berkunjung ke pulau lainnya yang belum pernah aku kunjungi menjadi agenda berikutnya.

Begitu aku naik ke darat langsung ke tempat menitipan motor. Berapa ongkosnya? Sepuluh ribu. Kukira murah. Istriku sudah berada di rumah duka. Aku pun menyusul. Dalam perjalanan aku mampir di warung, makan dulu. Satu jam kemudian tibalah. Jenazah sudah disalati dan dimakamkan. Tinggal menunggu para pengantar kembali. Ada sejumlah kerabat dan handai taulan dari almarhum. Mereka tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Tahun kelahiran almarhum Akmal sama dengan tahun kelahiranku, sehingga nantinya akan pensiun di tahun yang sama, 2030. Ternyata dia mendahului. Semoga Allah Subhanahuwataala mengampuni dosanya dan menerima amal ibadahnya sehingga menempatkannya di tempat yang layak.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Diari] Teman Minta Tf

[Otobiografi Usman] Tentang Julia

[otobiografi] Buku Yang Nyaris Terbakar