Postingan

TIPS MENULIS CERPEN MUDAH, TAPI SULIT yah

Gambar
  Usman Hermawan   Sejatinya bagi kebanyakan orang menulis cerita pendek (cerpen) bukan perkara mudah, tak semudah membalikkan sebuah buldozer. Jika mudah, tentu saja setiap orang punya karya cerpen. Sebagai bidang keterampilan cara utama yang harus dilakukan adalah dengan sering-sering menulis. Tidak singkronnya antara teori/konsep dengan praktek yang berakibat gagalnya seseorang menyelesaikan sebuah cerita pendek setelah mendapatkan ide cerita, salah satunya karena penulis tidak ngotot dan mudah bosan dan putus asa. Keterampilan dapat dikuasai hanya dengan menulis, menulis dan menulis. Diperlukan suatu “kegilaan” untuk dapat menuntaskan sebuah karya cerpen. Di leptop saya ada banyak sekali file bahan cerpen yang tidak bisa dilanjutkan penulisannya. Gagal berkali-kali cukup melelahkan dan bikin malas. Ternyata penyebabnya adalah saya tidak punya bahan cerita yang utuh. Dari lebih dari seratus cerpen yang saya selesaikan dan menjadi layak publikasi, dengan proses pen...

[Cerpen Usman Hermawan] Pelangi di Tengah Kota

Gambar
  Dalam tahun 1996, usai salat jumat. Sebagian jamaah telah meninggalkan area masjid jamik Baitusalam RSK Dokter Sitanala. Sebagian jamaah lainnya masih di dalam dan di serambi masjid. Baru saja hendak memakai kaos kaki Marsidin dikagetkan oleh seseorang yang menepuk pundak kanannya dari belakang. Ternyata Sarmidi. Keduanya langsung bersalaman erat. Sungguh pertemuan yang tak terduga. Hampir sepuluh tahun Marsidin tidak bertemu dengan Sarmidi. Penampilan   dan gaya Sarmidi masih seperti dulu, rambutnya klimis dan pakaiannya rapi. Bajunya koko berbahan tebal dengan warna gelap, papan nama berlogo pemda dan namanya dengan gelar Drs. dan SH tersemat di dada kanannya. Di bawah namanya sederet angka yang diduga sebagai nomor induk pegawai. Tanpa harus bertanya, Marsidin menyimpulkan bahwa dia adalah pegawai pemda. Marsidin merasa minder berhadapan dengan teman yang telah sukses menjadi pegawai negeri. “Wih, keren,” ucap Marsidin menahan iri. “Alhamdulillah,” balas Sarmidi...

MONOLOG PAK TUA

Gambar
  Karya: Usman Hermawan Suatu sore di teras rumah. Sepasang suami istri telah mencapai usia tua. Tak punya anak. Tak pernah punya anak. Pernah punya anak angkat lalu meninggal. Mereka dipersalahkan dianggap tidak becus merawat anak. Mereka trauma sehingga tak berani dan tidak dipercaya orang mengadopsi anak. Karena tak punya anak dan tak punya cucu, maka tak ada suara cucu yang memanggil mereka kakek dan nenek. Nenek masuk, tanpa iringan musik. Duduk. Tangannya mengusap-ngusap sehelai kain. Dia memasukkan benang ke jarum, setelah masuk dia menjahit kain. Pikirannya sibuk. Dia enggan berkata-kata. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya sampai pentas berakhir. Berselang sekitar dua menit masuklah Pak Tua masuk diiringi lagu “Pak Tua”. Setelah musik mengecil dan mati. Pak tua mulai bicara: Mun, maafkan aku tidak membawamu ke kehidupan yang glamor seperti orang-orang yang pura-pura kaya di zaman ini. Keadaan mengajarkan kita untuk hidup secara sederhana, tidak neko-neko. ...

(PUISI) Surat Terbuka untuk Syamsurizal

Gambar
    Sebuah pesan masuk melalui Whatsapp Aku mendadak rindu Sebab tumben k au menghubungi aku malam Minggu Tiga puluh tiga tahun bukan sebentar Kita tak berjumpa , di media sosial pun tak pernah salin g komentar   A ku senang dapat menyambung silaturahmi T egur sapamu ku timpali Setelah itu ternyata maksudmu satu kau ingin menitipkan keponakanmu masuk ke sekolah negeri tempat aku berjibaku Padahal jelas, pendaftaran siswa baru ada prosedurnya   Kau mengira setiap guru ada jatahnya Memang ada, bahkan sama haknya dengan satpam dan OB, tapi itu untuk anak kandung, dibuktikan dengan kartu keluarga dan akta kelahiran , bukan keponakan, bukan pula anak tetangga atau anak dari istri siri Aku hanya guru biasa, andai aku yang mengantarkan pasti tidak gratis Dengar-dengar uang sogoknya delapan hingga lima belas juta , bahkan lebih, tergantung makelarnya Maaf, aku tak sanggup membantumu   Sampaikan kepada saudara atau kepona...