Postingan

HP Hilang, Susah pun Terbayang

Gambar
  Jumat (13/9/2024). Agenda di sekolah jumat ini adalah jumat sehat dengan materi kegiatannya senam bagi seluruh siswa dan guru. Aku pakailah celana training dan kaos abu-abu yang kuperoleh dari sekolah beberapa tahun lalu. Kusimpan dompet di saku kanan dan HP di saku kiri. Tak ada resletingnya, bebeda dengan celana training biru, kupikir tak apalah. Dengan berkostum training setidaknya aku beradaptasi, walaupun nantinya aku hanya sedikit senam, lebih banyak merekam, membuat video untuk youtube Kabar 15 tv garapanku. Baju dan celana yang sudah dimasukkan ke tas jinjing aku simpan di ruang bawah jok motor. Selanjutnya, berangkatlah. Istriku masih di kamar mandi mengurusi anak. Aku tak sempat pamit. Kukira dia maklum. Rute yang kutempuh seperti biasanya, yakni perumahan Binong, melalui jalan pintas tepian parit selebar satu meter yang ada jembatannya. Tiba di dekat jembatan itu motor terhenti karena di arah yang berlawanan ada motor yang maju lebih dulu. Pada saat itu   da...

[cerpen] Matamu Katarak

Gambar
  Usman Hermawan Ketika aku naik motor, seseorang yang sebenarnya aku kenal menyapaku dengan isyarat pada jarak sekira lima meter. Aku tak menyadari karena aku tak melihat mukanya dengan jelas. Pengelihatanku agak buram, berkabut. Hal seperti itu berulang kali terjadi. Kukira mereka kecewa dan mengira aku angkuh. Aku tak enak hati hingga kemudian ada seseorang yang aku mintai maaf, aku jelaskan penyebabnya. Pandanganku terasa tidak bersih. Untuk membaca teks di bawah sinar matahari yang amat terang aku kesulitan, silau. Faktor penyebab ketidaknormalan pengelihatanku mungkin akibat radiasi sinar dari laptop dan HP yang terus menerus, selain faktor usia. Pada pencahayaan di ruangan daya lihat mataku terasa biasa saja. Namun ketika berada di luar ruang dengan pencahayaan sinar marahari yang terang terasa ada penghalang, melihat jauh tampak buram dan silau. Teks pada kertas pun tak tampak jelas. Dokter spesialis mata yang menangani pengobatan ibuku menyarankan agar kami anak-anak...

[Memoar] Ada Ular dalam Saku (bagian 2)

Gambar
  Lanjutan Inilah tantangan yang memaksa aku “naik kelas” dengan sebutan dosen. Namun kemudian ada yang membuat aku kecewa. Kukira soal nilai mahasiswa menjadi otoritasku sebagai pengajar. Aku pun pasti akan menyesuaikan predikat apa yang harus aku berikan, A, B, C, atau D. Aku tidak suka dengan rekayasa dan kecurangan. Yang terjadi adalah ketika menjelang ujian semester. Mereka ujiannya di kampus UNTIRTA Serang. Sebelumnya para dosen diminta membuat soal ujian. Aku masukkanlah soal ujian ke dalam amplop melalui koordinatop pelaksana program. Sekian hari kemudian, pada saatnya, aku pun mengawas ujian di UNTIRTA. Pergi pulang naik bus. Selesai ujian ada mahasiswa yang mengatakan kepadaku, “Pak soal dari bapak keluar.”   Aku heran, kok mereka tahu soal dari aku. Aku didera keheranan dalam waktu yang lumayan panjang. Usut punya usut ternyata soal yang aku berikan dibedah di Sepatan. Pembedahan soal itu tanpa seizin aku. Bagiku itu pelecehan dan curang. Ketika aku mengungkapka...

[Memoar] Ada Ular dalam Saku (bagian 1)

Gambar
    Oleh: Usman Hermawan, Mengajar bukan mencari uang, maksudnya tidak menomorsatukan pendapatan berupa uang. Kalau mau cari uang berdagang atau bekerja di perusahaan saja.    Itu yang pernah aku katakan dalam sebuah obrolan dengan seseorang guru senior saat melaksanakan pengawasan silang di suatu sekolah. Tak ada komentar, dia hanya senyum biasa saja dan cenderung menjadi pendengar yang baik. Itu terjadi pada tahun kedua aku menjadi guru dan tuntutan keuangan belum begitu menguat. Biasanya guru muda masih idealis.   Bahkan ketika ada yang menjanjikan uang lima ratus ribu rupiah agar putrinya bisa masuk di sekolah negeri tempat aku mengajar aku tidak tertarik. Alasanku, itu menyalahi prosedur. Kukira itu tidak halal. Selagi bisa menolak, aku tolaklah. Yang aku harapkan ketika itu adalah mendapatkan jam mengajar yang banyak di lebih dari satu sekolah. Kupikir, keren kali ya, kayak orang-orang. Kiranya hal itu jamak dialami oleh guru baru di masa-masa awal ...

Asal Nama Bonang

Gambar
  Catatan Usman Hermawan, Warga Gurubug   Pada sekitar awal tahun 1986, yang saya lihat, terpasang papan nama di area milik pengembang perumahan lahan tepi jalan raya Bojongnangka (dulu penulisannya serangkai). Bertuliskan PT BONANG SUAKARSA INDAH. Bisa dikira, bahwa Bonang berarti singkatan dari Bojong Nangka. Dengan begitu orang kemudian menyebutnya Bonang. Jadi sebutan Bonang ditujukan untuk kawasan permahan itu, bukan untuk kawasan Bojong Nangka yang   telah dihuni warga sejak dulu.  Pada Juli dan Agustus 1986 ketika saya mulai sekolah SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di Tangerang, rumah yang terhuni baru sekitar puluhan. Ada tulisan bahwa di dalam perumahan tersebut ada nama DASANA INDAH dan BUMI INDAH. Selanjutnya, sebutan Dasana lebih populer daripada Bumi Indah. Tanah yang dijadikan perumahan tersebut berada di kawasan desa Bojong Nangka yang meliputi wilayah, Bojong Nangka, Kampung Bambu Gurubug, dan Babakan.   Sebagian besarnya adalah sawah dan tegala...

Catatan Perjalanan ke Singapura dan Malaysia

Gambar
    DUA MALAM DI SINGAPURA (CURHAT MENJELANG TIDUR)                                                               Oleh:Usman Hermawan   Istriku, damailah di rumah. Inilah Singapura, negeri yang mengumbar cerita dan pesona karena kemajuannya. Tak bermimpi aku bisa berada di sini. Ini kali pertama aku bermalam di Singapura, Rabu malam (13/11/2013) . Kukira, tak seorang pun warga RT 001 RW 005 kampung kita yang melancong di negeri Singa malam ini, kecuali aku. Bersyukurlah Gusti Alloh memberikan kesempatan ini.   Hostel (bukan hotel) tempat kami menginap namanya “WOW”.   Sungguh, “WOW” namanya.Tak perlu kau iri ataupun khawatir, di sini aku baik-baik saj...